Sweeter Than Coffee

Sweeter Than Coffee
Ten



“Minum susumu, lalu kita pergi ke kelas yoga. Setelah itu kau ada kelas bahasa inggris dengan ms Elin.”


            Hampir setiap hari aku melakukan rutinitas yang sama. Bangun di pagi hari dengan Junhyu di sebelahku. Lalu aku mulai mengalami morning sickness yang sangat menyiksa selama tiga puluh menit di kamar mandi. Kemudian ia akan memapahku untuk kembali berbaring selama satu jam. Dan setelah itu ia akan datang dengan senyuman manis sambil membawakan susu ibu hamil beserta beberapa vitamin yang diberikan dokter padaku. Junhyu sepertinya mencoba untuk melupakan segala hal yang berhubungan dengan kejadian pagi itu. Setelah ia menyuruhku untuk beristirahat, ia tidak pernah lagi membahas masalah keinginanku untuk berpisah dengannya. Ia justru semakin mengikatku di sini dengan berbagai jadwal yang padat untuk membuatku lupa pada keinginanku untuk berpisah darinya.


            “Ibu hari ini memasakan sup jamur dan salmon kukus untukmu, katanya itu bagus untuk perkembangan otak janin.”


            Ia mengelus lembut perut buncitku yang tersembunyi dibalik dress berwarna biru muda yang ia berikan padaku minggu lalu. Jadi selain berusaha memenuhi hidupku dengan jadwal-jadwal kegiatan yang sangat


padat, akhir-akhir ini Junhyu juga sering memberikanku hadiah-hadiah kecil. Sebenarnya itu tidak bisa dikatakan sebagai hadiah kecil karena ia juga memberiku beberapa perhiasan, pakaian, lalu mobil. Padahal menurutku semua itu percuma karena Junhyu juga tidak pernah mengijinkanku untuk pergi menyetir sendiri.


            “Apa kau ingin membeli perlengkapan bayi hari ini?”


            “Tidak, aku hanya ingin beristirahat setelah kelas miss Elin selesai.” jawabku malas. Belum ada perubahan sedikitpun yang kurasakan meskipun saat ini usia kandunganku telah menginjak lima bulan. Perasaan cinta yang sering dikatakan oleh orang-orang jika akan muncul dengan sendirinya seiring dengan berjalannya waktu, kurasa itu hanya omong kosong. Aku tidak sedikitpun merasakan hal itu meskipun telah tinggal berbulan-bulan lamanya


bersama Junhyu. Terlebih lagi saat ini aku sedang sangat sedih. Tiffany dan Jessica kompak meninggalkanku sendiri di tengah-tengah keterpurukan yang sedang kurasakan. Mereka mungkin sudah merasa muak denganku. Mereka tidak mau berteman lagi denganku, dan telah mencari teman lain sebagai penggantiku di dalam kelompok elit mereka.


            “Jika bayi kita laki-laki, aku ingin memberinya nama Leo Lee, jika perempuan, aku ingin memberinya nama Fiona Lee.”


           Sedikit tidak percaya saat ia tiba-tiba membahas nama untuk anak kami. Yeah, aku harus mulai membiasakan diri untuk istilah itu, “anak kami”. Tidak buruk, tapi terdengar menggelitik di telinga.


            “Kita baru akan mengetahui jenis kelaminnya bulan depan.” ucapku singkat. Ia hanya mengangkat alisnya sekilas, lalu pergi meninggalkanku yang masih sibuk mempersiapkan barang-barang yang perlu kubawa ke kelas yoga. Rasanya lebih baik saat aku dibiarkan sendiri di sini untuk merenungkan berbagai hal yang perlu kurenungkan. Semalam ibuku baru saja menghubungiku dari Melbourne. Katanya ia merindukanku dan sangat tidak sabar untuk melihat cucu pertamanya lahir. Cih, omong kosong. Bahkan sejak aku menikah dengan si cupu itu, ibu jarang sekali menghubungiku untuk mengetahui keadaanku. Ia seperti lupa jika memiliki seorang anak perempuan yang sedang berjuang sendiri membawa seorang makhluk kecil di dalam perutnya. Aku benar-benar sedih saat memikirkan ibuku, atau ayahku. Mereka yang seharusnya menjadi pelindungku, nyatanya justru pergi menjauh dariku untuk kesenangan diri mereka sendiri. Meskipun mereka selalu berdalih jika mereka seperti itu karena ingin membahagiakanku. Ck, benar-benar omong kosong. Dan kuyakin saat ini mereka tengah bersorak girang karena mendapatkan seorang menantu yang berasal dari kasta terpandang di negara ini. Meskipun penampilannya tidak meyakinkan, setidaknya itu di awal-awal pertemuan mereka dengan Junhyu, jika saat ini mereka melihat penampilan Junhyu, mungkin mereka akan sangat terkejut dan semakin menyukai Junhyu.


            “Kau selalu memiliki rahasia di dalam kepalamu Anna, tapi kau tidak pernah membaginya denganku.”


            Aku sedikit tersentak saat suara berat Junhyu tiba-tiba menginterupsi lamunan panjangku. Pria itu saat ini tengah bersandar di ujung pintu dengan tangan terlipat di depan dada yang menunjukan keangkuhan. Mata sendunya yang menipu itu terlihat begitu serius mengamati wajahku yang kuyakin memang menyimpan sejuta rahasia yang tidak pernah kubagikan sedikitpun padanya.


            “Bukankah seharusnya kau di bawah?”


            “Kau terlalu lama, aku selalu mengkhawatirkanmu.” tambahnya. Ia mulai berjalan kearahku sambil menyambar tas jinjing yang berisi kebutuhanku selama yoga.


            “Jika kau ingin bertanya, tanyakan saja. Jangan menyimpannya terlalu lama di kepalamu.”


           “Siapa kau sebenarnya?”


            “Lee Junhyu.” jawabnya tenang namun terdengar menyebalkan. Mungkin aku memang salah memberinya pertanyaan, atau mungkin ia terlalu bodoh untuk mencerna kata-kataku.


            “Kenapa kau membawaku kedalam drama kehidupanmu yang memuakan ini. Karena ulahmu, aku kehilangan semua teman-temanku. Mereka tak sudi lagi berteman dengan seorang wanita murahan sepertiku.”


            Rasanya aku ingin menangis setelah berteriak cukup keras di depan wajahnya. Itulah yang kurasakan akhir-akhir ini setelah semua kebenaran itu terungkap. Aku merasa rendah diri, aku kesepian, dan merasa


ditinggalkan. Dulu mungkin aku tidak terlalu merasa tertekan karena pikiranku mengatakan jika setidaknya aku masih memiliki teman-teman yang sangat menyayangiku. Tapi sekarang, aku tidak bisa lagi berpikir demikian. Semua temanku telah pergi, dan menyisakan aku sendiri di sini bersama si cupu Lee Junhyu.


            “Kenapa kau tidak bisa menerima takdirmu sendiri?”


            “Ini bukan takdir, kau yang mendorongku masuk kedalam kesialan ini.” balasku sengit. Apa semua ini masih bisa disebut takdir jika ia sendiri yang telah lama merencanakan semua kesialan ini.


            “Cobalah untuk berdamai dengan perasaanmu Anna, maka kau akan merasa lebih baik. Apa kau tidak kasihan dengan anakmu, ia harus terus menerus mendengar ibunya mengumpat. Sudahlah, ayo kita pergi, aku tidak ingin membuatmu semakin stress dengan pertengkaran yang seharusnya tidak perlu dilakukan.”


            Saat ia melangkah pergi, aku tidak ikut menggerakan kakiku untuk mengikutinya. Aku justru tertinggal di belakang dengan air mata yang lagi-lagi menetes turun dari pipiku. Semua ini menyakitiku. Aku ingin kehidupanku yang dulu dikembalikan lagi, aku ingin hidup sebagai Anna sang gadis populer di Kirin High School yang memiliki banyak penggemar di sekolah. Aku ingin teman-temanku kembali, lalu kami akan bersenang-senang bersama setiap bel pulang sekolah berdering nyaring.


            “Ssshhh... aku akan selalu di sini untuk memegangmu.”


            “Aku ingin kehidupanku kembali.” bisikku lirih. Kurasakan tubuh Junhyu yang memelukku sedikit menegang, namun ia tak sedikitpun melepaskan dekapannya padaku. “Aku tidak ingin lebih lama di sini, kumohon lepaskan aku.”


-00-


            Tidak seperti biasanya, pagi ini aku terbangun dengan Junhyu yang sedang duduk di samping ranjangku sambil meletakan kedua tangannya di belakang kepala. Pandangan kosong Junhyu yang mengarah pada jendela besar yang telah dibuka lebar-lebar di kamarnya membuat aku yakin jika Junhyu bahkan tidak menyadari keberadaannku yang sejak tadi tampak menelisik keras kearah wajahnya. Aku sedang memperkirakan apa yang sedang mengganggu Junhyu hari ini. Tidak biasanya ia telah bangun di jam enam pagi dan tampak seperti sebuah raga kosong tanpa jiwa.


            “Aku terus memikirkannya, dan aku tidak bisa tidur sejak semalam.”


            Apa ia baru saja berbicara denganku? Jadi ia tahu jika aku sudah terbangun dan terus menatapnya sejak tadi. Yah, kurasa ia memang memiliki kepekaan yang luar biasa menakjubkan.


            “Itu bukan urusanku.”


            “Bukankah kau ingin tahu apa yang terjadi selama ini?”


            Aku yang hampir beranjak dari ranjang untuk mencuci wajahku di kamar mandi, tiba-tiba berhenti karena perkataannya. Kata-kata itu seperti menggelitikku untuk lebih banyak mencari tahu tentang apa yang ia sembunyikan selama ini. Dan pada akhirnya aku kembali duduk di atas ranjangku sambil menunggunya untuk mendongeng pagi ini.


            “Aku mengalami kecelakaan lima tahun yang lalu. Kecelakaan mengerikan yang membuat lensa mataku rusak. Aku koma selama satu bulan setelah kecelakaan itu terjadi, lalu saat aku terbangun, aku tidak bisa melihat orang-orang disekitarku dengan jelas. Lensa mata kananku terkena serpihan kaca ketika aku kecelakaan, hal itu


yang membuat mata kananku cacat dan membutuhkan operasi besar secepatnya. Ditambah lagi...” tiba-tiba Junhyu menjeda ceritanya sambil menatap kearahku dengan sorot mata dalam. Itu seperti ia sedang mencekik leherku dari jauh karena aku merasakan pasokan oksigenku menjadi menipis setelah ia menatapku dengan begitu intens. Ceritanya membuatku teringat pada masa laluku, dulu aku juga pernah mengalami kecelakaan. Jauh sebelum aku bersekolah di Kirin, sepertinya itu terjadi ketika aku duduk di bangku sekolah dasar. Sayangnya aku tidak terlalu ingat dengan detail ceritanya karena kejadian itu membuatku syok berat hingga akhirnya aku harus dirawat dibawah pengawasan psikolog selama satu bulan. “Kenapa, apa yang terjadi selanjutnya?”


            “Menurutmu apa yang terjadi pada seseorang yang koma selama satu bulan? Kakiku lumpuh, tidak permanen sebenarnya, tapi itu juga cukup menggangguku saat itu.”


            Tak bisa kubayangkan separah apa kecelakaan yang menimpanya. Lensa mata yang rusak? itu sungguh sangat mengerikan. Pantas saja jika sekarang ia menggunakan kacamata, mungkin itu yang membantunya agar tetap dapat melihat hingga saat ini.


            “Itu pasti sangat mengerikan. Jadi apa yang terjadi selanjutnya? Kau memutuskan untuk mengoperasi matamu dan melakukan fisioterapi untuk kakimu?”


            Ia mengernyit dalam setelah mendengar pertanyaanku. Mungkin ia baru saja berpikir jika aku sangat jahat dan tampak tak bersimpati sedikitpun pada masa lalunya. Tapi sebenarnya aku sangat bersimpati dengan semua hal yang menimpanya. Aku hanya tidak tahu bagaimana cara mengekspresikannya. Kebencianku ini terlalu membutakanku hingga aku tamapak seperti wanita yang tak memiliki hati.


            “Iya, tapi tidak bisa langsung kulakukan karena aku harus memulihkan kondisiku sebelum aku melakukan operasi besar. Dan setiap hari ibuku menangis di sebelahku sambil menggenggam tanganku erat. Tapi aku selalu meyakinkannya jika aku baik-baik saja. Aku yakin jika aku akan segera sembuh dan kembali pada kehidupan normalku. Meskipun begitu, setiap malam aku tidak bisa benar-benar memejamkan mataku dengan tenang. Kecelakaan itu terus menghantuiku hingga beberapa kali kondisiku melemah dan membuat dokter sedikit putus asa saat melihat kondisiku setelah dirawat selama enam bulan di rumah sakit.”


menggantung, sengaja ingin memancingnya untuk membicarakan usianya saat ini. Sesungguhnya aku sangat terkejut saat mengetahui rahasia besar yang dimiliki Junhyu. Pantas saja ia telah memegang tanggungjawab yang besar di Jepang, ternyata ia memang bukan pria ingusan yang biasanya masih senang menghambur-hamburkan harta milik orangtuanya. Lee Junhyu memiliki beban yang lebih berat dari apa yang sebelumnya kuperkirakan.


            “Dua puluh dua. Cukup lama aku beristirahat setelah kecelakaan itu terjadi karena


aku seperti kembali menjadi seorang bayi lagi. Aku tidak bisa berjalan, penglihatanku terganggu, kondisi organ vitalku juga masih sangat lemah. Jika aku kembali mengingat masa laluku, rasanya benar-benar menyakitkan sekaligus tidak percaya jika aku masih diberikan kesempatan untuk hidup lebih lama lagi. Bahkan aku juga berkesempatan untuk menjadi seorang ayah sekarang.”


            Aku tidak tahu jika hal ini dapat menjadi sesuatu yang luar biasa untuk Junhyu.


Kesempatannya untuk menjadi seorang ayah, itu mungkin sebuah kesempatan yang sangat luar biasa untuknya. Jika dipikir-pikir ia mirip dengann seekor kucing yang memiliki cukup banyak cadangan nyawa di hidupnya.


            “Bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi?”


            Hampir saja aku melupakan pertanyaannku yang belum sepenuhnya dijawab oleh Junhyu. Aku sangat penasaran bagaimana Junhyu mendapatkan kecelakaan itu lalu hidup dengan salah satu mata yang cacat.


            “Saat itu bulan Desember, aku sangat ingat lembutnya butiran salju yang turun di hari itu, lalu suara riuh anak-anak yang menyambut penuh suka cita hari natal yang akan segera tiba. Sore menjelang malam, aku akan menjemput ibuku di Gangnam, ada sebuah acara amal yang diadakan oleh ibuku dan teman-temannya di sana. Karena supir pribadi kami sakit, akhirnya aku yang harus menggantikan tugasnya untuk menjemput ibuku. Pada awalnya semua berjalan lancar, tidak ada apapun yang terjadi, sampai pada akhirnya seorang anak kecil.....”


            Anna.. jangan pergi kemana-mana, tunggu nenek di sini, nenek harus mengambil tas nenek yang tertinggal di dalam mobil. Aku ingat, kenangan itu terjadi saat usiaku sepuluh tahun. Saat itu nenek mengajakku untuk pergi berbelanja di super market karena besok adalah ulangtahun pernikahan orangtuaku.


            “Dia berlari entah darimana dan membuatku terkejut. Aku mencoba menghentikan mobilku dalam keadaan jalanan licin karena turun salju, tapi aku justru kehilangan kendali. Mobilku menabrak apapun yang berada di pinggir jalan, tapi aku benar-benar berusaha untuk mengendalikannya agar gadis kecil itu tidak terluka dan dapat terus tersenyum dengan hangat seperti matahari pagi yang menenangkan...”


            Nenek tunggu! Aku ingin ikut ke mobil....


Brakkk! Nenek! Kyaaaa....


            Suara benturan itu... aku ingat suara benturan dan suara banyak orang yang berteriak-teriak di pinggir jalan untuk memperingatkanku. Tapi aku hanya berjongkok di tengah jalan sambil menangis memanggil nenek yang terlihat begitu pucat di seberang jalan. Selama beberapa menit aku terus mendengar suara benturan yang sangat keras dan juga mengerikan hingga akhirnya suara itu berhenti, digantikan dengan suara sirine ambulance dan mobil polisi yang begitu banyak memenuhi jalanan. Aspal yang sebelumnya berwarna putih karena diselimuti oleh kristal kristal salju yang indah, mendadak berubah menjadi merah keruh karena terkotori oleh noda darah yang saat itu kulihat menetes dari sebuah tandu yang dibawa oleh orang-orang dewasa di sekitar jalan itu. Mungkinkah....


            “Setelah itu aku tidak mengingat apapun lagi, hanya saja orangtuaku mengatakan jika tidak ada korban jiwa dalam kecelakaan itu. Aku berhasil mengendalikan mobilku dengan baik agar tidak melukai gadis kecil itu seujung kukupun. Bukankah pengorbananku tidak sia-sia? Aku berhasil membuat gadis kecil itu selamat, namun sebagai gantinya aku hampir kehilangan segalanya.”


            “La... lalu, apa yang terjadi selanjutnya?”


            Susah payah aku menelan salivaku sendiri yang terasa begitu pahit di tenggorokanku. Apakah ia tahu jika gadis kecil itu kemungkinan aku? Sepertinya tidak. Lee Junhyu tidak mungkin tahu jika gadis kecil yang  menyebabkan ia hampir kehilangan nyawanya adalah diriku. Semua ini mungkin hanya kebetulan dan skenario yang sengaja diciptakan oleh Tuhan untuk membuatku merasa sangat ketakutan seperti ini.


            “Setelah aku terbangun dari koma yang cukup lama, aku tidak bisa melihat dengan jelas. Mataku cacat, dan ibu terus berusaha meyakinkanku jika semua itu bukan akhir dari segalanya. Ibu yakin jika aku pasti bisa sembuh dan dapat melihat lagi dengan normal. Namun setelah tiga bulan tidak ada perubahan apapun pada kondisi mataku, bahkan justru semakin memburuk, aku mulai putus asa. Dokter hebat manapun tidak bisa membantu menyembuhkan lensa mataku yang robek dan cacat ini. Lalu kondisi tubuhku juga semakin menurun karena aku benar-benar merasa terpuruk. Meskipun aku sudah bisa berjalan kembali, tapi itu tidak lagi sama seperti dulu ketika aku belum mengalami kecelakaan. Aku berjalan seperti robot dan terlihat begitu menyedihkan hingga setiap orang yang bertemu denganku pasti akan menatap iba padaku.”


            Keringat dingin ini tanpa sadar meluncur turun menuruni punggungku dan berkumpul di pangkal pinggulku hingga aku merasa bagian itu begitu basah dan lengket. Aku ingin pergi dari kondisi yang tidak nyaman ini, namun Junhyu masih terus menceritakan masa lalu kelamnya yang sangat mengerikan tanpa memberikan sedikitpun jeda untuk membiarkanku pergi. Setidaknya aku perlu membasuh wajahku dengan air dingin agar aku dapat melupakan kepanikanku dan juga mimpi buruk yang telah menghantuiku selama beberapa tahun terakhir ini.


            “Ada apa Anna, mengapa wajahmu pucat? Apa kau merasa mual lagi?”


            Aku menggeleng cepat kearah Junhyu sambil memberikan senyum kaku yang mungkin


tampak aneh untuk dilihat. Kegugupan yang kurasakan berasal dari rasa bersalahku pada Junhyu. Aku tidak pernah tahu jika kecelakaan itu hampir membuat nyawa seseorang melayang karena kecerobohanku. Bahkan meskipun Junhyu tidak mati, tapi ia harus menjalani hari-harinya dengan perasaan tersiksa karena ia mengalami kecacatan.


            “Syukurlah jika kau baik-baik saja, karena aku masih ingin melanjutkan ceritaku. Jadi saat itu aku benar-benar terpuruk. Aku putus asa, dan aku juga berfikir untuk mati. Tidak ada gunanya aku hidup jika aku tidak bisa melihat dengan jelas. Bahkan aku juga berpikir jika kehidupanku ini hanya akan membawa banyak beban untuk orangtuaku. Dan selama satu tahun aku tidak melakukan apa-apa, aku hidup seperti sebuah raga tanpa jiwa. Ibuku bahkan terus menangis setiap kali menatapku yang hanya melamun di dekat jendela atau di taman belakang. Saat itu aku berpikir, kira-kira apa yang terjadi jika aku tidak perlu memikirkan nyawa gadis kecil itu? Mungkin aku tidak akan mengalami cedera yang begitu parah dan kehidupanku akan baik-baik saja. Terlebih lagi kedua orangtuaku memiliki kekuasaan yang lebih dari mampu untuk menyuap para petinggi kejaksaan dan juga polisi untuk meloloskan kasusku. Tapi akhirnya aku sadar, bukan seperti itu kehidupan yang sesungguhnya. Hidup dengan cap sebagai pembunuh akan jauh lebih menyiksa daripada hidup dengan mata cacat dan tubuh lemah. Akhirnya aku


berusaha untuk bangkit, melupakan seluruh masa lalu yang menyakitkan, dan mulai belajar untuk menerima keadaanku yang tidak lagi sama seperti dulu. Lalu keajaiban itu tiba-tiba datang, seorang dokter dari Jerman yang merupakan kenalan ayahku mengatakan jika ia mampu membantuku mengobati kecacatan mata kananku. Saat itu ia tidak mengatakan jika ia akan menyembuhkanku, tapi setidaknya aku bisa mendapatkan mata yang lebih baik setelah peristiwa itu terjadi. Orantuaku kemudian membawaku ke Jerman untuk melakukan pengobatan. Di sana aku menjalani operasi lensa mata sebanyak lima kali. Dokter itu terus


menyempurnakan pengobatannya hingga pada akhirnya aku mendapatkan penglihatan yang lebih baik. Lensa mataku dapat berfungsi sebagaimana mestinya, meskipun itu tetap tidak lagi sama seperti milikku yang dulu, tapi aku sangat bersyukur dengan penglihatan yang saat ini kumiliki. Tapi dokter juga memintaku untuk menggunakan kacamata agar dapat melindungi lensa buatan yang ia tanamkan di dalam mata kananku.”


            Kurasa aku telah mencapai batas dimana aku tidak bisa berkata apa-apa dan hanya mampu merasakan penyesalan yang begitu besar pada sosok Lee Junhyu. Bayangan ketika aku menjatuhkan kacamatanya dan membuatnya pecah, atau bayangan ketika Jihoo oppa dan teman-temannya yang memukuli Junhyu hingga kacamatanya pecah membuat hatiku terasa ngilu. Aku benar-benar wanita jelmaan iblis yang jahat. Setelah aku yang saat itu begitu ceroboh karena ingin menyusul nenekku mengambil tas di dalam mobil, kini aku masih saja menyakitinya hingga di titik yang tidak bisa dimaafkan. Andai Junhyu tahu jika gadis kecil itu adalah aku, ia pasti akan berbalik membenciku. Mungkin ia akan menceraikanku, dan membuat anak ini terlahir tanpa ayah sebagaimana yang selama ini aku inginkan. Tapi membayangkan hal itu terjadi, tiba-tiba membuat cerukan


mataku menjadi hangat karena dipenuhi oleh air mata. Kepedihan yang kurasakan ini terasa begitu nyata hingga akhirnya aku tidak bisa menahan air mataku sendiri untuk jatuh. Namun cepat-cepat aku mengusapnya dengan ujung lengan piyamaku agar Junhyu tidak melihat kebodohan yang saat ini sedang kulakukan.


            “Masa lalumu.. sungguh, mengerikan. Kau pria yang kuat.”


            Hanya kalimat itu yang mampu kuucapkan setelah aku berusaha mati-matian untuk menahan isak tangis yang hampir pecah dari bibirku. Penyesalan ini benar-benar menyeruak ganas di dalam hatiku, aku takut. Sungguh aku takut.


            “Tapi aku sedih Anna, gadis kecil yang dulu kuselamatkan kini pasti telah tumbuh dewasa, menjelma menjadi seorang wanita dewasa yang cantik dan juga anggun. Ingatanku tentang mata bulatnya yang ketakutan saat melihat mobilku hampir menghantam tubuh kecilnya benar-benar tak pernah kulupakan sedikitpun. Ingatan


itu selalu terasa segar di otakku, lalu membuat tidur nyenyakku setiap malam sering terganggu karena aku tidak bisa berhenti untuk memikirkannya. Selama bertahun-tahun aku berjuang untuk menghilangkan rasa traumaku dari masa lalu hingga akhirnya aku menemukannya. Dia sungguh cantik, seperti perkiraanku selama ini. Sayangnya ia angkuh, ia kejam, dan ia diliputi kemarahan besar entah karena apa. Ia sering membuatku berada dalam masalah karena berurusan dengan kekasihnya. Dan ia juga yang membuatku harus merasakan dendam yang begitu


besar karena sebagian kecil hatiku pernah menyalahkannya atas peristiwa mengerikan yang hampir merenggut kehidupanku.”


            “Junhyu kau....”


            “Aku selalu dilingkupi kemarahan setelah bertemu dengannya, aku selalu berpikir


untuk melakukan sesuatu yang dapat meluapkan seluruh rasa marahku selama ini. Lalu aku melakukan kebodohan itu, aku merusak masa depannya. Membuatnya mengandung anakku, dan membuatnya hancur karena sikap tak bermoralku. Dan semua rasa marah itu kini pergi, digantikan dengan rasa bersalah yang begitu besar karena aku gagal mengendalikan diriku sendiri. Tidak seharusnya aku mengungkit luka lama itu dan menjadikannya sebagai amunisi untuk melakukan balas dendam. Jadi sejujurnya Anna, aku bukan pria selemah itu, aku hanya berusaha menghindari masalah karena aku hanya ingin menyempurnakan kehidupan senior high schoolku yang terenggut paksa. Tapi kau selalu membuatnya menjadi tidak mudah hingga pada akhirnya aku tidak bisa mengendalikan kebencianku padamu. Aku minta maaf.”


           Aku tertegun dalam kubangan penyesalanku sendiri. Alih-alih aku merasa marah karena ceritanya itu membuatku tahu siapa Junhyu sebenarnya, ia memang telah menjebakku selama ini. Ia membuat skenario ini dengan sengaja karena kecerobohanku di masa lalu, namun semua itu terjadi karena salahku. Aku yang membuatnya selalu dilingkupi masalah, aku yang selama ini turut andil dalam pembullyan yang ia dapatkan di sekolah. Pantas jika ia merasa marah padaku. Bukan ia yang seharusnya minta maaf, tapi aku. Aku!


            “Junhyu... kenapa kau baru mengatakannya sekarang?”


            “Karena aku merasa kecewa, wanita yang hampir membuatku kehilangan hidupku, wanita yang kusakiti, wanita yang kuperjuangkan masa depannya, justru memintaku untuk melepaskannya. Anna, aku sebenarnya tidak ingin semua ini kembali muncul ke permukaan. Semua itu hanya masa lalu, dan aku selalu berusaha untuk melupakannya, memaafkanmu dan semua hal yang terjadi padaku selama ini. Tapi kata-katamu kemarin sungguh melukaiku. Setelah semua yang telah kulakukan selama ini, aku merasa gagal untuk membuatmu bahagia. Dan aku justru semakin mengirimmu ke lubang penderitaan.”


            “Apa ibumu tahu? Apa ia tahu jika aku yang membuat putranya celaka?”


            “Ibu tidak tahu apa-apa, kau tenang saja. Aku tidak pernah membahas hal ini pada ibu, dan ibu sepertinya mengerti kenapa aku tidak ingin melakukannya. Sudahlah, aku tidak ingin kau berbalik hanya karena merasa kasihan padaku. Sekarang kau boleh pergi ke kamar mandi, jangan terlalu memikirkan percakapan hari ini.”


            Aku menatap kepergiannya dalam diam sambil menahan buliran air mata yang hampir lolos dari sudut-sudut mataku. Sekarang aku sadar jika aku memang jahat, sangat jahat! Pantas jika pada akhirnya aku ditinggalkan oleh teman-temanku yang telah berubah menjadi membenciku karena kebohongan yang kulakukan selama ini. Sekarang kepalaku terkulai begitu saja di atas ranjang. Aku merasa lemah dan hanya ingin menangis seharian di sini bersama kesepian yang membelengguku. Andai waktu dapat diulang, aku ingin memperbaiki semuanya. Menjadikan masa lalu itu menjadi lebih layak untuk dikenang di masa depan.