Sweeter Than Coffee

Sweeter Than Coffee
Six



            Jadi apa yang terjadi hari ini hanya mimpi? Aku sedikit tersenyum lega saat mendapati diriku masih terbaring di atas ranjang dengan piyama pink kesayanganku dan juga selimut tebal yang membungkus tubuhku. Syukurlah jika kejadian di klinik tadi hanya mimpi, karena aku benar-benar tidak sudi jika harus berurusan dengan pria cupu itu lagi.


            “Akhirnya kau bangun juga, saatnya makan siang Anna.”


            “Kau? Apa yang kau lakukan di kamarku?”


            Aku menjerit histeris saat menemukan pria cupu itu berada di depan pintu kamarku sambil membawa senampan makanan yang masih mengepulkan asap tipis di udara. Jadi apa yang terjadi di klinik itu bukan mimpi? Pria itu benar-benar mengantarkanku pulang sampai rumah dan bahkan mengganti pakaianku? Oh sial! Kejutan apa lagi yang akan kuterima dari pria sialan itu.


            “Saatnya makan, dan kau harus makan untuk kebaikan anakku.”


            “Keluar dari sini, aku tidak mau melihatmu sialan!”


            “Terserah Anna, terserah jika kau ingin membenciku sebanyak yang kau mau, tapi itu tidak akan pernah merubah apapun. Kau tetap sedang mengandung anakku, dan sekarang orangtuamu sedang dalam perjalanan pulang karena aku baru saja menghubungi mereka untuk memberitahu keadaanmu.”


            “Sial! Kau menghancurkan hidupku Lee Junhyu, kau membuatku akan dibenci oleh orangtuaku sendiri seumur hidup karena telah melakukan perbuatan yang sangat memalukan ini. Kau... hikss... hikss.... kau menyebalkan!”


            Aku benar-benar tidak bisa membendung air mataku lagi setelah semua ketakutanku selama ini akhirnya terjadi. Ayah dan ibu pasti akan segera mengusirku dari rumah setelah mengetahui semua hal yang telah kulakukan di belakang mereka. Seharusnya aku segera menggugurkan kandungan ini selagi aku memiliki kesempatan dan tidak mendengarkan celotehan si cupu itu. Pria ini dalam sekejap benar-benar telah menghancurkan hidupku hingga menjadi butiran debu yang tak berarti apapun lagi.


            “Apa yang sebenarnya kau inginkan, kau ingin melihatku hancur? Baiklah, aku mengaku salah padamu. Selama ini aku telah menyiksamu, mengolok-olokmu, dan membuatmu terluka hingga kau memiliki banyak luka di wajah, dan di seluruh tubuhmu, tapi aku tidak menyangka jika kau akan membalas semua perbuatan jahatku dengan sangat kejam seperti ini. Aku membencimu Lee Junhyu!”


            “Kau benar, aku memang membencimu, sangat membencimu. Bahkan aku sebenarnya tidak


benar-benar dalam pengaruh alkohol malam itu, aku masih sadar dengan apa yang kulakukan padamu.”


            “Apa, jadi kau....”


            Hatiku rasanya seperti sedang diremas-remas dengan sangat keras oleh tangan-tangan yang tak kasat mata. Pria sialan ini ternyata dengan sengaja telah menyentuhku hanya karena dendam pribadinya yang begitu besar padaku. Brengsek, dia benar-benar brengsek sialan yang seharusnya mati!


            “Aku benci melihatmu yang tertawa senang saat aku mendapatkan penderitaan karena ulah kekasihmu. Dan kau sebenarnya dapat menghentikan sikap mereka padaku, tapi kau justru berpura-pura tuli seperti tidak pernah melihat ketidakadilan sedang terjadi di hadapanmu. Jadi malam itu kuputuskan untuk melakukannya. Aku ingin melihatmu hancur dan menangis darah karena telah memperlakukanku dengan kejam selama ini. Tapi berhari-hari, bahkan sebulan setelah semua itu berlalu, aku mulai merasa bersalah padamu. Aku sadar jika perbuatanku padamu sudah terlalu berlebihan, dan justru merusak masa depanmu yang seharusnya bisa menjadi lebih baik dari ini. Jadi, aku minta maaf Anna karena telah bersikap sangat jahat padamu.”


Bughh


            “Kau pria cupu sialan, pergi kau dari sini! Sudah kuduga jika semua ini memang sengaja kau lakukan untuk membalaskan dendammu padaku, sekarang kau puas hah? Kau puas telah menghancurkan hidupku dan masa depanku!”


            Aku berteriak dan menyerangnya membabi buta seperti wanita gila yang tak memiliki otak. Biarlah, biarlah pria ini tahu jika aku sangat marah padanya. Ia dengan sengaja telah merusak masa depanku hanya karena sikap tak bermoral yang selama ini telah kulakukan. Tapi ia tidak adil, ia hanya melakukan hal ini padaku, sedangkan pada pria-pria yang menghajarnya, ia sama sekali tidak melakukan apapun.


            “Lepaskan aku, pergi kau dari sini!”


            Lee Junhyu terus saja memelukku meskipun aku telah memukulnya berkali-kali dengan penuh emosi. Ia juga berkali-kali membisikan kata-kata maaf di telingaku hingga pada akhirnya aku lelah dan hanya terdiam lunglai di dalam dekapannya.


            “Maaf, aku akan bertanggungjawab pada janin itu. Dan apapun yang terjadi, aku akan


selalu ada untuk melindungimu.”


            “Aku tidak yakin kau dapat melakukannya untukku, dan aku sangat membencimu Lee Junhyu!”


            Akhirnya saat ia lengah, aku dapat mendorong dadanya dan membuatnya melepaskan pelukannya padaku. Ia lalu hanya menatapku sekilas dan mulai beranjak pergi dari kamarku. Ia pasti tahu jika aku membutuhkan waktu untuk sendiri. Aku perlu waktu untuk menangisi keadaanku yang menyedihkan ini, lalu menangisi masa depanku yang jelas-jelas telah hancur di depan mataku. Dan setelah ini aku masih akan mendengarkan berbagai macam kemarahan yang akan ditunjukan orangtuaku padaku. Hebat! Pria itu memang sangat ahli dalam menghancurkan kehidupan orang lain. Dan sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa memaafkan seluruh perbuatan bejatnya padaku hingga detik ini.


-00-


            “Semua ini adalah salahku, jadi aku akan menikahi Anna.”


            Aku memejamkan mataku erat-erat tanpa berani melihat kearah orangtuaku ataupun kearah Junhyu yang sedang berbicara sungguh-sungguh pada kedua orangtuaku. Sesuai janjinya kemarin, ia memang akan mempertanggungjawabkan perbuatannya, tapi semua itu tidak berarti aku akan memaafkannya dengan mudah. Aku tetap membencinya. Bahkan kebencianku padanya justru semakin bertambah besar saat ini. Ia dengan sengaja telah menempatkanku pada masalah ini, seharusnya Tuhan menghukumnya dengan hukuman seberat-beratnya, atau mungkin menghilangkannya saja dari bumi ini.


            “Kalian harus segera menikah sebelum usia kandungan Anna semakin bertambah besar. Anna, apa yang sebenarnya terjadi selama kami pergi?”


            Kudengar ibu terisak pedih menyaksikan keadaanku yang sangat memalukan ini. Tentu saja, orangtua mana yang tidak kecewa pada anaknya yang telah menorehkan aib yang sangat besar untuk keluarganya. Bahkan ibuku sampai tidak bisa berkata-kata lagi, dan hanya terisak dipelukan ayahku saat melihat kondisiku yang hanya diam saja sejak tadi.


            “Kurasa kita tidak perlu mengadakan pesta yang meriah, hanya upacara pernikahan di gereja yang dihadiri oleh keluarga inti. Maaf karena telah merusak putri anda nyonya Im.”


            “Setidaknya kau masih bersedia untuk mempertanggungjawabkan perbuatanmu nak, meskipun kami juga sangat kecewa padamu.”


            Aku dan Junhyu sepakat untuk tidak memberitahu cerita yang sebenarnya pada kedua orangtuaku. Mereka hanya tahu jika insiden itu terjadi karena kelalaian kami bersama. Tentu saja citra Junhyu sedikit menjadi baik karena di sini yang orangtuaku tahu, ia sedang berusaha untuk menyelamatkanku dari dua botol soju sialan yang hampir kuteguk. Tapi nahas, aku justru berakhir dengan mengandung benih darinya.


            “Maafkan aku, aku benar-benar menyesal telah melakukannya.” ucapnya sambil melirikku. Aku hanya mendengus kesal melihat kesaksiannya yang sangat palsu itu. Memang Lee Junhyu adalah pria cupu yang sangat cerdas dan juga berbakat. Bahkan ia dapat berbohong di depan kedua orangtuaku dengan mimik wajah yang sangat meyakinkan seperti itu. Selama ini aku mungkin terlalu memandang rendah dirinya yang nyatanya dapat menghancurkanku perlahan-lahan.


            “Baiklah, pernikahan kalian diadakan dua minggu lagi di gereja tempat kami menikah dulu. Kuharap kau juga segera memberitahukan hal ini pada orangtuamu Junhyu-ssi.”


            “Baik paman, aku akan segera memberitahu ayah dan ibuku untuk datang ke sini.”


            Setelah itu aku tidak memperhatikan lagi percakapan diantara Junhyu dan kedua orangtuaku. Aku sekarang sedang membayangkan bagaimana masa depanku setelah ini, setelah resmi menikah dengan Lee Junhyu. Ya Tuhan, tidak mungkin aku akan menyembunyikan hal ini selamanya. Cepat atau lambat teman-temanku pasti akan mengetahuinya semuanya, dan mereka tentu saja akan berpikiran macam-macam mengenai kehamilanku ini. Huh, rasanya aku benar-benar ingin marah pada Tuhan. Ia sangat tidak adil padaku, menempatkanku pada takdir yang benar-benar tak pernah kuinginkan. Bahkan untuk membayangkannya saja aku tidak mampu.


            “Mereka sudah pergi.”


            Aku terlonjak kaget saat pria sialan ini tiba-tiba menggenggam tanganku entah untuk apa. Dengan kesal aku segera menghempaskan tangannya dan mendorongnya menjauh agar ia tidak terlalu dekat padaku seperti ini.


            “Kalau begitu cepatlah pergi dari sini, aku muak melihat wajahmu.”


            “Kau harus membiasakannya Anna, karena mulai sekarang kau akan lebih sering melihat wajahku.”


            “Kau... ck, dasar menyebalkan!”


            Aku seperti kehilangan kata-kata untuk membalasnya. Tatapan matanya yang begitu sendu, namun menyiratkan banyak sekali misteri selalu saja membuat bulu kudukku merinding. Dan jika seperti itu aku hanya mampu menghindari kontak mata dengannya agar aku tidak semakin menggigil ketakutan di sini.


            “Bisakah kau tidak menggangguku dan pergi dari sini?”


            “Aku ingin membicarakan masalah kehamilanmu dan juga sekolahmu. Setelah kita menikah, kau pasti tidak mungkin lagi bersekolah di Kirin High School, perutmu akan segera membesar seiring berjalannya waktu. Sedangkan aku tidak memiliki kendala apapun dengan kehidupan sekolahku karena aku akan segera lulus dari Kirin, jadi apa rencanamu setelah kita menikah? Kau ingin home schooling?”


            Sejujunya sejak aku dinyatakan hamil, hal pertama yang kukhawatirkan adalah kehidupan sekolahku. Aku tidak mungkin bersekolah lagi di sana dengan keadaan perut buncit dan statusku yang telah menjadi isteri seorang pria paling membosankan di sekolah. Mungkin aku memang harus mengambil kelas di rumah agar aku tidak perlu bertemu dengan teman-temanku. Aku dapat beralasan jika aku akan pindah atau apa untuk membuat teman-temanku tidak curiga mengenai kehamilanku.


            “Sepertinya home schooling adalah solusi terbaik untuk menggantikan proses belajar yang seharusnya kuikuti di sekolah. Lebih baik kau pulang sekarang karena aku sudah sepakat untuk mengikuti alur permainan darimu.”


            “Jadi kau pikir pernikahan ini hanya mainan? Kau tidak menghargaiku yang telah berusaha untuk mempertanggungjawabkan segalanya.”


            “Kau yang merusakku Lee Junhyu, ingat itu. Jika bukan karena pikiran picikmu itu, kau tidak perlu mempertanggungjawabkan apapun.” desisku penuh tekanan di depan wajahnya. Jelas aku tidak bisa berteriak keras di depannya karena orangtuaku bisa saja mendengarkan pembicaraan kami. Yang mereka tahu aku dan Junhyu tidak saling membenci, namun juga tidak memiliki hubungan yang terlalu dekat. Tapi mereka tidak akan mempedulikan jenis hubungan kami. Hanya dengan satu kata jika pria cupu ini akan mempertanggungjawabkan perbuatannya, kedua orangtuaku langsung luluh begitu saja tanpa ingin menghajar pria busuk ini hingga mati.


            Bagus, pulanglah pria cupu. Aku sudah muak melihat wajahnya untuk hari ini. Bahkan jika aku mampu, aku ingin mengatakan pada orangtuaku jika aku sama sekali tidak ingin bersanding dengan pria cupu itu. Biarlah anak ini tidak memiliki ayah, kurasa aku sendiri sudah cukup untuk membesarkannya tanpa campur tangan pria picik itu.


-00-


            “Ayah tidak mengerti bagaimana kau bisa berakhir dengan Lee Junhyu, apa selama ini kalian memang sudah dekat?”


            Aku memejamkan mataku sejenak dan kembali membuka mataku dengan pandangan hampa. Sudah lebih dari tiga puluh menit aku berada di sini, duduk di depan kedua orangtuaku dengan kondisi seperti seorang pesakitan yang sedang dihakimi di pengadilan. Sebenarnya orangtuaku tidak memarahiku atas perbuatan yang tidak pantas itu, hanya saja mereka terlalu ingin tahu tentang bagaimana asal muasal aku bisa berakhir bersama dengan Lee Junhyu. Tentu saja orangtuaku heran karena sejak dulu aku selalu pilih-pilih teman dan tidak membiarkan sembarang orang mendekatiku, karena aku adalah wanita ekslusif. Dan sekarang tiba-tiba aku justru sedang mengandung anak seorang pria yang sama sekali tidak populer di sekolah, tentu saja orangtuaku heran.


            “Tidak ayah, kami hanya teman biasa di klub science.”


            Memang benar, dulu ia adalah kakak kelas di klub science. Tapi aku hanya bergabung bersama mereka selama dua bulan, setelah itu aku memutuskan untuk keluar karena aku bosan dengan orang-orang sok pintar yang sering memandang orang-orang populer sebagai para pembuat onar sekolah. Dan di klub itulah aku pertama kali bertemu Lee Junhyu dengan kacamata tebalnya juga rambut panjang yang hampir menutupi kedua mata rabunnya. Ia saat itu memperkenalkan diri sebagai ketua klub science yang telah menjuarai berbagai macam perlombaan yang berhubungan dengan mata pelajaran yang membosankan itu. Lalu hubungan kami kurasa makin memburuk seiring dengan berjalannya waktu karena ia adalah pria yang sering dibully oleh Jihoo oppa.


            “Lee Junhyu memang terlihat pintar, ia pasti banyak menjuarai perlombaan di sekolah. Selain itu ayah sangat bersyukur karena ia mau mempertanggungjawabkan perbuatannya dengan berani dan tidak mencoba lari dari tanggungjawab. Meskipun


begitu ayah sebenarnya cukup kecewa pada perbuatanmu. Bagaimana bisa kau berniat untuk menegak alkohol sebanyak itu Anna? Bahkan kau hampir melakukannya di sekolah saat acara promnight berlangsung.”


            “Maaf ayah, aku hanya sedang sedikit memiliki masalah saat itu.”


            “Masalah apa, kenapa kau tidak pernah mengatakannya pada ayah atau ibu?”


            Mengatakan? pada mereka? huh, yang benar saja... ayah pasti sedang melucu di hadapanku.


Bahkan saat aku berusaha menghubungi ibu yang super sibuk sebulan yang lalu, ibu hanya menyapaku sangat sebentar, kemudian ibu segera menutup sambungan teleponnya karena ada rapat penting dengan komisaris perusahaan... entahlah, aku lupa. Yang jelas selama ini aku tidak pernah bisa menghubungi kedua orangtuaku hanya untuk menceritakan masalah-masalahku. Mereka semua terlalu sibuk dan tidak pernah memikirkan perasaanku sedikitpun.


            “Ayah dan ibu terlalu sibuk hanya untuk mendengarkan keluh kesahku.”


            “Kami bekerja di sana juga demi kehidupanmu Anna, kami tidak ingin kau hidup kekurangan.”


            “Ya aku tahu, tapi bukan seperti ini kehidupan yang kuinginkan, aku ingin kasih sayang yang sesungguhnya dari kalian sebagai orangtuaku.” tutupku penuh emosi dan segera berjalan pergi meninggalkan ruang tamu dengan air mata yang mulai menetes-netes dari sudut mataku. Sudah kubilang jika kondisiku setelah hamil menjadi sering tidak stabil. Selain lebih mudah marah, aku juga sering merasa sedih yang berlebihan. Aku menganggap hidup ini sangat omong kosong, dan aku benci pada takdir yang justru membawaku pada si pria cupu itu, Lee Junhyu.


-00-


            “Silahkan mencium isteri anda.”


            Aku langsung memalingkan wajahku kearah lain saat pria cupu ini sedikit mendekatkan wajahnya kearahku. Kacamata tebalnya yang tampak mengganggu itu sudah berada tepat di depan mataku dengan deru napasnya yang seolah-olah sedang menampar-nampar wajahku dengan lembut. Sebenarnya apa yang dipikirkan si cupu ini? Apa ia berharap akan mendapatkan ciuman dariku? Huh, jangan harap ia dapat melakukannya.


Cup..


            Aku merasakan bibirnya tiba-tiba mendarat di pipiku seiring dengan suara riuh beberapa tamu undangan yang hadir di acara pernikahanku. Sial! bisa-bisanya pria cupu ini mengambil celah ketika aku jelas-jelas sudah menunjukan gelagat penolakan di hadapannya.


            “Tersenyumlah Anna, dan nikmati kehidupan barumu sekarang. Oh, dan aku ingin menyapa jagoan kecilku.”


            Dengan lancang pria itu tiba-tiba mengusap perutku dan membuat sesuatu yang aneh bergejolak di dalamnya. Cepat-cepat aku menyingkirkan tangan itu dari perutku, lalu berpura-pura menyalami para tamu undangan untuk meninggalkan si cupu itu sendirian di altar.


            “Anna, lebih baik kau duduk saja sayang, jangan memaksakan dirimu yang sedang


mengandung untuk menyalami para tamu.”


            “Aku baik-baik saja ii ibu... sungguh.”


            Lidahku rasanya masih kaku saat aku berusaha memanggil ibu Junhyu dengan sebutan ibu juga. Wanita paruh baya berambut pendek sebahu itu terlihat begitu hangat dan juga ramah padaku sejak pertama kali kami bertemu sebelum membicarakan masalah pernikahan. Saat itu ibu Junhyu secara diam-diam mendatangiku yang sedang melamun di pinggir kolam, lalu memelukku dengan erat sambil menangis. Ia meminta maaf yang sebesar-besarnya untuk perbuatan putranya yang sangat bejat padaku. Bahkan ibu Junhyu juga hampir saja berlutut di depanku jika aku tidak segera menahan tubuhnya. Melihat ketulusan yang terpancar di wajah cantiknya membuatku akhirnya luluh untuk berusaha menerima semua ini dengan lapang dada. Setidaknya sekarang aku merasa memiliki ibu yang sesungguhnya, yang benar-benar memperhatikanku seperti seorang ibu kandung. Dan meskipun kemarin kami belum resmi menikah, ibu Junhyu selalu rutin datang ke rumah untuk memberikan makanan-makanan yang bergizi untuk ibu hamil atau sekedar mengobrol denganku untuk menghilangkan kesedihan mendalam yang masih kurasakan sejak semua masalah ini menyerangku bertubi-tubi. Jadi jangan heran jika sekarang tubuhku sudah jauh lebih kuat dan bertenaga dibandingkan bulan-bulan sebelum pernikahanku karena ibu Junhyu terus merawatku dengan baik seperti putri kandungnya sendiri.


            “Tidak Anna, kau lebih baik duduk di sana saja, ibu akan memanggil Junhyu untuk mengambilkanmu minum.”


            Tanpa menunggu jawabanku, ibu segera pergi untuk memanggil pria cupu itu di altar. Entah bagaimana kehidupan pria itu selama ini, tapi aku benar-benar tidak tahu jika Junhyu ternyata berasal dari keluarga yang cukup terpandang. Ayahnya memiliki perusahaan dairy food yang cukup terkenal di Korea dan Jepang, lalu ibunya selama ini bekerja sebagai pembina di panti sosial yang bergerak di bidang kesejahteraan untuk wanita dan anak-anak. Bukankah ia berasal dari keluarga yang kaya? Tapi mengapa selama ini ia justru terlihat seperti pria lemah yang tak berdaya? yang selalu diam ketika Jihoo oppa memukulinya hingga ia sering absen di ruang kesehatan untuk membersihkan luka-lukanya yang mengerikan itu.


            “Kau haus? Minumlah.”


            “Tidak perlu bersikap sok perhatian di depan orangtuaku atau orangtuamu, aku bisa mengambilnya sendiri jika aku haus.”


            Kuabaikan uluran gelas darinya dan lebih memilih untuk menatap kosong kearah para tamu undangan yang sedang menikmati berbagai macam hidangan di hadapanku. Andai saja aku tidak mengalami morning sickness, mungkin aku bisa mencicipi semua makanan di sini dan mengabaikan si cupu ini, tapi... sudahlah, aku tidak ingin lagi menyalahkan janin ini. Sebanyak apapun aku menyalahkannya, memukulnya, dan menyiksanya dengan tidak memakan apapun untuk memberinya asupan gizi, ia tetap saja berada di sana, dan terus tumbuh tanpa memahami perasaankku yang sangat ingin melenyapkannya.


            “Aku tahu kau sedang berpikir untuk mengacaukan semuanya, kau bahkan beberapa kali telah mencoba untuk membunuh anakku.”


            “Darimana kau tahu jika aku memang sangat ingin melenyapkannya?”


            “Dari semua hal yang kau tunjukan dari sorot matamu.”


            “Aku tidak ingin menampungnya di rahimku. Terlebih ia berasal dari seorang pria cupu yang sangat lemah sepertimu.”


            “Sayangnya ia terus memilih untuk bertahan di dalam sana, meskipun ibunya terus berusaha untuk melenyapkannya. Kau boleh membenciku sebanyak yang kau mau, tapi jangan membencinya, ia tidak memiliki kesalahan apapun padamu. Semua ini adalah salahmu, jika kau tidak bersikap angkuh di sekolah, maka semua ini tidak akan terjadi.”


            “Kau.. dasar brengsek!” desisku tertahan dengan perasaan marah yang mulai bergejolak di dalam hatiku. Gelas berisi jus jeruk yang berada di dalam genggamannya langsung kusentak begitu saja di depannya, hingga gelas itu hancur berkeping-keping di atas lantai dengan berbagai suara gaduh yang mulai memenuhi sebagian besar bangunan gereja yang mewah ini.


            “Ada apa Anna, kau baik-baik saja?”


            Ibu Junhyu seketika datang tergopoh-gopoh, disusul dengan kedatangan ibuku yang terlihat sama khawatirnya dengan ibu Junhyu. Sayangnya aku hanya mampu menggeleng sambil mengatakan sebuah cerita palsu untuk menutupi kemarahanku pada Lee Junhyu.


            “Tidak ibu, aku hanya lelah dan ingin beristirahat. Apa aku boleh pergi meninggalkan gereja terlebihdahulu?”


            “Tentu saja sayang, kau boleh pulang sekarang bersama Junhyu. Ibu rasa tamu-tamu di sini akan mengerti dengan keadaanmu. Junhyu cepat bawa isterimu pulang sebelum ia terlalu kelelahan.”


            “Aku akan mengantarnya pulang, permisi ibu... ibu mertua...”


            Setelah menganggukan kepalaku sedikit pada ibuku dan juga ibu Junhyu, aku segera berjalan perlahan keluar dari gereja, dituntun oleh Junhyu di sebelahku. Selama di sini, aku masih berusaha menutupi sikap muakku dengan tersenyum manis kearah para tamu undangan yang tampak tersenyum menggoda kearahku dan Junhyu. Tapi apa yang mereka pikirkan tentu saja tidak sama dengan apa yang sebenarnya terjadi. Semua pernikahan ini bagiku hanya sebuah rekayasa, dan aku hanya perlu mencari celah dari kehidupan rumah tanggaku untuk akhirnya menceraikan Lee  Junhyu.


            “Hati-hati, jangan terlalu terburu-buru, kau bisa tersandung gaunmu.”


            “Aku bisa berjalan sendiri, jangan sentuh aku.”


            Aku segera mengangkat gaunku tinggi-tinggi dan melangkah masuk kedalam mobil yang telah disediakan di depan gereja untuk mengantarku pulang. Dan saat pria itu duduk di sebelahku, aku langsung memalingkan wajahku ke arah kiri untuk melihat pemandangan gereja yang begitu indah karena dihiasi dengan berbagai macam bunga kesukaannku. Sayangnya keindahan itu terasa tidak sempurna karena ini bukanlah pernikahan yang aku inginkan. Pernikahanku rasanya begitu sunyi karena aku tidak menemukan satupun teman-temanku di dalam sana. Aku tidak bisa mengundang satupun temanku untuk datang karena mereka tidak mengetahui semua bencana ini. Pada akhirnya aku merasa ini seperti bukan pernikahan, namun sebuah hukuman yang entah sampai kapan akan membelengguku di dalamnya.