Sweeter Than Coffee

Sweeter Than Coffee
Eighteen



    Lalu tidak ada satupun yang berubah dari kami hari itu. Junhyu membawaku untuk melakukan foto maternity, lalu kami berdua berciuman dengan lampu blitz yang menghujani kami selama kira-kira tiga puluh detik. Dan saat lampu blitz itu hilang, Junhyu tiba-tiba melepaskan tubuhku, menjauh mundur tanpa mempedulikan aku yang merasa kehilangan kehangatan tubuhnya. “Itu tadi akan menjadi foto yang menakjubkan. Kenangan kita berdua.” Ia mengatakan hal itu dengan kekehan manis tanpa mempedulikan tatapan kecewa yang terpancar di wajahku. Jadi ia pikir semua itu hanya bagian dari skenario? Ia pikir semua itu hanya akan menjadi foto? Sialan! aku membencimu Lee Junhyu! Padahal aku telah mengumpulkan seluruh keberanian yang kumiliki, harga diri, dan segalanya yang dibutuhkan untuk mengatakan padanya jika aku mencintaimu, aku mencintai pria cupu itu dengan seluruh perasaan yang kumiliki. Sungguh saat itu aku ingin menangis di studio foto. Kedua mataku telah berkaca-kaca, siap menumpahkan cairan bening yang tercipta dari perasaanku yang merasa sakit ini. Tapi untung saja setelah itu Junhyu tidak memperhatikanku, maksudnya ia telah pergi meninggalkanku untuk berdiskusi dengan sang fotografer


dan melihat gambar-gambar yang berhasil diabadikan dengan baik. Dan setelah itu aku hanya bersandiwara di hadapan Junhyu, berpura-pura jika aku bahagia dan menyukai kejutan yang ia siapkan untukku, tapi sebenarnya hatiku berdarah. Aku baru saja diabaikan oleh seorang pria, padahal... ah sudahlah. Aku tahu jika semua ini adalah karma. Seperti yang dikatakan oleh Dannis oppa, aku tidak bisa terus menerus hidup dengan mempermainkan pria, sesekali aku harus merasakan hidup dengan orang lain yang mempermainkan hatiku. Jadi sisa hari itu aku dan Junhyu tidak melakukan hal-hal yang berarti. Maksudnya tidak ada pembicaraan mengenai perasaan seperti biasanya. Kami berjalan-jalan mencari perlengkapan bayi di toko-toko elite khas Junhyu. Katanya ia ingin memberikan yang terbaik untuk putranya. Tapi aku kemudian


menggerutu dalam hati, ia hanya memikirkan putranya tapi tidak dengan ibunya. Hey, anak ini tidak akan pernah ada jika aku tidak berusaha untuk berdamai dengan semuanya, harga diri, masa depan, dan hatiku. Aku yang telah memperjuangkan kehidupannya, ia hanya tokoh penggembira yang kebetulan berhasil mendapatkan hatiku. Argghhh! aku ingin membencimu Lee Junhyu, tapi hatiku lebih mencintaimu. Itu menyebalkan!


            “Anna, bagaimana dengan soal matematika yang kau kerjakan?”


            Ya Tuhan, aku lupa jika aku sedang mengerjakan ujian matematika dari guru Shin. Dan demi Tuhan, sejak kapan pria itu berdiri di sana sambil melipat tangannya di depan dada? “Melamum lagi Anna? Apa kau mulai mengkhawatirkan hari persalinanmu?”


            “Tidak, aku baik-baik saja.” Daripada mengkhawatirkan hari kelahiran Leo, aku lebih mengkhawatirkan kehidupanku setelah ini. Junhyu! Aku takut kau akan membuangku setelah melahirkan Leo.


           “Setelah ini kau akan memiliki waktu libur selama satu tahun untuk Leo, jadi belajarlah dengan sungguh-sungguh.”


            “Jadi kau ingin aku menjadi babysitter-nya


juga?” protesku tak terima. Apa ia pikir aku ini adalah alat untuk melahirkan dan membesarkan anaknya?   “Sudahlah, fokus pada soal ujianmu, kita bicarakan hal ini nanti. Selamat siang guru Shin, tolong bimbing Anna dengan baik.”


            Ia kemudian pergi meninggalkanku dengan terlebihdulu membungkuk pada guru Shin tanpa melihat kearahku. Ya Tuhan Lee Junhyu mengabaikanku! Aku diabaikan oleh pria cupu itu.... sungguh sulit dipercaya. Dari hari ke hari pria itu semakin terlihat menyebalkan dengan gaya angkuhnya, atau mungkin itu hanya perasaanku


saja karena aku sedang dilanda kebimbangan dengan hatiku. Akhir-akhir ini aku sepertinya sangat jarang memikirkan janinku, aku tidak terlalu memikirkan bagaimana proses persalinannya nanti yang menurut dokter mungkin tidak akan mudah karena ukuran pinggulku kecil. Tapi aku telah berusaha untuk berbesar hati, maksudnya tidak apa-apa jika aku harus melahirkan dengan jalur operasi. Aku tidak bisa memaksakan kehendakku untuk melahirkan normal jika memang itu tidak bisa.


            “Guru Shin, aku telah menyelesaikan soal-soal ini, bolehkah aku pergi untuk beristirahat? Pinggulku terasa sakit.” ucapku beralasan. Sejujurnya aku hanya ingin pergi ke taman belakang, lalu melihat banyak tanaman-tanaman hijau yang ditanam oleh tukang kebun di sana. Tempat itu akhir-akhir ini selalu menjadi favoritku sejak aku dilanda stress yang berlebihan. Lagipula aku juga kesepian, ibu pergi untuk melakukan kegiatan amal dan beberapa urusan khas wanita sosialita di luar kota, lalu Junhyu juga pergi untuk menyelesaikan banyak urusannya yang tidak pernah ia bagi denganku. Ia adalah pria yang cukup tertutup sebenarnya, tidak terlalu banyak perubahan yang dilakukannya semenjak kami menikah, kecuali dengan sikap angkuhnya yang mulai terlihat perlahan-lahan setelah ia menceritakan kisah kelam hidupnya. Namun sebagian besar sikapnya masih sama seperti dulu, masih sama seperti saat ia menjadi pria cupu yang hanya diam. Junhyu adalah tipe pria yang lebih banyak bertindak daripada berbicara, jadi sedikit sulit untuk dapat memahaminya jika aku tidak


benar-benar melihat gerak geriknya.


            “Akhir-akhir ini kau selalu melamun, ada apa? Kau tidak ingin menceritakannya padaku?”


            “Tidak, itu bukan masalah penting yang harus kuceritakan.” balasku apa adanya.


Kurasakan ia duduk di sebelahku sambil menghembuskan napas berat. Lalu kami sama-sama terdiam sambil menatap lurus kearah pohon-pohon yang begitu cantik di depan sana. Keheningan ini sesungguhnya menggangguku. Jika Junhyu tidak ada di rumah, aku selalu menantikan kepulangannya dengan penuh antisipasi agar aku dapat memiliki waktu berbicara dengannya. Namun jika ia telah pulang, dan berada tepat di sebelahku, semua keinginan itu tiba-tiba saja menguap begitu saja tanpa jejak. Aku seperti kehilangan kata-kata untuk berbicara dengan Junhyu dan aku selalu digelayuti perasaan ragu-ragu untuk memulai semuanya.


            “Tentang ungkapan perasaanmu, kenapa kau sangat ingin aku membalasnya dengan kata-kata cinta yang sama seperti milikmu?”


            “Hidup ini tidak sesederhana itu Anna. Sebuah kata-kata yang kau ucapkan, harus mampu kau pertanggungjawabkan dengan sebaik-baiknya. Jika kau mengatakan kau mencintaiku, itu berarti kau harus memiliki komitmen kuat untuk hanya melihat kearahku, menyayangiku dengan tulus, dan tidak melakukan hal-hal yang menjadi sumber kemarahan untukku. Kata-kata cinta itu memiliki tanggungjawab yang begitu besar dan rumit, jadi apakah kau mampu berkomitmen untuk mempertanggungjawabkan peryataan cintamu?” tantangnya dengan intonasi tenang, namun sebenarnya saat ini ia sedang menekanku, memaksaku untuk mengabdi pada dirinya seumur hidup. Ck, kenapa ia harus memiliki pikiran serumit itu hanya untuk sebuah kata cinta? Seharusnya semua itu praktis akan bergerak sesuai dengan alur kehidupan yang telah kami jalani. Jika aku mengatakan aku mencintainya, tidak mungkin aku akan berpaling darinya. Idealismeku mengatakan jika hati ini sampai kapanpun tidak akan pernah berubah. Maksudnya dengan keadaanku yang seperti ini, apakah mungkin aku akan berpaling darinya? Apakah aku bisa?


            “Tentu saja aku bisa melakukannya, kau saja yang terlalu takut untuk memulai sebuah komitmen. Kau terlalu dibutakan oleh kemarahan masa lalumu padaku.” jawabku sakarstik. Kuakui itu sedikit berlebihan, tapi aku memang tiba-tiba sedikit tersulut emosi karena ucapannya. Dan ia sendiri sepertinya juga begitu. Terlihat dari perubahan wajahnya yang tampak mengeras, dan ia seketika memalingkan wajahnya kearah lain sambil membuang napas berat.


            “Kau belum benar-benar dewasa untuk memahami makna kehidupan yang sesungguhnya Anna, kau terlalu menjunjung tinggi idealisme dan apapun itu yang mendasarimu untuk bersikap kekanakan seperti ini. Bagiku, ungkapan cinta itu sama sekali tidak penting, sikap dan perbuatan itu jauh lebih penting dari apapun. Sekarang apa


artinya ungkapan cinta jika ternyata sikapku tidak menunjukan itu. Lebih baik aku menunjukan bentuk perhatianku padamu sebagai wujud rasa sayangku padamu, dan kau tidak perlu mempertanyakan seberapa besar rasa cintaku padamu, karena itu sama sekali tidak penting.”


            Dia marah... aku tahu ia marah karena percakapan kami soal perasaan yang ternyata tidak sepemikiran. Jadi ini adalah salah satu contoh kecil dari kehidupan rumah tangga yang sebenarnya. Aku dan pasanganku tidak berada di satu pemikiran yang sama, lalu tugas kami adalah untuk saling menghormati pendapat masing-masing pasangan kami agar tidak terjadi sebuah keributan. Tapi aku merasa emosi yang lebih dominan menguasai diriku. Aku tersulut api kemarahan yang diciptakan oleh Junhyu. Dan aku benar-benar tidak bisa mengontrol diriku sendiri untuk membalas kata-kata menyebalkannya padaku. Jadi pada akhirnya aku meledak marah di depannya, melemparkan sangkalanku mengenai penilaiannya yang terlalu menjustifikasi diriku. “Jangan karena usiamu lebih tua beberapa tahun dariku, kau menjadi merasa lebih dewasa dariku. Idealismeku, itu adalah apa yang kudapatkan


selama aku hidup, kau tidak bisa menyalahkan idealismeku jika kau tidak tahu apa-apa tentang diriku tuan Lee. Dan asal kau tahu saja, aku sudah cukup dewasa untuk berkomitmen dengan pilihanku sendiri. Bahkan untuk pernyataan cintaku padamu, itu telah kupikirkan matang-matang sejak lama. Apa kau pikir mudah mengatakan hal itu disaat semua kehidupan rumah tangga ini dimulai dengan sesuatu yang tidak baik. Jadi jangan pernah merasa jika dirimu benar, sedangkan aku salah hanya karena aku lebih bisa mengungkapkan perasaanku daripada dirimu. Tidak masalah jika kau belum bisa membalas perasaanku, aku akan memakluminya karena sebenarnya kau juga memiliki kebencian yang besar padaku. Cacat yang kau alami saat ini, itu adalah karena salahku. Aku yang menyebabkan kau hampir kehilangan masa depanmu, bahkan kehilangan nyawamu.” deru napasku langsung berubah pendek-pendek setelah aku berhasil menyelesaikan kalimat kemarahanku yang panjang pada Junhyu. Dan pria itu, ia kini ia hanya diam dengan segala ekspresi yang tidak bisa kubaca dengan jelas. Mungkin ia marah karena aku sempat menyebutnya cacat. Itu adalah sebuah kata-kata yang kasar. Namun ia yang memulainya lebih dulu. Ia yang pertama kali mengolok-ngolok idealismeku dan merasa paling benar karena kedewasaannya.


            “Aku memang pernah membencimu, tapi perasaan itu sudah lama hilang. Sejak aku menikahimu, kehidupanku perlahan-lahan berubah. Aku yang dulunya tidak memiliki semangat dan merasa jika hidup ini membosankan, perlahan-lahan mulai mendapatkan kembali semangatku. Sekarang aku hidup dengan tujuan yang lebih jelas, aku ingin membahagiakan keluarga kecilku. Aku ingin bertanggungjawab pada kehidupanku yang sebelumnya kacau. Dan aku ingin belajar untuk mengharga keberadaanmu di sini. Asal kau tahu Anna, semua hal yang kuberikan padamu, semua sikapku selama ini, aku mempelajarinya perlahan-lahan. Tidak mudah bagikuuntuk memahamimu sebagai seorang wanita hamil dengan berbagai macam permasalahan yang mengganggu, tapi aku mencoba untuk menjalankan fungsiku sebagai suami yang baik. Aku banyak membaca buku untuk memahami semua hal yang terjadi pada wanita hamil sepertimu. Bahkan di saat kau sudah terlelap, aku masih terjaga untuk membaca banyak hal yang selama ini tidak pernah kuketahui mengenai wanita hamil. Jadi jangan berpikir jika aku tidak mencintaimu atau tidak menyayangimu, semua yang kulakukan untukmu selama ini adalah bentuk rasa sayangku padamu, bentuk tanggungjawabku sebagai seorang suami, dan sebagai bentuk penebusan dosaku karena telah merusak masa depanmu. Sekarang terserah kau ingin menilaiku seperti apa, aku tidak peduli. Bahkan jika kau ingin menganggapku sebagai pria cupu paling brengsekpun, aku tidak peduli!” umpatnya marah hingga membuat beberapa pelayan menatap ngeri kearah kami. Setelah itu ia beranjak pergi begitu saja tanpa mengucapkan sepatah katapun padaku. Aura kemarahan yang pekat masih terlihat jelas di wajahnya, bahkan setelah ia meninggalkanku sendiri di taman belakang ini, aku masih dapat merasakan hawa panas yang menguar dari tubuhnya. Jadi beginilah Lee Junhyu yang marah, ia terlihat sangat mengerikan Dan kuakui, aku sangat takut. Perasaanku kini terasa campur aduk karena aku tidak tahu bagaimana cara menyelesaikan pertengkaran ini. Pada akhirnya aku memilih cara paling kekanakan untuk menghindari masalah ini, aku pulang ke rumahku.