Sweeter Than Coffee

Sweeter Than Coffee
Twelve



Aku membuka mataku dan menemukan ranjang di sebelahku kosong. Junhyu telah pergi sejak pagi-pagi buta untuk mengurus beberapa pekerjaannya di Macau. Ia sempat mengguncangkan bahuku pelan untuk berpamitan sekitar pukul setengah lima, sebelumnya ia mengatakan jika pesawatnya akan lepas landas pukul setengah enam. Dan hari ini aku sedikit malas untuk melakukan apapun. Aku mendapatkan waktu libur beberapa hari dari guru-guru privateku karena aku mengeluh kelelahan pada Junhyu beberapa kali. Memang rasanya jauh lebih lelah daripada di awal kehamilan karena sekarang janin ini sudah tumbuh lebih besar. Bahkan ia kerap membuatku merintih kesakitan karena tendangannya di tengah malam, lalu Junhyu seperti memiliki alarm tersendiri saat hal itu terjadi. Dengan mata setengah terpejam ia akan mengulurkan telapak tangan hangatnya untuk menyentuh permukaan perutku, lalu ia akan mengelusnya perlahan hingga janin di dalam perutku kembali tenang dan berhenti menendang. Sejujurnya aku sedikit merasa kasihan padanya karena akhir-akhir ini kegiatan kuliah menyita cukup banyak waktunya, belum lagi masalah pekerjaan yang harus ia selesaikan. Aku terkadang tak habis pikir dengannya, bagaimana mungkin ia dapat bertahan dengan ritme kehidupan seperti itu? Bahkan aku sendiri merasa lelah tiap kali melihatnya sedang berkutat dengan buku-buku super tebal di atas meja.


            “Anna... apa kau sudah bangun nak?”


            Suara ibu membuatku panik dan membuatku secepat kilat melompat turun dari atas ranjang. Tentu saja aku tidak bisa membuat gerakan melompat seperti gadis-gadis dewasa pada umumnya, aku hanya sedikit mempercepat gerakanku agar aku tidak membuat ibu terlalu lama menunggu di depan pintu. Sungguh memalukan! Seorang wanita tidak seharusnya bangun di pukul sembilan seperti ini. Aku benar-benar lupa jika hari ini ibu tidak memiliki kegiatan bakti sosial seperti biasanya atau kegiatan khas wanita sosialita yang kerap membuatku kehilangan sosok ibu di rumah.


            “Maaf ibu, aku bangun terlalu siang.” ucapku malu dengan senyum bodoh pada ibu yang tampak maklum melihatku masih dengan piyama serta rambut yang terikat asal-asalan. Senyum meneduhkan ibu tiba-tiba membuatku teringat pada Junhyu. Kurasa mereka berdua sangat mirip, dan Junhyu memang sedikit sekali membawa gen dari ayahnya.


            “Kau pasti lelah, kandunganmu sudah sangat besar Anna. Ayah ingin sarapan bersama menantunya. Ibu bahkan heran, tidak biasanya pria itu pulang untuk sarapan bersama.” gerutu ibu di akhir kalimatnya. Aku berubah menjadi semakin gugup saat ibu membawa nama ayah dalam pembicaraannya. Ini adalah pengalaman pertamaku bertemu dengan ayah. Selama ini ayah memang jarang di rumah, dan lebih sering menghabiskan waktunya di luar rumah. Saat pernikahanpun, ayah hanya datang sebentar, setelah itu ia pergi begitu saja ke Eropa untuk mengurusi hal-hal yang tidak pernah kumengerti. Tanpa mengijinkanku untuk sekedar merapikan penampilanku, ibu segera menarikku untuk turun ke meja makan. Seketika tanganku berubah menjadi dingin selama aku berjalan menuju meja makan dengan ibu yang terus berceloteh di sebelahku. Suara ibu hanya terdengar seperti angin lalu yang tidak benar-benar kudengarkan karena saat ini aku terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri. Aku takut dengan ayah mertuaku, ia terlihat memiliki wajah yang begitu tegas dan keras hingga membuatku terkadang bergidik ngeri hanya dengan menatap sketsa wajahnya di ruang keluarga.


            “Ini dia menantumu, jangan menunjukan wajah galakmu di depannya Harrold, kau menakutinya...” ucap ibu setengah galak. Aku langsung menunjukan senyum kakuku di depan ayah mertuaku sambil membungkukan sedikit tubuhku sebagai bentuk rasa hormatku padanya. Ayah Junhyu kemudian memintaku untuk duduk di kursi di


sebelah kirinya yang masih kosong sambil mengulas senyum kecil yang berhasil membuat wajah galaknya berubah menjadi lebih manis. Jadi ayah mertuaku ini tidak sepenuhnya orang korea, ia memiliki darah jerman dari mendiang ibunya. Itulah sebabnya ayah Junhyu tidak memiliki mata sipit dan berkulit lebih pucat dari orang korea asli. Tapi menurutku ayah Junhyu sudah mendapatkan lebih banyak pengaruh budaya korea, sehingga ia tetap saja terlihat seperti orangkorea meskipun wajahnya tidak terlalu oriental.


            “Apa aku menakutimu? ini pertama kalinya kita duduk bersama untuk sarapan pagi meskipun harus tanpa Junhyu.”


            “Eee.. sedikit, tapi aku baik-baik saja. Ayah sangat sibuk dan jarang terlihat di rumah.” ucapku pelan. Aku masih belum terbiasa berada terlalu dekat dengan ayah Junhyu, karena ia masih cukup menakutkan bagiku. Tatapan ayah mertuaku tiba-tiba teralih kearah perutku yang cukup buncit di usia yang telah memasuki


bulan keenam. Kurasa ayah mertuaku cukup ingin tahu tentang kondisi calon cucunya.


            “Bagaimana kondisinya? Semuanya baik?”


            “Cukup baik ayah, lusa aku dan Junhyu akan pergi ke dokter untuk melakukan check-up rutin. Kami juga sudah bisa mengetahui jenis kelaminnya lusa.”


            “Itu sungguh berita yang baik, ayah sudah tidak sabar untuk melihat cucu ayah lahir beberapa bulan lagi. Terimakasih nak, kau memang yang terbaik.”


            Aku langsung beringsut malu saat ayah mertuaku mengelus puncak kepalaku dengan lembut. Orangtua Junhyu benar-benar hangat dan memiliki sisi melindungi yang selama ini selalu kudambakan dari kedua orangtuaku. Sayangnya mereka tidak pernah bisa memberikannya untukku selama ini dan membuatku harus mendapatkannya dari orang lain.


            “Makanlah Anna, apa morning sickness-mu masih mengganggu?” tanya ibu sambil mengangsurkan sepiring buah-buahan segar yang terlihat begitu menggiurkan untuk dimakan. Meskipun ibu jarang berada di rumah,


tapi ibu benar-benar memperhatikan pola makanku dengan baik. Aku memang tidak bisa langsung memakan makanan berat untuk sarapan selama mengandung janin ini. Buah-buahan harus selalu tersedia sebelum aku mulai menyantap menu sarapanku yang terdiri dari nasi dan juga masakan-masakan berkuah yang tidak mengandung terlalu banyak bumbu. Aku selalu mual tiap kali menghirup aroma bumbu yang terlalu kuat, sehingga bibi Jung selalu membuatkan menu makanan khusus untuk kumakan setiap hari. Tapi sejujurnya itu cukup membosankan, mereka terasa sangat hambar di mulutku.


            “Sudah tidak terlalu mengganggu, mungkin aku sudah terbiasa dengan sensasinya.”


            “Junhyu selalu bertanya pada ibu tentang kondisimu, ia sangat mengkhawatirkan kondisi lemahmu setiap kali morning sickness itu datang.”


            “Ahh itu... karena aku sering tiba-tiba berlari ke toilet dan membuatnya terkejut.”


ucapku malu. Bulan-bulan pertama adalah yang paling menyiksa. Di bulan itu aku selalu mendapatkan morning sickness parah hingga membuat seluruh energiku seperti tersedot habis dari tubuhku. Aku hanya akan terkulai lemas di bawah wastafel, lalu Junhyu yang akan menggendongku kembali ke ranjang sambil menatapku dengan tatapan khawatir dibalik kacamata tebalnya.


            “Jadi Junhyu selalu memperlakukanmu dengan baik?”


            “Sangat baik ayah, Junhyu tidak pernah berbuat buruk padaku.”


            Kurasabatinku saat ini sedang tertawa dengan jawabanku sendiri. Ingatanku pada tiga bulan pertama setelah aku hamil atau bulan-bulan selanjutnya setelah aku menikah dengan Junhyu, semua sikapnya selalu kuartikan sebagai sebuah kejahatan yang tak termaafkan. Bahkan sampai detik inipun aku masih belum mampu memaafkan sebagian masa laluku yang menyakitkan meskipun aku juga memiliki banyak kesalahan pada Junhyu.


            “Semenjak


kecelakaan, aku seperti tidak mengenalnya sebagai putraku, ia terlalu banyak


berubah.”


            “Junhyu menjadi lebih pendiam, ia memutuskan untuk menjadi pria biasa-biasa saja yang bersekolah hanya dengan mengandalkan beasiswa. Ia juga menolak menggunakan mobil-mobil miliknya yang tersusun rapi di garasi dan lebih memilih untuk menggunakan sepeda. Ibu bahkan sempat berpikir untuk membawanya ke psikolog karena ibu takut jika Junhyu mungkin masih memiliki trauma dengan kecelakaan itu.”


            “Tapisepertinya Junhyu tidak seperti itu.” ucapku menyangkal. Tentu saja aku meragukannya karena Junhyu sudah mengatakan padaku jika ia telah menerima semua masa lalunya sebagai bagian dari titik balik kehidupannya. Jika ia tidak mengalami kecelakaan itu, ia mungkin tidak akan sampai di tahap ini. Ia akan


            “Junhyu banyak berubah semenjak kecelakaan itu terjadi. Jika ia tidak mengurusi masalah perusahaan, ia akan menenggelamkan diri di perpustakaan selama berjam-jam, ia juga semakin tidak memikirkan penampilannya yang sangat acak-acakan selama bersekolah di Kirin. Beruntung ia bertemu denganmu karena setelah itu ia perlahan-lahan mulai kembali ke kehidupannya yang normal. Walaupun aku sangat menyayangkan tindakannya yang tak bermoral itu. Maafkan ayah karena telah gagal mendidik Junhyu.”


            Ada begitu banyak penyesalan yang ditunjukan oleh ayah selama menceritakan mengenai Junhyu. Meskipun ia jarang terlihat memperhatikan Junhyu seperti ibu, tapi ayah sepertinya banyak menyimpan perhatian yang begitu besar untuk Junhyu dan ia juga menyesal dengan kejadian yang menimpaku beberapa bulan yang lalu. Tidak apa-apa, sekarang aku juga sedang berusaha untuk berdamai dengan masa laluku. Aku tidak ingin kehidupanku dilingkupi oleh dendam yang memusingkan.


            “Semuanya sudah terjadi, tidak ada yang perlu disesali.”


            “Tapi ibu setuju dengan apa yang dikatakan oleh ayahmu, Junhyu mulai berubah setelah menikah denganmu. Jadi ibu sangat berterimakasih untuk itu.”


            “Kurasa ibu dan ayah berlebihan, aku merasa tidak melakukan apapun.” jawabku apa adanya. Penilaian mereka tentangku pasti akan berubah setelah mereka tahu jika selama ini aku sering menyakitinya di sekolah, aku sering berteriak di depannya, dan mengeluarkan kata-kata kasar yang sangat tidak pantas. Padahal Junhyu


selalu berjuang untuk mempertanggungjawabkan semua kesalahannya di masa lalu. Entahlah, terkadang aku merasa keterlaluan dengan perbuatanku sendiri, namun di sisi lain aku juga belum bisa berdamai dengan masa laluku. Kurasa aku membutuhkan waktu untuk berproses.


            “Setidaknya sekarang ia belajar untuk menjadi pria yang bertanggungjawab. Ibu menangis sepanjang malam setelah ia mengatakan jika telah menghamili seorang gadis. Saat itu ibu syok dan langsung menghubungi ayahmu, tapi reaksi ayahmu yang terdengar biasa-biasa saja justru membuat tangis ibu menjadi histeris. Ibu sangat takut jika Junhyu akan dituntut atas kesalahannya lalu kembali mendapatkan kesulitan seperti dulu.” cerita ibu berapi-api. Tangannya sampai bergoyang-goyang heboh, bahkan sesekali juga menggebrak meja saat menceritakan perasaan emosionalnya di masa lalu. Tapi dulu aku tidak pernah berpikir untuk melaporkan Junhyu,


alih-alih melaporkannya, aku lebih berpikir untuk menutupinya dari khalayak banyak. Aku tidak mau membuat kehebohan atas sesuatu yang sangat memalukan seperti itu. Jadi saat akhirnya Junhyu bersedia untuk bertanggungjawab dan membawa ibunya ke rumah, aku justru gemetar ketakutan karena mungkin saja ibu Junhyu akan memakiku habis-habisan. Tapi sepertinya kami berdua hanya saling ketakutan satu sama lain tanpa alasan yang jelas.


            “Itu bukan berarti aku biasa-biasa saja dan tidak marah pada Junhyu...” ayah menjeda kalimatnya untuk membasahi bibirnya dengan teh camomile hangat yang baru saja disajikan oleh pelayan. Aku yang melihat itu juga mengambil kesempatan yang sama dengan segera melahap habis sisa potongan buah di piringku untuk segera beralih pada menu sarapanku yang terlihat menggugah selera, kari ayam dengan nasi hangat yang masih mengepulkan uap tipis. “Aku hanya belum bisa berpikir serius saat itu. Aku sedang berada di rapat penting dengan beberapa pengusaha dan petinggi pemerintah, lalu kau menghubungiku untuk sebuah berita menghebohkan


yang aku sendiri saat itu masih merasa tak habis pikir pada Junhyu. Padahal selama ini aku selalu berpikir jika ia hanya seorang pria aneh yang telah kehilangan sebagian jiwanya karena kecelakaan itu, tapi ternyata tidak. Ia masih menyimpan jiwa mudanya yang bergelora di dalam sana.”


            “Jiwa muda? Dia seperti bom waktu.” komentarku dengan nada sedikit sinis. Kuharap ibu dan ayah tidak menyadari perubahan nada bicaraku karena aku masih belum bisa benar-benar berdamai dengan masa laluku. Namun jauh di lubuk hatiku yang paling dalam, aku sangat ingin melakukannya. Kurasa aku ini adalah tipe wanita pendendam yang sangat sulit memberikan maaf untuk orang lain.


           “Beberapa kali Junhyu memiliki teman wanita yang dekat dengannya, tapi mereka sudah tidak pernah muncul lagi setelah kecelakaan itu terjadi. Lalu Junhyu juga tidak berusaha untuk mencarinya, dan justru terus berpura-pura melakukan kebodohan dengan berpenampilan aneh dan terlihat seolah-olah ia berasal dari keluarga


kurang berada.”


            Aku cukup menghargai ibu yang sangat peduli pada penggunaan kata-katanya. Ibu selalu menggunakan kata-kata yang lebih halus untuk menyebutkan sesuatu yang sebenarnya memiliki makna kata yang buruk. Seperti keluarga miskin, ibu lebih suka menggunakan kata-kata kurang berada daripada mendiskripsikannya sebagai


keluarga miskin, yang jika itu didengar oleh orang lain, mungkin dapat menyinggung beberapa pihak. Jadi... berada di keluarga ini memang luar biasa, mereka semua sangat baik, dan aku merasa sedikit menyesal karena aku harus berada di keluarga ini bukan karena sebuah awal yang menyenangkan.


            “Aku bahkan berpikir jika Junhyu tidak mungkin dapat membuatku hamil awalnya. Dulu aku pernah meragukan kejantanannya.”


            Ibu dan ayah kompak menertawkan kata-kataku yang sebenarnya perlu banyak usaha untuk dapat mengeluarkannya ke permukaan. Tapi... sudahlah, itu memang sangat memalukan, dan sedikit tabu untuk dibicarakan di meja makan.


            “Kau sepertinya tidak benar-benar mengenal Junhyu nak..” komentar ayahku geli. Memang aku tidak pernah mengenal Junhyu, jadi jangan salahkan aku jika aku sampai berpikiran seperti itu. Jika aku mengenalnya, aku tidak akan mencari masalah dengannya, dan memilih untuk berlari sejauh-jauhnya dari kehidupan Junhyu yang penuh tipuan.


            “Junhyu dulunya adalah seorang penakluk wanita, hampir setiap hari kami dibuat kesal karena ada saja wanita yang datang sambil menangis. Ia selalu mematahkan hati wanita, tak peduli seberapa baik wanita itu padanya.”


            “Ahh.. dan ia juga bergabung dengan club motor.” tambah ayah dengan mimik wajah antara kesal dan jengah. Bisa kubayangkan bagaimana nakalnya Junhyu dulu sebagai pria normal yang kaya dan juga pintar. Lalu Tuhan mengambil seluruh anugerah yang ia miliki sebagai sebuah hukuman dari banyaknya dosa yang telah ia lakukan di masa lalu. Cukup masuk akal sebenarnya, dan mungkin aku hanya terlalu sial karena harus dipertemukan dengan seorang pendosa sepertinya di masa lalu.


            “Junhyu sebenarnya pintar, tapi ia terlalu banyak bergaul dengan orang-orang yang tidak benar. Setelah ia mengatakan telah menghamilimu, ibu tiba-tiba teringat pada kenakalannya di masa lalu.”


           “Aku sekarang mengerti bagaimana perasaan ibu. Jadi wajar jika ia dapat membuatku menjadi seperti ini?” tanyaku bodoh. Keduanya langsung terbahak lagi bersama-sama dengan ekspresi puas yang benar-benar menyebalkan. Tapi entah mengapa aku menyukainya. Ibu dan ayah adalah gambaran pasangan sempurna yang sangat kuidamkan sejak aku menyadari betapa jahatnya orangtuaku. Seharusnya sebagai seorang anak aku tidak boleh menjatuhkan penilaian sepihak pada orangtuaku disaat aku tidak mengetahui apapun yang terjadi di belakangnya. Tapi... terlalu sulit untuk menerima semuanya, menerima jika orangtuaku sangat tidak peduli padaku. Lebih tepatnya mereka hanya sedikit meletakan perhatiannya padaku, dan sisanya mereka menyerahkanku pada orang lain untuk mendidikku.


            “Meskipun kau menjadi bagian dari keluarga kami dengan cara yang sedikit tidak menyenangkan, tapi kami benar-benar senang kau berada di tengah-tengah kami.” ucap ibu tiba-tiba setelah ia berhasil menghentikan tawa sumbangnya yang terdengar seperti mengolok-olokku. Apakah suasana di meja makan ini akan


berubah menjadi melankolis dan penuh drama? Oh... ibu, aku tidak bisa melihatnya dengan mimik wajah seperti itu. Ibu terlalu menghayati suasana kekeluargaan yang begitu hangat di meja makan ini sambil memelukku erat. Dan baru kusadari jika ibu sampai harus memutari meja untuk membawaku kedalam pelukannya yang hangat. Ohh.. bolehkah aku menangis lagi? Ini sungguh sesuatu yang mengerikan karena semua ini hanya membuat air mataku kembali meluncur bebas setelah ada begitu banyak tawa yang kudengar pagi ini.


            “Ayah juga tidak pernah menyesali perbuatan yang dilakukan Junhyu, itu membawa banyak kebahagiaan di rumah ini. Teruslah sehat, dan kau akan menjadi seorang ibu dari anak-anak yang menakjubkan nantinya.”


            “Terimakasih ayah.” jawabku serak. Aku sudah tidak tahu lagi bagaimana cara mengatasi luapan emosi yang terasa begitu menggebu-gebu di dalam hatiku. Mereka berdua pagi ini berhasil mendobrak pertahanan hatiku yang akhir-akhir ini terasa semakin lemah dan lemah semenjak aku mengubah statusku menjadi nyonya muda di sini. Mungkin jika Junhyu juga berada di sini, ia hanya akan mengolok-olok sikap cengengku dari kejauhan sambil menunjukan ekspresi acuh tak acuhnya yang selalu berhasil membuatku ingin mengumpatinya.