
“Jangan lupa minum susumu, aku tidak sabar untuk mengetahui jenis kelaminnya lusa.”
Aku tersenyum kecil melihat Junhyu yang hari ini sangat antusias dengan janin kecil kami. Sudah lama aku tidak meneriakan kata-kata kasar di depannya, dan kehidupan kami akhir-akhir ini juga sudah mulai normal. Setidaknya aku telah berusaha untuk menerima semua ini sebagai takdirku, jadi aku terus melakukan apa yang seharusnya seorang isteri lakukan di hadapan suaminya.
“Akhir-akhir ini dia mulai menendang, kau ingin merasakannya.”
Ia berjalan dengan langkah cepat kearahku hingga hampir saja tersandung pinggiran ranjang yang runcing. Aku sedikit bersyukur ia tidak sampai terjerembab di atas lantai, karena jika itu terjadi ia pasti akan meringis kesakitan dengan mimik bodoh.
“Sudah berapa lama ia menendang-nendang seperti ini?” tanyanya takjub saat menempelkan telapak tangannya yang hangat di atas permukaan perutku. Mungkin ia merasa telah melewatkan banyak perkembangan janin ini karena seminggu yang lalu ia baru saja pergi ke Singapura. Setelah ia lulus dari Kirin, pekerjaannya menjadi lebih banyak. Ia bahkan juga mengambil kuliah disaat ia juga harus mengurus perusahaan milik kakeknya yang diwariskan padanya. Sementara ini ia masih belummemegang kendali untuk perusahaan milik ayahnya. Mungkin nanti saat ayah mertuaku telah pensiun, Junhyu benar-benar akan menjadi pria yang super sibuk.
“Aku sedikit canggung dengan semua ini.” ucapku tiba-tiba ketika ia masih meresapi pergerakan janin kami yang sangat aktif. Padahal kemarin ia tidak menendang seaktif itu, tapi hari ini ia berubah menjadi lebih brutal dari biasanya. Mungkin ia senang dengan kehadiran ayahnya di sini.
“Tidak apa-apa, semuanya membutuhkan proses. Besok aku akan pergi ke Macau.”
Seketika aku merasa sebagian hatiku tidak rela dengan kepergiannya. Ini sudah terjadi sejak dua minggu yang lalu, dimana aku kadang merasa uring-uringan jika Junhyu pergi. Mungkin karena aku menjadi sendirian di rumah besar ini, sementara ibu mertuaku juga sedang sibuk dengan pembangunan rumah asuh bagi anak-anak yang kurang beruntung.
“Kau tenang saja, aku akan pulang saat mengantarmu ke dokter.”
Ia mengelus puncak kepalaku lembut, lalu menyematkan sebuah kecupan ringan di keningku. Dulu mungkin aku akan langsung mendorongnya, bahkan menamparnya jika ia melakukan hal itu. Tapi sekarang, aku berusaha untuk menerima semuanya sebagai bagian dari kewajibanku sebagai seorang isteri. Meskipun begitu, terkadang aku juga merasa gusar pada diriku sendiri karena aku belum juga merasakan cinta untuk pria ini.
“Apa kau mencintaiku?”
“Anna...” desahnya pelan sambil menatapku kosong. Mungkin ini terlalu tiba-tiba dan tidak pernah diantisipasi sebelumnya. Tapi aku hanya ingin mengetahui bagaimana perasaannya saat ini. Dulu kupikir ia memiliki rasa untukku, seperti pria-pria di luar sana yang menginginkanku. Namun setelah aku hidup dengannya berbulan-bulan, aku mulai berkesimpulan jika semua sikapnya ataupun perhatiannya selama ini bukanlah bentuk dari rasa cinta, tapi karena tanggungjawab. Lihatlah, sekarang ia lebih memilih beringsut mundur menjauhiku sambil menyugar rambut pendeknya dengan gerakan frustrasi. Padahal sebelumnya ia masih terlihat baik-baik saja saat meresapi tendangan janin kami yang kini juga telah kembali tenang di dalam perutku.
“Apa itu sulit untuk dijawab?”
“Tidak, aku memang belum mencintaimu. Semua ini hanya bentuk tanggungjawabku padamu. Pikirkanlah baik-baik, aku juga memiliki luka yang sangat menyakitkan di masa lalu. Mungkin sama seperti milikmu yang terpaksa harus menikah denganku karena janin itu, tapi milikku mungkin lebih parah. Aku sejujurnya juga tidak menginginkan semua ini, tapi aku tidak bisa lari dari tanggungjawabku sebagai seorang ayah. Saat itu aku terlalu dibutakan oleh rasa marahku padamu, dan setelah itu aku merasa sangat menyesal karena telah menyeretmu kedalam kehidupan rumah tangga yang sangat buruk seperti ini. Tapi tolong berikan aku kesempatan untuk membuat kehidupan ini layak, aku ingin membahagiakanmu dan anak kita, jadi tolong bertahanlah untuk masa depan kita.”
Aku tidak tahu apakah itu sebuah janji atau hanya sekedar kata-kata untuk menenangkan hatiku yang berubah muram sore ini. Sedikit mengecewakan memang saat mengetahui jika Junhyu ternyata tidak mencintaiku. Selama ini aku memang terlalu percaya diri, menganggap jika wanita berkelas sepertiku harus mendapatkan seorang suami yang sama berkelasnya denganku. Tapi ternyata apa, semuanya tidak berjalan sebagaimana yang kupikirkan selama ini. Nyatanya masih banyak pria di luar sana yang tidak tertarik denganku, termasuk Junhyu.
“Tidak apa-apa, kau berhak memutuskan mana yang kau suka dan mana yang tidak. Aku hanya sekedar ingin tahu bagaimana perasaanmu selama ini. Jadi aku bukanlah satu-satunya yang menderita di sini?” tanyaku berusaha menutupi kegetiran di nada suaraku. Untuk ukuran wanita yang memiliki tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi, sekarang aku mengaku jika rasa percaya diriku telah pergi, digantikan dengan rasa rendah diri yang begitu pekat karena semua masalah yang akhir-akhir ini berjubel di dalam hatiku.
“Daripada mendefinisikan ini sebagai sebuah penderitaan, aku lebih suka menyebutnya sebagai sebuah proses untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Anna... jika kau menganggap ini sebagai sebuah penderitaan, kau tidak akan pernah mendapatkan setitikpun kebahagiaan dari kehidupan pernikahan ini. Tapi jika kau berpikir sebaliknya dan berusaha untuk menerima semua ini sebagai sebuah karunia yang diberikan Tuhan, kau tetap akan merasa senang meskipun nyatanya kehidupan ini sangat jauh dari angan-angan masa mudamu.”
Apa yang dikatakan oleh Junhyu memang benar, aku tidak akan pernah mendapatkan kebahagiaan jika aku hanya berpikiran tentang keburukan. Tapi ia juga harus mengambil dari sudut pandangku. Ia dapat berdiri tegak sebagai pria dewasa yang penuh tanggungjawab karena ia memiliki dukungan penuh dari keluarganya,
sedangkan aku? aku selama ini hanyalah wanita kesepian yang selalu mencoba untuk mendapatkan perhatian lebih dari orang lain. Jadi wajar jika pada akhirnya kami tumbuh dengan pola pikir yang sangat berbeda. Bahkan aku juga heran pada pria ini, ia begitu mudah memberikann maaf pada orang lain yang jelas-jelas memiliki kesalahan yang lebih fatal dari kesalahan yang ia miliki. Tapi sudahlah, hidup memang hanyalah proses, cepat atau lambat aku pasti juga dapat mengimbangi pola pikirnya yang sangat dewasa itu.
“Yahh... aku dapat memahami pola pikirmu yang sangat dewasa itu. Lalu darimana kau tahu jika aku adalah gadis yang saat itu menyebabkan kau mengalami kecelakaan.
“Itu mudah, aku memiliki banyak relasi yang dapat membantuku untuk melacakmu. Hanya saja aku tidak pernah berpikir jika pada akhirnya aku akan berakhir denganmu. Dulu aku hanya ingin tahu bagaimana kehidupanmu setelah melihat peristiwa yang begitu mengerikan di depan matamu. Aku sempat merasa simpati saat membaca portofolio tentangmu jika kau mengalami post traumatic stress dissorder setelah kecelakaan itu terjadi. Tapi kemudian aku menjadi tak habis pikir saat melihat keangkuhanmu di sekolah, gangguan psikologismu sepertinya sembuh lebih cepat daripada yang kuperkirakan.”
“Ya memang, tapi sejujurnya itu sangat mengganggu. Aku terkadang merasa mendengar suara sirine ambulance yang begitu dekat dengan telingaku, atau bayangan tetesan darah yang mengotori putihnya hamparan salju di depanku, itu sungguh sangat mengerikan. Bagaimana mungkin kau dapat bertahan dengan kengerian itu?”
“Hanya terus bertahan untuk orang-orang yang menyayangiku, aku bertahan untuk ibuku.”
“Kau beruntung memiliki ibu yang sangat perhatian seperti ibumu, ibuku bahkan sama sekali tidak peduli denganku.”
“Sekarang ibuku juga menjadi ibumu, jadi jangan sungkan untuk meminta bantuan ibu jika aku tidak ada. Ibu bercerita padaku jika kau adalah wanita yang sangat pemalu dan begitu sungkan saat ingin meminta tolong melakukan sesuatu yang tidak bisa kau lakukan. Bahkan ibu merasa terharu saat melihat kegigihanmu untuk belajar memasak disaat ibu pergi menyelesaikan pekerjaan-pekerjaannya.”
“Darimana ibu tahu jika ibu tidak ada di rumah saat aku melakukannya?”
“Kamera cctv? para pelayan? semuanya mengawasimu selama dua puluh empat jam di sini Anna.”
Bodoh! aku hampir lupa jika rumah ini dipenuhi oleh puluhan kamera cctv yang terkadang membuatku merasa terus diawasi setiap waktu. Hanya kamar dan beberapa tempat pribadi yang tidak memiliki cctv, selebihnya, rumah ini seperti sebuah penjara kelas atas yang dipenuhi oleh puluhan cctv.
“Yaah... aku belajar beberapa resep masakan karena aku malu saat berhadapan dengan ibumu. Pertama kali ibu mengajakku untuk memasak, aku terpaksa mengaku dengan wajah merah padam jika aku tidak bisa memasak. Sejak saat itu aku terus bertekad untuk dapat menguasai beberapa resep makanan. Setidaknya masakan-masakan yang menjadi favoritmu.”
“Apa kau sedang berusaha untuk mengesankanku?”
“Mungkin...” jawabku acuh tak acuh. Aku sendiri sebenarnya juga tidak tahu mengapa sekarang aku menjadi lebih bersemangat untuk mempelajari resep-resep masakann yang menjadi favorit Junhyu. Semua itu hanya datang begitu saja seperti naluri di dalam kepalaku.
“Apapun alasanmu, aku senang mendengarnya. Hubungan kita perlahan-lahan sedikit
di depanku. Ia lebih suka pergi begitu saja ketika emosi itu sedang melingkupinya, lalu datang lagi ketika emosi itu sudah tidak menguasai tubuhnya. Jadi wajar jika saat ini aku cukup terpana dengan kekehannya.
“Lalu apa alasanmu menjadi pria aneh di Kirin?”
“Tidak ada alasan apapun, hanya menjauhi keributan. Bayangkan apa yang akan terjadi
jika aku menunjukan diriku yang sesungguhnya seperti mantan kekasihmu, atau seperti pria-pria norak di luar sana yang hanya bergantung pada harta milik orangtua mereka? Aku hanya ingin menikmati kehidupan senior high schoolku dengan tenang karena aku sudah pernah menjadi pusat perhatian di sekolah lamaku ketika aku bersikap normal layaknya pria dari strata atas pada umumnya. Percayalah jika itu sangat mengganggu.”
“Jangan menyebutnya mantan kekasihku, meskipun Jihoo oppa memang mantan kekasihku. Setidaknya sebutkan saja namanya, maka itu sudah lebih dari cukup untukku.”
“Kenapa? Kau merindukannya dan juga teman-temanmu?”
Kurasa raut wajahku kini berubah muram karena ia mengungkit masalah itu dengan terang-terangan di hadapanku. Aku memang sudah lama tidak berhubungan dengan teman-temanku, dan jujur aku sangat merindukan mereka. Pria di hadapanku ini benar-benar menyebalkan karena ia berani menyinggung masalah sensitif itu sambil menunjukan raut tak bersalahnya yang seolah-olah justru seperti sedang mengejekku.
“Sangat! Apa kau tidak pernah meraskan perasaan rindu yang besar pada teman-temanmu?”
Untuk sesaat ia hanya diam. Kurasa ia sedang berpikir sambil mengingat-ingat nama teman-temannya yang mungkin ia miliki saat bersekolah di Kirin high school. Tapi beberapa saat kemudian aku menemukan ia sedang menggelengkan kepalanya lucu dengan wajah kikuk. Kurasa tebakanku tepat.
“Kenapa? kau pasti tidak memiliki teman.”
“Aku tidak terlalu peduli pada teman-temanku di kelas. Tapi aku memiliki banyak
teman di sekolah lamaku. Mungkin sekarang mereka telah menyelesaikan pendidikan
di perguruan tinggi dan sedang mencari pekerjaan.”
“Hmm.. sudahlah, itu hanya masa lalu. Teman-temanku hanya membutuhkan sedikit waktu untuk menerima keputusanku.”
“Keputusan sepihakku lebih tepatnya.” ralatnya cepat. Aku langsung mengangguk setuju dengan jawabannya. Memang semua ini terjadi karena paksaan darinya. Aku tidak pernah memintanya untuk menikahiku, justru aku selalu mendorongnya menjauh agar tidak perlu menikahiku.
“Apa yang kau lakukan setelah kau berhasil melakukannya padaku? Kau tertawa terbahak-bahak di rumah?”
Suasana tiba-tiba berubah menjadi sedikit lebih canggung saat aku menanyakan hal itu. Ia yang tadinya duduk dengan cukup rileks di sebelahku, sekarang sedikit menggerakan tubuhnya aneh sambil memalingkan wajahnya kearah lain.
“Saat itu aku kebingungan. Aku pulang dengan linglung sambil memikirkan banyak hal di dalam kepalaku, termasuk kemungkinan kau akan hamil setelah melakukannya denganku. Sungguh aku tidak benar-benar berpikir panjang saat itu, aku terlalu terbawa emosi. Lalu semuanya terjadi begitu saja dan meninggalkan banyak penyesalan di hatiku. Tapi semuanya sudah terjadi, aku tidak bisa melakukan apapun selain bertanggungjawab padamu. Lagipula aku juga tidak ingin kehidupan janin ini menjadi kacau hanya karena keegoisan orangtuanya. Jadi sebisa mungkin aku menahan egoku saat bersamamu agar tidak perlu terjadi banyak pertengkaran diantara kita.”
Lee Junhyu mengatakannya dengan lembut sambil mengusap perutku pelan. Aku sedikit terlena dengan perlakuannya, namun aku justru hanya terdiam seperti patung karena terlalu bingung untuk memberikan reaksi kepadanya. Saat ini aku merasakan sebuah kehangatan yang melingkupi hatiku saat menatap mata penuh ketulusan milik Junhyu. Baru kusadari jika ia sebenarnya pria yang baik, sangat baik bahkan. Hanya saja semua kebaikan itu tertutupi oleh penampilannya yang aneh. Perlahan-lahan aku memejamkan mataku, menikmati keheningan yang tercipta diantara kami sambil merasakan hembusan napasnya yang begitu dekat dengan wajahku. Ini sungguh sangat menentramkan. Aku dapat melihat kenangan masa kecilku yang indah bersama nenek saat memejamkan mata bersama Junhyu. Keadaan rumah yang hangat, nenek yang selalu tersenyum padaku sambil membuat kue coklat kesukaannku, dan nenek yang berjanji akan mengajariku cara memasak sup kacang
merah yang lezat untuk menu makan malam di hari ulang tahun pernikahan kedua orangtuaku.
“Haaahh...”
Aku membuka mataku tiba-tiba dan menemukan Junhyu sedang mentap bingung kearahku sambil menyentuh kulit pipiku yang dingin. Baru saja aku melihat bayangan kecelakaan itu lagi. Dan aku sangat takut jika malam ini aku akan mendapatkan mimpi buruk karena itu.
“Lupakan masa lalu dan bayangkan masa depan yang indah, itu akan membantumu untuk keluar
dari lingkaran mimpi buruk masa lalu.”
“Aku sedang berusaha memikirkannya, masa depan yang indah milik kita?”
Entah kenapa aku ingin terbahak dengan ucapanku sendiri, apa yang bisa kupikirkan tentang masa depan? bahkan semuanya masih terasa abu-abu untukku. Aku masih dilingkupi perasaan tidak percaya pada diriku sendiri dan perasaan lain yang semakin membuatku merasa kerdil. Aku tidak bisa menjadi ibu... aku tidak bisa.
“Dia akan sangat beruntung karena memiliki seorang ibu yang cantik sepertimu.”
“Kecantikan tidak bisa membantunya untuk tumbuh besar.”
“Maka aku yang akan membantumu untuk membesarkannya. Janin ini bukan hanya tanggungjawabmu, tapi tanggungjawabku juga, jadi jangan pernah berpikir jika kau akan sendiri saat membesarkannya.”
“Terimakasih untuk janji yang kau berikan padaku, kuharap itu bukan hanya sekedar janji.” balasku cepat sebelum akhirnya aku berakhir di dalam dekapannya yang hangat. Aku menyandarkan kepalaku yang berat di atas bahunya lalu memejamkan mataku rapat. Aku mengantuk, ijinkan aku untuk beristirahat sejenak di bahumu Lee Junhyu. Dan jika kesempatan itu ada, aku ingin kau memberiku kesempatan untuk terus berada di posisi ini selamanya. Kau yang mendekapku dengan hangat, dan aku yang akan meringkuk di bawah tubuhmu untuk menyerap sebanyak-banyaknya kehangatan yang kau miliki. Terimakasih.