Sweeter Than Coffee

Sweeter Than Coffee
Five



Tiga bulan berlalu sejak insiden mengerikan itu, aku merasa tubuhku tidak berangsur-angsur membaik, justru aku merasa semakin lemah akhir-akhir ini. Terkadang aku juga kehilangan selera untuk melakukan ini itu, dan hanya ingin berbaring seharian di rumah. Siang inipun aku juga merasa malas untuk beranjak dari kursi busaku yang nyaman ini. Padahal semua teman-temanku telah pulang sejak tiga puluh menit yang lalu, tapi aku masih betah berlama-lama di dalam kelas sambil meletakan kepalaku di atas meja dengan lelah. Hingga detik ini aku tidak berani membuktikan hipotesaku mengenai kehamilan yang mungkin saja dapat terjadi padaku, padahal dua minggu yang lalu aku telah membeli test pack di apotek. Tapi benda-benda itu hanya teronggok begitu saja di dalam tasku tanpa berani kusentuh sedikitpun. Sedikit banyak hatiku mengatakan jika mungkin aku memang sedang mengandung benih dari pria cupu itu, namun logikaku terus berusaha untuk menyangkalnya. Bayangkan saja, apa yang akan dikatakan oleh seisi sekolah jika mereka tahu aku pernah disentuh oleh pria menjijikan itu. Mereka pasti akan menganggapku wanita murahan karena aku diam-diam ternyata pernah melakukan sesuatu yang tidak pantas untuk dilakukan.


            “Ikut aku.”


            Aku tersentak bangun saat tiba-tiba tanganku ditarik seseorang dan tubuhku yang cukup lemah ini diseret pergi keluar kelas. Sekuat tenaga aku berusaha meronta dari cekalan Lee Junhyu sialan yang entah akan membawaku kemana. Kondisi sekolah yang sangat sepi ini seketika membuatku takut pada pria cupu ini karena


bagaimanapun ia tidak terlihat selemah itu. Ia menyembunyikan sesuatu yang sangat mengerikan di dalam dirinya.


            “Lepas! Apa-apaan kau ini? Dasar idiot!” umpatku kesal. Kulihat ia hanya diam tanpa menunjukan ekspresi marah atau sakit hati saat aku mengumpatinya dengan kasar.


            “Coba ini sekarang, kau terlihat semakin aneh dari hari ke hari setelah kejadian itu.”


            “Apa ini? Aku tidak mau!”


            Aku langsung membuang benda putih yang kuyakini bernama test pack itu ke lantai tanpa ingin menyentuhnya sedikitpun. Bahkan jika aku mau, aku bisa melakukan test sejak dua minggu yang lalu. Tapi karena aku takut, aku selalu menghindari benda putih itu dan sama sekali tidak ingin melihatnya.


            “Kau harus mencobanya, mungkin saja kau hamil. Akhir-akhir ini kau semakin pucat, dan kau beberapa kali juga pingsan. Aku akan bertanggungjawab jika kau benar-benar hamil.”


            Aku langsung tertawa hambar, menertawakan kekonyolannya yang ingin mempertanggungjawabkan sesuatu yang tak mungkin terjadi padaku.


            “Hah, apa kau memang sefrustrasi itu karena tidak bisa mendapatkanku Lee Junhyu-ssi? Aku tahu aku cantik, kaya, dan populer, tapi kau benar-benar picik jika ingin mendapatkanku dengan cara kotor seperti itu!” teriakku murka. Lagi-lagi lonjakan emosi ini membuatku tidak bisa mengontrol kemarahanku. Sudah kubilang jika akhir-akhir ini emosiku sangat tidak stabil. Semua kemarahan ini terasa benar-benar memusingkanku karena aku tidak tahu bagaimana cara meredamnya. Terlebih lagi saat aku menatap wajah sendu Lee Junhyu yang sok polos itu, entah kenapa aku selalu ingin mengumpatinya dengan sangat kasar.


            “Maafkan aku Anna, tapi kali ini aku harus memaksamu untuk mencobanya.”


            “Aaaakkkhh...”


            Aku berteriak panik sambil meronta-ronta saat ia mendorongku masuk kedalam bilik kamar mandi, lalu ia mengunci pintunya dari luar hingga membuatku harus menahan sakit karena terus menggunakan kedua tanganku untuk menggedor-gedor pintu kayu yang sialan keras ini. Dan tak berapa lama sebuah benda putih jatuh dari atas langit-langit kamar mandi, kemudian disusul dengan teriakan Lee Junhyu sialan yang mengancamku tidak akan membukakan pintu itu hingga aku mencoba test pack pemberian darinya.


            “Keluarkan aku sialan!”


Brakk


           Aku menendang kasar pintu kayu itu hingga lantai yang kupijak tampak bergetar sesaat. Tiba-tiba air mataku tumpah begitu saja meratapi kesialanku yang harus berurusan dengan pria cupu itu. Padahal seharusnya aku yang membuatnya menderita, bukan sebaliknya seperti ini Ia pasti saat sedang tertawa terbahak-bahak di luar sana karena berhasil membuatku beringsut tak berdaya di atas kloset dengan keadaan yang sangat mengenaskan seperti ini.


            “Apa kau sudah mencobanya?”


            Aku hanya diam saat ia berteriak keras di depan pintu. Sambil mengacak rambutku kasar, aku segera mengambil benda putih yang dilemparkan Junhyu dari luar, lalu segera mencobanya sesuai dengan petunjuk yang tertulis di balik kemasan. Tidak ada pilihan lain selain menuruti kemauan pria itu. Jika aku terus mempertahankan egoku, aku justru akan tertangkap basah dengan sangat memalukan di sini bersama pria tak berguna itu. Lagipula aku yakin jika hasilnya pasti negatif. Aku tidak mungkin mengandung benih pria itu di rahimku.


            “Anna, jika kau tidak segera mencobanya, aku akan meninggalkanmu sendiri di sini.”


Dug


            “Buka pintunya idiot! Aku sudah mencobanya.”


            Kubereskan test pack itu dan segera menghambur keluar dari dalam bilik toilet saat pria cupu itu membuka pintu kayu untukku. Tanpa ingin melihat sedikitpun hasilnya, aku segera melemparkan benda putih itu tepat di depan wajahnya, lalu segera berlari keluar dari kamar mandi sambil mengusap air mataku kasar. Pria sialan itu benar-benar cari mati. Seenaknya saja ia memperlakukanku dengan kasar dan berani mengancamku dengan ancaman murahan seperti itu. Tidak! Aku tidak takut padanya. Aku akan meminta Jihoo oppa untuk menghajarnya seperti dulu. Tak peduli meskipun aku sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi dengan Jihoo oppa, tapi aku yakin jika ia tidak akan keberatan untuk membalaskan seluruh amarahku pada Lee Junhyu sialan itu.


            “Kau tidak ingin melihat hasilnya?”


            Aku tetap menelungkupkan kepalaku di atas meja saat pria sialan itu duduk di sebelahku, lalu bersuara dengan suara yang dibuat selembut mungkin. Huh, apakah ia mulai merasa bersalah setelah apa yang ia lakukan padaku tadi? Dasar pria sialan picik, aku tidak sudi lagi berbicara dengannya. Ia telah membuatku berakhir dengan sangat mengenaskan seperti ini. Bahkan semua sahabatku belum pernah membuatku menangis, namun pria sialan ini justru telah membuatku menangis berkali-kali.


            “Aku akan menikahimu.”


            Seketika aku mendongakan wajahku sambil menatap sengit kearahnya. Persetan dengan wajahku yang tampak tak beraturan dengan mata merah yang terlihat seperti hantu. Apa pria ini baru saja bermimpi untuk menikahiku? Ck, jangan harap aku mau menerimanya!


            “Kau pikir kau siapa, jangan pernah bermimpi untuk memilikiku!” makiku kesal. Kulihat ia tampak berusaha untuk mengontrol emosinya sambil meletakan test packputih yang sebelumnya kulemparkan tepat di wajahnya. Aku melihat dua garis merah tercetak jelas di permukaan test pack itu. Dan Lee Junhyu yang mengetahui jika aku masih berada dalam mode syok mulai mencoba untuk menjelaskannya perlahan-lahan padaku.


            “Kau hamil Anna, dan itu karena perbuatanku. Maaf.”


            “Tidak! Itu tidak mungkin! Aakkhh kau pria cupu sialan!”


Tak


            Aku menghempas test pack itu menjauh hingga terlempar jauh ke ujung pintu. Di sampingku Lee Junhyu masih berusaha untuk bersabar sambil mencoba untuk mengelus punggungku. Namun aku langsung memukul dadanya keras hingga ia sedikit tersentak ke belakang dan punggungnya menabrak pinggiran meja yang keras.


            “Sebesar apapun kemarahanmu, itu tidak akann menghapus fakta yang ada Anna. Kau nyatanya sedang mengandung anakku.”


            “Pergi! Pergi dari sini sekarang juga! Jangan sentuh aku!”


            Aku berteriak histeris seperti orang gila sambil menutupi telingaku dengan kedua


tanganku. Aku tidak mau mendengar apapun yang dilontarkan dari bibir pria sialan itu. Meskipun apa yang dikatakan oleh pria itu benar, jika kemarahan ini tidak akan pernah bisa mengaburkan fakta yang ada jika aku saat ini sedang mengandung janin pria brengsek itu. Kini semuanya tampak begitu kacau untukku. Bayang-bayang kehancuran mulai terpampang jelas di depan mataku. Setelah ini aku tidak tahu lagi bagaimana orang-orang akan memandangku. Jelas mereka akan merendahkan harga diriku dan mulai menginjak-injakku satu persatu. Dan orangtuaku, mereka pasti akan sangat kecewa padaku karena aku telah mencoret nama baik mereka dengan sangat memalukan.


            “Minggir, jangan halangi jalanku!”


            Aku segera menyambar tasku dan bergegas untuk pulang ke rumah agar aku dapat mendinginkan kepalaku yang hampir meledak ini. Padahal minggu depan aku memiliki jadwal ujian kenaikan kelas yang seharusnya segera kupersiapkan dengan baik mulai dari sekarang. Namun aku tidak yakin dapat tetap fokus pada ujian


itu jika kenyataannya aku sedang menghadapi ujian yang sesungguhnya karena pria cupu sialan itu.


            “Aku akan bertanggungjawab, jadi jangan coba-coba bertindak bodoh!”


            Tanpa mempedulikan suaranya yang berteriak keras di belakangku, aku segera masuk kedalam mobil dan menginjak pedal gasnya kuat-kuat untuk pergi dari tempat terkutuk itu. Meskipun sebenarnya kehamilan di usia-usia remaja sepertiku bukanlah hal baru lagi, tapi aku tetap merasa hina setelah mengetahui semua fakta mengejutkan itu. Ditambah lagi selama ini aku selalu memiliki reputasi yang baik di sekolah. Kehamilan ini jelas hanya akan memperburuk kehidupanku yang sebelumnya telah terlanjur buruk karena aku tidak pernah hidup seperti yang dialami oleh kebanyakan anak-anak seusiaku. Aku ingin ibuku saat ini juga. Aku ingin menangis di dalam pelukannya, lalu meminta maaf yang sebesar-besarnya untuk segala kesalahanku yang sangat fatal hingga detik ini.


Ciiiitt


Tiinn tiinn


            Kurasakan tubuhku terhempas ke belakang dan menabrak sandaran kursi mobilku dengan keras saat aku tak sengaja hampir menabrak sebuah mobil di depanku, karena lampu lalu lintas baru saja berubah merah. Untung saja aku tidak sampai mecelakai diriku sendiri. Sungguh sangat tolol jika sampai aku mengorbankan nyawaku sendiri hanya karena masalah pelik yang ditimbulkan oleh si idiot itu.


Dug dug dug


            “Im Anna, bukan pintunya. Im Anna! Aku akan mengantarmu pulang.”


            Untuk apa pria sialan itu ada di sini? Apa ia baru saja membuntutiku? Bahkan dengan tak tahu malunya ia terus menggedor-nggedor kaca hitam mobilku dengan sangat berisik hingga perhatian semua orang kini teralih padaku. Dasar pengganggu,


minggir!


            Saat lampu berubah hijau, aku segera menginjak pedal gasku kuat-kuat dan membuatnya jatuh terduduk di atas aspal dengan berbagai macam tawa yang diberikan para pejalan kaki untuknya. Rasakan kau Lee Junhyu! Dan aku akan semakin membuat hidupmu menderita mulai detik ini.


            Aku menunggu dengan gelisah di depan ruang pemeriksaan dokter sambil menjalin tanganku erat untuk meredakan kegugupanku. Seminggu ini aku benar-benar dilanda frustrasi parah akibat semua masalah yang menimpaku saat ini. Setelah aku mencoba test pack pemberian Junhyu, aku juga memutuskan untuk mencoba lima test pack yang kubeli di rumah. Aku masih tidak percaya sebenarnya dengan hasil test pack yang diberikan Junhyu. Tapi sayangnya saat aku mencoba kelima test pack itu, hasil serupa juga terlihat di masing-masing layar test pack milikku. Aku positif mengandung benih pria cupu sialan itu. Ya Tuhan, rasanya aku tidak ingin hidup lagi sekarang. Aku ingin menenggelamkan diriku ke dasar samudera, lalu tidur dengan tenang di sana tanpa ada satupun yang akan mengganggu kehidupanku.


            “Nona Im Anna...”


            “Saya...”


            Aku segerea berdiri saat perawat itu memanggilku sambil memberikanku senyum lembut. Ia pasti sedang berusaha meredakan kegugupanku karena ini adalah kali pertama aku datang ke klinik bersalin ini. Sudah kuputaskan dengan matang jika aku akan menggugurkan kandunganku di sini. Selama seminggu ini aku terus mencari refrensi dokter kandungan yang membuka praktik untuk aborsi juga. Dan syukurlah aku menemukan klinik ini di daerah Hongdae. Kulihat sejak tadi banyak ibu-ibu muda yang datang untuk menggugurkan kandungan atau sekedar memeriksakan kandungannya di sini. Tapi tentu saja, sejak tadi hanya aku pasien paling muda yang duduk sendirian di lorong yang terasa mencekam ini. Bahkan ada satu orang wanita yang kuperkirakan masih duduk di bangku kuliah, ia datang ke sini bersama kekasihnya. Setidaknya pria itu masih memiliki rasa tanggungjawab dengan mengantarkan kekasihnya ke klinik untuk melakukan aborsi. Sedangkan si cupu itu? huh, aku tidak akan berharap banyak padanya. Bahkan untuk mengurus diri sendiri saja ia tidak bisa, bagaimana mungkin ia akan mengantarku ke klinik ini untuk mempertanggungjawabkan perbuatan bejatnya itu.


            “Selamat pagi nona Im, ada yang bisa saya bantu?”


            “Aku ingin menggugurkan kandunganku.” jawabku datar. Aku seperti sudah tak berselera lagi untuk melakukan apapun, dan hanya ingin semua ini cepat berakhir. Harapanku, aku dapat segera pulang dengan beban berat yang sudah terlepas di pundakku. Aku tidak mau lagi dihantui bayang-bayang mengerikan soal anak dan masa depanku yang akan segera hancur. Apalagi akhir-akhir ini aku selalu bermimpi mengenai ayah ibuku yang marah besar setelah mengetahui berita kehamilanku ini. Aku tidak mau itu benar-benar terjadi di kehidupan nyata.


            “Sudah berapa bulan usia kandungan anda?”


            “Aku tidak tahu.”


            Mungkin saat ini usianya sudah menginjak tiga bulan, aku tidak yakin. Tapi kurasa ia memang telah tumbuh di dalam sana sejak malam promnight itu. Sampai detik ini rasanya aku masih tidak percaya jika pria cupu yang terlihat aneh seperti Lee Junhyu, mampu membuat seorang wanita populer sepertiku mengandung hanya dalam sekali berhubungan? Huh, apakah ini sebuah kebetulan? Tapi jelas-jelas ini sangat mengerikan. Mungkin ia memiliki gen yang sangat subur hingga mampu menghamili wanita dalam sekali berhubungan. Ya Tuhan, sejujurnya aku tidak mau memikirkan ini, tapi terkadang pikiran laknat itu meracuni otakku. Mungkin jika ia tidak berpenampilan aneh dan sering menjadi bulan-bulanan Jihoo oppa dan teman-temannya, ia akan menjadi pria yang cukup populer di kalangan siswa-siswi Kirin. Tapi sayangnya ia memiliki penampilan aneh yang selalu membuat seluruh wanita memilih untuk menghindarinya daripada mengenalnya.


            “Silahkan berbaring, aku akan mengecek kandungan anda.”


            Aku berbaring dengan gugup di atas ranjang pemeriksaan sambil merasakan rasa dingin menyejukan dari gel yang dioleskan dokter itu di atas permukaan kulitku. Ini adalah pengalaman pertama yang cukup menyiksaku karena entah kenapa aku tiba-tiba ingin menangis. Dulu aku selalu berpikir jika aku akan didampingi oleh ibuku


saat aku menjalani masa-masa kehamilanku. Tapi nyatanya, aku mengalami masa-masa ini lebih awal dari perkiraanku. Disaat aku masih sangat kekanakan dan masih senang memainkan perasaan orang lain, aku justru harus mendapatkan musibah yang sangat mengerikan seperti ini.


            “Lihatlah, janinmu tumbuh dengan sangat sehat. Kau memiliki struktur rahim yang kuat, padahal biasanya remaja seusiamu memiliki struktur rahim yang masih lemah karena mereka belum siap untuk menerima seorang janin di rahim mereka.”


            “Tapi aku tidak menginginkannya, aku ingin menggugurkannya.”


            Meskipun ada sedikit rasa sedih saat aku mengatakan hal itu, tapi aku juga tidak bisa mempertahankannya tetap di sana. Aku belum siap untuk menjadi seorang ibu diusia yang masih sangat muda seperti ini. Jadi tolong maafkan aku Tuhan karena telah melakukan dosa yang sangat besar ini.


            Biarkan aku masuk! Atau aku akan melaporkanmu pada polisi jika sesuatu yang buruk terjadi pada wanita di dalam sana!


           “Apa itu?”


            Samar-samar aku mendengar suara ribut di luar ruang pemeriksaan. Dokter yang memeriksaku langsung meminta ijin untuk pergi ke luar karena sepertinya sesuatu yang buruk sedang terjadi. Namun sebelum dokter itu benar-benar keluar, pintu ruang pemeriksaan terbuka lebar, dan memuculkan sosok Lee Junhyu yang sedang


menatapku dengan tatapan marah sambil mencoba mengatur deru napasnya yang terengah-engah.


            “Hal bodoh macam apa yang akan kau lakukan Im Anna? Kau akan membunuh anakmu sendiri?” tanyanya emosi. Tapi aku memilih untuk memalingkan wajahku ke arah samping, dan melihat layar monitor yang menampilkan janin kecil yang sedang berkembang di rahimku. Sejujurnya aku juga tidak mau melakukan ini. Aku akan memiliki cap sebagai pembunuh seumur hidupku karena akan melenyapkan janin kecil yang tak berdosa itu. Tapi aku harus bagaimana? Aku belum siap untuk merawatnya! Aku justru akan menjadi ibu yang paling buruk di dunia karena telah melahirkan di saat yang tidak tepat.


            “Jangan lakukan hal bodoh itu, aku akan bertanggungjawab.”


            “Jadi kau adalah ayah dari janin ini?”


            “Ya, aku yang telah menghamilinya. Jika kau berani menggugurkan kandungannya, aku akan langsung menuntutmu.”


            Pria ini.... aku tidak tahu apa yang sebenarnya ada di dalam otaknya, mengapa ia begitu berani untuk mengambil resiko yang begitu besar seperti itu? Menjadi orangtua di usia yang masih sangat muda seperti ini? Kurasa aku tidak sanggup. Tapi ia begitu bersungguh-sungguh dengan ucapannya. Apa aku harus mengikuti


keinginannya?


            “Sejauh ini janinya baik, usia kandungannya sudah memasuki bulan ke tiga. Apa kau juga merasakan mual?” tanya dokter itu mendadak semakin ramah padaku. Padahal sebelumnya ia tidak seramah itu. Haha, ia pasti takut dengan gertakan Junhyu. Ck, ia pasti takut Junhyu akan melaporkan klinik ilegalnya ini pada polisi. Tapi itu bagus, sekarang ia tidak akan semena-mena lagi padaku.


            “Lumayan, aku mengalami morning sickness sekarang. Apa yang harus kulakukan?”


            “Aku akan memberikan obat anti mual dan beberapa vitamin. Lebih baik kau dengarkan kekasihmu ini, jangan menggugurkan kandunganmu.”


            “Hmm... ya, aku tidak akan melakukannya.”


            Aku tidak akan melakukannya, tapi aku akan membuat janin ini mati dengan sendirinya. Percuma saja jika aku ingin tetap menggugurkan janin ini jika pada kenyataannya Lee Junhyu cupu itu akan melakukan berbagai macam cara untuk mencegahnya. Jadi selagi ia lengah, aku akan mencoba membunuh janin ini perlahan-lahan.


            “Apa kau mengikutiku?” tanyaku dingin tanpa menatap kearahnya. Kudengar ia menghela napas pelan di sebelahku sambil mengepalkan tangannya di atas meja milik dokter kandungan itu. Mungkin ia masih marah dengan tindakan gegabahku hari ini. Tapi aku juga berhak marah padanya karena ia telah memata-mataiku hingga sejauh ini.


            “Aku terus mengawasimu sejak hari itu. Aku sudah memperkirakan jika hal ini akan terjadi.”


            Tanpa sadar aku telah *** ujung dressku kuat-kuat untuk menyalurkan seluruh amarahku padanya. Jika ia memang telah memperkirakannya kenapa ia tidak memilih untuk menjauh saja malam itu. Ia justru sok bertingkah menjadi pahlawan untuk menhentikan aksiku menghabiskan dua botol soju. Lihatlah akibat dari


perbuatannya sekarang, ia telah menciptakan seorang janin di dalam rahimku. Dasar pria sialan!


            “Jangan lupa meminum obat dan vitamin yang kuberikan, sampai bertemu lagi bulan depan.”


            Setelah dokter itu memberikan selembar resep yang harus kutebus di apotek, ia mempersilahkanku untuk keluar sambil mengisyaratkan asistennya untuk membukakan pintu.


            “Dimana kunci mobilmu?”


            “Apa yang akan kau lakukan?”


            “Mengantarmu pulang dengan selamat.”


            “Aku bisa pulang sendiri.” jawabku ketus. Mau apa lagi pria sialan ini? Apa ia lagi-lagi akan bersikap sok pahwalan di hadapanku? Oh ayolah, aku sudah muak melihat wajahnya hari ini. Dan aku juga sudah terlalu lelah untuk berdebat dengannya. Kepalaku tiba-tiba saja pusing saat melihat mata sok polos yang tersembunyi dibalik kacamata tebalnya itu.


            “Aku tidak mau mengambil resiko kau melakukan hal-hal bodoh seperti hari ini lagi.”


            “Sudah kubilang aku bisa pulang sendiri, jangan ganggu aku!” ucapku kasar sambil mendorong pundaknya. Namun kali ini doronganku tak berakibat apapun padanya. Ia justru semakin gencar untuk mengejar langkah kakiku yang lebar-lebar, lalu ia segera merampas kunci mobilku saat aku sedang lengah dan sedikit merasakan pusing karena terlalu banyak emosi yang kurasakan hari ini.


            “Apa kau baik-baik saja?”


            Entah bagaimana Lee Junhyu telah berada di belakangku sambil menahan pinggangku agar aku tidak terjatuh. Perhatiannya itu seketika membuatku jijik dan langsung mendorongnya mundur agar ia tidak menyentuhku lagi.


            “Jangan pernah menyentuhku.”


            “Kau akan jatuh Anna, sadarlah jika aku melakukan ini untuk kebaikanmu.” balasnya dingin. Bagus, sekarang ia mulai berani padaku. Dasar pria cupu sialan! Aku tahu sekarang, selama ini ia hanya berpura-pura menjadi pria lemah tak berdaya demi menutupi sifat bejatnya itu. Dan sialnya aku yang justru menjadi korban dari kebejatannya selama ini.


            “Masuklah, aku akan mengantarmu pulang.”


            Dengan terpaksa aku segera masuk kedalam mobil tanpa memberikan perlawanan apapun padanya. Jelas aku akan kalah jika mencoba untuk mendebatnya sekali lagi karena kondisiku sedang tak memungkinkan. Aku lalu memilih untuk memejamkan mataku selagi Lee Junhyu menjalankan mobilku dengan tenang di sampingku. Semoga saja saat aku membuka mata nanti, aku hanya akan menemukan ini sebagai mimpi. Semoga semua ini tidak pernah nyata, dan aku akan kembali pada kehidupan normalku yang menyenangkan.