Sweeter Than Coffee

Sweeter Than Coffee
Nineteen



            Aroma rumah yang sangat khas dan menenangkan. Aku seperti kembali ke tempatku yang seharusnya. Tempat dimana aku tumbuh dan dibesarkan, tempat dimana aku menghabiskan hari-hariku yang membosankan dengan berdiam diri di dalam kamar. Huh... akhirnya aku kembali. Rasanya sedikit berbeda saat masuk kedalam rumah dengan keadaan yang sedikit berbeda. Kini aku bukan lagi seorang gadis ingusan seperti dulu, aku sekarang adalah seorang wanita dengan perut buncit berisi janin dan cara berjalan yang aneh karena beban berat yang harus kubawa kemana-mana.


            “Kau pulang, kenapa tidak memberitahu ibu, dimana Junhyu?”


            “Eee... ini kejutan.” jawabku dengan aksen gembira yang terdengar aneh. Aku lalu berjalan kearah ibu yang sedang berdiri di dekat tangga sambil merentangkan tanganku lebar-lebar. Anggap saja aku sedang melakukan ceremony yang biasanya kulihat di drama-drama picisan yang akhir-akhir ini sering kutonton karena aku hampir mati kebosanan di rumah Junhyu. “Junhyu sedang pergi ke luar negeri untuk urusan bisnis, dan aku ingin pulang karena merindukan suasana rumah.” bohongku dengan lancar di pelukan ibu. Bahkan aku tidak yakin Junhyu tahu aku pulang ke rumah ibu karena aku tidak mengatakan apapun padanya saat aku pergi. Setelah kami saling berteriak di taman, ia hanya mendiamiku. Ia tidak menegurku sedikitpun saat kami berpapasan di tangga atau


di kamar, ia kemudiann pergi begitu saja tanpa memberitahuku kemana tujuan kepergiannya kali ini. Jadi akupun juga melakukan hal yang sama dengannya. Aku tidak meminta ijin padanya untuk pulang, namun aku sempat mengatakan pada bibi Jung dan mengirimkan pesan pada ibu mertuaku yang sedang pergi ke luar kota jika aku akan pulang ke rumah orangtuaku untuk beberapa hari. Sebenarnya ibu sempat bertanya padaku kenapa tiba-tiba aku memutuskan untuk pulang. Mungkin sebagai seorang ibu selama bertahun-tahun, ibu sudah memiliki kepekaan yang sangat hebat akan kondisi putranya, sehingga hal pertama yang ibu tanyakan padaku saat aku meminta ijin untuk pulang adalah apakah aku dan Junhyu dalam keadaan baik-baik saja atau tidak. Jadi pada akhirnya aku kembali mengarang cerita untuk ibu mertuaku. Aku mentakan padanya jika hubungan kami baik-baik saja dan kami bagaikan pasangan sempurna seperti raja dan ratu disney yang sering kutonton saat aku kecil. Ohh... aku merindukan masa kecilku yang sempurna. Masa kecil yang tanpa masalah, dan begitu tenang.


            “Kau tampak sehat Anna, ibu sangat bersyukur karena memiliki menantu yang sangat menyayangimu seperti Junhyu. Ia memperlakukanmu dengan baik bukan?”


            Aku mengangguk samar sebagai jawaban untuk pertanyaan ibu karena aku sejujurnya sedang malas untuk membahas Junhyu. Beruntunglah pria itu karena mendapatkan kesan yang begitu baik dari kedua orangtuaku. Mereka seperti tidak akan pernah menyesal telah membiarkan Junhyu menikahiku karena mereka merasa telah


memberikanku pada pria yang tepat. Yeah, itu memang benar. Bahkan aku juga memikirkan hal itu akhir-akhir ini, namun tentu saja sebelum pertengkaran hari ini terjadi.


            “Duduklah, bukankah selama ini kita jarang mengobrol seperti keluarga-keluarga lain? Setelah kau menikah, ibu menjadi lebih banyak memikirkan hal itu, perasaan menyesal karena selama ini tidak pernah memiliki waktu untuk memperhatikanmu. Lalu saat kau hamil dan menikah dengan Junhyu, ibu seperti kehilangan sosokmu sebagai gadis kecil ibu. Ibu terlalu banyak menyia-nyiakan waktu untuk mengumpulkan harta tanpa memikirkan kebahagiaanmu. Maafkan ibu.”


            Saat ibu mengatakan itu, aku hanya dapat mematung di tempat tanpa bisa mengutarakan apapun yang bisa kuutarakan sebagai bentuk respon dari kata-kata penuh penyesalan yang diucapkan ibu. Itu seperti sebuah kejutan yang berhasil membuatku tidak bisa berkata-kata karena akhirnya setelah bertahun-tahun lamanya aku mempertanyakan mengenai tanggungjawab ibu yang seharusnya berada di rumah, memperhatikanku, dan memberikan kasih sayang yang semestinya, akhirnya kini terjadi. Ibu menyadari kesalahannya dan meminta maaf tepat di depan wajahku dengan aku yang justru membeku di tempat seperti wanita idiot. Namun akhirnya aku dapat mengeluarkan suaraku dengan bunyi yang sangat lirih. “Iya, tidak apa-apa.”


            “Kau berhak marah Anna. Semua hal yang kau lakukan hingga sejauh ini, itu adalah bagian dari kesalahan ibu. Ibu tidak pernah memperhatikanmu, bahkan ibu sempat menyalahkanmu disaat kau sedang dalam masa-masa sulit. Sejujurnya ibu juga merasa bersalah karena tidak bisa menemanimu disaat kau sedang mengandung. Tapi itu bukan berarti ibu tidak peduli padamu, hanya saja ibu malu untuk memulainya. Ibu merasa seperti sudah terlalu terlambat untuk melakukan semuanya.”


            “Tidak apa-apa ibu, hidup itu penuh pilihan. Saat ini aku sedang belajar untuk menjadi lebih dewasa dengan menerima semua takdir ini dengan penuh sukacita. Dan aku juga belajar untuk memaafkan semua masa lalu yang pernah terjadi padaku, seburuk apapun itu.” ucapku datar sambil menerawang kearah jendela besar yang menyuguhkan pemandangan halaman luar yang sepi. Seketika aku teringat pada Junhyu. Sebesar apapun kesalahan yang pernah kubuat, dan seburuk apapun perlakukan yang ia terima di sekolah, ia masih tetap memiliki maaf untuk kami. Jadi kupikir aku juga harus berhati besar seperti Junhyu. Pria itu mengajarkan banyak hal padaku hingga sejauh ini, meskipun terkadang aku juga membenci beberapa sifatnya yang terlalu sulit untuk dimengerti itu.


            Secepat itu ibu mengganti topik pembicaraan ini mengenai masa lalu dengan topik mengenai kehamilanku. Tidak apa-apa, mungkin ibu sangat canggung untuk melanjutkan percakapan tentang masa lalu bersamaku. Lagipula aku sendiri juga sudah kehilangan selera untuk membahas sikap kekanakanku di masa lalu. Aku kemudian tersenyum kecil pada ibu, menatap kearah perut buncitku sekilas sambil mengelusya dengan lembut. Hari kelahiran Leo adalah saat-saat yang paling membuatku gugup dan dilingkupi banyak luapan kebahagiaan, aku sudah tidak sabar untuk menyambut kelahiran putraku. “Sedikit gugup, tapi itu bukan masalah besar. Aku justru sangat menantikan hari kelahiran Leo.”


            “Leo? Kalian sudah memberinya nama?” tanya ibu dengan dahi berkerut. Kurasa ibu sedikit kecewa dengan pemilihan nama itu karena itu berarti ia tidak dapat menyumbangkan nama untuk calon cucunya.


            “Junhyu yang memberinya nama Leo, entah darimana ia mendapatkan ide nama itu, tapi menurutku itu bagus.”


            “Itu memang bagus tapi ibu sebenarnya memiliki beberapa persediaan nama untuk calon cucu ibu.”


            “Lain kali kami akan menggunakan ide nama yang ibu berikan. Siapa yang tahu tentang masa depan? Mungkin Leo tidak akan menjadi satu-satunya anakku.” ucapku terkekeh. Membayangkannya benar-benar berhasil membuat perutku terasa geli. Aku tidak bisa membayangkan jika nantinya aku akan mendapatkan beberapa Leo yang lain atau anak-anak perempuan yang cantik. Ribuan kupu-kupu rasanya seperti berdesakan di perutku karena jika aku memiliki Leo yang lain atau anak-anak perempuan, maka aku dan Junhyu harus.... ahh itu sedikit memalukan. Aku tidak akan melanjutkannya lagi.


            “Jadi kalian sudah merencanakan untuk memiliki anak lagi setelah Leo lahir?”


            “Sebenarnya belum, tapi itu mungkin saja terjadi.” atau mungkin juga tidak. Aku bahkan tidak tahu apa yang akan terjadi padaku setelah Leo lahir. Junhyu masih belum bisa memberikan kejelasan padaku. Dan sekarang keadaan kami justru memburuk dengan adanya pertengkaran konyol yang seharusnya tidak perlu terjadi diantara kami. Yahh.. sedikit terlambat untuk menyadarinya, tapi aku sudah terlanjur pergi dari rumah Junhyu. Setidaknya aku harus berada di sini selama tiga hari sebelum pulang dan mengeraskan wajahku untuk meminta maaf pada Junhyu. Seorang pemenang tidak perlu malu untuk menjadi pihak pertama yang meminta maaf. Lagipula aku lebih dari sadar jika aku memiliki porsi kesalahan yang lebih besar dari Junhyu. Aku dengan sikap kekanakanku terus menekan Junhyu untuk membalas pernyataan cintaku, padahal setelah kupikir-pikir itu tidak seharusnya kulakukan pada Junhyu. Semakin banyak aku mendorong pria itu untuk mencintaiku,


aku justru membuat hubungan kami semakin memburuk. Cinta yang dipaksakan itu sangat tidak baik, jadi biarlah cinta menemukan jalannya sendiri.


            “Jangan melamun, tidak baik wanita hamil sepertimu melamun.” ucap ibu tiba-tiba dan berhasil mengagetkanku. Aku langsung tersenyum malu pada ibu sambil mengusap-usap perut buncitku untuk menghilangkan kegugupan. Tidak, aku tidak boleh memikirkan hal itu lagi. Di sini aku hanya akan bersenang senang, menikmati waktu bebasku untuk mempersiapkan datangnya hari dimana putraku akan terlahir ke dunia. Selama tiga hari ke depan aku akan bersikap seperti layaknya remaja yang tidak perlu memikirkan masalah rumah tangga. Aku akan menghabiskan waktuku di sini tanpa memikirkan Junhyu.