
Mereka pun berlari menaiki tangga dan sampai di dapur, namun saat sampai di sana, terlihat Amaya sedang menusuk leher Yudha dengan sebuah sendok.
"Amaya?..." lirih Cellyn yang melemas, pikiran negatif pun terus-terusan bermunculan bersamaan dengan kekhawatirannya.
Lishya memeriksa keadaan sekitar, terlihat Maya sedang menutup mulut tak percaya dengan ekspresi panik dan takut. Sementara Amaya? Ia hanya diam tak berkutik dan tanpa ekspresi, namun Lishya menangkap sesuatu yang mencurigakan.
"Amaya.... Kenapa?" tanya Cellyn dengan tangan mengepal, pikirannya mulai kacau saat ini, apalagi Amaya tak menjawab apapun dan hanya memandangnya datar juga tak berkata apapun.
"Kak... Nggak mungkin kakak kan?..." lirih Maya dengan suara bergetar, saat tatapan Amaya mengarah ke Maya, ekspresi itu berubah menjadi sedih. Namun karna hal itu Maya dan Cellyn jadi tahu sesuatu.
"Tunggu tunggu! Amaya nggak salah! Jidan sendiri yang liat, Amaya mau meriksa Yudha!" ucap Jidan mencoba membela Amaya.
"Beneran? Lu nggak bohong kan?" tanya Juan menatap Jidan serius.
"Gua rasa Jidan nggak bohong" ucap Haeden menimpali.
"Ada bukti kalau bukan lu yang ngelakuin itu?" tanya Jaeson.
"Gua...." Amaya terdiam, ia bingung apa yang harus ia katakan. Namun tak lama Lishya, Cellyn, dan Maya berdiri di hadapan Amaya menghadap Jaeson dengan tatapan serius.
"Amaya nggak akan berekspresi sedih ke adiknya kalau dia bersalah" ucap Cellyn.
"Kak Amaya nggak mungkin melukai seseorang!" seru Maya yakin.
"Pertama, tangan Amaya getar karna dia juga takut, kedua, Amaya nggak mungkin kuat nusuk orang pakai sendok apalagi lawannya Yudha yang jauh lebih besar dan kuat dari pada dia, ketiga, Amaya baru keluar tapi darah Yudha udah cukup banyak yang berceceran" ucap Lishya menjelaskan dengan nafas yang terengah-engah karna tegang.
"Oh iya darahnya!" dengan panik Maya mengambil sapu tangan di kantung bajunya lalu menekan luka Yudha di sekitar sendok yang masih tertancap di leher bagian kiri.
"Lukanya nggak terlalu dalam, kita urus dia dulu baru bicara" ucap Amaya lalu mencari kotak P3K di dapur.
"Jidan bantu" ucap Jidan dan ikut mencari, tak lama Jidan menemukan kotak itu dan memberikannya ke Amaya.
Amaya melakukan pertolongan pertama, melihat hal itu Jaeson menghela nafas lalu turun tangan untuk menangani luka Yudha.
"Alatnya kurang, bawa kotak yang di kasih Lukaf" perintah Jaeson pada Haeden, yang di suruh pun dengan segera berlari pergi untuk mengambil kotak tersebut. Saat kembali, dengan cekatan Jaeson menangani luka Yudha.
Melihat keringat yang mengalir di pelipis Jaeson, Cellyn pun mengeluarkan tissu dan mengusap keringat lelaki itu.
Jaeson hanya diam karna masih fokus mengobati meski sadar, sementara Juan yang melihat itu merasa tak tenang dan kesal lalu merebut tisu yang di pegang Cellyn. Juan menempel tisu itu di pelipis Jaeson dan mengusap keringat Jaeson dengan kasar.
"Apaan sih lu?" tanya Jaeson dengan tatapan tajam karna mulai ikut kesal.
"Nggak kenapa-napa, cuma ngelapin keringet lu" ucap Juan, merasa malas berdebat, Jaeson melanjutkan pengobatannya dan mengacuhkan Juan.
"Nih dua anak malah berantem anjir...." ucap Cellyn.
"Nggak apa-apa, sehat" jawab Lishya asal, Cellyn yang mendengar itu tentu saja merasa kesal, apanya yang sehat coba.
Lishya memperhatikan sekitar, dapur ini kosong, tak ada tanda apapun atau jejak apapun kecuali jejak mereka saat masuk ke dalam ruang bawah tanah.
"Yudha masih hidup kan?..." tanya Maya menatap sedih Yudha yang terkulai lemas di lantai.
"Nggak apa-apa, pembunuh itu mungkin kabur karna denger suara langkah Amaya" ucap Juan.
"Tapi Maya rasa bukan...." mendengar lirihan Maya, semuanya menoleh kecuali Jaeson, tangannya mungkin sedang mengobati luka Yudha, namun telinganya mendengarkan seksama apa yang akan di ucapkan Maya.
"Kenapa lu bisa berpikir begitu?" tanya Makhen yang sedang bersender di meja pantry.
"Firasat Maya aja, rasanya kejadian ini agak janggal" jawab Maya menunduk karna dirinya masih merasa ragu.
"Kalau memang dia buru-buru karna denger suara langkah Amaya pasti darahnya juga masih sedikit, ini kaya dia sengaja nggak ngebunuh Yudha" ucap Cellyn tiba-tiba membuat orang-orang tercengang, bahkan Jaeson berhenti bergerak.
"Iya juga, Yudha punya luka memar di perut, berarti dia sempet ngelawan, jadi kenapa dia sengaja nggak ngebunuh Yudha?" ucap Lishya membuat yang lain makin tercengang. Duo rusuh tak berakhlak ini tiba-tiba berpikir sebuah teori? Sepertinya dunia sedang tak baik-baik saja.
"Dia berpikir Yudha bisa mati karna kehabisan darah kali ya?" ucap Cellyn.
"Nggak mungkin, kalo gitu harusnya dia nusuk Yudha lebih dalam, mungkin...." ucap Lishya menggantung, mereka berdua diam beberapa saat, lalu saling bertatapan.
"Ini ancaman." ucap keduanya bersamaan dengan wajah tegang. Semuanya diam, Jaeson yang ikut terdiam kini mulai sadar, lalu mengobati Yudha kembali sehingga hanya terdengar suara dentingan alat yang di gunakan Jaeson.
"Kalian tiba-tiba jadi pintar.... Kalian sakit parah ya?!" panik Maya lalu menempelkan kedua telapak tangannya di dahi Lishya dan Cellyn.
"Kita bodoh.... Di bilang nggak waras" ucap Cellyn.
"Kita pinter.... Di bilang nggak waras juga" lanjut Lishya, merasa tak ada yang salah dengan suhu tubuh Lishya dan Cellyn, Maya mengingkirkan tangannya dan mulai panik sembari menggigit jari.
"Ya elah, semenyeramkan itu kah kita kalo jadi pintar?" tanya Cellyn.
"Serem." jawab Maya, bahkan Amaya juga menjawab dengan ucapan yang sama serta wajah yang takut membuat keduanya terdiam.
"Tunggu tunggu, kok lu tau perut Yudha memar?" pertanyaan Haeden membuat yang lain juga ikut berpikir, lalu menoleh ke arah Lishya dengan pandangan beribu pertanyaan.
"Ehehehe.... Tadi bajunya kebuka sedikit terus ku tutup" jawab Lishya menyengir sembari menggaruk tekuk membuat orang-orang memandang tak percaya.
"Parah lu kak...." lirih Cellyn.
"Lumayan, rejeki itu" jawab Cellyn.
"Kok lu nggak kasih tau sih?! Parah sih! Ada roti sobeknya nggak?" ucap Cellyn berbisik walaupun masih terdengar orang lain.
"Ada cuy, tercetak dengan sangat jelass" jawab Lishya ikut berbisik juga. Mereka pun terus mengobrol sembari berbisik yang masih di dengar oleh orang lain, hingga akhirnya dahi Lishya di sentil membuatnya meringis kesakitan.
"Matanya di jaga" ucap pelaku yang menyentilnya, Haeden.
"Dih, terserah gua lah" jawab Lishya memandang sinis.
"Ih, Lishya ternyata mesum"
"MATAMU!"
Haeden justru tertawa mendengar perkataan Lishya, yang benar saja, di depan mereka ada orang terluka tapi mereka masih sempat bertengkar?
"Ugh... Gila tuh orang" suara lain terdengar, membuat mereka mengalihkan pandangan. Yudha sudah sadar, lalu ia menduduki dirinya.
"Lah? Kuat banget lu, hampir sekarat tapi cepet banget bangunnya" ucap Jaeson.
"Diem dulu dah, gua lagi nginget-nginget orang yang nusuk gua, balas dendam kayanya seru nih" ucap Yudha dengan senyum seram membuat Maya merinding dan bersembunyi di balik tubuh Amaya.
"Emang orangnya kaya gimana?" tanya Jidan.
"Seinget gua dia.... Pake kemeja putih" ucap Yudha masih mencoba mengingat. Mereka terdiam sebentar, membiarkan Yudha kembali berpikir.
Hingga akhirnya, ada seseorang yang memasuki dapur membuat mereka menoleh, mata mereka dalam sekejap terbelalak, melihat seseorang dengan kemeja putih dan celana hitam. Bahkan Yudha, ikut terkejut melihatnya.
"Kak Ryumi?...."
...꒰ ͜͡ఎི(Next Chapter)໒ྀ͜ ͡꒱...