
"Wow, ini kah yang namanya 'sudah jatuh tertimpa tangga'?"
"Bukan bego"
"Terus apa?"
"Namanya tuh 'sekali menggayung dua tiga tangga terlampaui' yang bener"
"Sama-sama bego ternyata" ucap Yudha yang lelah mendengar percakapan kakak beradik sepupu itu.
"Untung Jidan nggak sebodoh itu" ucap Jidan merasa bersyukur meski nilainya di bawah KKM.
"Nih, jejak dari kolamnya, dia berhenti di... sini" ucap Amaya yang mengikuti arah jejak air kolam dan berhenti di depan sebuah kotak besar.
"Mari kita lihaaat" ucap Cellyn, karna ia terlalu malas mengambil kotak di tempat yang tinggi, ia memegang erat rak panjang berisi pulahan kotak itu dan menggoyangkannya dengan kencang membuat beberapa kotak jatuh. Anehnya, kotak yang ia incar tak jatuh-jatuh. tentu saja ia merasa kesal karna itu.
"Minggir" ucap Lishya mendorong Cellyn dengan menyenggol pinggang mereka. Setelah Cellyn terdorong ke samping dan Cellyn tanpa sengaja menyenggol Amaya yang membuat wajahnya masuk ke dalam kotak di lantai, Lishya merenggangkan otot tangannya.
Setelah beberapa detik penantian Cellyn dengan wajah bosan dan tertekan, Lishya memasang posisi, lalu dalam sekejap menendang rak tersebut membuat hanya satu kotak yang ia incar jatuh.
Cellyn menganga lebar, ia tak percaya dengan apa yang ia lihat dari kakak sepupunya yang sangat nolep sampai-sampai makan aja di kamar. Melihat Cellyn yang menganga lebar, Lishya pun menyeringai.
"Lemah" ucap Lishya lalu tertawa sombong.
"Anak monyed...." umpat Cellyn yang kesal melihat ekspresi Lishya.
"kalo Gua monyed, lu juga Monyed"
"Dih, ogah"
"Ya udah lu bab-"
"HEH!"
Bertengkar lagi, itu lah yang kakak beradik sepupu itu lakukan. Sementara itu, Jidan yang sedang memperhatikan kotak penuh debu tanpa sengaja menendang sesuatu saat berjalan, saat ia menoleh ke bawa, ada kepala seseorang di sana yang membuatnya terkejut bukan main.
"EH, AMAYA?!" seru Jidan yang terkejut, ia berjongkok, menatap kepala belakang Amaya. Gadis itu sedang merenungi nasib dan berpikir kembali kenapa ia bisa berteman dengan duo bar-bar di sana.
Dengan badan yang terlengkup di lantai dan wajah yang masuk ke kotak, ia menghela nafas panjang lalu menyingkirkan wajahnya dari kotak bau itu. Saat ia membuka mata, ada Jidan yang berada di depan wajahnya, Jidan hanya terkejut lalu menatao Amaya polos.
"Sebentar" ucap Jidan, ia mendekatkan tangannya ke wajah Amaya, menangkup pipi gadis itu dan mengusapnya dengan jari jempol.
"Ada debu" ucap Jidan dengan senyum lebar setelah berhasil menyingkirkan debu yang ada di pipi Amaya. Gadis itu diam menatap Jidan, lalu membenarkan posisinya menjadi duduk.
"Oh, makasih" ucap Amaya dengan singkat, namun anehnya, Jidan tersenyum makin lebar dan menggangguk semangat.
"Wanjir.... Senjata semua isinya ***...." ucap Lishya membuat semuanya mengalihkan pandangan, kotak yang di incar Amaya sebelumnya, kini sudah di buka oleh gadis itu dan menampakan belasan senjata bahkan ada pisau dapur.
"Hm.... Ini kaya pisau Mamah" ucap Lishya mengambil salah satu pisau dapur yang berukuran jumbo.
"Sadis banget Aunty make pisau kaya gini, buat apaan dah?" tanya Cellyn memerhatikan pisau mulus itu dengan ujung pisau yang tumpul.
"Katanya buat masak, sama kalo ada maling gampang di gorok" jawab Lishya mengacungkan jempolnya, seketika Cellun terdiam, ternyata Auntynya diam-diam meresahkan, entah pula bagaimana dengan sikap Om nya.
Setelah di pikir-pikir, tak mungkin juga Lishya bersikap seperti penghuni kebun binatang kalau bukan karna orang tuanya. Yaa, mungkin karna pengarih dirinya juga maka dari itu tercampur sudah sikap astagfirullah dari diri Lishya.
"Awas" dengan cepat Amaya menyingkirkan keduanya membuat mereka terjatuh, lagi. Merasa tersakiti, Cellyn pun berpura-pura menangis, mengeluarkan air mata buayanya.
"Jahat banget, gua bundir nih" ancam Cellyn namun di hiraukan oleh Amaya yang hanya fokus pada benda-benda tajam tersebut.
"Di sini nggak ada bubuk mesiu...." gumam Amaya. Jidan berjongkok di sebelah Amaya, lalu ikut memperhatikan isi kotak tersebut.
"Bubuk mesiu untuk apa?" tanya Jidan.
"Ooh, Kak Amaya pinter!" seru Maya ikut berjongkok di antara keduanya.
"Iya dong, kakak siapa dulu" jawab Amaya menyombongkan diri meski tak berekspresi.
"Hmmm, Gua mendengar suara dobrakan" ucao Lishya membuat semuanya menoleh.
"Hah? Iya apa?" Cellyn menggunakan telinganya baik-baik, lalu mendengarkan dengan teliti dan menangkap memang ada suara gedoran.
"Oh iya, tumben lu denger, biasanya lu kan budeg" ucap Cellyn dengan senyum membuat Lishya menarik urat.
"Gua jual ke kebun binatang aja kali ya? Eh, ke lelang aja deh, eh tapi nanti nggak ada yang mau beli.... Oke fiks jual ke pasar loak" batin Lishya memperkirakan dia mendapat berapa hasil menjual adik sepupunya itu.
"Wanjay, ada yang ke konci gez" suara Haeden terdengar, mereka menoleh dan menghampiri Haeden yang berada di luar gudang menatap ke arah lain. Ternyata itu adalah tempat Juan, Jaeson, dan Makhen berada, mereka terkunci.
"Anjir, subak boy gua ke konci!" seru Lishya berlari ke pintu terkunci itu.
"Dih, kaya udah jadian aja lu, sono minggir gau pengen nyelamatin kulkas dua pintu gua" ucap Cellyn yang sudah berada di samping Lishya.
"Dih, lu juga ngaku-ngaku kan" Lishya menggeplak bahu Cellyn dengan perasaan gondok yang sudah menumpuk di hatinya. Untung adek, kalo bukan udah gua buang di antartika, pikir Lishya.
"Bareng aja, nanti kalo nggak bareng nangeees"
"Anjenk lo, Kak"
"Makasih, babyk juga buat lu Cel"
Setelah saling memakiz mereka pun bersiap untuk mendobrak pintu tersebut, hanya dengan dua dobrakan mereka pun berhasil membukanya. Di dalam gelap, namun terlihat Jaeson dan Makhen sedang santuy duduk bersila di lantai, sementara Juan sudah panik dan dia lah pelaku yang menggedor-gedor pintu.
"Untung aja lu berdua setrong women" ucap Juan dengan lega.
"Lemah" ucap Lishya dan Cellyn menatap datar Juan yang sudah tertohok.
"Jaesoon! Lu nggak apa-apa?" tanya Cellyn sembari menghampiri Jaeson dengan langkah kecil namun cepat.
"Ih najong, nggak usah sok imut gua gelay" ucap Lishya yang melihat tingkah Cellyn kalau sudah berhadapan dengan Jaeson.
"Bacod lu kak, gua tonjok perut lu nih"
"Jangan berani-benari, kalo enggak gua sleding pala lu"
Mereka saling menatap tajam, sampai sampai seperti ada petir di antara tatapan mereka berdua. Cellyn mengacungkan jari tengahnya ke Lishya, sementara sang kakak ingin melakukannya tapi takut kena karma jadi dia mengacungkan jari manis miliknya.
"Hei, udah lah, nggak usah berantem mulu nanti kalo pisah susah loh" ucap Makhen menutup jari manis Lishya dan menggenggamnya. Lishya terdiam sebentar untuk mencerna, dan akhirnya wajah itu diam-diam memerah.
"Ih najis sok malu-malu" ucap Cellyn menatap sinis Lishya.
"jangan sok imut deh, gua gel-" baru saja ingin mengikuti ucapan Lishya, mulut gadis itu sudah di bungkan oleh telapak tangan Jaeson.
"Diem atau gua yang bikin lo diem?" tanya Jaeson dengan tatapan dingin nan tajam menatao tepat ke netra mata Cellyn.
Cellyn yang mendapat perlakuan itu bukannya sedih, namun di dalam pikirannya sedang terjadi ledakan dahsyat membuat otaknya berhenti bekerja sebentar lalu ketar-ketir panik meski di luar nya tak menunjukan reaksi apa pun.
"AAKH! KAK AMAYA!"
Seruan Maya terdengar membuat mereka terkejut dan menoleh ke luar, mereka berlari ke gudang sebelumnya namun tak menemukan seorang pun di sana.
Mereka pun berlari menaiki tangga dan sampai di dapur, namun saat sampai di sana, terlihat Amaya sedang menusuk leher Yudha dengan sebuah sendok.
...꒰ ͜͡ఎི(Next Chapter)໒ྀ͜ ͡꒱...