Sweeter Than Coffee

Sweeter Than Coffee
Thirteen



Aku merindukan mereka... sayangnya aku tidak bisa berlari mendekat pada mereka seperti dulu. Huh, ini konyol! Sore ini aku benar-benar melakukan sesuatu yang tidak berguna dengan berjalan-jalan di sekitar Kirin sambil menatap siswa siswi Kirin dari kejauhan. Mereka semua tampak bahagia dengan kebebasan khas remaja, bagaikan seekor burung yang dapat terbang bebas kemanapun. Meskipun siang ini cukup terik, tapi ini tak menghilangkan sedikitpun keinginanku untuk berjalan-jalan di sini. Aku ingin merasakan udara panas yang dulu selalu menjadi sesuatu yang sangat menyebalkan untukku. Lalu debu-debu yang berterbangan disekitarku, ini mengingatkanku pada masa mudaku yang terasa begitu singkat. Besok aku akan tahu jenis kelamin bayi ini, rasanya sedikit gugup. Aku tidak menyangka jika akhirnya aku akan menjadi ibu di usia yang masih terlalu muda. Terkadang aku berpikir di tengah malam yang sunyi dan dingin di rumah Junhyu, masa depanku akan menjadi seperti apa? Setelah aku melahirkan nanti, apakah aku masih bisa merasakan kehidupan masa mudaku? Kurasa tidak! Semuanya telah terenggut di hari dimana Junhyu menyentuhku.


            “Anna...”


            Aku seperti mengenalinya, itu suara.... Junhyu. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku datar, masih tidak menyangka jika ia telah berada di sini. Bukankah seharusnya ia berada di Macau?


            “Aku mencarimu. Kau tidak ada di rumah, dan itu cukup membuatku khawatir jika kau akan pergi ke club seperti dulu.”


            Entah kenapa aku ingin tertawa sumbang di hadapannya. Wanita bodoh mana yang ingin pergi ke club dalam keadaan perut buncit seperti ini? Seharusnya ia memikirkannya secara logis terlebihdahulu sebelum berani berasumsi yang tidak benar. Aku lantas melirik sinis kearahnya yang masih setia berada di balik kursi kemudinya. Kacamata tebal yang tidak pernah terlepas sedikitpun dari kedua mata sendunya itu membuatku tidak bisa melanjutkan sikap sinisku ini padanya. Aku dilingkupi rasa bersalah sejak ia menceritakan semua kejadian mengerikan di masa lalunya. Kacamata itu berada di sana untuk kebaikan Junhyu, dan aku tidak sepantasnya terus menganggapnya aneh, meskipun penampilannya telah mengalami perubahan yang cukup banyak.


            “Bukankah seharusnya kau berada di Macau.”


            “Masuklah, kita bicara di jalan.” ucapnya seperti terburu-buru. Sejujurnya sejak tadi aku menyadari gerak geriknya yang terus saja melirik jam tangan hitam di pergelangan tangannya. Hanya saja ini terlalu sayang untuk dilewatkan, momen saat siswa siswi Kirin High School mulai berhamburan keluar kelas karena jam pulang sekolah. Aku berharap dapat melihat Jessica dan Tiffany dari kejauhan, berharap jika mereka dalam keadaan baik-baik saja meskipun aku tidak ada lagi diantara mereka.


            “Kau merindukan teman-temanmu?”


            “Sedikit...” jawabku sambil memutari mobil untuk membuka pintu penumpang di sisi kanan, namun saat aku hendak menarik kenopnya, pintu itu otomatis terbuka dan seperti mempersilahkanku untuk masuk tanpa perlu repot-repot untuk menutupnya.


            “Terimakasih.”


            “Aku akan memasangkan sabuk pengamannya. Perutmu terlihat semakin besar.” komentarnya ketika melingkarkan tangannya untuk mengaitkan sabuk pengaman pada flip lock di sisi kananku. Aroma maskulin langsung tercium begitu menyengat dari tubuh Junhyu yang tegap. Sepertinya aku benar-benar tidak pernah memperhatikannya selama ini. Bahkan aku tidak tahu jika Junhyu sebenarnya juga memiliki otot-otot yang tak kalah kekar dari Jihoo oppa. Atau... mungkinkah itu selalu tersembunyi dibalik seragam sekolahnya yang selalu terlihat


kebesaran?


            “Tentu saja, dia terus tumbuh di dalam sana. Bukankah kau seharusnya masih berada di Macau?”


            “Kenapa? Kau tidak ingin aku berada di rumah.”


            “Bukan, hanya heran.”


            Pikirannya sungguh buruk. Aku tidak pernah berpikiran seperti itu, hanya saja sejak kemarin aku terus berpikir jika Junhyu mungkin akan kembali besok. Tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan di rumah selain belajar, jadi aku merasa ia lebih baik memenuhi harinya di luar rumah karena aku bosan melihatnya berkutat dengan buku-buku tebal.


            “Kau tidak ingin menanyakan kabarku atau menanyakan tentang kegiatanku selama berada di Macau? Kita berbicara seperti dua orang asing yang tidak saling mengenal.”


            “Bukankah kita memang seperti itu.”


            Meskipun aku masih ingin berada di sini hingga semua siswa siswi Kirin pulang, tapi aku tidak bisa mengabaikan mimik lelah yang terpancar di wajah Junhyu. Bukan aku yang memintanya untuk mencariku, ia seharusnya beristirahat di rumah, alih-alih pergi untuk memastikan kondisiku baik-baik saja. Aku tidak mungkin mengulangi kesalahan yang sama. Pergi ke club adalah pilihan paling buruk disaat perutku telah berubah menjadi sebuncit ini. Ada terlalu banyak hal-hal buruk yang bisa terjadi di club, dan aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya, janin kecilku.


            “Kulihat kau baik-baik saja, jadi kurasa aku tidak perlu menanyakan apapun.”


            “Aku ingin hubungan kita berkembang menjadi lebih baik.” desahnya pelan sambil terus berkonsentrasi pada kemudinya. Ada sedikit gurat-gurat kekecewaan di wajahnya saat aku tidak memberikan respon yang diharapkannya sejak tadi. Apakah aku terlalu kejam? Jawaban adalah ya. Aku masih membutuhkan banyak waktu untuk dapat bersikap sebagaimana yang ia inginkan. Asal kau tahu Lee Junhyu, aku sedang berusaha saat ini. Aku sedang berusaha menumbuhkan cinta untukmu di hatiku, dan kuharap kau pun juga melakukan hal yang sama denganku.


            “Itu membutuhkan waktu. Jadi apa yang kau lakukan selama di Macau?”


            Pada akhirnya aku menyerah dan memilih untuk mengikuti keinginannya. Lagipula ini tidak sulit, hanya perlu berpura-pura peduli pada seluruh aktivitasnya yang ia habiskan tanpaku selama di Macau.


            “Tidak banyak, aku bertemu mantan kekasihmu.”


            “Namanya Choi Jihoo, dan untuk apa ia berada di Macau?”


            Aku mengamati ekspresi wajah Junhyu yang tampak pias, kurasa ia mulai menunjukan


sisi dinginnya lagi di hadapanku. Ini adalah Lee Junhyu yang sesungguhnya, dingin, kuat, dan penuh dominasi.


            “Perjalanan bisnis, atau mungkin mencari suntikan dana untuk perusahaan ayahnya yang hampir collapse.”


            “Ia seharusnya berada di Amerika untuk melanjutkan studinya.”


            “Apa yang bisa dilakukan oleh seorang pria jika perusahaan yang menjadi sumber kehidupannya hampir jatuh? Waktu bersenang-senangnya telah habis Anna, ia harus berjuang untuk masa depannya. Bahkan hanya untuk sepiring makanan yang layak.” ucapnya penuh nada sinis. Ada dendam yang terpancar di matanya, namun ia


berhasil menyembunyikan semuanya dengan baik dibalik wajah tenangnya yang hanya menatap lurus kearah jalanan di depannya. Mataku kemudian bergulir kearah setir kemudi yang dicengkeram kuat oleh Junhyu. Ia sedang marah... dalam kebisuannya ia menyembunyikan berbagai macam emosi yang dapat meledak bagaikan bom waktu


jika aku salah mengambil langkah untuk mendekatinya. Jadi kuputuskan untuk menjulurkan tanganku, lalu jari-jari lentikku mulai membelai wajahnya dan memintanya untuk menoleh sejenak kearahku ketika lampu lalu lintas menghentikan kami. Aku mengulirkan senyum lembut kearahnya, mencoba membuat koneksi yang hangat untuk menyingkirkan apapun amarah yang saat ini melingkupinya. Lalu aku ingin ia mulai menceritakan masalahnya perlahan, terkait ketidakcocokannya pada Jihoo oppa.


            “Ada sesuatu yang ingin kau bagi denganku?”


            “Kau bersikap manis untuk Choi Jihoo. Kau masih menyukainya.” tuduhnya telak, namun


aku masih mempertahankan ekspresiku agar tetap tenang di hadapannya. Aku tidak ingin pertengkaran, aku hanya ingin sebuah cerita. Cerita yang menyebabkan seorang Lee Junhyu berubah semarah ini.


            “Jihoo oppa hanya bagian dari masa lalu, dan pria yang ada di depanku saat ini adalah masa depanku. Kita harus memulainya dari rasa saling percaya jika kita ingin berdiri di atas bahtera rumah tangga ini dengan stabil, jadi ada apa?”


            Tepat setelah aku menyelesaikan kalimatku, Junhyu memalingkan wajahnya cepat dan menginjak pedal gasnya kuat-kuat membelah jalanan Seoul yang tidak terlalu ramai sore ini. Mungkin aku gagal, usahaku hanya membangkitkan lebih banyak emosi di hati Junhyu.


            “Junhyu... kau tidak benar-benar....”


            “Aku melakukannya Anna. Aku diam bukan berarti aku lemah, aku hanya berusaha untuk menghindari keributan. Tapi pria itu terus saja menguji kesabaranku dan membuatku pada akhirnya tidak bisa mengontrol emosiku sendiri agar tidak meluap ke permukaan. Sekarang ia hanyalah seorang pria miskin dengan banyak hutang yang akan tinggal di selokan New York. Turunlah, kita sudah sampai.”


            Rasanya aku masih cukup linglung dan tidak bisa berdiri tegak ketika Junhyu memaksa kedua kakiku untuk menjejak jalanan beraspal di bawahku. Ini jelas bukan rumah kami, Junhyu membawaku ke sbuah kafe yang sedikit padat oleh beberapa anak muda yang baru saja kembali dari sekolah. Sementara itu, Junhyu telah berjalan terlebihdahulu kedalam kafe dengan bahu tegak yang mengisyaratkan kemarahan. Aku tidak tahu jika ia akan semarah itu, padahal aku belum mengatakan apapun. Aku bahkan belum membela Jihoo oppa di depannya, aku hanya sedang bertanya untuk memastikan jika pendengaranku tidaklah salah. Junhyu ternyata pria yang cukup mengerikan juga, ia manipulatif.


            “Apa yang akan kita lakukan di sini? Bukankah kau lelah?”


            “Aku akan bertemu dengan teman lamaku, ia harus melihat siapa yang kubawa hari ini.”


            Aku mengernyitkan dahiku heran melihat sikapnya yang terlihat semakin misterius.


Kemarahan dan kelahan benar-benar mendominasinya sore ini. Menurutku ia hanya memaksakan diri untuk datang ke sini, sedangkan kondisi tubuhnya tidak mendukung untuk itu. Sekarang ia justru duduk di hadapanku dengan seluruh wajah yang tertutupi oleh hoodie. Kupastikan saat ini ia sedang memejamkan matanya dibalik balutan hoodie yang begitu hangat memeluk tubuh tegapnya. Tuhan... bantu aku memahami pria ini.


            “Siapa?”


            “Kau akan tahu nanti. Sekarang biarkan aku memejamkan mataku sebentar, jangan ganggu aku.” tutupnya dengan nada suara tegas. Aku merasa seperti kehilangan sosok Junhyu yang lembut selama beberapa bulan terakhir ini. Sejak kami menikah, ia jarang menunjukan kemarahannya di depanku. Ia lebih memilih untuk menghindar pergi bersama kemarahannya, lalu ia akan kembali lagi disaat kemarahannya telah


hilang. Sudahlah, tidak perlu lagi membahas Lee Junhyu yang angkuh. Aku menghela napasku pelan, mencoba berkompromi dengan keadaan yang tidak menguntungkanku hari ini, lalu aku mengedarkan pandanganku di sekitar area kafe yang saat ini penuh dengan orang-orang berseragam sekolah yang kemungkinan usianya tak jauh berbeda dengan usiaku. Selalu saja aku merasa ada sesuatu yang berlubang di hatiku saat melihat mereka. Refleks aku mengelus perut buncitku sendiri untuk menyadarkanku dari realita yang ada. Tidak seharusnya aku


meratapi nasibku lagi disaat aku telah bertekad untuk menerima semua ini sebagai takdir yang harus kujalani.


            “Anna...”


            Aku langsung membeku di tempat saat Dannis oppa mulai berjalan kearahku dengan senyum manisnya seperti biasa. Kedua tanganku refleks terlipat di depan perutku untuk setidaknya menyembunyikan keberadaanya


dari mata Dannis oppa yang nyatanya telah terlebihdahulu menyadari adanya sesuatu yang sedikit berbeda dariku.


Dengan mimik heran sekaligus tak percaya, Dannis oppa mengulurkan tangannya kearahku untuk bersalaman. Tapi saat aku menyambutnya, tangan kanan Dannis oppa justru menarikku dan memaksaku berdiri hingga aku tidak memiliki kesempatan lagi untuk menghindar.


            “Sejak kapan Anna?”


            Dannis oppa tampak terkejut dengan kehamilanku. Semua duanianya seperti hanya teralih padaku seorang, dan ia tidak peduli pada tatapan orang-orang yang mulai terasa mengganggu karena eskpresinya yang berlebihan.


            “Sudah cukup lama, apa yang kau lakukan di sini?”


            “Tidak ada, bukan sesuatu yang penting sebenarnya. Siapa yang melakukannya An?”


            Sejujurnya aku mulai risih dan ingin mengusir pergi Dannis oppa dari sini. Ia membuatku merasa tidak nyaman dengan tatapannya, lalu kata-katanya yang terdengar khawatir sekaligus mengasihani. Mungkin ia saat ini sedang menertawakanku karena aku telah mendapatkan karma dari semua


sikap burukku di masa lalu.


            “Ini sebuah kecelakaan oppa, saat itu aku sedang mabuk.”


            “Siapa? Apa itu kekasihmu?”


            “Bukan, bahkan kami tidak pernah dekat satu sama lain.” ucapku datar sambil melirik Junhyu yang masih tetap di posisinya, tidur sambil menutupi seluruh wajahnya dengan


hoodie. Kurasa aku ingin pulang sekarang, aku lelah dan aku mulai mual saat melihat tatapan semua orang yang seakan-akan sedang menghakimiku. Mereka tentu tidak bodoh dan bisa menilai jika aku masih berada di usia yang sama dengan mereka.


            “Anna... aku, maafkan aku...”


            “Tidak apa-apa oppa, jangan mengasihaniku.”


            “Hyung...”


            “Hae?”


            Aku menoleh bingung kearah dua pria yang saat ini sedang bertatapan satu sama lain. Namun kedua mata Junhyu ternyata tidak benar-benar melihat kearah Dannis oppa, tapi kearah jalinan tanganku dan Dannis oppa yang masih mengapung di udara karena Dannis oppa sempat berjabat tangan dan menariknya untuk berdiri.


            “Kalian saling mengenal?”


            “Dia temanku.”


           “Kau mengenalnya An?”


            “Anna adalah isteriku.”


            Junhyu dengan senang hati menjawab pertanyaan Dannis oppa untukku, lalu aku memutuskan untuk diam. Jadi ini yang dimaksud Junhyu dengan sebuah kejutan? Tapi aneh, ia sepertinya telah mengetahui semuanya. Hubunganku dan Dannis oppa di masa lalu mungkin sedikit membuatnya cemburu. Oh.. aku suka membuat orang lain cemburu, terutama bila itu Lee Junhyu, si pria dengan tipu muslihat berbahaya.