
"Ayo kita bahas soal pembunuhan ini" ucap Amaya dengan tatapan yang sangat serius.
"Pokoknya kita harus selidikin." ucap Cellyn dengan raut wajah kesalnya, tujuannya dan teman-temannya yang seharusnya ingin berlibur, tetapi semuanya menjadi berantakan karna pembunuhan yang terjadi.
"Tapi nggak segampang itu Cell" Lishya lalu menghela nafasnya kasar, ia harus menenangkan Cellyn yang kesal atau gadis itu akan mengacak-acak penginapan.
"Bener, nggak segampang itu buat nyelidikin kasus ini, ditambah lagi pihak penginapan yang seakan-akan nggak perduli dan membiarkan kita menjadi korban" ucap Ryumi kesal mengingat sudah beberapa kali ia memencet bel, bahkan orang-orang dari kamar lain juga begitu.
"Bentar, sekarang harusnya kan gua maskeran" batin Ryumi melupakan apa yang teman-temannya bicarakan.
"Terus sekarang gimana dong? gua nggak mau mati disini gua masih mau ketemu bias gua" ucap Cellyn mengundang perhatian yang lainnya.
"Siapa si Cell yang mau mati disini gua juga mau ketemu bias gua njir" Lishya pun membayangkan suatu hari akan bertemu dengan idol yang ia sukai.
"Gua nggak mau mati... Masih pengen ketemu Ayah sama Mama..." lirih Cellyn dengan kepala menunduk, membayangkan kedua orang tuanya yang menyambut kepulangannya setelah berlibur. Lishya mendengar itu hanya melirik sebentar.
"Lu aja yang baru beberapa hari jauh dari ortu lu aja udah begini, apalagi gua yang udah lama banget nggak ketemu ortu gua" ucap Lishya, memang benar dia sudah lama tak bertemu orang tuanya.
Kira kira sudah hampir 3 tahun lamanya, kedua orang tuanya adalah pemilik perusahan dan mereka sedang bekerja di luar negeri. Lishya sudah menolak saat dirinya hendak di serahkan kepada keluarga sepupu, namun akhirnya ia sadar bahwa kedua orang tuanya melakukan itu demi dirinya dan ia pun akhirnya setuju walau dengan hati tak rela.
"Nggak boleh pesimis kita harus bisa keluar dengan selamat" ucap Amaya yang merasakan kekhawatiran dari kedua temannya, ia juga khawatir, kalau saja adiknya tak ikut bersamanya mungkin dirinya sudah pasrah dimakan oleh salah satu hewan buas di luar.
"Tenang Cellyn ada babang juan disini" Juan menepuk-nepuk dadanya dengan wajah bangga, merasa bahwa dirinya dapat melindungi Cellyn tanpa goresan apapun.
"Udah pernah dicium sendal?" karna sudah merasa kesal, Cellyn mengangkat sendal tidur yang ia pakai guna mengancam Juan.
"Belom, ngapain nyium sendal, mending cium kamu EA EA EAAAAA"
"Cium-cium, bapakmu di cium, nih cium sendal gua" ucap Cellyn sembari menyodorkan sendalnya tepat dihadapan Juan.
"Sialan lu nyai ronggeng, enak aja muka ganteng gua di kasih sendal"
Ucap Juan menjauhkan wajah yang sudah ia poles dengan skincare mahal dari sendal jelek nan buluk tersebut. Padahal sendal itu khusus dari penginapan, dan baru di pakai beberapa hari, tapi anehnya langsung buluk dan kotor seperti pikiran yang punya.
"Enak aja ngatain gua nyai ronggeng, dasar tuyul ijo" setelah mengatakan kalimat yang terakhir, alahkah kagetnya Cellyn yang melihat Juan sedang bersiap untuk menangkapnya. Dengan keadaan panik ia pun mengangkat kakinya dan berlari sekencang mungkin untuk menghindari lelaki yang baru saja ia maki.
"Sini lu nyai ronggeng! Jangan lari anying!!" ucap Juan sembari mengejar Cellyn yang dari awal sudah takut karna wajah menyeramkan Juan saat di panggil tuyul ijo.
"Eh anj! Bangsul! ******! Jangan kejar gua tuyul ijo!"
Karna panik, Cellyn lari sekencang yang ia bisa dan mengumpat supaya Juan tidak menemukannya. Setelah berlari cukup jauh Cellyn pun bersembunyi dibelakang tembok, dan ketika ia merasa Juan sudah tidak lagi mengejarnya Cellyn pun keluar dengan sangat hati-hati. Ia melihat-melihat kanan kiri hingga membuat dirinya tak lagi fokos terhadap yang didepannnya, dan pada akhirnya saat hatinya sedang berdugem ria ia di kagetkan dengan sosok yang baru saja ia tabrak.
"MONYETNYA DORA?!" karna dirinya sangat terkejut, spontan mulutnya mengucap apa yang baru saja ia tonton tadi malam.
"Aduh, mbak, hati-hati kalau jalan ya... Mbak kan jalan ke depan bukan samping, emangnya mbak tuan krep?" suara itu terdengan saat dirinya mengusap dahi sembari tertawa kecil.
"Oh iya ka, maaf saya nggak sengaja" ucap Cellyn dengan senyum yang memperlihatnya deretan giginya. Lelaki yang baru saja ia tabrak itu hanya tersenyum, lalu mengusap dahi Cellyn yang menabrak dada bidangnya.
"Sakit ya?" ucap lelaki itu sembari menundukan badannya sampai sama dengan tinggi badan Cellyn.
"Eh?-" Cellyn yang diperlakukan seperti itu tentu saja terkejut, apalagi orang yang di depannya memang tampan.
"Maaf tadi saya nggak liat-liat kalau ada orang didepan" ucap lelaki itu, Cellyn yang mulai salah tingkah hanya mengangguk pelan dan menundukan kepalanya.
"Nama kamu siapa?" lelaki itu tersenyum saat Cellyn mendongakan kepala untuk menatapnya.
"Cellyn.."
"Oh, hai Cellyn, nama saya- TUYUL!?"
"Hah?.."
"I-itu..." saat lelaki tersebut menunjuk kebelakangnya, Cellyn membalikkan badan dan melihat wanita dengan wajah putih yang retak.
"KUNTI?!"
"HAH?! DIMANA?!" wanita itu menoleh ke kanan dan kiri, yang justru mengundang tanda tanya pada Cellyn juga lelaki itu.
"Oh.. OOOH! KAK RYUMIIIII!" seru Cellyn setelah tau itu adalah Ryumi yang sedang memakai masker wajah.
"Bentar, tadi namamu siapa?"
"O-oh, iya, Namaku Taeyu" ucap lelaki itu dengan senyuman kikuk.
"Hm... Nggak jauh beda sama tuyul sih" gumam Cellyn dan dihadiahi geplakkan maut dari Ryumi di kepala.
"Nggak boleh gitu" ucap Ryumi yang hanya mendengar gumaman Cellyn.
"Ampun... Saya nggak salah apa apa, jahat sekalih kamuh bawangh merahh"
"Matamu bawang merah"
"Eh, kamu yang waktu itu bawa pedang buat bunuh ular yang masuk ke pinginapan kan?" tanya lelaki bernama Taeyu itu menatap Ryumi.
"Hm? Oh, iya" jawab Ryumi dengan senyuman.
"Nggak apa apa koook, nama saya Shin Ryumi" jawab Ryumi tersenyum hingga matanya menyipit, Cellyn melihat interaksi keduanya lalu berpikir sebentar.
"Lee Taeyu" Taeyu mengulurkan tangannya, Ryumi yang melihat itu pun menggenggam tangan Taeyu dengan senyuman.
"Wah.. Cocok" batin Cellyn.
"Saya harus pergi dulu, sampai jumpa lagi Cellyn, Ryumi" ucap Taeyu, Cellyn dan Ryumi hanya tersenyum sembari melambaikan tangan ketika Taeyo berjalan menjauh. Dan tanpa mereka sadar, Taeyo sedang menunjukan senyum lebarnya setelah pergi.
"Dia... Mencurigakan" batin Ryumi setelah nenghapus senyumnya.
"Hih, gara gara Juanjink gua jadi nabrak anak orang kan" mengingat alasan ia menabrak Taeyu, Cellyn pun jadi kesal, Ryumi yang mendengar itu hanya terkekeh pelan sembari mengikuti Cellyn yang berjalan ke tempat sebelumnya mereka kumpul.
"DOR!!"
"JUAN GOB-" ucap Cellyn spontan yang membuat teman-teman beserta kakaknya itu tertawa lepas karna Cellyn menatap Juan sangat kesal setelah terkejut.
"BWAHAHAHA MUKA LU KAYA KETEMU SYAITON ANJIR!" tawa Lishya pun pecah setelah melihat sang adik terkejut dua kali dengan ekspresi anehnya. Makhen yang melihat dan mendengar tawa Lishya pun ikut tertawa, namun pebih pelan.
"Lu jangan pada ngeselin napa, kalo jantung gua copot terus gua mokad gimana?" ucap Cellyn sembari duduk si samping Jaeson.
"Ka Amaya... Maya laper nih" ucap Maya yang sudah menutuni tangga setelah tertidur cukup lama. Hari sudah pagi, tentu saja gadis itu sudah bangun meski suara ledakan dan suara-suara hewan liar tak membangunkannya semalam.
"Yaudah nanti kakak masakin, Maya tunggu sini dulu" ucap Amaya yang dengan cepat berlari kecil ke dapur.
"Kak Lishya"
"Hm?"
"Gua laper"
"Masak sendiri lah"
"Dasar kakak durjana, dahlah kita unsistah aja" ucap Cellyn yang meninggalkan kakanya dan dengan cepat ia pergi ke kamar untuk mengambil stok seblak instan yang sengaja dibawa olehnya untuk situasi darurat saat perutnya memberontak karna lapar.
"Cellyn bikinin gua mie, gua laper"
"Bikin sendiri, gua mau masak seblak bareng Amaya didapur bye-bye anak pongot"
"Sialand, awas aja kalo emak bapak gua udah balik, gua ke korea sendirian biar lu ngiri" gumam Lishya menatap Cellyn yang pergi.
Cellyn langsung berlari ke dapur untuk memasak seblak. Karna audah Profesional Cellyn memasak hanya membutuh kan waktu kurang lebih 10 menit untuk hasil yang maksimal dan sekirannya sudah matang dan siap disantap Cellyn dengan sangat extited membawa seblaknya dan langsung memakannya panas-panas.
"Yaampun betapa enaknya my seblak" dengan berbicara sendiri layaknya orang gila, Cellyn terus memakan seblaknya yang membuat Lishya kesal.
"Cellyn, masih pagi-pagi udah makan seblak ntar sakit loh" ucap Maya, ia sedikit khawatir dengan kesehatan lambung temannya yang hampir tiap hari makan seblak itu. Namun rasa khawatirnya tergantikan rasa pemasaran saat melihat yang lain kumpul dan pintu juga jendela di tutup dengan kayu sehingga cahaya matahari hanya masuk lewat ventilasi.
"Santai May gua udah kebal kok hehehe" ucap Cellyn mengacungkan jempolnya.
"Dari pada makan seblak mending makan nasi goreng buatan kak Amaya aja" ucap Maya setelah di suguhkan nasi goreng buatan Amaya yang membuat Juan and pren juga Ryumi ikut lapar.
"Udah Maya makan aja sampai kenyang, katanya laper" ucap Cellyn yang terus memakan lahap seblaknya membuat perhatian yang lain beralih kepadany dengan air liur yang hampir keluar.
"Yaudah Lishya sini makan nasi goreng bareng Maya, enak tau" ucap Maya mengangkat sendoknya tinggi-tinggi dengan wajah berseri.
"Mau mie tapi males masak" Lishya menghela nafasnya papasrah dengan perut yang bergemuruh.
"Yaudah si makan nasi goreng aja nggak usah ribet lu" ucap Cellyn yang sangat kesal karna menurut nya sang kakak terlalu dramatis.
"Cellyn lu makan cabe? buset merah banget" ucap Juan yang baru kembali dari toilet.
"Berisik lu" ucap Cellyn menatap Juan sinis, sepertinya ia masih kesal karna dikejutkan tadi.
"Eh? Haeden kemana njir?" ucap Lishya menoleh kana kiri.
"Ke kamar mandi kali" ucap Makhen yang sedang mengemil jajanan.
"Ck, abis lagi" gumamnya kesal.
"Khen, temenin gua buat mie nyok" ucap Lishya, Makhen berpikir sebentar lalu setuju. Ia berdiri dan berjalan, namun saat menyadari Lishya yang tak bergerak sama sekali dari posisi duduknya ia pun terhenti lalu menoleh ke belakang.
"Ayok lah" ajak Makhen menatap Lishya heran.
"Pertama, kaki gua sakit, kedua, gua males jalaaan.." ucap Lishya yang justru tiduran sofa, makhen menghela nafasnya, lalu menatap heran gadis di depannya ini.
Disisi lain, Cellyn yang merasa kepedasan pun berlari ke dapur. Ia mengambil gelas lalu mengambil air dan meminumnya hingga tandas.
"FWAH! MANTAP!" ucapnya setelah meminum air segar tersebut. Baru saja ingin kembali ke tempat sebelumnya, namun ada sesuatu yang menarik perhatian. Di lantai dapur, sangat banyak bercak darah.
...꒰ ͜͡ఎི(Next Chapter)໒ྀ͜ ͡꒱...
...Lee Taeyu...