Sweeter Than Coffee

Sweeter Than Coffee
Nine



“Anna... kenapa aku harus menjemputmu di sini, dimana mobilmu?”


            Tiffany datang dengan dahi berkerut saat aku memintanya untuk menjemputku di dekat halte, tak jauh dari rumah orangtuaku berada. Udara dingin yang sejak tadi terasa menusuk ke tulang membuatku langsung bergegas masuk kedalam mobil


Tiffany sambil melemparkan tubuhku keras kearah kursi mobilnya yang berwarna pink. Yeah, temanku yang satu ini memang seorang pink monster. Hampir seluruh barang-barang miliknya berwarna pink, dan ia tidak akan pernah bosan dengan warna pink.


            “Tolong hidupkan pemanasnya, aku kedinginan.” ucapku sambil menggosok-gosokan tanganku brutal. Jessica yang berada tepat di sebelah Tiffany langsung menuruti permintaannku dengan sebelumnya melirikku aneh melalui kaca spion di atas kepalanya. Aku tahu, mereka pasti sangat merasa aneh dengan keadaannku saat ini. Namun aku telah menyiapkan banyak cerita bualan agar mereka tidak curiga dengan keadaanku yang serba terbatas saat ini.


            “Jadi apa yang terjadi padamu selama ini?”


            “Aku tidak menyangka jika kalian akan langsung mengangkat topik yang sangat berat seperti itu setelah satu bulan lamanya kita tidak saling bertemu, apa kalian tidak ingin menanyakan hal-hal lain yang lebih ringan terlebih dahulu?”


            Pertanyaannku langsung dijawab gelengan oleh Jessica dan disusul dengan suara Tiffany yang semakin mendesakku untuk menceritakan semua hal yang terjadi padaku akhir-akhir ini. Sayangnya aku tidak bisa menceritakan kebenaran apapun pada mereka karena itu sama saja dengan merusak reputasiku sendiri. Meskipun pada akhirnya mungkin mereka akan tahu kebenarannya, namun tidak untuk saat ini. Aku masih belum siap untuk itu.


            “Ada masalah keluarga, dan aku tinggal di Australia bersama orangtuaku selama satu bulan ini.”


            “Lalu?”


            “Apa?” tanyaku tidak bersemangat. Padahal kuharap mereka tidak akan bertanya lagi dan hanya menelan mentah-mentah informasi yang kuberikan pada mereka. Tapi ternyata mereka lebih kritis dari dugaannku.


            “Aku sebenarnya akan dipindahkan ke sana, tapi itu masih bulan depan. Saat ini aku diberi kesempatan oleh orangtuaku untuk kembali ke Seoul dan mempersiapkan semuanya.” bohongku lancar. Sudah kukatakan jika semenjak aku menikah dengan Lee Junhyu, kemampuan beraktingku semakin terasah sempurna. Pria itu yang memaksaku untuk menjadi tokoh utama dalam panggung sandiwara yang telah ia buat. Jadi jangan salahkan aku jika sekarang aku menjadi sangat mahir dalam hal berbohong. Sudah tak terhitung berapa banyak kebohongan yang telah kuciptakan hanya demi menutupi keberadaan makhluk kecil yang saat ini meringkuk dengan nyaman di dalam perutku. Refleks aku mengelus perutku sendiri yang telah


tersembunyi dengan sempurna dibalik kaos longgar panjang tanpa lengan sebatas lutut yang telah kulapisi dengan jaket kulit hitam agar penampilanku malam ini tidak terlalu terlihat aneh meskipun aku sedang hamil. Sebenarnya aku berniat untuk menggunakan salah satu koleksi mini dressku di rumah, namun setelah beberapa kali mencoba, akhirnya aku menyerah karena semua mini dressku hanya akan membuat perut buncitku semakin terekspos.


            “Lalu dimana mobilmu? Kenapa kami harus menjemputmu di halte bus, bukan di rumahmu seperti biasa?”


            Satu pertanyaan lagi yang telah kuantisipasi sejak siang tadi. Sebenarnya hari ini aku berhasil kabur dari rumah sialan itu karena aku mengatakan pada bibi Jung jika aku harus pulang ke rumah untuk mengambil beberapa barang yang belum kubawa ke rumah Junhyu. Siang tadi supir pribadi Junhyu telah mengantarkanku pulang dengan selamat ke rumah, lalu aku berpesan pada tuan Yu agar menjemputku besok sore, sebelum Junhyu pulang dari Jepang agar aku tidak semakin mendapatkan masalah karena telah pergi tanpa seizinnya. Tapi kurasa aku memang tidak perlu persetujuan apapun darinya, ini adalah hidupku. Seharusnya ia memang tidak merusak masa depanku yang cerah dan tetap membiarkanku hidup seperti seorang gadis pada umumnya. Tapi sudahlah, aku tidak ingin membahasnya, itu hanya akan membuat luka di hatiku semakin menganga lebar karena aku tidak akan pernah bisa memaafkan perbuatan pria sialan itu padaku.


            “Kebetulan mobilku sedang rusak, sudah lama tidak digunakan dan supir di rumahku juga jarang menggunakannya. Dan karena aku ingin bersenang-senang dengan kalian, jadi aku memutuskan untuk pergi ke klub bersama kalian.”


            “Syukurlah jika kau baik-baik saja An, kami sangat mengkhawatirkan kondisimu."


            “Banyak pria yang patah hati setelah kau keluar.” tambah Tiffany dengan gelak tawa. Aku hanya meringis kecil, menimpali candaan mereka tanpa minat karena aku merasa semua kesenangan itu tidak akan bisa kudapatkan kembali. Pernikahan ini hanya akan membelengguku pada satu pria, yaitu si cupu Lee Junhyu. Aku tidak bisa lagi mempermainkan pria-pria bodoh di luar sana demi kesenanganku semata. Semuanya telah berubah, anak ini benar-benar membawa perubahan yang sangat besar untukku.


            “Kudengar minggu depan Jihoo oppa akan pergi ke Amerika untuk melanjutkan studinya, dan hari ini ia akan bergabung bersama kita untuk bersenang-senang di klub.”


            “Benarkah? Untuk apa ia ikut bersenang-senang bersama kita, aku sedikit tidak suka dengan sikapnya yang seakan-akan terus memohon-mohon padaku untuk kembali.”


            “Mmm.. maafkan aku Anna, sebenarnya aku memberitahu Jihoo oppa jika malam ini kau akan bergabung bersama kami. Tapi aku melakukannya karena tidak tega dengan wajah memelasnya, ia begitu merindukanmu Anna.” tambah Tiffany membela diri. Ia sempat melirik kearahku sekilas dari balik spion yang terpasang di atas kepalanya sebelum ia kembali berkonsentrasi pada jalanan padat di depan sana. Kurasa malam ini jalanan memang sangat ramai karena hari ini adalah akhir pekan. Ada banyak orang yang ingin melepaskan kepenatan karena sudah terlalu lelah dengan banyaknya beban pekerjaan yang menumpuk di hari-hari biasa, termasuk aku. Aku cukup stress akhir-akhir ini karena guru privat yang dipanggil oleh ibu Junhyu sudah mulai datang ke rumah untuk membantuku mengejar ketinggalan pelajaran di sekolah. Lalu setiap hari kamis pagi aku harus


mengikuti kelas yoga bersama dua orang ibu muda di sebuah rumah sakit swasta yang letaknya tak jauh dari rumah Junhyu. Sesungguhnya aku muak mengikuti kelas yoga itu karena kedua wanita di sana begitu menyebalkan dengan mulut besar mereka. Tentu saja mereka sibuk mencibirku yang usianya terpaut sangat jauh dengan mereka. Seorang gadis muda sepertiku tidak seharusnya menghabiskan waktu di kelas yoga, tapi di kelas olahraga di sekolah bersama seorang guru olahraga yang tentunya sangat tampan. Berkali-kali aku sudah menyuarakan protes pada Lee Junhyu menyebalkan itu, tapi ia hanya mengatakan padaku jika semua itu adalah keinginan ibu, jadi aku tidak bisa membantah dan tetap harus menjalaninya dengan penuh sukacita hingga bayi ini lahir. Ya Tuhan, aku bisa gila di usia muda jika tekanan hidupku sebesar ini. Memang ibu Junhyu semakin mengkhawatirkanku sejak dokter mengatakan jika kehamilanku akan sangat berisiko saat melahirkan nanti. Secara fisik tubuhku belum siap untuk melahirkan seorang bayi, kemungkinan jalan lahirnya akan sulit. Tapi dokter menyarankanku untuk melakukan yoga demi meminimalisir risiko melahirkan tidak normal. Sebenarnya jalur operasi dapat dilakukan, namun jika masih dapat diusahakan jalur normal, ibu lebih condong pada hal itu. Sulit memang menjadi seorang menantu sekaligus wanita hamil, selain harus mempersiapkan fisik dan mental, aku juga harus selalu menjaga perasaan ibu mertuaku agar tidak terluka dengan sikapku yang terkadang sedikit bar-bar.


            “Ngomong-ngomong aku sudah tidak ingin lagi kembali pada Jihoo oppa, aku bosan dengannya. Beberapa kali ia memang menghubungiku untuk kembali, namun aku selalu mengabaikannya. Jadi jika hari ini kalian berniat untuk meninggalkanku hanya dengan Jihoo oppa, kumohon jangan.”


            “Kami tidak akan melakukan hal jahat itu, percayalah An.” ucap Jessica menenangkan. Aku tersenyum senang melihat kedua sahabatku yang ternyata masih cukup peduli padaku. Meskipun Tiffany tidak ikut menjawab sama seperti Jessica, tapi kuyakin ia juga akan menjagaku dibalik sikap diamnya itu. Jalanan di depan sana masih sangat padat, jadi kupikir ia sedang tidak ingin membuyarkan konsentrasinya hanya untuk menjawab pertanyaanku yang tidak terlalu penting sama sekali.


-00-


            Suara musik yang menghentak dan lampu disko warna-warni langsung menyambutku saat aku masuk kedalam klub elit di kawasan Gangnam. Saat kami datang, beberapa pria menyapa kami dengan tatapan menggoda yang menyiratkan sesuatu yang... tentu saja dapat diartikan sebagai ajakan untuk menari bersama di lantai disko, dan tentu saja sambil meraba satu sama lain. Namun hingga sejauh ini aku tidak pernah berkencan dengan satupun pria di klub ini. Jika mereka hanya mengajak berkenalan dan minum bersama, aku masih menerimanya. Tapi jika lebih daripada itu, aku akan langsung menendang mereka jauh-jauh dari hidupku tanpa pernah memberi mereka kesempatan untuk menyentuhku.


            “Anna, itu Jihoo oppa dan teman-temannya.”


            Tiffany dengan heboh menunjuk segerombolan pria dengan dua orang wanita yang terselip diantara mereka. Kedua wanita itu aku mengenalnya, Yui dan Senna. Mereka adalah kekasih dari Ray oppa dan Jinwo oppa. Selama ini mereka juga turut andil dalam pengeroyokan yang melibatkan Junhyu. Ck, kenapa aku harus memikirkan pria cupu itu disaat aku ingin bersenang-senang dengan teman-temanku? Tidak tidak tidak! Aku harus menyingkirkan pria itu sekarang juga dari otakku!


            “Anna, lama tidak berjumpa.”


            Aku tersenyum kecil menanggapi sapaan Jihoo oppa yang terdengar lebih lembut dari biasanya. Hmm... ini mengingatkanku pada saat pertama kali ia mendekatiku. Saat itu ia juga memperlakukanku dengan lembut dan manis, seakan-akan aku adalah sebuah porcelen yang sangat rapuh dan mudah pecah. Huh, tapi aku tidak akan tertipu lagi dengan wajah manis palsunya itu. Aku akan tetap pada pendirianku untuk tidak menerimanya lagi sebagai kekasihku.


            “Begitulah, aku memiliki banyak hal yang harus kukerjakan akhir-akhir ini.”


            “Anna akan pindah ke Australia.”


            Refleks aku menyenggol lengan Tiffany yang dengan seenaknya mengatakan alasan bodohku beberapa menit yang lalu di hadapan Jihoo oppa. Aku tidak ingin menyeret terlalu banyak orang kedalam kebohonganku, sayangnya Tiffany sudah terlanjur membeberkannya di hadapan Jihoo oppa yang saat ini sedang menatapku dengan tatapan ingin tahu yang berlebihan.


            “Kau benar-benar akan pindah ke Australia? Jadi itulah alasanmu keluar dari Kirin?”


            “Mmm.. ada sesuatu yang membuat orangtuaku ingin aku ikut pergi ke Australia. Kau sendiri, bukankah kau juga akan melanjutkan studi ke Amerika?”


            “Oh.. kau juga mendengarnya, aku akan pergi minggu depan.”


            Dia terlihat tak bersemangat sama sekali saat memberitahukan rencana kepergiannya ke luar negeri. Tapi dibalik wajah lesunya itu, beberapa kali aku menangkap gelagat aneh dari wajahnya, ia seperti ingin mengajakku untuk mengobrol lebih intens di meja lain agar tidak terganggu oleh suara berisik teman temanku, sayangnya aku terus menempel pada Tiffany dan Jessica agar aku terhindar dari gelagat anehnya yang terlihat semakin mencurigakan.


            “Selamat kalau begitu, kau pasti akan menjadi pria yang hebat di masa depan.”


            “Terimakasih. Lalu bagaimana denganmu?”


            “Aku... juga tidak tahu.” jawabku asal tanpa minat. Aku segera mengakhiri percakapan aneh ini dengannya saat seorang pelayan datang membawakan minuman untuk kami. Tiffany langsung memberikanku segelas beer yang buihnya seperti hendak tumpah dari bibir gelas. Tiba-tiba aku merasa ragu dengan minumanku, dokter sebenarnya tidak memberiku larangan untuk meminum beer, tapi juga tidak mengijinkanku untuk meminumnya. Jadi untuk beberapa saat aku hanya memegangi gelas tinggi ini dengan kaku sambil menatap teman-temanku yang mulai meminum beernya dengan nikmat.


            “Ada apa Anna, kau tidak suka dengan beernya?”


            “Bu bukan, maksudku tidak.”


            Aku hampir saja menampar bibirku sendiri yang justru bergetar gugup disaat aku seharusnya menunjukan ketenangan di hadapan mereka semua. Aku tidak boleh gugup, aku harus bersikap tenang agar mereka tidak menatapku dengan pandangan aneh yang tampak menaruh curiga.


            “Bisakah aku memesan segelas jus jeruk, aku sedang tidak berselera untuk meminum beer.”


            “Baiklah, aku akan meminta pelayan untuk menggantinya.”


            Syukurlah Jihoo oppa bergerak cepat dan tidak terlalu banyak bertanya seperti Tiffany. Malam ini mungkin aku sedikit kesal dengan sikap Tiffany yang sedikit tidak koorperatif. Ia terlalu banyak mencercarku dengan berbagai pertanyaan yang terdengar seperti menyudutkanku. Ingin rasanya aku menjauh dari mereka lalu pulang. Kuakui aku sedikit merasa tolol dengan keputusan yang kuambil saat ini karena entah kenapa aku tidak lagi berminat untuk bersenang senang, aku hanya ingin pulang saat aku mulai merasa mual dengan aroma alkohol, keringat, dan aroma rokok yang terasa semakin menusuk di hidungku.


Huek


            Aku langsung menutup bibirku rapat-rapat saat semua mata kini beralih kearahku. Sial! mereka semua seperti masih mendengar suara mulut sialanku ini meskipun suara hentakan musik seharusnya lebih mendominasi pendengaran mereka.


            “Ada apa Anna, kau sakit?” tanya Jessica khawatir. Aku hanya menggeleng samar dan mencoba sebisa mungkin tersenyum menenangkan kearahnya.


            “Aku baik-baik saja, lebih baik kita pergi ke lantai disko dan bersenang-senang.” putusku gegabah. Mungkin ini adalah keputusan paling gegabah yang pernah kubuat karena aku tidak pernah tahu jika lantai disko akan semengerikan ini! Saat aku masuk kedalamnya lalu mulai menggoyangkan pinggulku, ada beberapa tatapan mata yang menatapku dengan penuh minat. Seseorang, entah datang dari mana tiba-tiba telah menari di sampingku, lalu menyapukan tangan kurangajarnya ke pinggangku. Refleks aku beringsut menjauh dan mencoba merangkul Jessica untuk menghindari pria kurangajar itu. Tapi ia dengan tekad sekuat baja tetap mendekatiku sambil menunjukan kerlingann mematikannya yang berhasil membuatku semakin mual.


            “Ada apa?”


            “Aku tidak nyaman dengan pria itu, tolong aku.”


            “Anna, itu Jishin, raja disko di klub ini. Kau seharusnya merasa beruntung karena ia tertarik padamu dan ingin mengajakmu menari bersama.”


            Menyebalkan, Jessica! Ia tiba-tiba justru mendorongku jauh agar mendekat kearah Jishin. Tubuhku yang tidak siap langsung menabrak tubuh Jishin begitu saja, dan ia dengan mudah langsung memerangkapku dengan melingkarkan tangannya di sekitar pinggulku.


            “Jadi kau wanita angkuh yang selama ini sering memanaskan lantai disko?” godanya dengan aroma mint yang menyembur keluar dari mulut mematikannya. Sial! dia akan curiga jika kami terlalu lama dalam posisi ini. Perut buncitku yang tersembunyi dibalik baju longgar ini tidak akan lolos dari tangan-tangan nakalnya yang mulai merambat di permukaan kulitku.


            “Maaf, bisa kau lepaskan tanganmu?” tanyaku masih sopan. Dari kejauhan aku melihat Jihoo oppa yang sedang menatapku dengan


rahang mengetat. Kumohon tolong aku, aku sedang membutuhkan bantuan sekarang. Tapi sialnya Jihoo oppa justru pergi entah kemana, menyelinap diantara tubuh-tubuh yang sedang sibuk menari-nari di lantai disko.


            “Menarilah denganku untuk malam ini, aku ingin tahu seberapa hebat tarianmu di lantai disko.”


            “Tapi aku sedang tak berminat untuk menari bersamamu, jadi tolong lepaskan aku


sekarang juga sebelum aku membuatmu menyesal karena telah berurusan denganku.” gertakku kesal. Ia hanya menunjukan seringaian liciknya, lalu ia justru mencondongkan wajahnya kearahku, berniat untuk meraup bibirku dengan bibirnya yang berwarna merah menggoda.


Dugh


            “Sudah kukatakan untuk lepas, apa kau tuli hah?”


            “Ya Tuhan, Jihoo oppa! Cukup, hentikan oppa!”


            Aku menjerit heboh kearah Jihoo oppa yang terus melayangkan pukulan keras kearah Jishin yang sudah terlihat tak berdaya di atas lantai. Luapan amarah yang tidak pernah kulihat dari Jihoo oppa seperti memberinya energi lebih untuk membunuh Jishin. Beberapa petugas keamanan langsung berdatangan untuk menghentikan aksi pertengkaran yang terjadi di depan mataku. Tubuhku seketika terdesak kesana kemari oleh orang-orang yang mulai ribut untuk pergi dari lantai disko karena pengusiran keras yang dilakukan oleh petugas keamanan. Samar-samar aku sempat melihat Jessica tampak begitu khawatir dan berusaha untuk menarikku keluar dari segerombolan orang-orang yang sedang panik di lantai disko. Sayangnya rasa pusing dan mual ini mulai mendominasiku hingga perlahan-lahan aku mulai kehilangan fokusku pada Jessica. Tidak! Kumohon jangan sekarang, Jessica tolong tarik tanganku. Tepat sebelum Jessica berhasil menarik tanganku yang terjulur ke udara, tubuhku tiba-tiba saja meluruh dan semuanya menjadi gelap. Aku tidak bisa lagi melihat Jessica, mendengar suara umpatan Jihoo oppa yang sangat kasar, atau suara derap langkah kaki orang-orang di lantai disko. Aku sepenuhnya tenggelam di dalam pusaran kegelapan ini sendirian.


-00-


            Saat aku bangun, aku disambut dengan tatapan menelisik yang begitu kental dari dua temanku, Jessica dan Tiffany, lalu Jihoo oppa terlihat begitu sedih dengan wajah lebam keunguan yang terlihat mengerikan. Yang lainnya, aku tidak yakin dengan arti dari ekspresi wajah mereka, tapi yang


pasti mereka saat ini sedang menyiratkan tatapan mengasihani kearahku.


            “Aku... apa yang terjadi, aku dimana?”


            Satu kalimat pembukaan yang menurutku sedikit netral untuk mencairkan ketegangan diantara mereka. Tapi ekspresi wajah Jessica yang tidak berubah sedikitpun menunjukan jika aku telah gagal untuk menarik simpati mereka kembali. Nyatanya mereka mungkin telah mengetahui kebenaran yang selama ini telah kusembunyikan dengan rapat. Mereka mengetahui kehamilanku.


            “Sejak kapan Anna?”


            “Apa?” tanyaku seperti orang idiot. Seharusnya aku juga menambahkan aksen orang sakit kepala tadi sebelum melontarkan sebuah pertanyaan untuk mereka agar suasananya tidak setegang ini. Rasanya aku ingin menangis melihat mereka semua yang berubah menjadi jijik saat melihat wajahku. Aku adalah seorang wanita munafik dan juga pembohong yang pernah mereka kenal. Setidaknya hal itulah yang saat ini tercetak jelas di kepala mereka untuk menilai seberapa busuknya aku dengan segala sandiwara yang telah aku lakukan bersama Junhyu. Oh tidak, pria itu tidak pernah bersandiwara di hadapan siapapun. Hanya aku yang bersandiwara dengan segala kerugian yang kali ini juga harus kutanggung sendiri.


            “Ia akan segera tiba, pesawatnya baru saja mendarat lima belas menit yang lalu.”


            “Siapa yang kalian maksud dengan ia?”


            Aku mencoba mencari kebohongan di mata Jihoo oppa, sayangnya saat ini hanya keseriusan yang terpancar dari kedua matanya. Lalu aku beralih untuk melirik kearah jam dinding, betapa terkejutnya aku karena jam telah menunjukan pukul tujuh pagi. Jadi... aku sudah tertidur selama itu?


            “Kami menjagamu semalaman setelah kau pingsan di klub, lalu tadi pagi Jihoo oppa memanggil dokter pribadinya untuk memeriksamu. Dokter itu mengatakan jika kau stress, kelelahan, dehidrasi, dan kau harus bedrest untuk menjaga kondisi janinmu agar tidak dalam masalah. Kau hamil Anna, kenapa kau tidak pernah menceritakannya pada kami?” desah Jessica sedih dan putus asa. Di sebelahnya Tiffany hanya diam, tampak enggan untuk berkomentar apapun karena ia pasti saat ini merasa sangat kecewa padaku.


            “Lalu si cupu itu menghubungi ponselmu. Awalnya kami tidak tahu jika Lee Junhyu yang


menghubungimu karena kau tidak menyimpan nomornya, tapi ketika ia mulai bersuara dan menanyakan keadaanmu dengan nada khawatir, barulah aku percaya jika Lee Junhyu mungkin adalah ayah dari bayi itu. Jadi itu alasanmu tidak ingin kembali lagi padaku?”


            Aku hanya mampu menutup mata perih sambil merasakan degup jantungku yang berdetak sangat menggila di dalam rongga dadaku. Apakah aku baru saja ketahuan? Yeah, tentu saja jawabanya adalah iya karena sekarang semua orang sedang menatapku dengan tatapan menuduh. Sejujurnya ini sedikit keterlaluan karena mereka langsung menghakimiku disaat aku baru saja membuka mata. Tapi tidak apa-apa, aku tidak akan menangis, aku akan kuat, dan aku akan menghadapi mereka semua dengan sikap tegar.


            “Mma maafkan aku.”


            Bodoh! aku benar-benar bodoh karena tidak bisa menahan emosiku sendiri hingga sekarang


air mataku telah tumpah membanjiri kedua pipiku. Bayangan masa depanku yang semakin hancur tanpa kedua teman baikku membuat hatiku terasa begitu sakit dan tertohok. Setelah ini aku akan hidup sendiri di tengah-tengah drama murahan yang diciptakan oleh si cupu Lee Junhyu. Pria itu harus bertanggungjawab untuk semua masalah yang telah ia timbulkan dari dendam sialannya yang sangat busuk itu!


           “Kenapa selama ini kau menyimpannya sendiri Anna? Kenapa kau tidak menceritakannya pada


kami? Kami tahu kau pasti sangat tertekan dengan semua ini.”


            “Aku tidak bisa, aku terlalu takut.”


            “Apa kalian melakukannya karena kalian saling mencintai?”


            Aku menggelengkan kepalaku lemah sambil terus menyeka bulir-bulir air mata yang semakin deras menuruni pipiku. Jihoo oppa langsung mengumpat keras setelah aku selesai dengan pengakuanku. Wanita bodoh mana yang akan menyerahkan kesuciannya begitu saja pada pria paling menggelikan di Kirin. Bahkan aku tidak pernah membiarkan pria baik-baik seperti Jihoo oppa untuk menyentuhku. Jadi jelas-jelas jika semua ini terjadi karena ulah bejat pria cupu itu, Lee Junhyu.


            “Sudah kuduga, seharusnya sejak dulu aku menghajarnya hingga mati.”


            “Ia melakukannya di malam promnight. Setelah kau meninggalkanku pulang, aku mencoba untuk melupakan semua kesedihanku dengan meneguk alkohol, tapi ia kemudian datang disaat aku sudah cukup mabuk dan tidak bisa mengendalikan diriku lagi. Ia kemudian memanfaatkan keadaanku yang sedang mabuk untuk membalaskan dendamnya padaku. Lee Junhyu selama ini membenciku karena aku membiarkannya dipukuli olehmu meskipun aku memiliki kapasitas untuk melaporkan hal itu pada guru atau kepala sekolah.” ceritaku pilu. Ini sungguh sangat sulit. Aku dipaksa untuk mengingat kembali malam nahas itu, meskipun aku berulang kali berusaha untuk melupakannya.


            “Brengsek! Kenapa pria sialan itu melampiaskannya padamu, aku yang seharusnya menjadi sasaran balas dendamnya, aku yang sering memukulinya selama ini.”


            Jihoo oppa tampak begitu marah mendengar ceritaku. Ia kemudian mengepalkan tangannya kuat sambil meninju udara kosong yang terasa begitu menyesakku untukku saat ini. Dan tak berapa lama aku mendengar suara langkah kaki yang terdengar terburu-buru mendekat, disusul dengan kemunculan sosok Junhyu di ambang pintu dengan kemeja biru yang telah digulung sebatas siku, celana bahan yang kusut, dan kaca mata tebalnya yang selalu membingkai mata lelah miliknya. Ia datang dengan wajah datar tanpa sedikitpun terkejut dengan kemunculan banyak orang di kamarku, tapi aku tahu jika ia dalam kondisi sangat lelah saat ini setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh dari Jepang.


            “Anna, bukankah aku sudah memperingatkanmu untuk tetap di rumah dan tidak melakukan apapun.”


            “Brengsek! Apa yang telah kau lakukan pada Annaku!”


Bugh


            Aku refleks memalingkan wajahku, tidak ingin melihat aksi kekerasan apapun di depan mataku. Tapi sedetik kemudian aku memberanikan diri untuk mengintip keadaan kedua pria itu dari balik bulu mata hitamku, dan yang terlihat, itu sungguh mengejutkanku. Di depan sana, Lee Junhyu sedang berdiri dengan posisi tegak sambil tangan kanannya menahan pukulan Jihoo oppa yang akan diarahkan pada wajahnya. Ia dengan mudah lalu mendorong Jihoo oppa dan membuatnya tersentak mundur membentur tembok.


            “Anna adalah isteriku sekarang, dia tanggungjawabku.”


            “Kau telah merusak masa depannya, kau menghamilinya! Kupikir selama ini kau hanya seorang pria kutu buku aneh yang begitu angkuh, tapi nyatanya kau lebih daripada itu, kau seperti binatang!”


            Jihoo oppa tak henti-hentinya menyumpahi Junhyu dengan berbagai macam umpatan yang begitu kasar untuk didengar. Tapi pria itu tetap saja bersikap datar tanpa sedikitpun terprovokasi pada Jihoo oppa. Ia kemudian berjalan kearahku dan mungkin ingin mengecek kondisiku. Tapi tiba-tiba Jihoo oppa menerjangnya dan memukuli wajahnya bertubi-tubi hingga beberapa temannya langsung berlarian heboh untuk melerai pertengkaran mereka. Sementara itu, kedua sahabatku sejak tadi hanya terus berdiri kaku di samping ranjang besarku tanpa sedikitpun melakukan sesuatu. Bahkan berteriakpun mereka tidak, padahal selama ini Tiffany selalu menjadi wanita heboh jika sesuatu yang menghebohkan terjadi di depan matanya. Namun kali ini ia benar-benar hanya diam seperti patung sambil menatap kosong kearah Jihoo oppa yang telah berhasil dipisahkan dari Junhyu.


            “Jangan pernah ikut campur kedalam masalahku, kau tidak tahu apa-apa di sini.”


            “Aku tahu, aku tahu semua kebusukanmu. Seharusnya pria sepertimu tidak bersekolah di Kirin dan membuat nama baik Kirin rusak karena perbuatan bejatmu. Kau telah membuat Anna menderita karena ulahmu. Jika kau memang membenciku, menaruh dendam padaku, kau seharusnya membunuhku, bukan menghancurkan masa depan Anna.”


            Rasanya aku benar-benar terharu dengan kegigihan Jihoo oppa untuk membela harga diriku. Sayang, semuanya telah terlambat. Aku tidak akan pernah memiliki kesempatan lagi untuk kembali ke Kirin setelah semua hal yang terjadi padaku. Justru aku akan menjadi semakin gila karena sebagian besar teman-temanku telah mengetahui kebenaran yang tersembunyi selama ini.


            “Sebaiknya kau pergi, jangan membuat keributan di sini. Kalian semua pergilah, aku yang akan bertanggungjawab pada Anna.”


            “Cih, sombong sekali kau. Apa karena sekarang kau telahmenunjukan pada semua orang jika kau bukan  dari kalangan rendahan yang selama ini hanya bergantung pada beasiswa Kirin?”


            “Bukan, kalian tidak akan pernah mengerti apa-apa.”


            “Kami tidak mengerti karena kau tidak pernah menjelaskan apapun.”


            Tiba-tiba Tiffany bersuara dengan penuh kemarahan di sebelahku. Ia sepertinya sangat ingin menyuarakan pendapatnya sejak tadi, namun ia terbungkam oleh rasa terkejut yang luar biasa akibat ulah seorang Lee Junhyu.


            “Belum saatnya aku memberitahukannya pada kalian.”


            “Brengsek!”


Bughh


            Aku langsung menggigit bibirku getir saat Jihoo oppa mendapatkan pukulan yang sangat keras di wajahnya dari Junhyu. Sejak tadi kulihat ia memang ingin menghajar Jihoo oppa, tapi ia terus saja menahan diri seperti biasanya saat di sekolah. Entah mengapa sekarang aku seperti dapat mengerti gerak gerik Lee Junhyu. Ini mungkin efek dari hidup bersamanya selama hampir dua bulan ini. Pria itu tidak sepenuhnya polos, ia lebih dari itu.


            “Jangan coba-coba untuk menantangku lagi karena aku tidak akan sama dengan Lee Junhyu yang sering kau pukuli di sekolah, aku bisa saja mematahkan tulang-tulangmu. Sekarang kalian pulanglah karena aku perlu berbicara dengan Anna.”


            Akhirnya satu persatu teman-temanku berjalan keluar, meskipun Jihoo oppa sepertinya masih ingin menghajar Junhyu, namun tubuhnya langsung diseret keluar oleh tiga orang temannya yang sejak tadi juga terus berusaha untuk menghindarkan Jihoo oppa dari Junhyu. Sekarang kamar ini hanya menyisakan aku dan Junhyu. Kami bertatapan cukup lama, lalu Junhyu berjalan perlahan kearahku. Namun aku merasa jika Junhyu saat ini seperti seekor predator yang hendak mendekati mangsanya yang sudah sangat tak berdaya sepertiku. Tatapan matanya yang tajam meskipun juga menyisakan kelelahan di sana berhasil membuatku merasa tidak aman. Aku takut. Aku takut dengan segala kemungkinan yang dapat terjadi padaku.


            “Kenapa kau pergi? Bukankah aku menyuruhmu untuk tetap berada di rumah karena kau sedang mengandung?”


            “Aku bosan, aku ingin bertemu teman-temanku.”


            “Apa harus dengan pergi ke klub? Kau membuatku cemas selama berada di Jepang, kau benar-benar telah membawa neraka di hidupku.”


            Seketika aku tertegun dengan kata-katanya. Seburuk itukah diriku? Ia bahkan menganggap hidup denganku seperti hidup di neraka. Mungkin ia juga sama tertekannya denganku. Tapi aku selalu bersikap jika seolah-olah aku


yang paling dirugikan di sini. Meskipun itu memang benar, tapi kami mungkin sama. Ia juga dirugikan karena harus menjadi ayah di usia muda.


            “Lepaskan aku, biarkan aku hidup di rumahku sendiri. Ak aku... aku akan menjaga anak ini dan merawatnya dengan baik. Kau tidak perlu bertanggungjawab lebih jauh, aku akan mengatakan yang sebenarnya pada orangtuaku.” ucapku lirih. Seluruh kefrustasian kini telah berkumpul di benakku. Aku sudah tidak bisa lagi berpikir jernih dan hanya ingin segera lepas dari masalah ini. Aku lelah jika setiap hari harus bersandiwara, berpura-pura jika aku baik-baik saja, padahal kenyataannya aku tertekan.


            “Aku tidak akan pernah melepaskanmu, sampai kapanpun. Kau adalah isteriku.”


            “Apa kau masih bisa menyebut hubungan ini sebagai hubungan pernikahan jika kenyataannya semua ini dibangun dalam drama penuh kebohongan?”


            Suaraku seperti tercekat saat aku mengatakan semua itu. Kepedihan itu sangat nyata menampar wajahku, aku ingin semua ini berakhir. Aku tidak ingin lagi menumpahkan air mata hanya untuk pria cupu itu.


            “Istirahatlah Anna, kita sama-sama lelah saat ini. Dan jangan pernah memikirkan apapun tentang perpisahan.”


            Pria itu kemudian pergi. Ia pergi meninggalkanku sendiri dengan kehancuran yang begitu menyiksa. Tidak pernah ada kejelasan dari hubungan ini. Aku telah dikutuk oleh Tuhan untuk terperangkap bersamanya di kehidupan yang kejam ini. Ya aku tahu, ini adalah kutukan untuk membalas semua perbuatan burukku padanya di masa lalu.