Sweeter Than Coffee

Sweeter Than Coffee
Fifteen



            Tidak ada kacamata untuk hari ini, dan ia sejak tadi terus tersenyum aneh sambil mengamati potret hasil USG anak kami yang telah tumbuh dengan baik di dalam sana. Jadi anak kami laki-laki. Mungkin jika aku mengikuti permainan bodohnya, aku akan kalah dan mendapatkan hukuman darinya. Sudahlah, itu tidak penting sekarang. Hari ini pemeriksaannya berjalan sangat lancar. Anak kami tumbuh dengan sehat di dalam perutku. Ada terlalu banyak perkembangan yang disampaikan dokter dengan wajah berseri-seri, hal itulah yang akhirnya membuat Junhyu menjadi terlihat sebahagia ini. Bahkan ia tak sedikitpun melepaskan senyuman itu dari wajahnya sejak mengantarku pulang dari klinik. Ia terlampau bahagia hari ini untuk sebuah informasi yang terasa begitu berarti untuknya.


            “Kau tidak ingin mengganti pakaianmu terlebihdahulu?”


            “Aku sepertinya hari ini sedang terlalu bahagia.”


            “Ya, itu terlihat dari wajahmu.”


            Aku menunjuk wajahnya yang  sejak tadi hanya menunjukan rona bahagia. Padahal aku berniat untuk membicarakan masalah Jihoo oppa dengannya, tapi aku tidak tega menginterupsi kegembiraannya hari ini. Jadi... aku akan menunggu hingga saat itu tiba. Kasihan Jihoo oppa jika Junhyu benar-benar melakukan apa yang pria itu katakan padaku sebelumnya.


            “Bagaimana dengan ujianmu?”


            “Tidak terlalu bermasalah.”


            “Tentu saja, kau pria yang pintar.”


            “Oh, haruskah aku mengucapkan terimakasih untuk sanjunganmu?” kekehnya menyebalkan. Ia meninggalkan foto USG bayi kami di atas meja, lalu beranjak menghampiriku yang sedang duduk meluruskan kaki di atas ranjang. Ada apa dengannya? Wajahnya terlihat lebih serius, ia juga menggunakan kacamatanya lagi untuk menyusulku duduk di atas ranjang.


            “Ada apa?”


            “Kau ingin menanyakan sesuatu padaku?”


            “Tidak...”


            “Katakan, aku akan baik-baik saja.”


            “Bagaimana jika kau tidak menggunakan kacamata?”


            Sejujurnya bukan itu yang ingin kutanyakan, tapi aku membutuhkan sedikit pertanyaan pembuka untuk mengajukan pertanyaan inti. Lagipula aku bisa sedikit mempersiapkan diri jika ia akan marah atau apa. Kuakui, aku takut dengan kemarahannya kemarin, ia jelas terlihat bukan seperti Lee Junhyu yang kukenal. Dari hari ke hari Junhyu terus menunjukan sisi lain dari dirinya yang terkadang membuatku menyadari satu hal, menyadari bahwa Junhyu bukan pria yang lemah. Hal itulah yang semakin menegaskanku bagaimana posisi Junhyu di rumah ini. Cepat atau lambat ia akan menjadi Lee Junhyu yang penuh arogansi, bukan Lee Junhyu yang terlihat lemah seperti yang selama ini terlihat di sekolah.


            “Masih dapat melihat, tapi aku merasa lebih baik dengan kacamata.”


            “Kau terlihat lebih baik tanpa kacamata.” ucapku sambil melepas kacamatanya. Aku mengamati wajahnya lekat-lekat dan tersenyum manis untuk sebuah pemandangan yang lebih normal untuk dilihat. Lee Junhyu terlihat lebih tampan tanpa kacamata, sayangnya aku tidak bisa memaksanya untuk melepaskan benda berbingkai hitam itu dari batang hidungnya.


            “Tidak, aku tetap harus memakainya. Lensa ini tidak akan bisa bertahan lama di bawah terik matahari tanpa kacamata, ia akan terbakar.” jelasnya sambil memasangkan kembali kacamata hitamnya. Sudahlah, sebenarnya itu tidak terlalu penting sekarang. Yang ingin kutanyakan adalah masalah Jihoo oppa, aku tidak ingin Junhyu benar-benar melakukan balas dendam pada Jihoo oppa atas sikap kejamnya selama ini. Pikiran-pikiran itu terus menghantuiku sejak tadi. Sedikit hatiku mungkin masih menyimpan kenangan indah bersama Jihoo oppa, jadi aku tidak bisa mengenyahkan bayang-bayangnya dengan mudah dari kepalaku. Masa lalu memang selalu menjadi sesuatu yang sangat sulit untuk dilupakan, meskipun sebenarnya aku ingin melakukannya.


            “Eee... bagaimana dengan kegiatanmu besok? Kau akan pergi ke universitas atau menyelesaikan beberapa pekerjaan di kantor?”


            “Ada apa? Kau ingin aku menemanimu di rumah seharian?”


            “Tidak, itu tidak perlu. Aku baik-baik saja di rumah dengan bibi Jung dan yang lainnya.”


            “Kurasa aku mulai mencintaimu.”


            “Ada apa? Kau terkejut?”


            Ia tiba-tiba telah berdiri sambil memasukan kedua tangannya kedalam saku celana. Ekspresinya? entahlah, aku tidak bisa mengartikan hal itu sebagai sebuah kebahagiaan, namun ia seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu sambil berdiri membelakangiku.


            “Masih ada nama pria itu di kepalamu. Bukankah sejak tadi kau terganggu karena Jihoo?”


            Kurasa lebih baik mengaku daripada berbohong untuk sesuatu yang menyakitkan di akhir. Meskipun indah, aku tidak ingin kisah cintaku diselimuti oleh kebohongan. Aku akan jujur padanya dan mengurai permasalahan ini satu persatu.


            “Ya, kau benar... aku memang memikirkan Jihoo oppa sejak tadi. Tapi itu bukan karena aku masih memiliki perasaan cinta untuknya, itu lebih kepada ucapanmu kemarin sore. Dengar, aku tidak akan memaksamu untuk


memaafkannya atau bersikap baik padanya. Hanya berikanlah ia kesempatan untuk menyadari kebaikanmu. Selama ini Jihoo oppa tidak mampu melihat hal itu dari dirimu, dan itulah yang mendorongnya untuk melakukan perbuatan tercela yang sangat menyakitimu.”


            “Tenang Anna, aku tidak benar-benar membuatnya menjadi gelandangan di New York. Belum. Tapi mungkin saja akan kulakukan jika ia semakin membuatku muak.”


            “Lalu untuk apa kau berbohong padaku? Kau ingin mengujiku?” tuduhku kesal. Aku tidak tahu lagi bagaimana harus bersikap di hadapan Junhyu, ia terlalu banyak memiliki kejutan. Lihatlah bagaimana ekspresi wajahnya yang dapat berubah-ubah seperti bunglon. Ia benar-benar seorang aktor sejati yang mampu menipu banyak orang. Dan setelah berhasil membuatku kesal padanya, ia sekarang tersenyum lebar. Tersenyum tanpa dosa lalu memelukku dari belakang seperti ingin merajuk meminta pengampunan.


            “Maaf, hanya ingin melihat sedikit reaksimu.”


            “Sedikit kau bilang? Oh ayolah, kau sungguh kekanakan. Lalu bagaimana dengan Dannis oppa?”


            “Dia temanku.”


            “Lalu?”


            “Aku tak sengaja mengetahui hubunganmu dengannya, lalu aku ingin mempertemukan kalian.”


            “Dan kau ingin mengujiku juga apakah aku masih memiliki perasaan lebih untuknya? Ck, kau benar-benar kekanakan Lee Junhyu. Berhentilah memikirkan hal-hal yang tidak berguna, fokuslah pada masa depanmu, masa depan keluarga kecil kita.”


           Entah aku sedang tersulut emosi atau apa, aku terus berbicara pada Junhyu dalam sekali tarikan napas hingga sekarang aku merasa napasku mulai tersenggal-senggal. Kehamilan ini juga turut andil dalam memperparah kondisi pernapasanku karena janin ini terus mendesak organ vitalku demi mendapatkan tempat yang nyaman untuk tumbuh. Nak... apa kau senang telah membuat ibumu ini tersiksa? Kuharap nantinya ia akan terlahir sebagai putra yang mengagumkan. Aku ingin ia memiliki sikap bertanggungjawab seperti ayahnya, namun tidak mewarisi sikap pendendamnya yang mengerikan.


            “Tenanglah, saat ini aku juga sedang fokus pada masa depan keluarga kecil kita, karena itulah aku cukup terganggu dengan masa lalumu.”


            “Apa kau sudah mulai mencintaiku?”


            Aku memberikan senyum mengejek kearahnya, memasang wajah angkuh yang sudah lama tak kutunjukan di depannya untuk membuatnya mengakui pesonaku yang mematikan. Sayang, ia tak terlalu menganggap serius kata-kataku dan justru mengedikan bahunya dengan menyebalkan.


            “Maaf, kurasa aku harus belajar sekarang untuk ujian besok pagi. Sebaiknya kau juga belajar karena kau memiliki jadwal ujian dengan guru matematikamu besok. Jika kau perlu bantuan, aku bisa mengajarimu.”


            “Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri.” balasku ketus dan segera beranjak menuju meja belajarku. Sungguh konyol! Pria itu benar-benar telah meruntuhkan harga diriku sebagai seorang wanita. Awas saja, aku akan membuatnya bertekuk lutut di bawah kakiku, dan membuatnya tidak bisa mengelak lagi jika ia mencintaiku.