The Crystal

The Crystal
12୭̣༉



"Gua nemuin bukti" ucap Amaya yang membuat semua temannya menatap dirinya dengan mata yang membelalak.


"Lu nemuin bukti apa?" seketika wajah Cellyn sedikit tampak berseri karna ia tak sabar ingin tidur dengan nyaman di kamarnya. Membuat yang lain menggelengkan kepala karna sebenarnya masih banyak yang di urus meski sang pembunuh tertangkap.


"Nih..." Amaya menaruh selembar sticky note di meja yang berada di hadapan mereka.


"Sticky note?" tanya Lishya heran lalu dengan cepat ia mengambil sticky note yang taruh di meja dan segera membacanya.


...Kamu tau perbedaan burung dan manusia? Burung mempunyai sayap indah yang bisa membawanya terbang......


...Sementara manusia tidak....


ucap Lishya membaca isi dari sticky note yang Amaya temukan.


"Maksudnya? Gua nggak ngerti deh" Cellyn berucap, sembari mencerna apa yang Lishya ucapkan ia bersandar dan itu membuat Cellyn perlahan memejam-mejamkan matanya.


"Tipuan" satu kata yang keluar dari mulut Jaeson dan mengundang perhatian semua teman-temannya.


"Tipuan? Kok lu bisa nyimpulin kalo itu tipuan?" ucap Lishya yang terus memutar otak untuk mencerna kata-kata yang ada di sticky note ditambah lagi dengan kata 'tipuan' dari Jaeson.


"Oh iya Shya, keadaan diatas gimana?" tanya Makhen untuk mencari persamaan kata yang berada di sticky note, perkataan Jaeson, dan keadaan di atap.


"Oh di atap ada besi pembatas yang patah, kayanya itu bekas kejadian waktu itu deh"


"Tipuan... Maksud lu jebakan Jae?" kali ini Ryumi berkata setelah mencerna semua yang teman-temannya ucapkan.


"Tapi, sticky note nya ada di kamar Lukaf" ucap Amaya.


"Lukaf pernah bilang kalo yang terjun dari atap itu adiknya" jelas Makhen.


"Kemungkinan besar Lukaf udah meriksa atap terus dia nemuin sticky note"


"Terus sekarang gimana? Kita lanjutin?"


"Ya udah istirahat dulu, kasian tuh si Cellyn kayanya udah kecapean banget sampe ketiduran gitu" ucap Juan yang sedari tadi memperhatikan Cellyn yang duduk di sebelahnya sembari menyelipkan anak rambut yang menutupi wajah Cellyn.


"Lah sejak kapan Cellyn tidur?"


"Udah lumayan lama, mungkin 10 atau 15 menit yang lalu" ucap Jaeson yang sudah sadar bahwa Cellyn tertidur bagaimana tidak sadar Cellyn tidur tepat di samping dirinya. Betapa beruntungnya Cellyn yang tidur di tengah-tengah para pangeran tampan, mungkin jika dirinya tidak lelah dan mengantuk ia sudah menggila.


"Ihh... Cellyn malah tidur padahal kita lagi bahas soal pembunuhan, Maya aja mau tidur tapi takut"


"Biarin Cellyn tidur, dia kan cape semalem nggak tidur, Maya kalau mau tidur di kamar aja ayo Amaya anterin" ucap Amaya sembari menuntun sang adik kesayangannya itu untuk menemaninya tidur, ya walaupun seharusnya Maya belum mengantuk lihatlah ini masih pukul 11.45 tapi ya mungkin saja Maya ingin tidur siang.


"Lah tumben si Amaya ngomongnya lemah lembut banget? Bisanya kan dia tuh kutub sama kaya si Jaeson kalo ngomong irit banget" ucap Juan yang mendapat tatapan tajam dari Jaeson.


"Amaya emang cuek, tapi kalau sama Maya mana bisa dia cuek, secara Maya itu adik kesayangannya"


"Kok lu tau Shya?" pertanyaan macam apa itu? Apa Haeden amnesia? Apa dia lupa jika Lishya, Cellyn, Amaya dan Maya adalah sahabat? Ya walaupun mereka bersahabat belum begitu lama mungkin baru 3 sampai 4 tahun, berbeda dengan Maya dan Cellyn mereka sudah hampir 6 tahun menjadi sahabat jadi, jangan heran jika melihat Maya dan Cellyn yang sangat dekat.


"Pertanyaan lu kayanya nggak usah dijawab" ketus Jidan yang menyadari betapa bodoh temannya ini.


Lishya berjalan mendekati Cellyn yang sudah pindah kealam mimpinya. Tetap saja Lishya berusaha membangunkan sang adiknya itu.


"Udah Shya biarin, biar gua yang gendong ke kamarnya" baru saja Juan ingin mengangkat tubuh Cellyn, namun sang empu sudah bangun duluan.


"Lu ngapain? Mau cabul ya?"


"Baru bangun udah negatif thingking aja lu"


"Terus, lu mau ngapain deket-deket ama gua pas gua tidur? Mau cabul kan lu? Dasar tuyul ijo mesum" ucap Cellyn menuduh Juan yang langsung mendapatkan gelak tawa dari teman-temannya khususnya Makhen dan Lishya, lihatlah betapa senangnya mereka melihat Juan yang dituduh habis-habisan oleh Cellyn.


"Kak Lishya kok lu nggak bantuin gua sih? Apa jangan-jangan lu kerja sama ya buat jual gua ke Juan?"


"Enak aja lu nuduh gua, lagian kalo seandainya gua jual lu juga nggak bakal laku maemunah" tawa Lishya terhenti tatkala sang adik menatap dan menuduhnya yang tidak-tidak.


"Dahlah gua males pengen lanjut tidur ayo May kita tid-" baru saja ia ingin mengajak Maya untuk melanjutkan tidurnya di kamar, ia malah sangat kaget ketika ia tidak melihat Maya.


"Anj* tangan lu bau nggak usah sentuh mulut gua"


"Habisnya mulut lu berisik minta di sumpel"


"Nggak usah berisik maya udah masuk kamar" ucap Jaeson berinisiatif untuk menghentikan adu bacot antara Cellyn dan Haeden, ya tidak mungkin ia hanya berdiam diri dan mentulikan telinganya yang sudah hampir ingin meledak.


"Ish, kok nggak ada yang bangunin gua sih anjir, taulah ngantuk pen makan" ucap Cellyn sembari meninggalkan sang kakak bersama teman-temannya yang lain.


"Bocah baru bangun tidur otaknya jadi lemot njir, kebanyakan ngebug kaya si Jidan" ucap Juan yang hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Cellyn yang seperti anak ilang.


"Padahal tadi udah gua bangunin emang bocah nya aja yang kalo tidur kebo" ucap Lishya yang ingin menyusul sang adik namun langkahnya terhenti ketika ia melihat tangannya di genggam oleh seorang laki-laki.


"Mau kemana?" tanya Makhen yang masih menggenggam tangan Lishya


"Mau keatas, kenapa?"


"Oh ya udah, istirahat ya jangan mainin Handphone" ucap Makhen yang hanya di balas anggukan kepala oleh Lishya, meski luarnya datar, sebenarnya di dalam hati ia sedang meronta-ronta kesenangan. Ketika tangannya sudah dilepas oleh Makhen, dengan cepat Lishya berlari mengejar Cellyn.


...𖡼.⊹ᤳᤳᤳ𖧧ᤳᤳᤳ𖡼.⊹ᤳᤳᤳ𖧧ᤳᤳᤳ𖡼.⊹ᤳᤳᤳ𖧧ᤳᤳᤳ⊹ 𖡼.⊹ᤳᤳᤳ...


"Akh... Seneng banget deh gua" ucap Lishya sembari menutupi wajahnya dengan bantal yang baru saja Cellyn ingin ambil untuk melanjutkan tidurnya.


"Lu gila ya kak? Dateng-dateng senyum-senyum kaya orang nggak waras"


"Nggak perduli yang penting Makhen perhatian ke gua" ucap Lishya yang masih di selingi tawa, entah mengapa hanya dengan kata-kata itu saja mampu membuat hati Lishya berbunga-bunga.


"Gini nih efek kelamaan jomblo kurang belaian" merasa tertohok dengan ucapak Cellyn, Lishya pun memukul wajah sang sepupu dengan bantal.


"Songong banget si lu, maen lempar-lempar bantal aja"


"Songong? nggak salah ngomong? gua sama lu aja tuaan gua, terus lu bilang gua songong? dasar laknat"


"Ya ngaku tua hahaha..."


"Bocil siluman kebo diem aja deh"


"Stttt! jangan berisik Maya lagi tidur" ucap Amaya yang melihat adiknya yang sedang tidur sedikit terganggu.


"Cell sini deh" ucap Lishya sembari melihat jendela di kamar mereka yang berhadapan dengan kolam berenang.


"Nggapa lu mau ngajak gua foto? Views nya bagus ya? coba ah kaya juga gua belom foto-foto deh" ucap Cellyn mengambil handpone nya yang berada di atas laci dan berjalan menghampiri Lishya.


"Cepet napa lama banget si lu! jalannya jangan sambil liat handpone anjir"


"Bacot sekali anda ini sistah!" ucap Cellyn yang masih tetap menyentuh layar handpone nya itu "Loh, kok nggak bisa sih?!" tanya Cellyn kesal dengan masih tetap menatap layar benda pipih itu.


"Kenapa lagi sama Handphone lu?"


"Nggak bisa kak, nggak ada signal disini"


"Hah? nggak ada signal?" tanya Lishya yang langsung mengambil handpone miliknya yang berada didalam tas, "Terus kalo nggak ada signal caranya kita nelfon polisi gimana?!" tanyanya kesal sembari melempar ponsel miliknya kearah kasur.


Sementara Cellyn melihat kakaknya yang setengah frustasi itu hanya bisa diam seribu bahasa. Ya karna ia tak ingin ikut campur ketika sang kakak sedang dalam keadaan yang tidak terkendali, karna menurut ia melihat kakaknya marah lebih seram dari pada mamah dan papahnya yang marah akan dirinya memang sangat susah dibilangin.


"Ngapain lu bengong bego! gua nyuruh lu kesitu bukan buat bengong!"


"Nahkan bener dugaan gua, gua diem aja diomelin apalagi gua nyautin dia tadi" batin Cellyn ketika Lishya mengeluarkan kata-kata mutiara miliknya.


"Terus lu nyuruh gua kesini buat apa nyet?"


"Liat tuh"


...꒰ ͜͡ఎི(Next chapter)໒ྀ͜ ͡꒱...