Sweeter Than Coffee

Sweeter Than Coffee
Seven



“Mulai sekarang kau akan tinggal di sini.”


            “Aku ingin pulang!”


            “Ini adalah keputusan yang dibuat oleh orangtuamu dan orangtuaku Anna, jadi kau tidak bisa membantahnya. Ibumu minggu depan sudah harus kembali ke Australia, itu berarti kau akan sendirian lagi di rumah. Dan ibumu tidak ingin kau berjuang sendiri di tengah-tengah kehamilanmu saat ini, jadi ibumu ingin kau tinggal di sini bersamaku dan juga ibuku.”


           “Aku tidak mau, aku ingin pulang! Aku tidak mau berada di kamar yang sama denganmu.”


            “Kau tidak perlu khawatir Anna, aku tidak akan melakukan apapun padamu. Lagipula wanita hamil sudah tidak menarik lagi.”


            Sialan! Berani-beraninya pria itu menghinaku dan meninggalkanku begitu saja dengan seluruh kemarahan yang meledak-ledak di dalam diriku.


Brukk


            Aku menjatuhkan diriku dengan perasaan frustrasi di atas ranjang sambil menatap kearah langit-langit kamar Junhyu yang kosong. Apa yang akan kulakukan di sini bersama keluarga Junhyu? Mereka semua tidak pernah tahu dengan apa yang sebenarnya terjadi diantara aku dan Junhyu. Aku akan semakin tersiksa di sini


dengan semua sandiwara bodoh yang kulakukan demi menutupi kebohongan Junhyu di hadapan orangtuanya.


            “Kau boleh membenciku sesukamu, tapi jangan pernah membenci janin yang tidak pernah berdosa di dalam kandunganmu. Jangan lupa untuk meminum susumu, lalu beristirahatlah.”


            Setelah mengucapkan hal itu, ia segera menghilang dibalik pintu kamar, dan meninggalkanku sendiri dengan kesunyian yang begitu pekat di dalam kamarnya. Tapi baguslah, setidaknya ia cukup sadar diri untuk tidak berada di sini dan mengambil kesempatan setelah kami resmi menikah. Justru ia lebih baik pergi sejauh-jauhnya dari sini agar aku tidak perlu repot-repot untuk menatap wajah membosankannya itu.


Drrt drrt


            Aku akhirnya memutuskan untuk mengaktifkan ponselku setelah selama tiga hari ini aku memilih untuk menghindari semua teman-temanku. Persiapan pernikahan yang begitu melelahkan membuatku pusing hingga tidak ingin menambah beban pikiranku lagi dengan tugas-tugas di sekolah yang harus kuselesaikan. Pesan dari Tiffany, Jessica, dan Jihoo oppa menjadi pesan dengan jumlah terbanyak yang masuk di ponselku. Jihoo oppa ternyata menghubungiku karena ia ingin memintaku kembali menjadi kekasihnya. Sayangnya aku sudah tidak berminat lagi untuk menjadi kekasihnya karena aku sudah terlalu bosan dengan sikapnya yang sangat bar-bar seperti berandalan. Untuk saat ini aku tidak ingin terlibat hubungan dengan siapapun, dan hanya ingin menata hidupku perlahan-lahan. Lagipula bulan ini adalah bulan terakhir aku berada di Kirin High School karena bulan depan aku sudah tidak bisa lagi bersekolah di sana. Aku ingin mengukir sebanyak-banyaknya kenangan dengan teman-temanku di sana, lalu membuat sebuah sandiwara baru untuk menutupi kebejatan yang dilakukan oleh Lee Junhyu sialan itu.


-00-


            Pagi ini aku terbangun dengan perasaan aneh yang menggelitik perutku. Seseorang yang sedang tertidur pulas di sebelahku dengan napas hangatnya yang terlihat naik turun membuatku sadar jika semua yang terjadi padaku hingga detik ini bukanlah mimpi. Pernikahanku dengan Lee Junhyu adalah nyata, dan saat ini aku juga sedang mengandung anaknya yang terasa merepotkan untuk tubuhku.


Hueek


            Aku langsung membekap mulutku panik dan berlari tergesa-gesa menuju toilet hingga tanpa sengaja aku ikut menarik selimut yang sebelumnya membungkus tubuh pria cupu itu, lalu ia terbangun karena suara langkah kakiku yang sangat berisik.


            “Anna kau baik-baik saja?”


            Aku terus saja memuntahkan isi perutku yang terlihat seperti cairan bening sambil mengangkat tanganku tinggi-tinggi untuk mencegahnya agar tidak mendekat. Ia pasti akan jijik melihat keadaanku yang seperti ini karena aku sendiri saja selalu merasa jijik dengan isi perutku sendiri. Namun ia tetap saja melangkah mendekat kearahku, mengabaikan erangan tertahanku yang menahannya agar tidak melihat apa yang sedang terjadi padaku saat ini, lalu ia memijat tengkukku perlahan sambil membisikan kata-kata yang sialnya berhasil membuatku lebih rileks.


            “Keluarkan saja, itu bagus untuk perkembangan janinmu. Itu berarti ia sedang tumbuh dengan sehat di dalam sana.”


            “Ini sangat mengganggu, aku mengalami morning sickness sejak bulan kemarin.”


            Aku sedikit ngos-ngosan dan hampir merosot di bawah wastafel jika Junhyu tidak segera menahan bahuku, lalu mengelap sudut-sudut bibirku dengan handuk bersih yang tersedia di lemari wardrobe di sebelahnya. Kuakui ia sangat baik, bahkan ia juga tak terlihat jijik sedikitpun. Ia menungguku hingga aku benar-benar siap untuk dituntun kembali ke atas ranjang. Dan ia kemudian memberiku air jeruk lemon yang masih tersisa dari atas nakas.


            “Lebih baik kau istirahat dan tidak perlu pergi ke sekolah.”


            “Tidak, aku harus pergi ke sekolah untuk berpamitan dengan teman-temanku. Ini adalah minggu-minggu terakhir aku berada di Kirin.”


            “Kau sakit Anna, wajahmu pucat.”


            “Dan semua ini karena salahmu, aku tidak akan seperti ini jika kau tidak melakukan tindakan bejat itu!” semburku penuh emosi sambil memalingkan wajahku kearah kanan. Tidak ada respon yang berarti darinya setelah aku membentaknya dengan keras. Ia hanya beringsut turun dari atas ranjang, lalu berjalan dengan langkah gontai ke dalam kamar mandi untuk bersiap-siap ke sekolah. Ini sangat memuakan! Sampai kapan aku akan terjebak di dalam drama kehidupan sialan ini bersamanya? Bahkan semalam kami juga sempat bertengkar karena ia menolak permintaanku untuk tidur di sofa. Ia tetap memaksakan diri untuk tidur di ranjang bersamaku tanpa mempedulikan emosiku yang sudah meledak-ledak di depannya. Tapi pada akhirnya aku memilih untuk mengabaikannya, dan hanya tidur dengan damai karena aku merasa benar-benar lelah dengan semua kegiatan yang telah kulakukan hari ini. Dimulai dari bangun di pagi buta untuk mempersiapkan pemberkatan pernikahan, sampai di acara resepsi pernikahan yang hanya kudatangi sebentar. Untung saja semua tamu undangan memahami keadaanku yang begitu kelelahan ini, sehingga aku bisa pulang lebih cepat untuk menghindari orang-orang yang menganggap jika pernikahanku ini didasari oleh cinta.


            “Kau ingin ke sekolah kan? Kalau begitu bersiaplah, aku akan mengantarmu.”


            “Apa kau bilang? Aku tidak mau seisi sekolah tahu jika aku sudah menikah denganmu, jadi menjauhlah dariku untuk menghindari kecurigaan teman-teman.”


            “Aku akan menurunkanmu di dekat halte, mereka tidak akan tahu jika kita pergi bersama ke sekolah.”


            Sejenak aku merasa ragu dengan idenya, namun akhirnya aku memutuskan untuk menerima ide itu dan segera bersiap untuk pergi ke sekolah. Kurasa itu bukan sebuah ide buruk, dan aku hanya akan memberikan alasan jika mobilku sedang rusak, sehingga aku tidak datang ke kampus menggunakan mobil pribadi seperti biasanya.


-00-


            Saat aku tiba, seluruh sekolah tampak dihebohkan dengan kemunculan Junhyu yang tiba-tiba datang menggunakan sebuah mobil sport keluaran terbaru berwarna abu-abu gelap. Sudah kukatan jika Junhyu ternyata penipu. Ia tidak seperti yang terlihat selama ini. Ia bukanlah pria cupu miskin yang hanya bergantung dengan


beasiswa yang ia dapatkan di sini, tapi ia lebih dari itu. Jika ia mampu, ia bisa saja mengeluarkan Jihoo oppa dan teman-temannya, lalu membeli sekolah ini untuk dirinya sendiri. Tapi ia tidak melakukannya, ia justru memilih hidup sederhana dengan seluruh kemampuan yang ia miliki tanpa ingin merepotkan orangtuanya. Namun hari ini ia memilih untuk menunjukan semua yang ia miliki di hadapan seluruh siswa-siswi Kirin demi aku agar aku tidak pergi ke sekolah sendiri menggunakan kendaraan umum. Lee Junhyu akhirnya menunjukan jati dirinya setelah selama bertahun-tahun ia selalu bersembunyi dibalik kacamata tebalnya yang menggelikan itu.


            “Tidak kusangka jika ia sebenarnya seorang putra mahkota.” ucap Tiffany terheran-heran saat melihat Junhyu turun dari mobil mewahnya sambil membenarkan letak kacamatanya dengan kikuk. Bahkan akupun juga sepemikiran dengan Tiffany hingga pria itu menikahiku kemarin dan menunjukan semua kebenaran yang selama ini ia sembunyikan dari kami.


            “Ia mungkin hanya ingin mencari sedikit sensasi di minggu-minggu menjelang kelulusannya. Ayolah, meskipun ia hari ini datang menggunakan mobil mewah, tetap saja ia adalah siswa aneh yang pernah dimiliki oleh Kirin High School.”


            “Tapi Anna, mungkin ia tidak akan seaneh itu jika ia tidak menggunakan kacamata tebal dan rambut berponi yang hampir menutupi seluruh pandangannya. Jika saja ia melakukan sedikit perubahan pada penampilannya, ia pasti tidak akan kalah tampan dengan pria-pria populer di sekolah ini. Terlebih lagi ia juga seorang pria kaya, pasti akan ada banyak wanita yang berlomba-lomba untuk mendapatkan hatinya.”


            Cih, aku benar-benar tak habis pikir dengan pemikiran Tiffany yang sedangkal itu. Bagaimana mungkin penilaiannya pada Junhyu dapat berubah secepat itu hanya karena Junhyu datang ke sekolah menggunakan mobil mewah keluaran terbaru. Bahkan aku saja masih tetap muak setiap kali melihat wajahnya atau melihat sorot matanya yang selalu menebarkan teror yang mengerikan untukku.


            “Tidak akan ada yang berubah darinya meskipun ia mengganti penampilannya dengan lebih baik.” Bagiku Lee Junhyu tetap akan menjadi pria paling sialan dan yang paling brengsek sepanjang masa karena pernah melakukan sesuatu yang sangat buruk padaku.


            “Tidak Anna, kau harus melihatnya baik-baik, ia sebenarnya pria yang tampan jika tidak


menunjukan sikap anehnya selama di sekolah. Aah.. bukankah itu Jihoo oppa, apa yang akan ia lakukan pada Junhyu dengan seluruh teman-temannya seperti itu?”


            “Mungkin ia akan dipukuli lagi. Sudahlah, lebih baik kita segera masuk ke kelas karena aku belum mengerjakan tugas bahasa inggris yang diberikan minggu lalu.”


            Sedikit berat, aku menyeret langkah Tiffany menuju kelas agar tidak berkomentar terlalu banyak lagi tentang Lee Junhyu. Sungguh aku muak mendengar nama pria itu disebut berkali-kali oleh Tiffany, sedangkan saat di rumah aku juga harus terus berhadapan dengannya. Ibuku dan ayahku seperti telah membuat sebuah rencana untuk menjebakku. Mereka dengan sengaja memintaku untuk tinggal di rumah Junhyu agar ibu mertuaku dapat selalu mengawasi gerak gerikku selama kehamilan ini. Dan tentu saja ibu mertuaku dengan senang hati menampungku di rumahnya karena selama ini ia tidak pernah memiliki anak perempuan yang dapat ia ajak berbicara mengenai banyak hal. Katanya Lee Junhyu terlalu kaku dan juga acuh tak acuh bila ibu mertuaku mulai membahas masalah dunia para wanita di depannya. Tapi aku sendiri juga tidak heran dengan sikap Junhyu karena setelah mengenal ibu mertuaku lebih jauh, ia dapat menjadi sangat cerewet dan mengganggu bila ia sedang ingin membicarakan banyak hal.


-00-


            “Anna, bisa kita bicara sebentar?”


            Aku menatap dingin kearah Jihoo oppa yang tiba-tiba menghadang jalanku dengan Jessica saat kami hendak pulang. Pria itu tidak biasanya memiliki beberapa luka lebam di wajahnya, tapi aku memilih untuk tidak menanyakannya karena aku tidak ingin ia mengira jika aku masih peduli padanya. Sekarang kami berdua telah berjalan di jalan kami masing-masing, dan aku tahu jika ia pasti jauh lebih mudah untuk mencari wanita lain sebagai penggantiku.


            “Aku harus pulang sekarang, aku tidak memiliki waktu untuk berbicara denganmu.”


            “Sebentar saja Anna, aku ingin kau menjadi kekasihku lagi.”


            Apa-apaan pria ini? Ia pikir aku masih bersedia untuk menjadi kekasihnya setelaha apa yang ia lakukan padaku? Huh, tidak akan! Aku bukan wanita yang akan semudah itu luluh pada seorang pria sepertinya. Bahkan menurutku hubungan kami selama ini juga hanya hubungan formalitas semata. Aku tidak pernah menyukainya sedikitpun. Semua yang kulakukan selama ini adalah untuk mempertahankan pamor kepopuleranku di Kirin High School agar orang-orang semakin merasa segan padaku.


            “Aku tidak mau, aku sudah memiliki pria lain yang lebih baik darimu oppa.”


            “Siapa? Tidak ada pria yang lebih baik dariku di Kirin High School Anna. Pertimbangkanlah lagi jawabanmu, aku akan menunggumu hingga kau siap untuk kembali lagi padaku.”


            “Tidak oppa, sekali tidak tetap tidak. Aku bukan wanita yang bisa dengan mudah kau rayu dengan semua harta maupun ketampanan yang kau miliki, dan aku tidak pernah sedikitpun menyukaimu. Jadi lupakan saja hasrat bodohmu itu padaku, dan jangan pernah mengganggu hidupku lagi.”


            Tepat setelah aku menyelesaikan kalimatku, aku melihat Junhyu dari kejauhan juga


melihatku. Ia terlihat begitu berbeda dengan sorot mata tajamnya yang tersembunyi dibalik lensa tebalnya itu. Ia lalu memberiku isyarat agar aku segera pulang dan menunggunya di halte tadi, karena setelah itu ia langsung menghilang begitu saja dibalik gerbang sekolah yang menjulang tinggi di depan sana.


            “Kau tidak ingin pulang bersamaku?”


            “Tidak, supirku akan datang untuk menjemput. Pulanglah Sica, aku tidak apa-apa di sini.”


            “Baiklah. Tapi Anna...”


            “Apa tidak ada jalan lain selain pindah dari Kirin?”


            Jadi Jessica menangis karena berita kepindahanku hari ini? Oh ayolah, sejak tadi aku terus saja menghindari topik pembicaraan itu karena aku tidak ingin ikut terlarut dalam kesedihan yang diciptakan oleh teman-temanku. Rencana kepindahanku dari Kirin telah menyiksaku selama berminggu-minggu ini, lalu sekarang Jessica justru menyuguhkan sebuah air mata yang berhasil membuatku ikut berkaca-kaca juga di hadapannya. Sedikit banyak Jessica mengingatkanku pada Junhyu, kejadian malam itu, pernikahanku, dan janin yang saat ini sedang tumbuh dengan sehat di dalam rahimku. Sejujurnya aku sangat takut untuk menghadapi semua ini sendirian, tapi aku selalu memiliki keyakinan di dalam hatiku jika aku masih memiliki satu orang yang dapat kusalahkan untuk semua kesialan yang saat ini menimpaku.


            “Sudahlah, kita masih akan berteman meskipun aku tidak bersekolah lagi di sini.”


            “Kenapa tiba-tiba kau ingin pindah Anna? Apa kau sudah bosan dengan kami?”


            “Tidak, bukan seperti itu Sica, aku tidak akan pernah bosan dengan kalian. Hanya saja


aku memiliki masalah keluarga yang sangat kompleks dan tak bisa kuhindari.” ucapku sedih. Dan sebelum Jessica berubah menjadi semakin histeris, aku segera melepaskan pelukannya sambil tersenyum getir menyaksikan ia mengusap-usap sudut matanya berkali-kali.


            “Kita akan tetap menjadi teman meskipun aku tidak bersekolah lagi di sini, jangan khawatir.” imbuhku sebelum akhirnya aku berjalan gontai menuju halte bus, tempat tadi pagi aku diturunkan oleh pria cupu itu. Sepertinya sekarang keadaan justru berbalik menyerangku dan membuatku terlihat seperti tak berdaya di bawah kuasa si cupu itu. Bahkan sekarang aku tiba-tiba juga lebih menurut padanya dan tidak memberikan perlawanan seperti dulu.


            “Buka pintunya.”


            Bunyi klik pelan langsung terdengar setelah aku berteriak keras di samping mobilnya yang kedap suara itu. Untung ia masih mendengarkan suaraku, jika tidak, mungkin aku akan langsung menendang pintu mobilnya keras keras.


            “Dipukuli lagi?”


            “Ini sudah biasa.”


            “Hari ini kau berhasil menghebohkan seisi sekolah dengan kendaraanmu yang mewah ini, kenapa selama ini kau membuat semua orang berpikir jika kau adalah pria paling membosankan yang pernah bersekolah di Kirin High School?”


            “Aku hanya tidak ingin memamerkan harta kekayaan orangtuaku seperti yang lainnya. Aku ingin membuktikan pada semua orang jika aku bisa berdiri dengan kedua kakiku sendiri.”


            “Cih, sombong! Aku tahu kau sebenarnya hanya pria lemah yang lebih senang ditindas oleh orang lain daripada berdiri sebagai pemenang.” cibirku padanya gemas. Selalu emosiku ingin meledak setiap kali aku berbicara dengannya untuk membahas sesuatu yang sebenarnya sama sekali tidak penting. Mungkin ini juga berkaitan dengan hormon kehamilanku yang sering mengalami lonjakan dengan sangat menyebalkan. Dan sialnya kehidupan seperti ini akan terus kulalui bersama Junhyu hingga batas waktu yang tak bisa ditentukan.


            “Benarkah? Tapi bagaimana dengan sang ratu sekolah yang justru menikah dengan seorang pecundang sepertiku? Kedudukanmu berarti lebih rendah dari yang mereka pikirkann selama ini Anna.” ucapnya tanpa ekspresi sambil memandang lurus kearah jalanan padat yang kami lalui. Sial! Pria cupu ini benar-benar sangat tahu bagaimana caranya membalas kata-kata pedasku. Seharusnya aku tidak meremehkan kemampuannya dan sedikit berhati-hati padanya karena terkadang ia seperti seekor predator yang bergerak sangat halus untuk menerkam mangsanya yang sedang lengah.


            “Jihoo ingin kembali lagi padamu? Ia pasti tidak akan mengatakan hal itu jika ia tahu kau sedang mengandung anakku saat ini.”


            “Diam kau, jangan coba-coba mengolokku karena semua ini karena ulahmu pecundang!” makiku kesal. Hidupku benar-benar akan menjadi tidak jelas jika pria ini terus saja menggunakan mulut besarnya untuk mengolok-olokku. Ia seperti tengah berpesta pora untuk merayakan kemenangannya yang berhasil menjeratku ke dalam kehidupannya. Lihat saja Lee Junhyu, siapa yang nantinya akan bertekuk lutut, kau atau aku?


-00-


            “Ibu sangat menyukaimu, jadi tolong jangan kecewakan ibuku.”


            Saat mobil Junhyu berhenti di halaman rumahnya, ibu Junhyu langsung tersenyum cerah sambil berjalan tergesa-gesa menuju teras. Padahal aku sama sekali belum melangkahkan kakiku keluar dari mobil ini, namun ibu Junhyu seperti tidak ingin melewatkan saat-saat ini untuk menyambut kepulanganku. Tiba-tiba dadaku terasa sesak hanya karena memikirkan perilaku ibu Junhyu yang begitu menyentuh hati. Seumur hidup aku tidak pernah disambut dengan senyuman yang begitu tulus seperti itu. Alih-alih mendapatkan sambutan di rumah, aku selalu pulang dalam keadaan hampa dan kosong. Orangtuaku tidak pernah benar-benar mengurusku sejak kecil. Dulu aku hidup dengan nenekku dan juga bibi Jang, lalu ketika nenekku meninggal, bibi Jang memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya di Sokcho untuk menikmati masa tuanya yang tenang di sana. Dan setelah itu aku semakin kesepian karena tidak ada lagi orang-orang baik yang menyayangiku dengan tulus seperti nenek dan juga bibi Jang.


            “Turunlah Anna.”


            Aku terkesiap saat Junhyu mengetuk kaca di sampingku keras, lalu membuatku tersadar jika sejak tadi aku hanya terlarut dalam lamunan panjangku tanpa mempedulikan ibu Junhyu yang tampak terheran-heran di luar mobil. Mungkin ia berpikir jika menantunya ini sedikit gila karena tidak segera turun dari mobil, tapi justru membuang-buang waktunya dengan melamun seperti wanita bodoh.


            “Bagaimana sekolahmu hari ini nak, apa semuanya baik-baik saja?”


            “Kurasa baik-baik saja, ibu tidak perlu khawatir.”


            “Ck, kau dipukuli lagi?”


            Ibu kini beralih pada Junhyu sambil berdecak kesal. Sebenarnya aku sempat ingin menanyakan luka-luka itu pada Junhyu, tapi pria itu terlanjur bersikap menyebalkan, dan membuatku menjadi uring-uringan selama perjalanan pulang dari sekolah.


            “Ini sudah biasa, ibu aku pergi ke kamar dulu.”


            “Hmm... dasar anak itu, selalu saja pulang dengan wajah luka-luka. Anna, apa kau tahu siapa yang sering memukuli Junhyu di sekolah? ia tak pernah menceritakan sedikitpun pada ibu sejak dulu. Bahkan ia lebih baik berlutut di kaki ibu daripada ibu pergi ke sekolah dan melaporkan pengeroyokan itu pada kepala sekolah. Ia tidak pernah mau membuat teman-temannya yang jahat itu dalam masalah.”


            Seketika aku hanya meneguk ludahku gugup sambil menggeleng kaku pada ibu Junhyu. Tidak mungkin aku mengaku padanya jika selama ini aku juga turut andil dalam pemukulan yang dialami Junhyu. Bahkan aku selalu acuh tak acuh saat melihat Junhyu dipukuli meskipun aku dalam kapasitas untuk melaporkan para pengroyok itu pada guru kelas atau kepala sekolah.


            “Maaf ibu, aku tidak tahu. Kami tidak terlalu dekat sebenarnya, hanya beberapa kali bertemu di klub science.” bohongku lirih. Sepandai apapun aku bersandiwara, tetap saja hati kecilku meneriakan kekhawatiran. Aku baru saja membohongi ibu mertuaku yang sangat baik ini. Bahkan satu-satunya alasan aku tetap bertahan di sini dan menjadi isteri Lee Junhyu adalah karena ibu mertuaku yang seperti malaikat. Kebaikannya sudah kurasakan jauh sebelum aku menikah dengan putranya. Jika ia bukan ibu yang baik, ia pasti sudah mengumpatiku, mengataiku sebagai wanita murahan, dan mendorongku menjauh dari kehidupan putranya. Namun ia justru menarikku dengan lembut kedalam pelukannya ketika aku terpuruk, lalu membisikan kata-kata menenangkan yang berhasil membuatku yakin jika aku memang harus menikah dengan Junhyu demi kebaikan masa depan anak ini. Lagipula ibu mertuaku juga berjanji jika ia akan selalu ada untuk membantuku merawat anak ini jika ia sudah lahir nanti. Tentu saja sebagai seorang wanita muda tanpa pengalaman tentang kehamilan, aku selalu


dihantui dengan bagaimana nasib anak ini jika lahir nanti. Rasanya sangat menyedihkan karena anak ini harus terlahir dari seorang wanita muda yang tidak pernah melakukan apapun dan hanya gemar bersolek sambil menghambur-hamburkan harta orangtuanya yang sangat berlimpah. Tapi tentu saja ini bukan sepenuhnya salahku, tapi salah si cupu penyumbang benih yang dengan sialnya justru memasukan sesuatu yang tak kuinginkan di dalam rahimku.


            “Kau pasti belum makan Anna, bagaimana jika kita memasak makanan kesukaan Junhyu?”


            “Ahh.. tapi ibu, aku tidak bisa memasak.” jawabku malu. Rasanya sungguh sangat


memalukan saat aku harus mengakui salah satu aib terbesarku itu di hadapan ibu mertuaku. Sejak kecil bahkan aku jarang masuk ke dapur. Tapi saat junior high school aku mulai belajar untuk menyalakan kompor dan memasak makanan sederhana seperti mie instan. Yah... menurutku itu adalah sebuah pencapaian yang luar biasa,


mengingat selama ini aku selalu dikelilingi oleh belasan pelayan dan tidak pernah diijinkan untuk memasak sendiri di dapur oleh orangtuaku. Ibuku selalu khawatir dengan keselamatanku karena saat aku berusia enam tahun, aku hampir memotong jariku sendiri ketika aku ingin ikut membantu ibuku memotong sayur. Sejak saat itu ibuku selalu melarangku untuk melakukan kegiatan apapun di dapur, lalu ibu lebih menyarankanku untuk meminta bantuan para pelayan di rumah agar aku tidak melakukan tindakan gegabah yang dapat melukai diriku sendiri. Jadi singkat cerita, aku sangat payah dalam urusan memasak, dan aku benar-benar tidak bisa memasak apapun selain mie instan.


            “Tidak apa-apa, ibu akan mengajarimu. Sekarang ke ataslah dan gantilah pakaianmu dengan pakaian rumah. Ibu menunggumu di dapur.”


            Tanpa bertanya-tanya lagi, aku segera melangkah menuju tangga dan mulai berjalan perlahan-lahan dengan langkah berat menuju kamarku. Jika aku ke sana sekarang, maka aku akan berhadapan lagi dengan Junhyu. Aku baru saja melihat siluet tubuhnya sedang berjalan masuk ke dalam kamar. Jadi aku pasti akan bertemu dengannya saat di dalam kamar.


            “Terimakasih karena telah bersikap baik di hadapan ibuku, meskipun aku tahu kau sangat membenciku, tapi kau tidak ikut membenci ibuku juga.”


            “Aku tidak sepicik dirimu Lee Junhyu, aku masih memiliki hati. Lagipula aku sangat nyaman saat bersama ibumu. Satu-satunya yang membuatku masih bertahan menjadi isterimu adalah karena kebaikan ibumu.” jawabku sinis. Aku berusaha mengabaikan keberadaannya yang sedang duduk di meja belajar dengan buku tebal yang berisi soal-soal untuk masuk ke perguruan tinggi. Dua minggu lagi adalah jadwal ujian masuk ke universitas favorit. Dan aku pernah mendengar dari salah satu teman kelasku jika Lee Junhyu sebenarnya pernah mendapatkan beasiswa di luar negeri, tapi entah kenapa pria itu menolaknya. Ia lebih suka  belajar di negaranya sendiri daripada belajar di negara lain. Tapi menurutku mungkin ia hanya takut berada di negara orang sendirian karena selama ini ia terbiasa hidup bersama ibunya.


            “Nanti sore aku akan mengantarmu ke dokter kandungan, sudah waktunya untuk megecek perkembangannya.”


            Ia melirik perutku yang sedikit buncit dibalik kaus longgar yang kugunakan. Dan rasanya ini sedikit canggung karena kami akhirnya membicarakan kondisi janin ini setelah kami resmi menikah.


            “Aku bisa pergi sendiri, kau belajar saja di rumah.” jawabku ketus. Ia terlihat mengerutkan alisnya tidak setuju dan tiba-tiba berdiri untuk berjalan kearahku. Secepat kilat aku mengikat rambutku tinggi-tinggi lalu berjalan sedikit tergesa untuk keluar dari kamar yang memuakan ini. Tapi ia justru menarik lenganku dan


membuat gerakan seperti menggertak yang menyiratkan jika ia tidak ingin dibantah.


           “Pukul empat di rumah sakit Seoul, aku telah membuat janji dengan dokter tebaik di sana.”


            Setelah mengatakan itu, ia langsung melepaskan cekalan tangannya di  lenganku dan berbalik menuju meja belajarnya. Namun aku segera menghentikannya dengan mengatakan jika aku tetap tidak mau pergi dengannya apapun yang terjadi. Dan sebelum aku mendengar nada penuh mengintimidasi miliknya, aku segera berjalan keluar dari kamar, lalu sedikit membanting pintu kayu itu keras untuk menunjukan padanya jika aku saat ini sedang marah. Bahkan sangat marah. Jika saja aku bisa berteriak, aku ingin sekali mengumpati pria cupu itu, menyalahkannya, lalu memintanya untuk menceraikanku sekarang juga karena aku mulai tidak tahan dengan seluruh sandiwara bodoh ini. Belum lagi morning sickness yang kurasakan setiap pagi, itu sangat menyiksa. Semua kesialan yang kualami ini sangat tidak adil. Seolah-olah ini adalah hukuman untukku, dan bukan untuk si pria cupu penebar benih itu.


            “Anna, apa kau dan Junhyu sedang bertengkar? Ibu mendengar suara ribut-ribut dari kamar kalian.”


            “Oh bukan, aku hanya terlalu keras menutup pintu karena terlalu terburu-buru turun, aku tidak ingin membuat ibu terlalu lama menungguku.”


            Great! Semakin lama aku semakin mahir untuk bersandiwara di depan ibu. Setelah ini mungkin aku harus mendaftar di agensi pencarian bakat untuk menjadi artis yang hebat agar kebohongan ini dapat tersalurkan dengan baik.


            “Syukurlah jika kalian baik-baik saja. Ayo ke dapur, ibu sudah menyiapkan bahan-bahan untuk memask. Sejak kecil Junhyu sangat suka kari ikan salmon. Ia hampir tidak pernah menolak makanan itu, bahkan saat ia sedang sakitpun, ia akan makan dengan lahap jika ibu memasakan kari ikan salmon.”


            “Pasti Junhyu sering sakit, ia sering mendapatkan kekerasan di sekolah. Tapi Junhyu tidak pernah membalas mereka yang selalu memukulinya.”


            “Ibu juga heran, bahkan ibu sampai dibuat gemas dengan sikapnya yang seperti itu. Tapi ia selalu saja mengelak saat ibu mencoba mencari tahu siapa yang telah memukulinya selama ini. Anna...” ibu mendesah berat sambil menatap kearahku dengan tatapan yang sulit kuartikan. Semoga itu bukan sesuatu yang buruk, karena sepertinya ibu ingin mengatakan sesuatu.


            “Terimakasih karena telah menerima Junhyu. Ibu benar-benar tidak tahu lagi bagaimana caranya berterimakasih padamu. Saat Junhyu bercerita telah menghamili seorang gadis di sekolahnya, ibu benar-benar syok dan tidak tahu lagi harus berbuat apa. Sebagai seorang ibu, ibu merasa gagal karena tidak bisa membuat Junhyu menjadi pria yang lebih baik. Padahal selama ini ibu pikir Junhyu tidak akan berbuat seperti itu. Sejak kecil ia selalu menjadi anak yang baik, sampai-sampai ia sering


ditindas oleh teman-temannya karena ia lebih memilih diam daripada membalas sikap buruk orang lain. Tapi ibu sedikit bangga dengan sikapnya yang mau mempertanggungjawabkan perbuatannya, meskipun ia sendiri masih terlalu muda untuk menjadi seorang ayah. Anna, jika kau merasa tidak bahagia dengan pernikahan ini, ibu minta maaf, tapi ini adalah jalan satu-satunya untuk kalian agar anak itu dapat terlahir di tengah-tengah keluarga yang sempurna. Ibu tidak akan menyalahkan siapapun di sini, ibu hanya ingin berterimakasih dan juga minta maaf untuk segala kesalahan yang telah Junhyu lakukan padamu.”


            Sejujurnya aku ingin menangis sekarang, disamping aku ingin berteriak jika aku tidak bahagia dengan pernikahan ini, aku juga ingin menangis untuk ketulusan yang telah ditunjukan ibu di depanku. Sepertinya Tuhan tidak benar-benar memberikan hukuman untukku dengan kehamilan ini, tapi Tuhan juga telah menyelipkan sebuah


kebahagiaan kecil dengan hadirnya ibu Junhyu di tengah-tengah ketidakjelasan hubungan pernikahanku dan Junhyu.