The Crystal

The Crystal
15୭̣༉



"Mati."


Amaya mengarahkan pisaunya hendak menggores leher Yudha, namun, ia berhenti sembari menatap tajam wajah Yudha yang berada di depannya. Semua orang berwajah panik, bahkan Lishya dan Cellyn sudah memegang ujung baju Amaya.


"Kenapa nggak ngehindar?" tanya Amaya masih dengan posisi yang sama, melihat senyuman Yudah yang mengembang, matanya pun menyipit karena waspada.


"Karna gua tau kalo lu nggak bakal nusuk gua, manis" ucap Yudha memencet pelan hidung Amaya.


Baru saja yang lain terdiam karna apa yang Yudha lakukan, suara pecahan gelas pun mengagetkan mereka. Sontak mereka menoleh, dan melihat Jidan dengan wajah cengonya.


"AAARG JIDAN GUA TERNODAI!!" ucap Lishya lalu menutup mata kanan Jidan.


"KASIAN BANGET JIDAN GUA MELIHAT HAL TAK SENONOH" ucap Cellyn lalu menutup mata kiri Jidan.


"Jidan gua?..." gumam Juan menatap tak percaya.


"Wah, nggak gua sangka lu serakah juga, Dan" ucap Haeden menggeleng-gelengkan kepala kecewa.


"E-eh? ENGGAK! JIDAN NGGAK SERAKAH KOK!" ucap Jidan menyingkirkan tangan Lishya dan Cellyn.


"Ck, ganggu" ucap Lishya menatap tajam Haeden dan di jawab anggukan dari Cellyn.


"Nggak usah basa-basi, ayo masuk cepetan" Amaya yang sudah menjauh dari Yudha dan yang lain.


"KAK AMAYA TUNGGU!" ucap Maya berlari menurunin tangga namun tangannya di cekal oleh Juan.


"Jangan lari di tangga" ucap Juan membuat Maya tersipu malu.


"Cie cieee, ekheem" Cellyn yang melihat kejadian itu tersenyum jahil menatap Juan dan Maya yang belum melepaskan pegangan tangannya. Juan yang menyadari hal itu pun segera melepaskan genggaman tangannya dan berjalan duluan.


"Sorry, bukan tipe gua" ucap Juan, Maya seakan tertusuk tepat di dada, ingin menangis tapi air mata tak keluar.


"Yang sabar, May. Kalo dia nolak kamu artinya tipe dia jelek" ucap Cellyn sembari merangkul Maya.


"Pfft-" mendengar suara tawa yang tertahan, Maya dan Cellyn pun menoleh ke arah Lishya yang sepertinya sedang berusaha menahan tawanya agar tidak meledak.


"Kenapa?" tanya Cellyn terheran.


"Enggaaak" jawab Lishya lalu ikut merangkul Maya.


"Iya, selera Juan jeleeeeeeek banget." ucap Lishya menatap lamat Cellyn dengan senyuman jahil dan nada penekanan di kata jelek banget.


Setelah membuat Maya dan Cellyn kebingungan, Lishya pun berjalan menuruni tangga seolah tak terjadi apa apa.


"Dih bocah dah gila" ucap Cellyn lalu mengikuti kakaknya dan di susul yang lain. saat mereka sudah turun, terlihat lorong gelap dengan lampu yang redup, dan terlihat juga Amaya yang sedang berusaha membuka pintu besar.


"Ngapain?" tanya Jidan yang mulai penasaran.


"Pintunya nggak bisa kebuka, di konci" jawab Amaya mengintip dari celah kedua pintu yang sedikit terlihat.


"Sini, serahkan pada kita" ucap Cellyn maju bersama Lishya, Amaya dan Jidan mundur, membiarkan kedua kakak beradik sepupu itu bersiap mendobrak pintu.


Mereka mendobrak pintu sebanyak tiga kali, lalu kedua pintu pun terlihat sudah mulai terbuka.


"Kita tendang aja, kalo kita dobrak nanti takutnya malah jatoh lagi" ucap Lishya, mereka berdua sudah mengangkat kaki, lalu dengan suara tendangan pun terdengar kencang dan pintu terbuka lebar.


"Naah, kan kebuka juga" ucap Cellyn, mereka berdua berjalan ingin memasuki gudang, namun kerah baju Lishya di tarik Makhen, dan kerah baju Cellyn di tarik Jaeson. Mereka ingin memberontak, tapi melihat papan besar yang jatuh tepat di hadapan mereka membuat mulut membisu.


"Lu nggak apa-apa?" tanya Jaeson, Cellyn mulai tersadar karna suara Jaeson, lalu menoleh ke atas. Wajahnya sangat berdekatan karna ia mendongak, bahkan nafas Jaeson terasa menerpa dahi Cellyn.


"I-IYA GUA NGGAK APA-APA!" seru Cellyn yang baru sadar bahwa dirinya menabrak dada Jaeson, dan ia pun maju sampai tersandung papan yang tadi jatuh.


"Aduh..." karna ia terjatuh, ia pun menggosok bokongnya yang terasa sakit. Dan saat menoleh ke bawah, ternyata papan itu adalah papan tua yang sebagian sudah rusak dan bagian pinggirnya tajam karna di makan usia.


"Kok... Kamu tau kalo ada papan itu?..." tanya Lishya mencoba menghilangkan imajinasi menyeramkannya itu.


"Kedengeran suaranya pas kalian buka pintu" jawab Makhen menghela nafas kesal lalu menjitak Lishya.


"Aw.... HUWEE CELLYN GUA DI JITAK MAKHEEN!" seru Lishya dan berlari menghampiri Cellyn yang justru membuatnya tersandung lalu jatuh tepat di sebelah Cellyn.


"Yahaha, mampus" ucap Cellyn menertawakan Lishya, gadis itu bangun dari jatuhnya yang terlengkup dan menatap tajam papan itu seperti akan menghancurkannya tanpa sisa sedikit pun.


"Lah? Ini papan nama penginapan ya?" tanya Lishya setelah membaca tulisan yang debunya sudah terhapus.


"Oh iya" jawab Cellyn, dia menghapus debu yang menutupi tulisan itu, lalu membacanya.


"Penginapan... Angkery?" ucap Cellyn menatap papan itu kebingungan.


"Namanya kocak ba-" baru saja menoleh ke Lishya, Cellyn di buat tertawa terbahak-bahak karna wajah gadis itu yang penuh debu dari papan.


"Apa?" tanya Lishya dengan wajah polos sementara yang lain ikut tertawa.


"Nih sapu tangan" ucap Haeden memberikan sapu tangan, Lishya ingin mengambilnya, namun Haeden lebih dulu melempar sapu tangan tersebut ke wajah Lishya dan mengusap wajahnya dengan kasar.


"Nah, kan kalo gini cantik" ucap Haeden tersenyum puas menatap wajah Lishya yang berantakan hingga rambut-rambutnya. Lishya terdiam sebentar dengan wajah syok, lalu menunduk.


"W-woy lari woy!" seru Cellyn menatap panik Haeden sementara pria itu hanya memberikan tatapan tanda tanya.


"SIALAN LU!" teriak Lishya lalu membanting Haeden dengan penuh amarah. Lishya mengatur nafasnya, sementara Haeden terdiam tergeletak di lantai.


"Nah kan di banting" gumam Cellyn.


"Pfft- ANJAY KEREN AHAHAHA" tawa Haeden.


"Gila" ucap Cellyn dan Lishya bersamaan.


"Eh, ada ruangan lain" ucap Makhen menunjuk ruangan lain di lorong. Makhen dan Jaeson saling menatap, lalu mengangguk.


"Kita cek ruangan itu" ucap Jaeson dan pergi duluan.


"Ikut!" ucap Jidan lalu berlari mengejar Jaeson bersama Makhen.


"Kabarin kalo ada yang aneh!" seru Amaya.


"Minggir lu semua" secara tiba-tiba Amaya masuk menyingkirkan Lishya dan Cellyn dari pintu yang justru membuat Lishya kembali terjatuh tepat di atas Haeden.


Selagi Amaya berjalan masuk dengan santai, Lishya sedang menahan tubuhnya dengan kedua tangan di sebelah kepala Haeden agar tak jatuh. Wajah mereka cukup dekat, mata mereka saling mengunci dengan nafas berat yang berhembus pelan, jika saja Lishya tak menahan dengan pergelangan tangannya saat ini bisa saja bibir mereka bertemu.


Saat keringat Lishya menetes karna rasa malu dan wajahnya yang sudah memerah sempurna, semuanya menatap dengan mata melotot bahkan Cellyn menganga dengan sangat lebar.


"Jangan kelebaran, nanti kemasukan dugong" ucap Juan mendorong dagu Cellyn agar mulutnya tertutup.


"W-WAT DE PAK?! AMAYA BEGOOO!" panik Lishya dan dengan cepat berdiri. Ia berlari mengejar Amaya dan menendang bokongnya.


"Jahat" ucap Amaya menatap dingin Lishya.


"Lu lebih jahat, kulkas dua pintu" ucap Lishya sembari mencubit kedua pipi Amaya dan menariknya.


"EEEH JANGAN DI APA-APAIN KAK AMAYA NYAAAA!" ucap Maya yang panik dan berlari tanpa melihat sekitar. Karna Haeden membuat posisinya jadi duduk, Maya yang baru saja mau lewat pun tertabrak tubuhnya. Dan setelahnya, wajah Haeden pun tertindih perut Maya.


"Wow, ini kah yang namanya 'sudah jatuh tertimpa tangga'?"


"Bukan bego"


...꒰ ͜͡ఎི(Next Chapter)໒ྀ͜ ͡꒱...