
“Apa kau selama ini tidak pernah makan?”
Aku mengernyitkan dahiku pelan sambil berusaha untuk menyesuaikan pandanganku dengan ruangan putih di sekitarku. Sudah berapa lama aku di sini? Kenapa rasnya aku telah tidur cukup lama sejak aku kehilangan kesadaran beberapa waktu yang lalu.
“Minumlah, lalu makan ini.”
“Sudah berapa lama aku di sini?”
“Entahlah, tapi ini sudah sore, pukul empat.”
“Aku harus pulang.”
Cepat-cepat aku turun dari ranjang perawatan ini, namun Junhyu langsung mencegahku dengan tangannya yang terlentang di depan tubuhku.
“Minum obatmu dan makan ini sebelum kau pergi.”
“Aku akan makan nanti di rumah, minggir!”
Aku menghentakan tangannya kasar hingga air putih yang ia sodorkan padaku tumpah ke lantai. Tapi aku tidak peduli dan memilih untuk segera pergi dari sini. Aku harus segera pulang karena teman-temanku pasti sedang mencariku sekarang. Aku sudah menghilang cukup lama hari ini, dan aku yakin mereka tidak tahu jika aku di sini.
“Tadi aku sudah memberitahu teman-temanmu dan juga kekasihmu jika kau di sini, tapi kekasihmu hanya melihatmu sebentar, lalu pergi dengan terburu-buru karena ada urusan.”
Aku seperti kehilangan seluruh tenagaku saat mendengarnya bercerita. Mereka memang seperti itu, Tiffany dan Jessica mungkin masih memiliki urusan di rumah, tapi Jihoo oppa... saat ini aku hanya bergantung padanya. Aku meras ia adalah satu-satunya pria paling tulus yang kumiliki. Tapi sudahlah, tidak ada gunanya aku meratapi nasibku yang menyedihkan ini. Tidak ada satupun yang mempedulikanku yang sedang sakit, bahkan di rumahpun, aku hanya akan bertemu pelayan-pelayan yang selalu terlihat takut saat berhadapan denganku. Ck, bukankah lebih baik jika aku mati? Tidak ada yang akan menangisi jasadku jika aku mati. Bahkan orantuaku mungkin hanya akan mengirimkan uang untuk membayar orang-orang agar mengurusi jasadku.
“Buka mulutmu...”
Aku memandang sesendok sup rumput laut yang disodorkan di depan bibirku sambil merasakan hatiku yang berdenyut sakit. Kenapa harus pria cupu ini yang ada untukku? Kenapa harus dia?
“Ayo makan, kau memerlukan tenaga untuk pulang.”
Akhirnya aku membuka mulutku dan menerima sesendok sup rumput laut yang disuapkan oleh Junhyu. Rasa hangat yang berasal dari sup rumput laut terasa begitu nyaman di perutku yang sejak tadi terasa sakit. Aku memang sering terlambat makan akhir-akhir ini. Bahkan terkadang juga tidak makan. Rasanya mual dan malas setiap kali aku melihat berbagai hidangan yang disiapkan oleh pelayan-pelayanku di meja makan.
“Apa kau baik-baik saja setelah kejadian itu?”
“Aku tidak mau membahasnya.” balasku ketus. Pria ini benar-benar membuat nafsu makanku menjadi hilang dengan pertanyaannya. Susah payah aku melupakan malam nahas itu dan tidak ingin mengungkit-ngungkitnya lagi, namun pria sialan ini justru membuatku kembali dilanda rasa penyesalan besar karena telah melakukan tindakan bodoh yang sangat mengerikan itu.
“Kau sudah minum pil?”
“Pil apa?”
Selama ini aku tidak pernah meminum obat apapun. Kecuali obat pusing yang dulu pernah ia berikan padaku. Meskipun terkadang aku merasa harus meminum obat untuk mengatasi rasa mualku, tapi aku tidak pernah melakukannya. Aku lebih sering memakan lemon atau permen jika rasa mual itu mulai menggangguku. Kebetulan juga akhir-akhir ini aku menyukai buah-buahan asam itu.
“Agar kau tidak hamil.”
“Apa maksudmu?” tanyaku syok. Ia tidak mungkin berpikir jika aku mungkin saja hamil karena perbuatannya kan? Huh, tidak tidak tidak! Si cupu sialan ini tidak mungkin bisa membuatku hamil.
“Apa kau pikir kau dapat membuatku hamil? Ck, aku meragukannya. Kau hanya pria cupu aneh Lee Junhyu, kau tidak mungkin bisa membuatku hamil semudah itu. Bahkan aku meragukan kejantananmu.” cibirku sengit. Kulihat ia hanya diam sambil menatap sendok sup rumput laut di hadapannya. Lalu ia kembali menyuapkan sup itu ke mulutku tanpa membalas sedikitpun olok-olokku. Mungkin ia telah sadar jika kata-katanya itu cukup konyol mengingat ia sama sekali tidak jantan, dan justru terlihat lemah seperti itu.
“Berikan padaku, aku bisa makan sendiri.”
Junhyu meletakan mangkuk sup itu di samping meja kecil di sebelah ranjangku, lalu ia segera beranjak untuk mengambil tas ranselnya di kursi dokter jaga. Kulihat ia seperti sedang mencari-cari sesuatu di dalam tasnya hingga ia harus membongkar semua bukunya ke atas meja.
“Kau mencari apa?”
“Pil, untukmu.”
“Apa ini? Kau ingin meracuniku?”
“Supaya kau tidak hamil.”
“Sudah kubilang aku tidak mau!” tolakku keras sambil menghentak tangannya kuat hingga obat itu melayang entah kemana. Lee Junhyu terlihat gusar melihatku yang sangat menyebalkan ini. Yah aku tahu aku kasar, tapi itu lebih baik daripada aku menerima obat yang tidak jelas darinya. Bisa saja ia melakukannya untuk meracuniku atau membuatku celaka. Apapun itu, pria ini tidak bisa kupercaya.
“Itu obat untuk kebaikanmu.”
“Kebaikan apa! Nyatanya kau sengaja ingin merusakku, jadi jangan sok peduli padaku!”
teriakku kasar. Dadaku langsung naik turun tak beraturan setelah mengeluarkan seluruh emosiku padanya. Sudah lama aku menahan seluruh amarahku padanya. Ia jahat! Jika memang ia peduli padaku, seharusnya ia tidak melakukan perbuatan keji itu padaku.
“Terserah, aku tidak ingin membuat keributan denganmu Anna. Sampai jumpa.”
Aku menatap sangsi kearahnya yang telah berjalan menjauh menuju pintu keluar. Punggungnya yang tegap itu seakan-akan menunjukan bahwa ia tidak sedikitpun merasa bersalah padaku setelah apa yang ia lakukan padaku. Meskipun ia terlihat cupu dan tak berdaya, tapi aku merasa ia lebih dari itu. Ia kejam, bahkan tak memiliki hati setelah memperlakukanku seperti ini.
Drrt drrtt....
“Ya Fanny, aku baik-baik saja.”
“..........”
“Aku masih di ruang kesehatan, tapi aku akan pulang sekarang.”
“..........”
“Aku tidak apa-apa, nanti aku ceritakan di rumah.”
“..........”
“Hmm.. sampai jumpa.”
Aku menutup sambungan teleponku dengan lesu dan segera membereskan barang-barangku untuk pulang. Kulihat pil yang diberikan Junhyu terlempar di dekat tas ranselku yang berada di ujung kaki ranjang. Apakah Lee Junhyu juga yang membawakan tasku ke sini? Huh, entahlah... aku tidak mau memikirkan hal itu. Mungkin Jihoo oppa yang mengantarnya ke sini atau Tiffany dan Jessica. Si cupu itu tidak mungkin sampai mengambilkan tasku di
kelas atau bersikap lebih dari itu. Bahkan tadi mungkin ia hanya merasa kasihan padaku saat aku hampir pingsan di dalam toilet.
krakk
Aku menginjak kasar pil itu hingga hancur di bawah kakiku. Tak peduli jika obat itu untuk kebaikanku atau tidak, aku tidak akan mau meminumnya.
-00-
Hidupku menjadi semakin aneh semenjak aku mengalami hal-hal yang tak terduga bersama Junhyu. Sehari setelah aku pingsan, keesokan harinya Tiffany dan Jessica datang ke rumah karena aku memutuskan untuk beristirahat di rumah. Setidaknya aku perlu menjernihkan pikiranku terlebihdahulu untuk menghadapi hari-hari berikutnya yang pasti selalu mendatangkan masalah untukku. Terlebih si cupu itu juga semakin mengganggu sejak hari itu. Kata-katanya dan pil yang ia berikan padaku membuatku memikirkan hal-hal buruk yang mungkin saja terjadi. Bagaimanapun ia juga seorang pria. Dan sialnya aku tidak tahu apakah ia pria normal atau tidak. Mungkin secara fisik ia terlihat lemah hingga sering dibully oleh Jihoo oppa dan teman-temannya. Tapi siapa yang tahu jika di dalamnya ia memiliki sesuatu yang tak terduga. Membayangkan hal itu seketika membuat bulu kudukku kembali meremang. Cepat-cepat kutolehkan kepalaku ke arah kiri untuk membuktikan jika hipotesaku salah. Namun...
lagi-lagi hipotesaku tidak salah. Sejak Lee Junhyu menyentuhku di malam promnight itu, aku selalu merasa bulu kudukku merinding setiap kali ia berada di sekitarku. Tak jarang ia memberikan teror mengerikan untukku melalui tatapan matanya yang sekelam malam itu. Tak pelak hal itu membuatku tak nyaman dan ingin mengadukannya pada Jihoo oppa. Sayangnya akhir-akhir ini ia terlihat lebih sibuk atau mungkin berusaha menghindariku, entahlah, aku tidak tahu. Waktu yang kuhabiskan dengannya tidak lagi sebanyak dulu. Dan akupun juga memilih untuk acuh tak acuh terhadap sikapnya yang seperti itu. Lagipula aku juga sudah terlalu lelah dengan kehidupanku sendiri. Si cupu Lee Junhyu itu benar-benar menebarkan teror yang mengerikan untukku.
“Anna, ini jus strawberrymu.”
“Terimakasih. Kau lama sekali.”
“Ada terlalu banyak siswa yang membeli jus, dan mereka tidak memberi kesempatan gadis cantik sepertiku untuk lewat. Akhir-akhir ini kulihat kau tidak bersemangat, ada apa?”
“Tidak apa-apa Fanny, aku baik-baik saja.” gelengku pelan. Rasanya aku sangat bersyukur memiliki Tiffany dan Jessica karena merekalah yang selama ini masih mempedulikanku. Mereka masih menanyakan keadaannku, mengunjungiku di rumah, dan sedikit memberiku hiburan dengan celotehan mereka tentang pria-pria tampan di sekolah ini. Sayangnya akhir-akhir ini sedikit tidak berminat dengan mereka. Padahal dulu Tiffany dan Jessica selalu membuat seleksi ketat untuk pria-pria yang ingin mengajakku berkencan, termasuk Jihoo oppa. Sebelum bersamanya aku pernah berpacaran dengan Dannis oppa selama dua bulan. Bisa dibilang Jihoo oppa adalah kekasih terlamaku. Sudah lebih dari empat bulan aku berpacaran dengan Jihoo oppa. Dan saat ini aku merasa belum ingin mencari pria lain. Lebih tepatnya aku sedang malas. Bahkan saat bersama Jihoo oppa-pun aku juga malas. Mungkin sudah lebih dari dua minggu aku dan Jihoo oppa tidak pergi bersama seperti dulu. Bahkan bertukar pesanpun jarang, apalagi saling menghubungi seperti dulu. Akhir-akhir ini aku lebih sering kelelahan, hingga saat tiba di rumah aku hanya ingin membaringkan diriku di atas tempat tidur, lalu tertidur hingga esok pagi. Karena kebiasaan aneh itu, akhir-akhir ini aku menjadi jarang makan malam. Beberapa kali pelayanku nekat mengetuk pintu kamarku dengan keras agar aku tidak melewatkan jam makan malamku. Tapi tetap saja aku tidak mau
“Akhir-akhir ini kau terlihat aneh.”
“Aneh bagaimana?” tanyaku pura-pura bodoh.
“Kau selalu terlihat tidak bersemangat An. Bagaimana jika nanti malam kita pergi ke klub untuk mengencani pria-pria tampan di sana?” usul Tiffany antusias. Jessica tampak mengangguk setuju di sebelahku sambil mengingatkan jika hari ini adalah malam minggu, jadi kami tidak memiliki tuntutan apapun untuk pergi ke sekolah besok pagi.
“Baiklah, jemput aku di rumah.” putusku setengah hati. Jika bisa memilih, aku lebih suka tinggal di rumah sepanjang malam daripada harus berdesak-desakan di klub, saling menggesekan tubuh dengan orang lain. Sayangnya aku tidak bisa menolak ajakan mereka lagi karena akhir-akhir ini aku sudah sering menolak ajakan
mereka.
“Yess! Hari ini kita akan berpesta sepanjang malam. Anna, ngomong-ngomong ada apa dengan kakak tingkat kita yang aneh itu, sejak tadi ia terus melihat kearah sini, apa ia sekarang beralih menyukaimu?”
“Ck jangan dengarkan Jessica An, tidak mungkin pria aneh itu menyukaimu. Lebih baik kau laporkan saja pada Jihoo oppa agar pria cupu itu mendapatkan pelajaran dari Jihoo oppa dan teman temannya.”
“Sudahlah, biarkan saja ia di sana. Lagipula ia juga tidak melakukan apapun.”
Aku berkata setengah hati pada Tiffany dan Jessica karena kenyataannya Lee Junhyu memang sangat mengganggu di seberang sana. Meskipun aku sudah terbiasa ditatap dengan sangat intens oleh pria-pria di sekolah ini, tapi aku selalu merasa tidak nyaman saat berhadapan dengan tatapan matanya. Seperti ia akan
mengulitiku hidup-hidup dengan kedua mata sendunya yang tersembunyi dibalik kacamata tebal itu.
“Tapi ia sangat lancang jika berani menyukaimu. Kau adalah ratu, dan ia hanyalah pria buruk rupa dengan angan-angan tinggi jika ia bermimpi untuk mendapatkanmu.”
“Sudahlah, jangan bahas pria aneh itu lagi, aku malas.” balasku sambil beranjak berdiri untuk meninggalkan mereka. Meskipun dua bulan telah berlalu, tapi aku tak bisa melupakan semua kejadian itu sedikitpun. Dan sekarang aku mulai takut dengan apa yang ia bahas kemarin, mengenai kemungkinan aku hamil, karena aku mulai mengalami keterlambatan siklus sejak bulan lalu.
-00-
Suara musik menghentak dan hingar bingar lampu disko langsung menyorot tepat di kedua mataku saat aku dan kedua temanku mulai berjalan genit memasuki klub eksklusif ini. Di sepanjang jalan menuju lantai disko, aku melihat banyak sekali pasangan yang sedang bercumbu tanpa mengenal tempat. Tapi beginilah cara kami untuk
menghambur-hamburkan uang orangtua kami. Bukankah seperti itulah alasan mereka bekerja selama ini, untuk memenuhi kebutuhan glamour anak mereka yang hanya ditinggalkan sendiri di rumah yang mewah.
“Anna, ayo kita menari.”
“Kalian duluan saja, aku ingin memesan cocktail sebentar.”
Tiffany dan Jessica tampak mengangguk mengerti setelah aku dengan susah payah berteriak-teriak di sebelah telinga mereka karena suara berisik musik yang diciptakan oleh sang dj.
“Jihoo oppa?”
Aku mengernyit heran ketika aku justru mendapatkan sebuah kejutan di meja bar saat hendak memesan minuman. Di sana, aku melihat Jihoo oppa sedang duduk di depan meja bar sambil mencumbu seorang wanita muda dengan pakaian seksi. Seketika aku hanya menatap datar sambil menyiapkan tanganku untuk melayangkan tamparan kearahanya. Dan....
Plakk! Satu tamparan penuh emosi itu akhirnya tercipta juga, menghiasi pipi sebelah kanan Jihoo oppa yang kini tampak memerah akibat telapak tanganku yang lebar
ini.
“Anna! Apa-apaan kau ini?”
“Kita putus, sampai jumpa Choi Jihoo brengsek!”
Aku memakinya kasar dan segera meninggalkannya marah di belakangku dengan jalangnya yang murahan itu. Huh, sejujurnya aku juga sudah bosan berpacaran dengannya. Si tukang pukul itu benar-benar membosankan dan tidak pernah bisa benar-benar membahagiakanku selain memberiku tontonan gratis saat ia memukuli si cupu Lee Junhyu.
“Anna, kau sudah memesan minuman?”
“Sudah, tapi aku sedang tidak berminat untuk menari, jadi aku akan menunggu kalian di sana.” tunjukku pada meja kosong di sudut ruangan. Sepertinya menyendiri di tengah hiruk pikuk orang menari tidak akan membuatku terlihat bodoh. Saat ini aku benar-benar hanya ingin sendiri, memikirkan berbagai hal yang telah mengganggu hidupku selama ini hingga aku selalu dihantui mimpi buruk.
“Anna? Apa yang kau lakukan sendiri di sini?”
“Oh hai, aku hanya sedang ingin sendiri di sini.” jawabku malas-malasan. Kuharap Dannis oppa segera pergi dari sini dan tidak mengganggu waktu merenungku. Tapi sial, ia justru duduk di sebelahku dan memberikan senyuman manis yang sayangnya tidak berefek apapun padaku selain rasa mual yang terasa begitu mengganggu dari perutku.
“Sudah lama kita tidak saling mengobrol seperti dulu, bagaimana kabarmu?”
“Aku baik-baik saja.”
Yeah, dulu saat aku masih menginginkannya untuk menjadi kekasihku, aku selalu bersikap genit di depannya. Pura-pura menanyakan keadaannya setiap hari, dan kadang aku juga membawakannya bekal makan siang. Sayangnya aku sekarang sudah bosan dengannya. Ia tidak semenarik yang kukira dulu. Setelah ia menunjukan banyak hal omong kosong di hadapanku, aku mulai muak dengannya, dan aku memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami. Lagipula usia kami yang terpaut jauh, sekitar lima tahun, membuatku menyadari jika kami sangat aneh jika bersama. Kuakui jika Dannis oppa sangat dewasa, dan hal itu tidak bisa mengimbangiku yang masih memiliki pikiran kekanak-kanakan yang terkadang cenderung manja.
“Siapa kekasihmu sekarang? Tidak mungkin kan gadis sepopuler dirimu tidak memiliki kekasih?”
“Sayangnya aku baru saja putus, sekarang aku sendiri.”
“Jadi kau baru saja mematahkan hati seorang pria? Hebat! Kau memang selalu hebat Anna. Kau cantik, pantas jika banyak pria yang ingin menjadi kekasihmu. Tapi sebagai seorang teman lama, aku ingin memberitahumu jika kau sebaiknya jangan terlalu banyak mempermainkan hati para pria yang tulus mencintaimu, atau kau mungkin akan mendapatkan karma suatu saat nanti.”
Apa-apaan pria ini? Apa ia baru saja menyumpahiku agar mendapatkan karma? Benar-benar sial! Kurasa luka yang pernah kutorehkan di hatinya membuat Dannis oppa memiliki dendam padaku dan ingin kehidupan percintaanku tidak berjalan mulus. Baiklah, tidak masalah. Tapi jelas aku tetap akan baik-baik saja meskipun ia telah mengatakan sesuatu yang buruk di depanku.
“Kurasa aku masih baik-baik saja oppa hingga sejauh ini. Kau sendiri apa yang kau lakukan di sini?”
Saat seorang pelayan datang membawakan minuman pesanan Dannis oppa, aku juga meminta pelayan itu untuk membawakan jus jeruk dengan rasa asam. Sudah kukatakan jika sekarang aku sangat hobi memakan buah
apapun yang rasanya asam. Itu sedikit dapat mengurangi rasa mual yang sering kurasakan akhir-akhir ini.
“Bersenang-senang tentu saja. Aku baru saja menyelesaikan ujian kenaikan tingkat, dan aku sedikit
bosan berdiam diri di rumah. Apa kau sakit Anna? Wajahmu terlihat pucat.”
“Tidak, hanya sedikit lelah akhir-akhir ini.”
“Dan kau memesan jus jeruk? Kau pernah sakit lambung Anna, ingat itu.” ucap Dannis oppa terlihat khawatir. Aku hanya tersenyum masam melihat kepeduliannya padaku yang tidak berubah sedikitpun.
Dulu ia adalah orang yang membawaku ke rumah sakit saat aku hampir pingsan di mobilnya akibat sakit lambung. Dan setelah berbulan-bulan berlalu, ternyata ia masih mengingat penyakitku itu dengan baik. Huh, sedikit memalukan sebenarnya, tapi aku suka dengan bentuk perhatiannya.
“Aku tidak apa-apa oppa, justru aku akan merasa mual jika tidak memakan sesuatu yang asam.”
Bersamaan dengan itu minuman pesananku datang dengan warna yang orange yang sangat
menggiurkan. Air liurku seperti hendak menetes-netes saat melihat minuman segar dengan embun basah di permukaan gelas yang terlihat begitu segar dan ingin kuteguk saat ini juga.
“Pelan-pelan saja Anna, jus itu tidak akan pergi kemanapun.” kekeh Dannis oppa menyebalkan saat aku tampak begitu rakus menyedot jus jeruk yang menggiurkan ini.
“Aku terlalu haus sejak tadi.”
“Apa yang terjadi padamu hingga kau merasa mual jika itu bukan penyakit lambung?”
Pertanyaan yang dilontarkan Dannis oppa itu seketika membuatku berpikir. Apa yang sebenarnya terjadi padaku akhir-akhir ini? Kurasa tubuhku memang sedikit aneh semenjak pria cupu itu menyentuhku. Sial! Aku harus segera membuktika hipotesaku untuk mencari tahu kebenarannya.
“Tidak apa-apa oppa, hanya perubahan hormonal wanita.” jawabku asal. Dari kejauhan aku melihat Jessica melambai kearahku sambil menunjuk kearah meja bartender. Kesempatan itu langsung kumanfaatkan untuk pergi meninggalkan Dannis oppa yang semakin lama semakin terdengar menyebalkan ini. Ia terlalu banyak bicara dan menyinggung masa laluku. Lebih baik aku segera pergi daripada harus mendengar ocehannya yang semakin membosankan itu.
“Kurasa aku harus pergi menyusul teman-temanku, sampai jumpa oppa.”