Sweeter Than Coffee

Sweeter Than Coffee
Sixteen



Bukankah itu buruk, kau berada di sana tapi kau tidak bisa melihat apa-apa, kau buta...


            Suatu malam aku pernah mengatakan hal itu pada Junhyu. Ketika kami baru saja selesai makan malam romantis di sebuah restoran Itali bergaya klasik. Sejujurnya itu sebuah kejutan yang sangat manis. Meskipun bukan kali pertama aku mendapatkan undangan makan malam, tapi Junhyu berhasil mengejutkanku dengan baik. Dimulai dengan sebuah drama pertengkaran konyol karena ia membatalkan janjinya untuk mengantarkanku membeli stroller, lalu tiba-tiba ia mengajakku pergi untuk melihat bintang di sebuah bukit yang sangat sepi. Setelah itu ia mengajakku pergi makan malam di sebuah restoran yang telah ia pesan khusus untuk kami berdua. Di sana kami makan degan nikmat, apalagi aku sudah tidak mengalami morning sickness lagi sejak bulan lalu. Nafsu makanku praktis meningkat drastis semenjak morning sickness itu pergi dari hidupku. Dan setelah makan malam kami sempat berbicara sebentar. Sebuah pembicaraan santai yang hanya membahas kami berdua sebagai tokoh utama. Malam itu Junhyu menceritakan beberapa mimpinya, menceritakan rencananya setelah ia menyelesaikan kuliahnya di Universitas Nasional Seoul yang mana itu akan terjadi sekitar tiga tahun lagi dimulai dari sekarang. Ia menceritakan rencananya untuk memperluas jaringan bisnis milik kakeknya, lalu perlahan-lahan ia akan mengambil alih perusahaan milik ayahnya juga untuk mempersipkan masa pensiun ayahnya yang sebenarnya belum akan terjadi dalam waktu dekat. Banyak hal yang kami bicarakan malam itu, tapi tidak sedikitpun kami menyinggung mengenai perasaan. Junhyu seperti sedang menghindari topik itu dari pembicaraan kami semenjak bulan lalu. Malam ketika aku mencoba menanyakan mengenai perasaannya, ia justru mengalihkan perhatianku dengan membahas masalah ujian. Dan hari-hari berikutnya ia menjadi semakin tidak bisa diajak berbicara karena ia selalu pulang larut malam setelah melakukan diskusi kelompok untuk ujian semesternya di Universitas. Tapi meskipun begitu, ia masih menyempatkan diri untuk memperhatikanku. Ia masih menyiapkanku susu vanila di pagi hari, mengelus perutku di tengah malam ketika janin ini mulai merindukan belaian lembut ayahnya, dan ia juga masih mengajakku pergi untuk mengusir rasa jenuh yang akhir-akhir ini menyiksaku. Lee Junhyu seperti pria buta, menurutku ia tahu dengan pasti bagaimana perkembangan hatinya saat ini, namun ia masih enggan untuk mengakuinya. Untuk apa semua rasa perhatian itu jika ia tidak memiliki sedikitpun rasa untukku? Setidaknya rasa cinta itu ada di hatinya untuk janin kami, lalu mulai berkembang untukku juga.


            “Sudah malam, dan kau masih berada di pinggir balkon untuk melamun...”


            Dia datang. Setelah beberapa hari ini ia pergi meninggalkanku lagi untuk sebuah perjalanan bisnis. Terkadang aku merasa kesal jika ia mulai meninggalkanku untuk melakukan beberapa ekspansi ke luar negeri, tapi kemudian aku mulai membesarkan hatiku dengan mensugesti diriku sendiri jika semua itu demi masa depan kami.


            “Tidak juga, aku di sini untuk melihat bintang, bukan untuk melamun.”


            “Tanah di bawah masih basah Anna, kau tidak bisa membohongiku dengan bualan tentang bintang-bintang karena nyatanya malam ini langit sedang mendung.”


            Aku mendengus gusar dengan argumennya yang sangat tepat sasaran itu, lalu memutuskan untuk masuk kedalam kamar. Kurasa tubuhku tidak bisa lagi menghalau suhu dingin yang mulai merambat masuk menembus tulang-tulangku, dan aku tidak bisa mengelak lagi dari Lee Junhyu.


            “Jadi bagaimana perjalanan bisnismu?”


            “Tidak ada yang spesial, semuanya terjadi seperti biasa. Bagaimana home schooling-mu hari ini?”


            “Tidak ada yang spesial, semuanya terjadi seperti biasa.” ucapku meniru gaya bicaranya. Sebelum ia beralih menuju lemari pakaian untuk mengambil piyama, ia sempat menoleh kearahku sebentar, terkekeh kecil untuk sikap kekanakanku, lalu pergi masuk ke dalam toilet untuk membersihkan diri. Aku benci keadaan seperti ini, aku mulai bosan dengan kehidupan tanpa kepastian yang kujalani. Aku seperti sedang berjalan di kawat tipis ketidakpastian yang diciptakan oleh Junhyu. Di satu sisi aku merasa pria itu begitu baik, memperlakukanku dengan spesial seperti ia memiliki perasaan yang tulus untukku. Namun di sisi lain, ia bisa saja menghempaskanku jatuh dari semua hal-hal manis itu ketika aku telah menyelesaikan tugasku dengan baik, melahirkan anaknya. Aku masih ingat dengan jelas jika Junhyu dulu pernah menjanjikan kebebasan untukku setelah aku melahirkan anaknya. Tentu saja janji itu terjadi jauh sebelum ia melamarku secara resmi bersama orangtuanya. Saat itu ia tengah membujukku untuk tidak melakukan aborsi, dan sebagai gantinya ia akan melakukan apapun yang kuinginkan. Lalu saat itu aku memintanya untuk melepaskanku setelah aku berhasil melahirkan anak ini dengan selamat. Tapi... aku tidak lagi mengharapkan itu, aku lebih mengharapkan ia mengakui perasaannya untukku dan tidak membuatku merasa kebingungan dengan segala bentuk perhatiannya.


            “Melamun lagi?”


            “Tidak!” sangkalku cepat. Ia memberiku tatapan menggoda dari balik kacamata tebalnya, lalu berjalan kearah ranjang untuk bergabung bersamaku meringkuk di bawah selimut. Udara benar-benar dingin malam ini. Akan sangat menyenangkan jika Junhyu dengan senang hati akan memelukku. Maksudnya aku akan dengan senang hati meringkuk di bawah tubuh tegapnya yang hangat itu. Oh ayolah, aku tidak akan menjadi munafik lagi. Tidak setelah apa yang telah kami lewatkan selama beberapa bulan ini.


            “Kurasa kau memiliki sesuatu untuk dibagikan denganku.”


            “Kenapa kau selalu menebak seperti itu, apa wajahku terlihat begitu tertekan dan dipenuhi aura kesedihan?”


            “Ada sedikit guratan di wajahmu yang membuatku khawatir, pasti kau banyak mengalami hal-hal yang sulit selama aku pergi.”


            “Sebenarnya tadi aku bertemu Kim Gura, kau tahu siswa di kelas sebelas tiga yang dulu sempat memintaku untuk menjadi kekasihnya?”


            Junhyu terlihat berpikir keras untuk sesaat, lalu menunjukan senyum bodohnya yang berhasil membuatku mendengus kesal. “Eee... tidak, tapi lanjutkan saja ceritamu. Aku tidak pernah terlalu memperhatikan siswa-siswa di sekolah.” Ada terlalu banyak siswa di sekolah, dan ia selalu menjadi Lee Junhyu yang terasingkan dari semua orang karena ia terlalu aneh di sekolah. Singkat cerita, Kim Gura adalah seorang siswa yang cukup populer. Sebelum aku bersama Jihoo oppa dan setelah aku memutuskan untuk tidak bersama Dannis oppa, Kim Gura terus saja mendekatiku, menggodaku agar aku dapat menjadi kekasihnya dan dapat dipamerkan pada semua siswa-siswi Kirin High School. Sayangnya aku tidak pernah tertarik padanya karena ia terlalu banyak bicara untuk ukuran seorang pria. Lagipula saat itu aku lebih terarik pada pesona Jihoo oppa yang berkharisma, jadi pada akhirnya aku tidak pernah sedikitpun membalas perasaannya. Lalu hari ini aku bertemu dengannya. Dan semuanya berakhir menjadi sangat buruk karena ia mengolok-olokku di depan umum.


            “Jadi apa yang terjadi pada Kim Gura?”


            “Kami bertemu, lalu ia mengejekku wanita murahan, jalang, dan banyak umpatan lain yang terdengar cukup kasar dari mulutnya. Aku tidak ingin kau mendengar lebih banyak lagi. Dan setelah bertemu dengannya, aku kemudian berpikir, merefleksikan semua kata-katanya pada diriku untuk mengoreksi banyak kesalahan yang selama ini tidak kusadari. Lalu aku menemukan bahwa aku seburuk itu. Semua orang pantas membenciku karena perbutanku selama ini.”


            “Jangan terlalu memikirkan perkataan orang lain, mereka tidak mengenal dirimu dengan baik.”


            Junhyu berusaha menghiburku dengan membawaku kedalam pelukannya yang hangat. Nafasnya


begitu hangat berada di atas kepalaku, dan aku menikmati semua itu sebagai sebuah relaksasi. Sejujurnya sedikit memalukan untuk diakui, tapi aku mulai menyukai berada di bawah kungkungan tubuh Junhyu. Ini hangat, sangat hangat hingga aku sering merasa kehilangan ketika ia pergi untuk urusan pekerjaan. Ketika ia melakukan ini, aku merasa seperti mendapatkan begitu banyak atensi dan ketulusan darinya. Namun jika ia mulai menghilang, maksudku pergi untuk urusan pekerjaannya, aku mulai dihantui lagi perasaan ketakutan yang menyiksa. Aku takut karena ia tidak mencintaiku.


            “Tidak ada yang mengenal diriku dengan baik, bahkan aku sendiri tidak. Bolehkah aku bertanya?”


            “Bertanyalah apapun kecuali masalah hatiku.”


            “Kenapa?”


            “Karena aku tidak pernah memiliki jawaban atas itu.”


            “Kalau begitu lepaskan aku.” Ia melepaskanku dengan mudah setelah aku memintanya, lalu membiarkanku diterpa perasaan dingin yang kosong dan juga menyebalkan. Sebagian hatiku terasa begitu gusar dengan sikapnya, sedangkan sebagian lagi berusaha untuk mempengaruhi hatiku yang lain agar bersikap acuh tak acuh pada sikap Junhyu yang mengecewakan. Ck, ada apa dengan diriku? Pertayaan itu sepertinya telah kurapalkan ribuan kali di dalam hatiku semenjak aku menikah dengan Junhyu. Ada terlalu banyak perubahan mengejutkan yang terjadi pada hidupku, termasuk menikah dengan si cupu yang tampan ini. Yeah, Kim Gura benar, aku ini adalah wanita munafik. Bagaimana mungkin aku dapat berubah menjadi wanita pengemis cinta setelah dulu selalu mengolok-olok Lee Junhyu. Jadi sebenarnya siapa yang tidak mengenal siapa? Jawabannya adalah tentu saja aku yang tidak mengenal diriku sendiri, aku seperti wanita buta setelah menikah dengan Junhyu. Semua hal terasa begitu abu-abu dan kabur. Aku tidak bisa membedakan lagi mana prinsip, dan mana khayalan. Prinsipku dulu mengatakan jika aku tidak boleh goyah, aku harus terus berpegang teguh pada idealisme dan terlepas segera dari


Lee Junhyu. Tapi seiring berjalannya waktu, aku lebih banyak mengabaikan prinsip-prinsipku, menikmati kehidupan yang diciptakan Junhyu untukku, lalu perlahan-lahan mulai berdamai dengan egoku.


            “Junhyu, bagaimana jika aku mencintaimu? Apa kau akan membalas perasaanku juga?”


            Kurasakan tanganku gemetar dan napasku terasa lebih pendek saat aku mengucapkan hal itu


pada Junhyu. Apakah aku baru saja menyatakan perasaanku di hadapan si cupu Lee Junhyu? Ya Tuhan... ini adalah karma! Ini sebuah karma untuk seorang gadis sombong sepertiku. Sekarang aku tahu bagaimana perasaan para pria itu saat mencoba untuk menyatakan perasaan mereka di depanku. Sayangnya aku dulu selalu meremehkan mereka, menganggap mereka terlalu lamban dan bodoh hanya untuk sebuah pernyataan cinta. Tapi setelah aku merasakannya sendiri sekarang, aku merasa jantungku baru saja berhenti berdetak saat aku mengucapkan kata-kata itu di hadapan Junhyu. Meskipun Junhyu tidak bisa melihat wajahku karena aku


berbaring memunggunginya, tapi ia tentu saja akan mendengarkan semua pernyataan cintaku padanya.


            “Junhyu... kau masih di sana?”


            Dengkuran halus samar-samar terdengar di belakangku. Secepat kilat aku membalik tubuhku sambil menahan diri untuk tidak mengeluarkan berbagai sumpah serapah di hadapan pria menyebalkan ini. Lihatlah, aku hampir saja mati karena sebuah pernyataan cinta, dan pria ini justru tertidur dengan damai disebelahku. Hmm.. hebat! rasanya aku ingin mengumpat sekarang. Namun kuurungkan segera niat laknatku itu dan berganti dengan menyentuhkan tanganku di atas permukaan wajahnya. Hangat... pipinya sangat hangat dan menyalurkan perasaan menenangkan.


            “Hey, aku benar-benar hampir mati saat mengatakannya padamu. Aku baru saja membuang harga diriku untuk menyatakan perasaanku di depanmu, tapi kau... justru tertidur.” ucapku seperti wanita idiot di depan Junhyu yang sedang tertidur lelap. Napasnya yang naik turun dengan teratur menunjukan bahwa ia memang sedang tidur dan tidak mungkin mendengarkan kata-kataku sedikitpun. Baiklah, tidak apa-apa. Aku masih memiliki banyak waktu, sebelum bulan depan. Aku akan melahirkan bulan depan, karena usia kandunganku telah menginjak delapan bulan sekarang. Terlalu cepat memang, atau aku yang terlalu menikmati kehidupanku hingga semua ini menjadi tidak terasa sama sekali. Kadang aku berpikir tentang hari-hari setelah aku melahirkan. Akankah semuanya akan terasa sama? Tentu saja tidak. Perutku tidak akan sebesar ini dan tidak ada lagi tendangan keras di tengah malam. Aku pasti akan merindukan saat-saat membawa janin ini kemanapun aku pergi. Maaf karena dulu pernah hampir melenyapkanmu, maaf karena pernah berpikir jika kau adalah bencana. Kenyataannya janin ini adalah malikat yang sebenarnya untuk hidupku yang terlalu suram. Ya Tuhan, aku ingin menangis lagi sekarang. Air mataku menjadi tak bisa dikendalikan semenjak kehidupan membingungkan ini memporak-porandakan hatiku.


            “Ssshhh... tidurlah Anna, jangan menangis.”


            Aku mendongakan wajah berairku cepat kearah Junhyu yang masih memejamkan matanya dengan rapat, namun kedua tangannya telah memelukku dengan erat sambil bibirnya terus berdesis untuk menenangkanku. Jadi.. apakah ia sejak tadi belum tidur? Mungkinkah ia mendengar semuanya namun berpura-pura tidak mendengarkannya? Entahlah, aku tidak ingin terlalu berspekulasi tentang hal itu. Tapi jika ia mendengarnya, kuharap ia dapat membalas rasa ini dengan sama besarnya seperti milikku.


-00-


            Hari ini tidak banyak yang kulakukan, jadi aku memutuskan untuk bergabung bersama ibu melakukan kegiatan amal di sebuah panti asuhan yang berada di pinggir kota. Sebenarnya sedikit bersyukur karena pagi ini aku terbangun tanpa harus melihat Junhyu. Bayangan memalukan pernyataan cintaku semalam membuat nyaliku seakan-akan ciut saat harus berhadapan dengan Junhyu, padahal belum tentu juga pria itu mendengarnya, tapi hatiku dilingkupi perasaan malu yang luar biasa akan hal itu. Karma kini berlaku kepadaku. Jika aku dipaksa untuk kembali mengenang semua peristiwa di tujuh bulan yang lalu atau enam bulan yang lalu, ketika aku masih sangat membenci Junhyu, itu terasa sangat jahat. Lalu dalam sekejap pria itu berhasil membuat hatiku bergetar tiap kali mendapatkan perlakuan manis darinya. Kuakui jika Junhyu adalah seorang lady killer. Ia dapat menaklukanku dengan caranya sendiri, caranya yang unik, penuh kesabaran, dan penuh letupan cinta. Sayangnya ia mungkin melakukan hal-hal manis itu karena didorong oleh rasa iba ketika melihatku hancur karena kehamilan ini. Masa depanku jelas menjadi kacau semenjak ia menyentuhku, lalu semua angan-anganku terbang tanpa sisa. Kini aku hanya memiliki satu tumpuan untuk bertahan dalam hidup ini, yaitu harapan untuk hidup bahagia bersama keluarga kecilku. Tak masalah jika Junhyu belum mencintaiku, aku akan bersabar menunggu hingga saat itu tiba.


            “Anna,  bisa tolong ambilkan beberapa hadiah yang ibu letakan di meja depan?”


            Aku yang sejak tadi melamun tentang keanehan hidupku sambil membuat hiasan pita untuk dinding-dinding aula panti asuhan, segera beranjak berdiri meninggalkan kesibukanku untuk mengambil hadiah yang ditunjuk oleh ibu di meja depan. Demi Tuhan, aku merasa langkahku semakin hari semakin berat karena janin ini. Deru napasku tampak begitu pendek-pendek ketika aku berjalan perlahan sambil menyangga pinggulku yang terasa pegal. Jadi beginilah rasanya menjadi calon ibu, selalu penuh drama dan juga air mata kurasa.


            “Permisi, aku ingin mengambil hadiah milik ibu mertuaku.”


            “Jadi kau adalah menantu Lee Hana? Kau masih terlihat sangat muda, berapa umurmu sekarang?”


           “Anda benar, aku menantu nyonya Lee Hana. Usiaku... tujuh belas tahun.”


            Sedikit ragu aku mengucapkan detail umurku pada wanita menyebalkan di sampingku. Seharusnya ia tidak sebodoh itu untuk menafsirkan berapa usiaku saat ini jika ia tidak sedang ingin mengolok-olokku. Memang semua orang akan berpikiran buruk tentangku setiap kali melihat wajahku dan juga perut buncitku yang terisi oleh janin ini. Semua orang seperti mengolok-olokku dibalik tatapan mereka yang serba benar, padahal mereka tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku, cerita dibalik kehamilan ini. Dan seharusnya aku sudah mulai terbiasa dengan hal itu. Sayangnya itu semua selalu terasa tidak mudah bagiku tiap kali melihat pandangan menghakimi dari orang-orang yang kutemui.


            “Berapa banyak putra Lee Hana membayarmu untuk tidur bersamanya?”


            Jantungku terasa nyeri setelah mendengar kata-kata penuh penghinaan itu. Tolong berikan aku kekuatan, aku tidak ingin terlihat lemah di hadapan wanita norak ini. Aku memiliki harga diri, dan Junhyu tidak pernah membayarku untuk apapun. Bahkan setelah kami resmi menikahpun, Junhyu belum pernah menyentuhku sedikitpun. Malam itu adalah yang pertama, dan mungkin yang terakhir jika pernikahan kami tidak berjalan sesuai dengan rencana. Yang jelas Junhyu begitu menghormatiku setelah semua peristiwa buruk itu terjadi. Namun sebaik apapun sikap Junhyu padaku, itu tidak pernah bisa menutupi noda hitam besar di kehidupanku.


            “Tidak pernah ada pembayaran diantara kami nyonya.”


            “Oh.. berarti kau melakukannya dengan suka rela? Ckckck... pemuda zaman sekarang, benar-benar tidak sabaran.” ucapnya dengan tawa melolong seperti lolongan serigala. Aku sendiri mendadak pusing dengan suara tawanya yang melengking itu, tapi aku tidak bisa pergi begitu saja dari tempat ini dan meninggalkan ibu. Ada banyak hal yang ingin ibu tunjukan padaku. Bahkan saat pagi tadi aku mengatakan ingin bergabung dalam acara amal ini, ibu sangat antusias untuk mengajakku bergabung dan memperkenalkan satu persatu pada temannya.


            “Maaf nyonya, sebaiknya anda tidak mengolok-olok kehidupanku jika anda tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.”


            “Tidak tahu bagaimana? Jelas-jelas kau telah tidur bersama putra Hana sebelum kalian resmi menikah. Jangan terlalu angkuh nak, bahkan kau tidak lebih baik dari pengemis.”


            Kurasakan bibirku mulai bergetar dari sudut mataku mulai dipenuhi oleh air mata. Aku akan menangis.... wanita ini sudah sangat keterlaluan dengan kata-katanya. Sedikit menyesal karena aku harus bertemu dengan wanita semenyabalkan ini, dan aku sepertinya harus pergi dari sini sebelum air mataku tumpah dengan memalukan.


            “Lebih baik saya pergi, permisi.”


            “Ck, dasar! Pergi begitu saja setelah berdiri di hadapanku dengan tidak tahu malunya.”


            Aku heran, sangat heran! Bagaimana mungkin aku masih dapat mendengar suara cibirannya meskipun aku telah berjalan cukup jauh darinya? Biar kutebak, ia pasti baru saja mengucapkannya dengan suara keras. Itu bahkan suara teriakan yang mampu membuat orang-orang di sini menatap ingin tahu kearahku. Sekarang aku benar-benar telah menjadi pusat perhatian di tempat ini. Semua mata tertuju padaku, lalu wanita norak itu mulai membuat cerita dramatis yang terkesan menyudutkanku. Baiklah, aku tidak apa-apa.. aku baik-baik saja... dan semua ini akan segera berakhir. Tapi... aku akhirnya jatuh terduduk di taman belakang panti asuhan yang kosong sambil menangis tersedu-sedu dengan sangat menyedihkan. Aku gagal mensugesti diriku sendiri jika aku baik-baik saja, karena kenyataannya aku tidak baik-baik saja. Hatiku terluka begitu dalam oleh kata-kata wanita norak itu. Tidak ada Lee Junhyu di sini, tidak ada ibu, tidak ada ayah, dan tidak ada siapapun yang akan membelaku. Aku sendiri dengan seluruh rasa sakit yang menggerogoti hatiku. Jadi inilah hidup yang sebenarnya? Hidup ketika aku dihempaskan oleh takdir yang terasa menyakitkan.


-00-


            Malam harinya aku meringkuk seperti bayi di dalam kamar tanpa berminat untuk bergabung bersama yang lainnya di ruang makan. Satu jam yang lalu Junhyu telah kembali dari entahlah, aku tidak terlalu berminat untuk menanyakan kegiatannya hari ini karena aku masih dilingkupi perasaan marah dan terhina dari wanita norak tadi. Sebelum turun ke ruang makan, Junhyu sempat menanyakan kondisiku, tapi aku hanya menjawabnya dengan jawaban seadanya tanpa benar-benar menatap wajahnya. Itu sama saja menghancurkan harga diriku jika aku menemuinya dengan mata bengkak dan sembab seperti ini. Aku sudah menahan sangat lama untuk dapat


menangis sepuasnya di rumah sejak berada di panti asuhan. Meskipun awalnya ibu sedikit curiga dengan perubahan sikapku, namun semua itu dapat teralihkan karena ibu terlihat cukup sibuk selama berada di panti asuhan.


            “Ibu mengatakan padaku jika sikapmu berubah semenjak kembali dari panti asuhan, apa yang terjadi di sana?”


            Sial! Sejak kapan pria itu berada di kamar ini? Bahkan suaranya terdengar sangat dekat di indera pendengaranku. Itu berarti ia telah lama berada di sini tanpa sepengetahuanku. Atau aku mungkin terlalu banyak menangis hingga tidak menyadari kedatangannya di kamar ini?


            “Aku tidak apa-apa, hanya sedikit lelah.”


            “Kalau begitu kenapa tidak berbalik dan menyambut kepulangan suamimu?”


            “Aku sedang malas melihat wajahmu?”


            Sungguh itu kata-kata paling menggelikan yang pernah kuucapkan di hadapan Junhyu. Aku terlihat seperti seorang remaja yang sedang merajuk pada kekasihnya. Ya ampun, sangat menjijikan!


            “Seseorang baru saja memberitahuku jika kau telah diolok-olok oleh nyonya Hwang.”


            “Berhentilah untuk bersikap sok tahu, aku tidak.... apa kau memata-mataiku selama ini?”


            Kalimatku terhenti begitu saja saat aku menyadari sesuatu. Dan tanpa sadar aku telah membalikan tubuhku hingga pria itu kini dapat melihat mata sembabku dengan jelas. Aku kemudian mendengus sambil melemparkan tatapan sinis padanya. Lihatlah sang aktor yang menjadi tersangka utama dalam penderitaan hidupku. Ia sekarang hanya berdiri dengan bibir terkatup dan sorot mata datar yang melihat tepat kearah milikku.


            “Aku tidak pernah menempatkan mata-mata di sekitarmu. Kau mungkin terlalu marah dengan nyonya Hwang hingga kau tidak menyadari kehadiranku di sana. Bahkan kau hampir menabrakku saat kau sibuk berlari untuk menyembunyikan air matamu.”


           Otakku kemudian mencoba mengingat-ingat apa yang telah terjadi siang ini. Sepertinya


aku memang sempat hampir menabrak seseorang saat terburu-buru berjalan menuju taman belakang. Tadi aku juga sempat menyumpahi orang itu karena hampir mencelakai seorang ibu hamil, tapi ternyata orang itu adalah Junhyu... sungguh suatu kebetulan yang benar-benar gila!


            “Sudah mengingatnya sekarang?”


            Aku memutuskan untuk diam tanpa menjawab sedikitpun pertanyaannya lalu kembali menekuni kesedihanku di atas ranjang. Anggap saja aku sedang tidak ingin terlibat lebih banyak konfrontasi dengan Junhyu. Aku hanya ingin ketenangan malam ini.


            “Nyonya Hwang mencari-carimu dengan panik sore tadi, aku memintanya untuk meminta maaf padamu atau aku akan membatalkan kontrak kerjasama dengan perusahaan milik suaminya.”


            Aku berbalik, memandang sengit kearahnya, lalu berteriak keras dengan seluruh emosi yang aku miliki. Aku tidak suka jika ia terus menerus menggunakan hartanya untuk membuat orang lain berada di bawah kakinya. “Berhentilah menggunakan kekuasaanmu untuk memaksa orang lain agar terlihat baik di hadapanku, aku tidak


suka orang yang munafik.” Niatku untuk mendapatkan ketenangan sepertinya sedikit gagal. Junhyu sekarang justru memancingku untuk membahas masalah nyonya


Hwang yang sebelumnya telah kulupakan.


            “Aku mendengar seluruh kata-katanya hari ini, itu bukan kata-kata yang bagus untuk diucapkan pada wanita hamil.”


            “Tapi itu sudah biasa, semua itu sudah sering terjadi padaku. Nyonya Hwang bukan satu-satunya yang memberiku cemoohan menyakitkan. Beginilah yang terjadi pada wanita hamil sepertiku, keberadaanku selalu dipandang sebelah mata oleh orang lain.”


            “Mereka tidak seharusnya seperti itu, sikap mereka jelas tidak mencerminkan sikap wanita terhormat.”


            “Memang begitulah adanya, kau tidak seharusnya terkejut dengan sikap orang-orang terhadapku. Lihatlah, semua kesalahan yang kau lakukan, aku yang harus menanggung hukumannya. Aib ini tidak akan pernah bisa hilang sampai kapanpun, aku akan terus berkubang di dalam noda hitam kelam yang kau ciptakan.” bentakku kesal. Junhyu tampak tak bereaksi apapun dengan kemarahanku. Ia hanya diam sambil mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan menatapku dalam. Aku yang dilungkupi kemarahan, kemudian segera berbaring sambil menutupi seluruh tubuhku dengan selimut. Kurasakan air mata mulai menggenang lagi di pelupuk mataku. Deru napasku perlahan-lahan mulai berubah menjadi lebih pendek-pendek. Akhirnya aku terisak di dalam selimut dengan air mata yang terus saja meleleh tanpa henti. Lalu semua ingatan pahit itu perlahan-lahan muncul satu persati di otakku. Ingatan tentang Kim Gura yang tanpa sengaja bertemu denganku saat aku sedang pergi ke mini market, kemudian tatapan jahatnya yang seakan-akan begitu puas melihatku menderita dengan kata-kata pedasnya. Lalu tatapan mencemooh orang-orang yang selama ini bertemu denganku di jalan, di super market, atau dimanapun ketika aku sedang pergi keluar. Mereka semua seperti memberikanku hukuman berat dengan sikap mereka yang tampak tak bersahabat sedikitpun. Bahkan ibu sendiri sangat menyadari arti tatapan mereka padaku, namun ibu selalu


berpura-pura tidak melihat mereka dan hanya fokus mengajakku berbicara agar aku melupakan sikap buruk mereka semua. Dan kurasa hari ini adalah puncaknya karena Junhyu turut serta memperparah keadaanku dengan sikap sok berkuasaya yang dari hari ke hari semakin terasa menyebalkan. Seharusnya Junhyu bisa bersikap lebih bijak untuk hal-hal tidak menyenangkan yang kualami. Aku sudah muak dengan wajah manis penuh topeng yang orang-orang kenakan karena takut pada kekuasaan Junhyu. Dulu aku sering mendapatkannya selama duduk di bangku junior high school maupun senior high school, karena itulah aku tidak bisa mendapatkan teman dengan mudah. Aku selalu terkesan pilih-pilih dan juga angkuh, namun itu semua kulakukan semata-mata karena aku tidak ingin mendapatkan sebuah tipuan.


                Tiba-tiba aku merasakan ranjang di sebelahku berderit pelan, disusul dengan goncangan lembut hingga suara tepukan bantal yang dilakukan sebanyak dua kali. Itu jelas-jelas Lee Junhyu. Sejak kami menikah aku mulai mengerti tentang kebiasaan anehnya yang gemar menepuk-nepuk bantal sebelum tidur. Tapi pria itu benar-benar jahat jika memutuskan untuk tidur tanpa ingin berusaha menenangkanku atau melakukan sesuatu yang dapat membuat perasaanku membaik. Sial! ia benar-benar mengabaikanku dan memilih untuk tidur dengan suara dengkuran halusnya. Perasaan ini sungguh bodoh, dan aku tidak tahu kapan tepatnya aku mulai mengemis-ngemis cinta pada Lee Junhyu. Meskipun tidak kulakukan secara terang-terangan, namun aku akan uring-uringan seperti ini jika Junhyu tidak terlihat menunjukan sikap perhatiannya padaku, atau ketika Junhyu sudah mulai sibuk dengan pekerjaannya di luar sana, aku selalu merasa cemburu. Dan bahkan akhir-akhir ini aku mulai dihantui perasaan cemas jika di universitas mungkin saja ada beberapa wanita penggoda yang akan berusaha merebut Junhyu dariku. Ya Tuhan! Hentikan Anna! kau benar-benar konyol dengan pikiran bodohmu itu. Terserah jika Junhyu akan


berkencan dengan teman-teman wanitanya, aku tidak peduli! Itu bukan urusanku, dan aku tidak seharusnya mencampuri urusan Junhyu.


            “Tidurlah, aku tahu kau masih terjaga.”


            Aku sedikit berjengit saat tangan-tangan yang kokoh mulai memelukku. Kurasakan rambut-rambut di tengkukku sedikit meremang karena perlakuan Junhyu. Baiklah, aku akan tidur suamiku. Tapi jangan harap aku akan melupakan sikap menyebalkanmu hari ini. Mungkin aku akan merajuk padamu beberapa hari, atau membuat masalah hingga kau merasa muak padaku sepanjang hari. Selamat malam Junhyu, aku mencintaimu.