
Sudah berapa lama aku tidak datang ke sini? Satu bulan? Dua bulan? Bahkan berbulan-bulan! Oh.. aku sangat merindukan sekolahku. Ini benar-benar sangat menakjubkan karena aku dapat menyelinap ke bangunan lama di belakang sekolahku untuk mengenang masa-masa indahku menjadi siswi nakal sekaligus siswi populer di Kirin High School. Dulu tempat ini adalah tempat untuk memukuli Junhyu. Di sana, di tiang berwarna kehitam-hitaman yang dipenuhi oleh karat itu, Junhyu sering diikat di sana oleh Jihoo oppa dan teman-temannya, lalu salah satu dari mereka akan memukuli Junhyu hingga pria itu babak belur dan terbatuk-batuk. Aku berjalan pelan mengitari bangunan tua yang dulunya adalah bekas menyimpanan alat-alat olahraga ini. Meskipun sudah tidak berfungsi lagi, tapi pihak sekolah sepertinya belum berniat untuk membongkarnya agar dapat digunakan sebagai bangunan baru yang lebih berguna. Tapi itu justru sangat bagus karena dengan begitu aku dapat menyelinap ke sini tanpa diketahui penjaga sekolah atau siswa siswi Kirin yang bisa saja sedang berada di luar kelas dan melihatku sedang menyelinap ke sini.
Dug!
Hampir saja aku terjatuh, seutas tali dan sebuah ubin rusak menjegal langkahku. Aku lalu menunduk, memungut tali itu dari kakiku sambil tersenyum kecil. Aku ingat sekarang, tali ini adalah tali yang biasa digunakan oleh Jihoo oppa untuk mengikat Junhyu. Dan aku pernah melepaskan ikatan Junhyu sekali saat aku mulai merasa iba padanya. Tali ini seperti menjadi saksi bisu dari kisah-kisah kelam kami di masa lalu. Hampir semua hal yang tertinggal di bangunan ini adalah kenangan-kenangan buruk tentang Junhyu. Tidak ada satupun hal baik yang pernah terjadi di sini jika itu berhubungan dengan Junhyu. Tapi... aku pernah berciuman dengan Jihoo oppa sekali di sini. Saat itu langit mendung, dan kami baru saja selesai mengerjai Junhyu. Saat kami sedang tertawa-tawa puas dengan sangat lepas, Jihoo oppa tiba-tiba meghentak tanganku kearahnya hingga tubuh kami saling berbenturan. Lalu... semuanya terjadi begitu saja dengan cepat. Untuk pertama kalinya Jihoo oppa menciumku dan memperkenalkanku pada dunia romansa milik orang dewasa yang sebelumnya tidak kudapatkan dari Dannis oppa. Jika diingat-ingat, Dannis oppa selama ini lebih banyak memposisikan dirinya sebagai seorang kakak laki-laki daripada seorang kekasih. Rasa cintanya untukku mungkin tak lebih dari rasa sayang seorang kakak terhadap
adik karena setelah aku menjalin hubungan dengan Jihoo oppa dan tentunya berkenalan dengan beberapa pria, aku mulai bisa membedakan semua rasa itu. Termasuk ketika bersama Junhyu. Pria itu memberikan berbagai rasa yang terasa berbeda. Terkadang ia menunjukan rasa kasih sayang seorang kakak terhadap adiknya. Lalu terkadang ia juga memberikan rasa seorang diktator yang sangat menyebalkan. Dan akhir-akhir ini Junhyu memberikan rasa lain seperti sebuah rasa vanila yang manis atau rasa coklat yang pahit. Terlalu banyak rasa yang diberikan Junhyu untukku hingga kini aku seperti kecanduan Junhyu. Hanya tiga hari saja aku tidak bertemu pria itu, rasanya aku sudah sangat merindukannya hingga kemarin hampir saja aku ingin pulang tanpa mempedulikan harga diriku yang mungkin akan hancur berkeping-keping di hadapan Junhyu. Tapi untung saja kemarin ibuku berhasil menahanku agar tidak pulang ke rumah Junhyu. Ibuku tiba-tiba membawaku untuk berjalan-jalan dan berbelanja. Hal itulah yang akhirnya membuatku kelelahan hingga aku tidak bisa memikirkan Junhyu sedikitpun karena jatuh tertidur. Namun saat aku membuka mata di pagi ini, aku merasakan adanya sebuah kekosongan yang menyergapku. Aku merindukan Junhyu, dan aku ingin melihat Junhyu sedang tertidur damai di sampingku sama seperti dulu. Sayangnya aku sekarang juga merasa sedikit kecewa pada Junhyu karena pria itu selama tiga hari ini tidak sedikitpun mencariku. Ponselku terasa begitu hening tanpa ada satupun panggilan dari Junhyu, bahkan satu pesan tekspun tidak ada dari pria itu! Jadi pantaskah aku merasakan rasa rindu yang berlebihan pada Junhyu, sedangkan pria itu mungkin tidak sedang memikirkanku sama sekali.
“Heey.. kenapa juga kita harus dihukum untuk membersihkan rumput-rumput liar di bangunan menyeramkan ini? Ck, dasar guru Kang menyebalkan!”
Aku langsung beringsut mundur, dan bersembunyi di balik pintu bangunan yang untungnya tertutup. Samar-samar aku mendengar suara langkah kaki dan suara dua orang wanita yang sedang menggerutu. Sepertinya aku mengenal suara mereka. Itu... Jessica dan Tiffany! Oh Ya Tuhan, sudah lama aku tidak bertemu mereka. Sejak kejadian pagi itu, hubungan persahabatan kami terputus begitu saja. Mereka sama sekali tidak mencariku sedikitpun, atau menanyakan kabarku dengan pesan-pesan berisik yang dulu sering mereka kirimkan padaku. Aku sedikit merindukan saat-saat kami membuat kegaduhan bersama, mengerjai guru-guru yang menurut kami terlihat menyebalkan, atau membolos bersama-sama di jam pelajaran yang kami benci, fisika. Itu semuanya benar-benar sudah sangat lama berlalu, dan kini persahabatan kami rusak karena sebuah kesalahan yang kulakukan. Rasanya tidak adil, aku seperti dihukum untuk sebuah kesalahan yang tidak benar-benar kulakukan. Menjadi seorang wanita itu memang sulit, bahkan berat. Jika aku memiliki kesempatan untuk dilahirkan kembali, aku akan memilih untuk menjadi seorang pria daripada wanita. Lalu aku akan lebih bersenang-senang untuk diriku sendiri tanpa harus mengkhawatirkan masa depanku yang cemerlang.
“Fanny... aku lelah sekali, kenapa kita tidak pergi saja ke kantin dan menikmati sesuatu yang lezat di sana?”
“Kau ini bodoh atau idiot hah? Guru Kang pasti akan ke sini untuk melihat pekerjaan kita. Dan sampai guru Kang datang ke sini, kita tidak akan pernah pergi kemanapun.”
Tanpa sadar aku tertawa terbahak-bahak dalam kesunyian gedung kotor dan pengap ini. Mereka berdua sangat lucu, terutama ekspresi wajah Jessica yang langsung berubah muram karena keinginannya tidak dikabulkan Tiffany. Sementara itu ekspresi wajah Tiffany masih sama, keras dan seperti menahan banyak emosi di dalamnya. Entah apa yang telah mereka lakukan hingga guru Kang, guru biologi kami, menghukum mereka. Padahal setahuku Tiffany dan Jessica tidak pernah memiliki masalah dengan mata pelajaran itu.
Lama aku mengamati Tiffany dan Jessica yang sedang mencabuti rumput, tiba-tiba aku merasa lelah dan kantuk mulai menyergapku. Kemudian kulirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku sekilas. Pukul sebelas siang. Biasanya di jam-jam seperti ini aku akan mengambil waktu tidur siang karena sejak mengandung Leo, aku seperti lebih mudah lelah dan selalu merasa mengantuk. Akhirnya aku memilih untuk duduk bersandar di belakang pintu, menyandarkan punggung lelahku begitu saja sambil mendesah berat. Untuk pertama kalinya aku
tidur di dalam gedung tua yang kotor dan pengap. Mungkin dulu seperti inilah perasaan Junhyu. Perasaan terintimidasi, perasaan terasingkan dan juga tak diinginkan. Tidak akan ada satupun yang peduli padanya, bahkan mencarinya jika ia tidak muncul di kelas. Dan saat ini keadaanku juga sama seperti keadaannya dulu. Tidak akan ada yang mencariku di sini, bahkan mempedulikan keadaanku jika aku tidak ada di rumah.
-00-
“Ssshhh.. aahh...”
Aku terbangun dengan perut sakit luar biasa yang terasa begitu menyiksa. Keringat dingin kurasakan juga perlahan-lahan mulai meluncur dari pelipisku hingga turun membasahi kerah blouse bunga-bunga yang saat ini kukenakan. Demi Tuhan, aku belum pernah merasakan rasa sakit yang semengerikan ini. Tidak! Leo tidak mungkin akan lahir hari ini. Hari kelahirannya seharusnya masih satu minggu lagi. Tidak tidak tidak.. jangan sekarang nak, aku tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja. Di sini juga tidak ada ayahmu nak.
“Aaaahhh... siapapun di luar sana... tolong aku..”
Aku mulai terengah-engah dengan rasa sakit yang begitu luar biasa menghujam perutku. Dan perlahan-lahan aku merasakan cairan bening mulai merembes membasahi celana panjangku. Ini buruk, aku akan melahirkan sekarang! Tapi bagaimana bisa aku keluar dari ruangan ini, bahkan tidak ada siapapun di luar sana untuk menolongku. Tiffany dan Jessica.... mereka telah pergi. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku tertidur di sini, yang kutahu cahaya matahari di luar sudah tampak redup. Mungkin sore telah datang, dan aku terlalu lama tertidur di ruangan ini.
“Aaaarrkhhhh...”
Aku berteriak kencang, sangat kencang hingga kurasakan pita suaraku bergetar terlalu hebat untuk seluruh kesakitan yang sedang kurasakan saat ini. Junhyu...
kau dimana? Apa kau tahu jika aku kesakitan di sini? Aku takut Junhyu... tolong aku. Aku di sini, berjuang diantara hidup dan mati untuk anakmu.... anak kita.
“Hosshh... hosshh.. hosshh.... aarrrkkhh.... tolong.... to.. toloong...” Teriakan ini terasa begitu sia-sia dan juga putus asa. Aku akan mati.... malaikat maut sedang menari-nari di sudut tergelap ruangan ini sambil menertawakan kondisiku yang mengenaskan.
Kau belum benar-benar dewasa untuk memahami makna hidup yang sesungguhnya....
Kata-kata terakhir yang Junhyu ucapkan saat kami bertengkar, tiba-tiba terngiang-ngiang
begitu saja di kepalaku. Mereka bergema, memenuhi setiap rongga otakku, dan membuatku semakin merasa bersalah dengan sikap kekanakanku yang sangat keterlaluan pada Junhyu. Andai aku dapat mengatur emosiku dan tidak mendorong egoku terlu jauh untuk pergi dari rumah Junhyu semua ini pasti tidak akan pernah terjadi. Anakku akan aman berada di rumah dengan orang-orang baik yang akan menyambut kelahirannya dengan penuh sukacita. Ya Tuhan... ini sakit. Aku tidak bisa menahannya terlalu lama lagi. Aku ingin tidur, aku ingin memejamkan mata lelahku yang perlahan-lahan mulai terlihat buram ini. Junhyu... maafkan aku, maaf karena telah menjadi isteri yang kekanakan untukmu. Aku... lelah Junhyu, aku sangat lelah...
Flashback End
“Anna, kau tidak perlu repot-repot menyiapkan makanan sebanyak ini.”
“Tidak apa-apa. Kebetulan hari ini aku memasak lebih banyak karena Junhyu oppa berada di rumah.” jawabku sambil membawa sebuah mangkuk berisi kari daging sapi. Rasanya senang bisa melihat mereka lagi sebagai teman dekat, sekaligus sahabat seperti dulu. Aku cukup bersyukur karena pada akhirnya aku kembali mendapatkan sahabat-sahabatku. Semua ini terjadi secara alami tanpa pernah kurencanakan sebelumnya. Saat itu aku bertemu Tiffany di sebuah kafe ketika ia sedang melamun sendiri. Aku yang baru saja selesai berbelanja sambil membawa Leo yang saat itu berusia tiga bulan, segera menghampiri Tiffany sambil menepuk bahunya pelan. Awalnya kami berbicara cukup canggung. Saat itu kami tak ubahnya seperti sepasang orang asing yang
sebelumnya tidak pernah saling mengenal. Namun semakin lama, kami seperti menemukan kembali jiwa kami yang sempat hilang hingga akhirnya kami dapat berbicara akrab satu sama lain seperti dulu. Jadi begitulah kisah singkat kembalinya kedua sahabatku kedalam pelukanku. Tidak terlalu menghebohkan sebenarnya, bahkan sangat jauh dari kata spesial karena semuanya berjalan begitu saja, secara natural, dengan pemikiran kami yang tentu saja sudah semakin dewasa saat itu.
“Ahh... kalian benar-benar pasangan yang manis.” ucap Jessica berlebihan sambil tersenyum lembut kearahku. Kulihat sejak tadi Junhyu oppa hanya menatap keseruan kami dalam diam. Sejak berada di supermarket ia hanya diam dan tidak mengajakku untuk berbicara karena hari ini teman-temanku datang ke rumah. Mungkin ia merasa terganggu dengan keberadaan Jihoo oppa dan Dannis oppa di sini. Padahal mereka berdua saat ini telah memiliki tunangan. Tidak mungkin mereka masih memiliki perasaan padaku lagi seperti dulu. Dasar Junhyu oppa berlebihan. Ia terlalu cemburu akhir-akhir ini karena aku lebih banyak menghabiskan waktuku bersama Leo. Dan aku sedikit mendapatkan perbedaan di kehamilan ke duaku ini karena janin ini lebih mandiri daripada Leo. Ia tidak menuntut Junhyu untuk harus selalu berada di rumah, sehingga aku sekarang menjadi wanita hamil yang sangat mandiri.
“Salad buah kurasa lebih baik, aku sudah terlalu gemuk Anna.” jawab Dannis oppa terkekeh. Saat melewati Junhyu oppa, aku memberikan isyarat padanya yang telah selesai dengan makanannya, tapi... lagi-lagi aku dicauhkan. Baiklah Junhyu oppa, kau sangat menyebalkan hari ini.
“Anna, ceritakan pada kami bagaimana awal-awal kau memiliki Leo. Ceritakan pada kami saat kau menjadi ibu untuk pertama kalinya.”
“Aaa.. aku lupa.” jawabku berbohong. Tentu saja setiap detik kehamilan Leo dan kelahiran Leo, aku tidak pernah melupakannya. Mungkin hanya satu yang tidak pernah kuingat, yaitu detik-detik ketika Leo lahir. Aku sama sekali tidak mengingatnya, kecuali saat aku membuka mataku untuk pertama kalinya setelah aku tertidur dengan sangat lama.
Flashback
Aku merasakan silau dari sebuah cahaya yang begitu menusuk di kedua retina mataku. Mungkin sekarang aku telah berada di surga, tempat yang menurut banyak orang adalah tempat yang paling indah. Tapi kemudian aku merasa ragu. Samar-samar aku mendengar suara Junhyu yang seperti berteriak panik di sisi kananku, lalu suara ribut lainnya yang mulai terdengar saling bersahut-sahutan hingga aku merasa telingaku berdengung hebat. Aku dimana sebenarnya?
“Anna... apa kau mendengarku? Anna...”
Aku menoleh pelan ke sisi kananku, melihat Junhyu yang terlihat begitu khawatir dengan kerut-kerut di wajahnya yang tercetak begitu dalam. Jadi aku masih berada di dunia? Aku belum mati... Setitik kebahagiaan itu muncul saat aku ternyata masih diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk melihat dunia lagi. Namun kemudian aku teringat pada janinku, janin yang seharusnya kulahirkan dengan normal dan dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya. Dengan perasaan cemas, aku mulai merasa perutku sendiri, mencoba merasakan tanda-tanda kehidupan yang telah berada di sana selama lebih dari sembilan bulan. Tapi seketika tanganku bergetar hebat saat aku tidak bisa merasakan kehadirannya lagi di sana. Dimana bayiku? Dimana Leoku yang berharga?
“Do..
Junhyu.. Leo?” dengan susah payah aku mencoba bertanya pada Junhyu. Meskipun tenggorokanku rasanya sangat sakit, meskipun bibirku begitu kering dan terasa kaku untuk digerakan, tapi aku terus mencobanya untuk menepis banyaknya pikiran buruk yang mulai berputar-putar di kepalaku.
“Tenang Anna... tenang, Leo ada di ruangnya bersama bayi-bayi yang lain. Ia dalam keadaan sehat. Ia telah lahir sejak tiga hari yang lalu. Terimakasih Anna karena telah mempertahankannya untukku.”
Seketika perasaan lega itu menyusup masuk ke dalam dadaku dan membuatku menangis
seketika dengan penuh haru. Aku tidak kehilangannya... aku tidak kehilangan Leoku. Tapi bagaimana caranya aku bisa ditemukan di gudang tua itu? Bahkan akusudah merasa frustrasi saat serangan kontraksi itu datang, sedangkan aku sudah tidak memiliki cukup tenaga untuk sekedar berteriak meminta tolong.
“Kau benar-benar membuatku khawatir dengan kepergianmu yang tanpa kabar. Hampir saja aku kehilangan kalian karena aku terlambat menemukanmu di gedung kosong di belakang sekolah, Anna. Kau dalam kondisi yang sangat memprihatinkan saat aku datang dengan genangan darah yang begitu banyak di sekitar lantai.”
“Jadi bagaimana kau menemukanku?”
“Aku melacak ponselmu, dan aku menemukan mobilmu terparkir di seberang pintu masuk Kirin. Jangan lakukan itu lagi. Kali ini aku benar-benar memohon padamu untuk menjadi lebih dewasa dan tidak kekanakan. Semua itu bisa membahayakan nyawamu Anna. Lalu apa yang kau lakukan di Kirin hingga kau berakhir di gedung tua itu? Kau hampir mati Anna jika aku tidak menemukanmu.”
Kurasa aku mulai merasa kesal pada Junhyu. Pria ini terus saja menghujaniku dengan
kata-katanya yang terlampau kasar untuk didengar. Aku terbangun hari ini bukan untuk melihatnya memarahiku habis-habisan seperti ini. Aku kembali untuk putraku dan juga keluarga kecilku. Tapi Junhyu memang selalu menganggap semua sikapku selama ini adalah sebuah tindakan kekanakan yang benar-benar mengganggunya. Semua sikapku selalu dinilai salah dan terlampai menyusahkannya. “Maafkan aku, dan tolong berhentilah untuk memarahiku. Aku lebih dari sadar saat ini dan aku bahkan tidak berniat untuk mengulanginya lagi. Apa kau masih ingin memarahiku setelah ini? Aku menyesal Lee Junhyu, sangat menyesal!” teriakku frustrasi dengan tatapan sayu yang kulemparkan kearah Junhyu. Kuharap ia dapat memahami keadaanku dan juga posisiku saat ini.
“Aku tahu, itu sudah tercetak jelas di wajahmu. Sekarang dengarkan aku baik-baik.” Junhyu tiba-tiba menekan pundakku dan mendekatkan wajahnya kearahku. Kedua mata kami dengan sendirinya saling menatap satu sama lain dan saling terkunci rapat. Betapa aku sangat merindukan mata teduh Junhyu yang selama beberapa bulan ini selalu menjadi objek fantasiku. Hal yang paling kusukai darinya adalah tatapan matanya yang selalu meneduhkan dan membuat hatiku selalu menghangat setiap kali ia memberikan tatapan itu padaku. Dan sekarang tatapan mataku seperti menghangatkan hatiku yang semula beku karena terlalu lama tertidur. Junhyu.. katakan sesuatu sekarang sebelum aku muak padamu. “Kau membuatku seperti hidup di neraka ketika kau pergi dan koma.”
“Lalu? Aku memang sangat buruk hingga membuatmu menjadi seperti itu.”
“Bukan, bukan itu yang kumaksud Anna.” ucap Junhyu tampak frustrasi. Ia memejamkan matanya dalam beberapa detik sebelum akhirnya ia kembali menatapku dengan tatapan yang lebih tegas dari sebelumnya. “Aku mencintaimu.”
Satu detik... dua detik... dan tiga detik... aku hanya menatapnya linglung dengan kebisuan yang begitu menyebalkan karena aku seketika tidak bisa mengucapkan apapun padanya. Aku mendadak bisu karena pernyataan cinta Junhyu! Ya Tuhan, bantu aku untuk mengatakan sesuatu padanya.
“Anna, aku mencintaimu. Maaf karena aku tidak pernah mengatakannya sejak dulu karena aku merasa kata-kata cinta sangat tidak penting untuk diucapkan. Namun saat kau pergi, dan koma, aku mulai menyadarinya. Semua itu sangat penting, kata-kata cinta itu sangat penting untuk diucapkan selagi aku memiliki kesempatan. Selama tiga hari ini aku hampir frustrasi karena aku menyesali kebodohanku sendiri. Aku hampir-hampir menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan Tuhan untuk mencintaimu, aku....”
Tanpa menunggu kelanjutan dari kata-katanya, aku segera mencium Junhyu dan menekan bibirnya lama di bibirku. Ciuman panjang yang penuh kerinduan ini adalah jawaban dari pernyataan cinta Junhyu jika aku juga sangat mencintainya. Tak peduli jika ia sangat terlambat untuk mengucapkannya, tapi aku senang. Aku bahagia dengan kejutan yang ia berikan padaku hari ini.
“Kau terlalu lama..”
“Maaf, aku...”
“Tidak apa-apa.. aku bahagia.” ucapku dengan senyum lebar. Kami berdua lalu saling tersenyum dan menempelkan kening kami masing-masing dengan deru napas yang saling bersahut-sahutan. Pria cupuku yang sangat mengagumkan, aku mencintaimu. Aku mengaku bertekuk lutut di bawah kakimu tanpa syarat. Dan sekarang baru benar-benar kuingat jika hidupku tidak sepenuhnya buruk, bahkan ini lebih manis dari yang kubayangkan. Kehidupan ini jauh lebih manis dari secangkir kopi hitam yang selama ini selalu kutemukan di atas meja belajar suamiku, Lee Junhyu.