
Kami akhirnya kembali ke rumah setelah menghabiskan waktu selama satu jam untuk bercakap-cakap bersama Dannis oppa di kafe. Tapi tentu saja bukan aku yang bercakap-cakap dengan Dannis oppa. Aku lebih banyak diam ketika itu terjadi, memilih untuk membiarkan mereka terhanyut pada cerita masa lalu yang penuh kenangan. Namun aku tidak bodoh, selama mereka saling bercakap-cakap, tatapan Dannis oppa tak sedikitpun beralih dari wajahku.
“Salah satu pria dari masa lalumu.”
“Kau sudah tahu... berapa banyak mata-mata yang kau tempatkan di sekitarku?”
“Cukup banyak..”
“Untuk apa?”
“Menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.”
Aku mendengus gusar mendengar jawabannya sambil berpaling kearah lain. Jelas sekali jika ia tidak menaruh kepercayaan sedikitpun padaku. Padahal aku telah bersumpah di hadapan Tuhan, bahkan di hadapannya ketika berada di gereja untuk hanya terus menatap kearahnya sebagai isteri. Lalu sekarang apa? Apakah ini salah satu bentuk keposesifannya?
“Kau tidak percaya padaku.”
Matanya tampak bergerak-gerak tidak fokus ketika aku melayangkan tuduhan itu padanya. Ini jelas, ia memang tidak pernah mempercayaiku. Huh, kurasa kepercayaan itu tidak penting lagi. Sekarang bagaimana kami dapat mewujudkan sebuah pernikahan impian jika ia masih melakukan hal-hal kekanakan yang terasa begitu memuakan.
“Belum.. terlalu sulit memberikan kepercayaan padamu.”
“Lalu apa maksudnya semua ini?”
Tanpa sadar aku telah berteriak di hadapannya tanpa menghiraukan keadaan di sekitar ruang tamu yang saat ini terlihat sepi. Kuharap ibu tidak berada di rumah untuk mendengar pertengkaran kami. Aku tidak tahu apa yang telah didapatkan Junhyu ketika berada di Macau, yang jelas saat ini ia kembali dalam keadaan kacau dan juga emosi yang sejak tadi terasa meluap-luap disekitar kami. Aku kemudian berpikir untuk pergi, tidak ada gunanya aku terus berada di sini dan melihatnya terus saja menuduhkan hal-hal yang sama sekali tidak kulakukan.
“Tetap di sini.” ucapnya saat aku berbalik pergi hendak ke kamar. Ia mencekal pergelangan tanganku, dan membuatku seperti seekor hewan yang dipaksa diam dengan sebuah tali yang membelit. Cekalan tangannya terasa menyakitkan, seperti tali tambang yang membelit pergelangan tanganku dengan kuat. Aku kemudian berusaha meronta, menggerak-gerakan tanganku dengan brutal agar ia melepaskanku untuk pergi. Setidaknya ia perlu sendiri untuk beberapa waktu hingga ia tidak dilingkupi emosi lagi. Namun kali ini emosinya tidak terlihat sama seperti sebelumnya, semakin aku meronta, maka ia semakin keras menahan pergelangan tanganku. Akhirnya aku memutuskan untuk menyerah, menghela napas sekali, lalu menatap langsung tepat di manik matanya. Di sana aku menemukan banyak sekali emosi. Kemarahan, kekecewaan, kesedihan, dan apapun itu.... terlalu banyak emosi yang tersimpan di matanya. Aku akhirnya berusaha berdamai dengan emosiku sendiri agar semua ini tidak berkembang menjadi masalah yang rumit.
“Jadi apa yang kau inginkan?”
Tiba-tiba Junhyu menarik tanganku kuat dan membuat tubuhku membentur tubuhnya dengan keras. Perutku rasanya sangat sakit saat bertabrakan dengan miliknya yang keras. Lalu setelah itu aku merasakan hembusan napasnya terasa begitu dekat di telingaku dan terasa begitu menggelikan di sana. Napasnya terdengar putus-putus, seperti ia sedang menahan begitu banyak emosi yang berkecamuk di dalam dada. Lalu dalam sekali tarikan napas, ia membisikan kata-kata yang berhasil membuatku mengernyitkan dahiku dalam.
“Lupakan Choi Jihoo, aku tidak suka jika isteriku memikirkan pria lain.”
“Darimana kau tahu jika aku memikirkannya atau tidak? Kau benar-benar konyol.” balasku sengit. Bagaimana mungkin pria ini dapat mengetahui isi kepalaku, dia sungguh konyol hanya karena pembicaraan kami sore tadi di mobil. Pria ini cemburu rupanya...
“Kau cemburu?”
“Pria itu menghasut klienku dan menghasutku dengan foto-foto kemesraan kalian di masa lalu.”
“Itu hanya masa lalu.”
“Masa lalu dapat menjadi sesuatu yang mengancam di masa depan.”
“Tolong jangan kekanakan Lee Junhyu, aku sudah tidak menyukai Jihoo oppa lagi.”
Aku sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya meyakinkan Junhyu jika semua itu hanya bagian dari masa laluku. Kurasa semua ini terjadi karena Junhyu termakan provokasi dari Jihoo oppa. Ck, aku benci berada di posisi ini. Aku lalu mendorong bahunya keras dan membuatnya sedikit terhuyung ke belakang. Namun secepat kilat ia berhasil memerangkapku lagi diantara tembok kokoh yang menjulang tinggi di belakangku. Huh... kenapa sore hariku yang indah justru harus berakhir seperti ini?
“Ada apa lagi? Kau sedang dilingkupi kemarahan, aku tidak mau berbicara denganmu jika kau seperti ini.”
“Kau telah menikah denganku, tidak seharusnya kau memikirkan pria lain.”
“Aku tidak pernah memikirkan siapapun, asal kau tahu. Bahkan Dannis oppa, aku juga tidak pernah memikirkannya. Aku bingung dengan sikapmu hari ini yang tiba-tiba datang dalam keadaan kacau, lalu menyeretku untuk bertemu dengan Dannis oppa. Kau justru membuat emosimu sendiri meluap semakin parah.”
Refleks aku memundurkan kepalaku hingga terbentur tembok saat Junhyu tiba-tiba mencondongkan wajahnya kearahku. Bulu kudukku meremang seketika saat aku bertatapan langsung dengan mata marahnya yang tersembunyi dibalik kacamata tebal miliknya. Ini tidak akan menemukan titik terang sama sekali bila ia terus
saja mengedepankan egonya. Dan tiba-tiba aku merasakan bibirku menempel di bibirnya. Junhyu menahan tengkukku kuat ketika aku berusaha melawan dari ciumannya. Ia seperti seorang maniak yang terus saja melumat bibirku dengan gerakan terburu-buru dan juga kasar. Tapi aku merasa tidak perlu membalas ciumannya, jadi aku memutuskan untuk diam sambil menunggunya benar-benar selesai dengan dahaga gairahnya. Sayangnya Lee Junhyu adalah pria yang gigih, ia terus saja menggoda bibirku dengan lumatan yang lembut setelah aku gagal ditaklukan dengan lumatan yang kasar. Akhirnya akupun ikut bergabung dengan irama ciumannya yang konstan, namun berhasil mengirimkan gelenyar-gelenyar aneh di tubuhku. Kami berdua seperti lupa bagaimana menghirup oksigen secara normal setelah kami berdua masuk kedalam sesi ciuman yang panas dan juga panjang ini. Junhyu seperti tidak mau melepaskan tautan bibirnya dari bibirku hingga bunyi sol sepatu menyadarkan kami dari realita, dan memaksa kami untuk saling menjauh sebelum seseorang melihat kami dalam keadaan yang memalukan.
“Oh Anna, ibu pikir Junhyu tidak bisa menemukanmu.”
Aku masih terengah saat ibu datang sambil mengamati kami dengan sorot mata kebingungan. Deru nafasku dan juga Junhyu masih berkejaran tak beraturan karena ciuman kami yang panjang dan juga menggairahkan. Ini tidak boleh dibiarkan terlalu lama. Salah satu dari kami harus melakukan sesuatu jika tidak ingin membuat ibu semakin bertanya-tanya.
“Ibu... emm, kami bertemu di jalan...” balasku dengan otak yang kupaksakan untuk berpikir keras. Sial! aku seperti wanita lumpuh yang tidak tahu bagaimana caranya untuk berbicara dengan baik di hadapan ibu. Sedangkan Junhyu, ia lebih menyebalkan dari apapun. Ia justru membiarkanku menghadapi ibu sendiri dengan dirinya yang hanya menjadi penonton sejak tadi.
“Ia kembali siang tadi dan langsung mencarimu, sayangnya ibu tidak tahu kemana kau
pergi.”
“Maaf ibu, aku hanya pergi untuk melihat teman-temanku.”
Secara harfiah aku memang pergi untuk melihat teman-temanku, tapi tentu saja itu dilakukan dari kejauhan. Sungguh aku merasa sedih jika memikirkan hal itu karena Junhyu telah menarikku pergi sebelum aku benar-benar dapat melihat Tiffany dan Jessica.
“Kau tampak lelah, tapi ada apa dengan bibirmu Anna?”
Aku refleks meraba bibirku sendiri sambil tersenyum canggung. Ini memalukan! Dan Junhyu justru tertawa mengejek dibalik kebisuannya yang menyebalkan.
“Bukan apa-apa ibu, seekor serangga sepertinya menggigitku saat di jalan.”
“Oh, lebih baik kau istirahat saja. Dan turunlah beberap jam lagi untuk makan malam.”
Setelah itu ibu pergi menuju dapur untuk melihat pekerjaan bibi Jung mungkin, aku tidak tahu. Tapi setidaknya itu sangat menolongku dari sesuatu yang sangat memalukan ini. Dan seperti yang diperintah oleh ibu, aku segera pergi menuju kamar tanpa mempedulikan Junhyu yang entah sedang apa di belakangku. Hanya aku benar-benar bersyukur karena ia tidak menahanku seperti yang dilakukan sebelumnya, lalu membuatku terjebat di sini dengan ciumannya yang sangat gila.
-00-
Aku menggeliat pelan saat aku merasakan sesuatu yang basah menyentuh keningku. Kemudian sebuah bisikan lembut menarikku kedalam tidur nyenyakku yang menyenangkan hingga akhirnya aku harus membuka mataku sepenuhnya untuk menghadapi realita dunia yang terkadang tidak seindah harapanku.
“Bangun.... bukankah hari ini kita akan mengetahui jenis kelaminnya?”
Junhyu beralih mengusap perutku setelah sebelumnya ia menunduk untuk mengecup keningku sekali. Jadi.. pria ini yang tadi menempelkan sebuah ciuman basah di keningku? Oh ayolah, ia pasti bersikap lembut karena merasa bersalah. Sejak ia menuduhkan sesuatu yang tak beralasan padaku, aku terus menolak berbicara padanya dan cenderung acuh tak acuh.
“Ini masih terlalu pagi untuk pergi ke dokter.” jawabku serak sambil beringsut kearah bantal besarku yang terlihat begitu menggiurkan. Sensasi lembut dan empuk yang ditimbulkan oleh bantal itu berhasil membuaiku hingga aku tak ingin sedikitpun pergi meninggalkannya. Ia terlalu sayang untuk ditinggalkan, dan aku masih ingin memejamkan mataku lebih lama bersamanya. Namun suara bisikan Junhyu dan deru napasnya yang terasa mengganggu di tengkukku membuatku mau tidak mau segera bangkit sambil menatap sedikit kesal kearahnya.
“Apa? Aku masih ingin tidur.”
“Aku memiliki beberapa ujian siang ini.”
“Lalu? Aku bisa pergi sendiri ke sana, kau tidak perlu mengantarku.” ucapku gusar sambil memiringkan kepalaku, hendak kembali berbaring di atas bantal. Namun gerakan cepat dari Junhyu yang tiba-tiba menarikku, lalu menggendongku ala bridal style membuatku seketika memekik heboh.
“Junhyu turunkan aku!”
“Tidak ada lagi tidur tuan putri, sekarang saatnya mandi.” ucapnya dengan suara menggoda yang dipenuhi tawa. Ia terlihat benar-benar puas saat berhasil membuatku benar-benar tak berkutik di dalam gendongannya. Aku sangat takut bila ia tiba-tiba tersandung atau apa dan membuat tubuhku melayang jatuh. Aku sedang hamil sekarang, berat tubuhku tentu saja bertambah menjadi berkali-kali lipat lebih berat. Lalu pria ini dengan jahilnya justru memutar-mutar tubuhku kesana kemari seperti sebuah boneka tedy bear besar. Akhirnya aku memilih untuk
memejamkan mataku sambil berpegangan dengan erat pada lehernya. Aku takut!
Sungguh pria ini sepertinya ingin mendengarkan kemarahanku sekali lagi.
“Hey, ada apa denganmu? Kau takut?” godanya begitu dekat di wajahku. Kurasakan hembusan napasnya yang hangat sedang membelai wajahku pelan, namun aku tetap tidak ingin membuka mataku. Ini sangat menakutkan!
“Buka matamu Anna... ini tidak seburuk yang kau pikirkan.”
“Aku takut! Cepat turunkan aku sekarang juga.”
“Tapi kau harus berjanji akan segera mandi jika aku menurunkanmu.”
“Apa kau pikir aku gadis lima tahun yang harus mendapatkan ancaman sebelum pergi ke kamar mandi? Turunkan aku sekarang!” perintahku mutlak. Tapi ia tetap saja menggendongku dan membawaku entah kemana karena aku merasakan pergerakan kakinya yang terus berjalan tanpa henti. Lalu aku merasakan hembusan angin
dingin menerpa wajahku ditambah dengan suara gemerisik daun yang begitu nyata di telingaku.
“Lihatlah, sangat indah di sini. Aku janji tidak akan menjatuhkanmu, jadi bukalah matamu sekarang.” bisiknya lembut sambil memberikan sebuah kecupan ringan di mataku. Dengan takut-takut aku mulai membuka mataku perlahan. Kuharap pria ini memang tidak berbohong tentang akan menjatuhkanku.
“Kenapa kau membawaku ke sini?”
Setelah semua mataku terbuka, aku langsung mendapatkan pemandangan taman milik keluarga
Lee yang begitu indah di bawah sana. Dengan kabut tipis yang masih menyelimuti udara dingin di sekitar kami, taman itu tampak berkali-kali lipat lebih indah dari biasanya. Apalagi pemandangan beberapa bunga segar yang ditanam oleh ibu dan tukang kebun di sini membuat taman itu terlihat seperti sebuah harmoni yang
begitu menyejukan mata.
“Bukankah itu indah?”
“Yaahh.. sangat indah. Ibu merawatnya dengan baik.”
“Anna.. maafkan aku, aku telah menyakitimu kemarin.” desahnya penuh penyesalan. Aku tahu ia sangat menyesal dengan sikapnya kemarin, dan aku sebenarnya cukup penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Jihoo oppa hingga ia sampai bersikap seperti itu padaku.
“Jihoo oppa melakukan sesuatu padamu?”
“Ya, dan itu membuatku cukup terusik.”
“Apa yang dilakukannya?”
“Menunjukan kemesraan kalian di masa lalu. Padahal selama ini aku tidak pernah terganggu, tapi aku merasa terganggu kemarin.”
“Jadi itu yang membutmu memutuskan untuk lebih cepat kembali ke Seoul?”
“Tidak juga, pekerjaanku memang telah selesai. Tidak ada alasan lagi untuk tinggal lebih lama di sana. Lagipula aku merindukanmu.”
Pipiku seketika terasa panas setelah mendengar kata-kata manisnya yang bagaikan racun itu, manis tapi mematikan.
“Hey pasangan muda, jangan berdiri di depan balkon terlalu lama dengan pakaian tipis, kalian bisa sakit!”
Astaga.. paman Shinjung benar-benar jahil. Ia adalah tukang kebun di rumah ini yang terkadang menemaniku mengobrol di gazebo. Teriakan paman Shinjung berhasil membuat Junhyu terkekeh geli, namun tidak denganku. Aku justru semakin beringsut kedalam dada Junhyu karena pipiku saat ini benar-benar sudah terbakar, merah padam! Aku ingin tenggelam ke dasar danau saat ini juga. Aku tidak berani menatap ke bawah atau menatap kemanapun yang dapat membuat pipiku semakin bersemu merah.
“Paman Shinjung adalah orang yang baik dengan selera humor terbaik di rumah ini. Terkadang aku merasa bosan dengan para pelayan yang terlalu kaku saat berpapasan denganku.”
Setelah cukup lama menggendongku, akhirnya Junhyu menurunkanku juga di atas sebuah kursi malas yang biasanya sering kugunakan untuk bersantai. Kuakui jika rumah Junhyu sangat nyaman, lebih nyaman daripada rumah orangtuaku karena di sini aku mendapatkan kehangatan sebuah keluarga. Namun suatu saat aku juga ingin pulang ke rumah orangtuaku, lalu berkumpul bersama keluarga kecilku. Yahh... aku sudah mulai dapat menerimanya. Menerima kehadiran Junhyu sebagai pria yang akan mendampingiku hingga aku menua, lalu anak-anakku... entahlah, akan ada berapa anak di dalam keluarga kecil kami.
“Kurasa bukan mereka yang terlalu kaku, kau yang tidak bisa membuka diri pada mereka.”
koreksiku. Tidak ada masalah apapun dengan para pelayan selama aku tinggal di sini. Menurutku mereka baik, tidak terlalu kaku, hanya mencoba untuk lebih bersikap profesional lebih tepatnya. Mereka juga tidak pernah melarangku untuk memasak di dapur. Justru mereka sering membantuku untuk mengumpulkan bahan-bahan yang kubutuhkan selama memasak. Jadi kesimpulannya mereka semua adalah para pekerja yang baik.
“Mungkin, aku memang jarang bertegur sapa dengan mereka. Hanya paman Shinjung yang sering
menyapaku, lalu aku akan menyapanya juga sebagai bentuk rasa hormatku padanya.”
“Eee... sepertinya aku lebih baik bersiap-siap, bukankah kau memiliki ujian siang ini?”
Aku
cukup canggung saat berbicara dengannya setelah beberapa hal yang kami lakukan kemarin hingga pagi ini. Dan kulihat Junhyu sepertinya tidak akan menahanku untuk tetap di sini. Jadi aku segera saja melangkah pergi meninggalkan balkon. Tapi kemudian ia berseru pelan di belakangku, membuatku mau tidak mau berhenti dan berbalik.
“Ada apa?”
“Bagaimana jika kita bertaruh?”
“Untuk?”
“Untuk jenis kelamin anak kita. Tebakanku dia adalah laki-laki.”
“Apakah itu perlu?” tanyaku malas sambil menunduk kearah perutku. Ini sungguh konyol. Tidak ada gunanya melakukan permainan bodoh untuk menebak sesuatu yang tidak memiliki keuntungan apapun untuk kami. Laki-laki atau perempuan, bayi ini tetap akan menjadi anak kami. Aku bahkan tidak peduli dengan jenis kelaminnya. Apapun itu, aku telah bertekad untuk membesarkannya dengan sepenuh hati. Tak peduli jika aku masihlah terlalu muda untuk menjadi seorang ibu.
“Ini untuk bersenang-senang.”
“Masih banyak kesenangan lain, tidak perlu melakukan taruhan bodoh hanya untuk jenis kelamin.”
Entah ia menyadari kegusaran dari nada suaraku atau apa, pada akhirnya ia tidak memaksaku lagi untuk mengikuti permainan bodohnya. Ia lebih banyak diam setelah itu, dan membiarkanku bersiap tanpa menggangguku seperti sebelumnya. Mungkin ia tersinggung, aku tidak tahu. Tapi ini membuatku justru menjadi tidak nyaman. Dasar menyebalkan! Ia menempatkanku dalam kubangan rasa bersalah untuk sesuatu yang tidak terlalu penting. Namun ekor mataku tidak bisa tidak mengabaikan sikap diamnya. Ia terus saja membisu sejak kami meninggalkan rumah, kemudian sekarang ia juga hanya mengisi keheningan ini dengan lagu-lagu klasik kesukaannya yang menurutku sedikit terdengar gloomy.
“Apapun jenis kelaminnya, itu tidak terlalu penting. Jangan terlalu memikirkan ucapanku tadi.”
“Aku tidak memikirkannya, jangan khawatir.”
Kemudian hening lagi, tidak ada yang ingin mengisi keheningan ini dengan sebuah celotehan atau apapun itu yang dapat membuat mobil ini terasa lebih hidup. Baiklah, kami berdua mungkin memang sama-sama sedang membutuhkan waktu untuk berpikir, merenungkan banyak hal yang akan segera terjadi pada kami. Setelah jenis kelamin anak kami terlihat jelas, aku akan mulai menata kamar bayi untuknya. Jika ia seorang laki-laki, aku akan memenuhi kamarnya dengan berbagai ornamen khas anak laki-laki yang gagah. Aku ingin ia seperti ayahnya, menjadi pria yang bertanggungjawab untuk keluarga dan dapat melindungiku suatu saat nanti. Lalu jika ia perempuan, aku tidak ingin ia mengulangi kesalahan yang sama seperti milikku. Anakku harus mendapatkan kehidupan yang lebih baik, ia harus mendapatkan kasih sayang yang lengkap dari kedua orangtuanya.
Tiba-tiba tangan kiriku digenggam oleh Junhyu. Tanpa mengalihkan tatapan matanya dari jalanan di depannya, Junhyu menggenggam tangan kiriku tepat setelah aku memikirkan tentang masa depan anak-anakku. “Jangan khawatir, aku akan selalu ada di sisimu. Kita pasti bisa memberikan sesuatu yang layak untuk anak kita.”
ucapnya masih dengan menautkan salah satu tangannya pada milikku yang tersimpan rapi di atas pangkuanku. Setelah itu aku hanya mampu tersenyum sambil mengamati pemandangan mobil-mobil di sisi kananku. Selalu ada harapan untuk masa depan, selalu ada harapan untuk kami.