The Crystal

The Crystal
3୭̣༉



"Njir..."


"YAHAHAHA! AMAYA SAMA MAYA MENANG!" teriak Maya kegirangan setelah sampai di ujung lebih dahulu. Tanpa Lishya dan Cellyn sadari, mereka sudah mendahului keduanya saat mereka tenggelam.


"Temennya tenggelem dia malah kesenengan.." gumam Cellyn menatap Maya tertekan, sedangkan Amaya? Datar doang kaya biasa.


"Permisi... Apa dia baik-baik saja? Barusan dia tenggelam kan?" tiba tiba lelaki dengan baju renang hitam menghampiri mereka. Wajahnya terlihat khawatir menatap Lishya yang masih menutup wajahnya.


"Iya dia nggak apa-apa kok, palingan cuma kembung nelen air" jawab Cellyn dengan senyuman kecil.


"GANTENG WOY! Ya walaupun nggak seganteng yang tadi sih" batin Cellyn.


"Tenang aja, dia kuat kok-" baru saja memegang perut Lishya, Cellyn di buat kaget karna tiba tiba Lishya meringis kesakitan.


"AKH!"


"LEBAY LU!"


"JANGAN PEGANG PERUT GUA ONCOM!"


"LU AJA YANG LEBAY!"


"PERUT GUA SENSITIF! HARUS DI JAGA BAIK-BAIK DARI MANUSIA AKHLAKLESS KAYA LU!"


"KOK GUA?!"


"YA IYA LAH-" ucapan Lishya terpotong saat melihat pemuda di depannya, pemuda yang sebelumnya makan sepotong semangka, dan juga pemuda yang membuatnya kehilangan fokus hingga membuatnya terpeleset di kolam renang.


Pemuda itu tersenyum sembari menggaruk pipinya, kelihatannya dia bingung karna Lishya tak berenti menatapnya. Seketika, wajah Lishya kembali memerah, pandangannya ia alihkan agar tak bertatapan langsung dengan sang pemuda.


"Kamu nggak apa apa?" tanya pemuda itu sedikit mendekat ke Lishya, dan berjongkok di sebelahnya.


"I-iya nggak apa apa" jawab Lishya masih mengalihkan pandangan.


"Kenalin nama gua Makhen" ucap pemuda itu sembari mengulurkan tangannya.


"Lishya" jawabnya dan menerima uluran tangan Makhen.


Melihat Lishya yang menekuk salah satu lututnya, Makhen berniat membantu Lishya bangun dari posisi tidurnya dengan menarik tangan Lishya tanpa tahu si gadis sedang dalam kondisi lemas membuatnya kehilangan keseimbangan dan hendak nyusruk mencium lantai.


Karna reflek Makhen yang cukup cepat, ia memegang kedua pinggang Lishya mencegahnya jatuh, namun, Lishya terlalu takut wajahnya yang sudah ia urus dengan baik selama bertahun tahun jadi hancur karna nyusruk di kolam renang.


Dan dengan paniknya ia mengalungkan kedua tangannya ke leher Makhen yang justru membuat Makhen kehilangan keseimbangan lalu keduanya jatuh dengan posisi Lishya di bawah kukungan kedua tangan Makhen juga tangannya yang mengalung di leher Makhen.


"Wah anjir kak, lu ngapain?!" ucap Cellyn terkejoet dengan apa yang ia lihat.


"Lishya lagi ngapain kok di pelukan di lantai gitu?" dengan polosnya Maya berkata dan mendapatkan tutupan mata oleh sang kakak yang tidak menyangka bahwa mata adiknya sudah terdonai.


"Lishya sialan" batin Amaya merasa menyesal membiarkan sang adik melihat hal tak seharusnya ia lihat.


"Wah parah, baru dateng udah dapet cewe, posisinya ambigu banget lagi" ucap Juan, salah satu teman Makhen dari kejauhan.


"Haha.. **** no" ucap Haeden, lelaki di sebelah Juan yang sedang sibuk menutup mata Jidan sang lelaki polos nan bodoh.


"Eh? Kenapa hyung?" tanya Jidan mencoba menyingkirkan tangan Haeden dari penglihatannya.


"Nggak usah liat, entar mata lu ternodai" jawab Haeden dengan wajah datarnya memperhatikan Juan yang mendekati Makhen dan Lishya.


"Woy, curang banget ya ngeduluin hyung sendiri" ucap Juan dengan seringai kecil menatap Makhen.


"Gua cuma nolongin kok hyung" jawab Makhen menoleh ke Juan.


"Sorry" Lishya melepaskan kedua lengannya dari leher Makhen lalu menutup setengah wajahnya yang memerah dengan lengan kanan, Makhen yang melihat hal itu hanya mengangguk dan bangun dari posisi meresahkan itu, setelahnya menatap lantai karna merasakan kecanggungan di antara keduanya.


"Kiw, hai cantik, kenalan dong" Juan mendekat ke Cellyn lalu sedikit mencondongkan badannya untuk menyamai tingginya dengan Cellyn.


"Oh, hai ganteng" jawab Cellyn dengan senyuman menatap Juan.


"Kenalin, Kim Juan" ucap Juan sembari menyisir rambutnya kebelakang.


"Nama gua Cell-"


"Ah nama lu kepanjangan, gua panggil sayang aja biar singkat" sela Juan dengan seringai menggodanya.


"Gua belom selesai njir"


"Hehe, bercanda sayang" Juan mengedipkan sebelah matanya ke Cellyn yang hanya terkekeh pelan.


"Terserah lu aja, untung gua anak baik nan cantik layaknya bidadari"


"Iya emang lu mah anak yang paling cantik, By the way sebutin dua pantai yang ada di Bali dong"


"Pantai Kuto sama pantai Loviana, emang kenapa? lu mau liburan disana?"


"Nggak sih,cuma mau tanya apa beda nya dua pantai tadi sama lu?"


"Nggak tau sih, emang apaan?"


"Kalau dua pantai itu punya pemerintah kalau kamu punya aku" ucapnya diikuti dengan kedipan mata khas buaya jantannya, sementara Cellyn sedikit terkejut dan lagi-lagi terkekeh


"Oh my god, baper banget jadi pengen tonjok mukanya deh" ucap Cellyn sembari bertepuk tangan kecil.


"Nggak boleh, orang cantik nggak boleh galak"


"Ya udah gini aja, kita gantian sekarang gua yang gombal"


"Okeh"


"Cinta ku padamu itu kaya utang" Cellyn menggesek jari jempol dan telunjuknya


"Lah kok hutang emang kamu punya utang?"


"Iya, tau-tau gede sendiri"


"Asvshksvgsjfjzvxhsi, gua baper huhuhu. Kirain emang beneran punya banyak utang, kasian cantik-cantik utangnya banyak" ucap Juan mengusap-usap dadanya.


"Sialan lu anj-"


"CELLYN!" selagi Cellyn dan Juan berbincang, Lishya yang sudah gedeg akan tingkah kedua buaya terbang itu pun kesal dan berteriak memanggil sang adik sepupu.


"Bye-bye ganteng aku pergi dulu jangan rindu ya itu berat kamu nggak akan kuat"


"Emang kamu kuat?"


"Ya nggak lah kamu aja nggak kuat apalagi aku"


"Terus siapa dong yang rindu?"


"Nggak usah tindu kan kita satu villa" ketika ia ingin melanjutkan gombalannya, seketika ia mendapatkan omelan dari sang kakak.


"Cellyn udah nggak lu ngegombalin anak orang, kasian ntar kalo dia baper lu nggak mau tanggung jawab lagi" Lishya mengambil sendal jepit kesayangan emaknya dan mengancam seolah-olah akan melempat tepat ke wajah Cellyn.


"Kakak! kok lu ganggu mangsa gua sih?"


"Ya gua kasian aja sama si Juan ntar kalo lu udah bosen lu tinggalin"


"Ya nggak apa-apa kan ini hanya sebatas hiburan" ucap Cellyn membela diri karna tidak ingin di cap sebagai play girl. Aslinya mah emang iya.


"Boleh kenalan?" ucap Haeden yang sedari tadi hanya menyaksikan mereka yang sedang adu gombalan dengan senyuman cerah.


"Gua Haeden" ucapnya menerima uluran tangan Haeden.


"Hyung, Icung mau kenalan juga dong"


"Nama gua Jidan" ucapnya sok cool tapi malah terkesan imut di mata orang lain.


"Nama gua Cellyn"


"Lishya"


"Jidan"


"Maya" ucap Maya mengulurkan tangannya dengan memperlihatkan senyum pepsodent miliknya.


"Jidan"


"Kak Amaya ayo kenalan biar banyak temen"


"Iya-iya bawel"


"Gua Amaya" Ucapnya dengan terpaksa dengan pandangan dinginnya.


"Jidan" untuk yang kesekian kalinya Jidan menyebutkan namanya.


"Gua Makhen" ucap Makhen memperkenalkan diri kepada Cellyn, Maya, dan Amaya.


Selagi mereka berkenalan, Cellyn sudah curi-curi pandang ke salah satu laki-laki yang sedang memasak BBQ dengan porsi cukup banyak. Dengan langkah ceria Cellyn pun berjalan menghampiri laki-laki itu.


"Hai, boleh kenalan?" ucap Cellyn dengan keberanian yang sudah ia kumpulkan sedari tadi.Tapi alangkah kagetnya Cellyn yang hanya mendapatkan lirikan acuh tak acuh dari sang lelaki tersebut.


"Nama gua Cellyn" karna ia pantang menyerah, Cellyn terus mencoba untuk berkenalan dengan pria kulkas yang hanya menatapnya datar saja.


"Ayolah Jae, jangan cuek-cuek kaya gitu ntar jauh dari jodoh lu" ucap Juan yang melihat Cellyn dan Jaeson dari pinggir kolam berenang.


"Cell? are you okey?" Kali ini Lishya yang mendekati sang adik karna melihat sang adik yang kena mental karna tidak di notice oleh lelaki yang Cellyn ajak bicara.


"Balik yuk gua kedinginan kayanya deh" ucap Cellyn yang sudah patah semangat untuk saat ini, entah untuk kedepannya.


"Ayok gua juga pengen tidur" Seketika Lishya mengingat betapa lembut dan empuknya kasur yang berada di kamarnya. Sudah di pastikan Lishya akan menguasai kasir dan tidak mau berbagi dengan Cellyn.


"Ayok!! Maya juga udah kedinginan banget" ucap Maya, Amaya yang mendengar itu dengan cekatan mengambil handuk dan memeluk erat Maya agar dirinya tak kedinginan. Sangat berbeda dengan Lishya yang justru akan menertawakan Cellyn jika Cellyn kedinginan.


Dan saat itu pula Lishya menggandeng tangan Cellyn agar lebih cepat karna ia ingin berkencan dengan kasur di kamar, serta menghindari Makhen yang sedari tadi membuatnya salah tingkah.


Setelah selesai bilas atau lebih tepatnya main air, kawanan gadis itu berkumpul di depan kamar mandi bilas.


"Lomba lari mau nggak? yang kalah bikinin kita makanan" ucap Amaya karna melihat wajah Cellyn yang kurang bersemangat setelah kejadian bersama pria kulkas tadi.


"Wah ide bagus, kebetulan gua males masak" ucap Lishya mengancungkan jempolnya.


"Maya ikut!"


"boleh gua ikut" karna meendengar tantangan itu Cellyn pun tertarik, dan perlahan mulai lupa akan kejadian tadi.


"Biar Maya yang hitung" usul Maya karna ia tau jika temannya yang menghitung akan ada kejadian yang curang. Apalagi kalau Cellyn yang hitung.


"Ya udah cepet Maya, gua mau tidur nih" ucap Lishya yang tidak sabar ingin merasakan memeluk guling empuk nan dingin yang menggoda itu.


"1...2...3!"


Tepat pada hitungan ketiga mereka pun berlari sekuat tenaga hingga sampai masuk kekamar. Meski terkadang harus menabrak penghuni penginapan lain, mereka tetap cepat dalam berlari. Kalau Amaya dan Lishya sih mudah menyalip orang-orang, kata Cellyn mereka mirip hewan kebun binatang karna gesit.


"Ah curang Kak Amaya sama Lishya jago lari masa yang kalah Maya sama Cellyn sih"


"Tau lu pada males banget dah gua"


"Yaudah sana bikin makanan gua laper tau, masakin gua mie aja sana yang simple. Sekalian pake telor nggak pake sayur"


"Ayo Cell bikin, Maya juga mau nih hehehe"


"Eh anjir tangan gua jangan di tarik Maya!"


"Maaf Maya nggak sengaja, habisnya maya laper banget tau"


"Ya udah nggak apa-apa ayo masak katanya laper?"


"Okeh"


Setelah Cellyn dan Maya selesai memasak mie untuk Lishya dan Amaya, mereka berdua pun menunggu di meja makan.


"KAKAK! AMAYA! CEPET TURUN MIE NYA UDAH JADI NIH DALAM HITUNGAN KELIMA NGGAK TURUN MIENYA GUA BUANG KE TONG SAMPAH, SATU..... DUA..... TIGA...EMP-"


"Nah ini dia mie guaaa, makasih sistah" dengan cepat Lishya mengambil mie miliknya dan segera melahapnya dengan ekspresi sangat bahagia. Mau buat Lishya bahagia? Cukup mie dengan teh pucuk saja kebahagiaannya sudah melebihi bahagia menghalunya.


Selagi mereka menikmati makanannya, Maya mendengar suara dentuman, tidak besar, namun cukup terdengar baginya.


"A-amaya... Maya denger suara..." ucap Maya yang sedikit takut dan memeluk lengan Amaya.


"Oh, lu denger juga? Gua kira gua salah denger, suaranya kecil banget soalnya" ucap Lishya lalu bangun dari duduknya.


"Gua mau cek dulu, suaranya dari luar" lanjut Lishya berjalan ke pintu utama villa dan membukanya.


"BAA!"


"EH ****** TERBANG?!" latah Lishya yang dikagetkan oleh Cellyn karna ia tiba tiba di peluk dari belakang.


"Sialan lo"


"Hehe, eh? itu kardus apa?" tanya Cellyn yang melihat kardus tak jauh dari pintu.


"Nggak tau, perasaan gua nggak denger suara abang paket" jawab Lishya dan mendekat ke kotak, membuka selotip yang menempel lalu melihat isinya. Seketika, makanan yang baru saja ia makan ingin keluar dari mulut saat melihat pemandangan menjijikan di depannya.


Potongan tubuh manusia yang sudah setengah terbakar, setelah berteriak kencang Cellyn menutup mulutnya dan perlahan menjauh, sementara Lishya menutup hidungnya karna merasakan bau bensin menyengat dari mayat tersebut.


"Ini... tubuh siapa?.."


...꒰ ͜͡ఎི(Next Chapter)໒ྀ͜...



...★Lee Makhen★...



...★Kim Juan★...



...★Lee Haeden★...



...★Park Jidan★...



...★Na Jaeson★...