Sweeter Than Coffee

Sweeter Than Coffee
Seventeen



“Selamat pagi, saatnya bangun Anna...”


            Aku menggosok-gosok mataku berkali-kali sambil mengerang kesal, merasakan sinar matahari yang langsung menembus kedalam retina mataku. Junhyu... apa yang ingin dilakukan pria itu pagi ini?


            “Tolong tutup tirainya, itu sangat silau.”


            “Kau harus bangun, aku sudah menyiapkan sarapan untukmu. Ayo bangun.”


            Junhyu menarik paksa tubuhku dan membuatku bersandar di kepala ranjang dengan perasaan kesal. Aku masih ingin memejamkan mataku lebih lama. Apalagi sekarang aku merasakan kedua kelopak mataku terasa begitu berat dan mengganjal. Ini pasti efek dari menangis semalaman karena orang-orang menyebalkan di sekitarku.


            “Jam berapa sekarang? Kenapa kau tidak pergi kuliah?”


            “Hari ini aku libur, ada banyak hal yang ingin kulakukan bersamamu.”


            “Benarkah? Apa kau sedang mencoba memperbaiki keadaan?”


            “Mungkin. Sudahlah, cepat cuci muka dan makan sarapanmu, aku akan segera kembali.”


            Ia mengecup keningku lembut dan segera beranjak dari ranjang untuk... entahlah, aku tidak tahu apa yang ia rencanakan hari ini. Tapi sepertinya akan menyenangkan mendapatkan sebuah kejutan dari Junhyu. Bola mataku kemudian bergulir kearah nampan yang diletakan Junhyu di atas meja kecil di samping ranjang. Salad buah dengan topping yoghurt segar, bacon, telur mata sapi setengah matang, sayuran rebus, dan susu ibu hamil.... ini adalah american style. Aku tidak tahu jika Junhyu penikmat breakfast american style, atau ia melakukannya hanya untuk mengesankanku? Selalu saja aku memiliki prasangka buruk dibalik sikap baik Junhyu, tapi aku juga akan kesal jika Junhyu tidak bersikap manis padaku. Demi Tuhan, aku tidak mengerti dengan perasaanku sendiri. Aku merasa buta, aku buta dengan kehidupan percintaanku yang rumit ini.


            “Kenapa masih berada di sana? Ayolah, jarum jam terus bergerak Anna.”


            Ia memperingatkanku dengan aksen galak sambil menunjuk-nunjuk jam dinding yang jarumnya berdetik berisik. Apa sih yang sebenarnya direncanakan oleh pria itu? Apakah ia ingin membuat kejutan untukku?


            “Memangnya apa yang akan kita lakukan hari ini?”


            “Tidak ada.”


           “Lalu untuk apa semua ini?”


            “Kau akan tahu nanti, sekarang bersiap-siaplah, aku menunggumu di bawah.”


            Pria itu! Aku tidak tahu lagi harus bersikap seperti apa padanya. Terkadang ia menunjukan sisi misteriusnya, sisi lemah, sisi berkuasa, dan sisi menyebalkan. Junhyu benar-benar seperti seorang pria dengan alterego yang kompleks. Setelah aku selesai dengan kerumitan pikiranku, aku segera menyeret kedua kakiku untuk masuk kedalam kamar mandi. Meskipun saat ini aku sedang berjalan di atas lantai kayu yang hangat, hal itu sama sekali tidak menghilangkan sedikitpun kemalasan yang melekat di tubuhku hari ini. Apalagi dengan beban tubuh yang semakin bertambah, langkahku menjadi semakin lambat dengan cara berjalan yang selalu dalam posisi menyangga pinggul. Ini pegal, tapi aku merasa semakin bahagia saat melihat tanda-tanda kehidupan janinku. Hatiku akhir-akhir entah kenapa selalu dilingkupi perasaan bahagia yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Seperti aku memiliki ribuan kupu-kupu yang memenuhi hatiku, lalu terbang ke otakku dan mengirimkan efek dopamine yang begitu menenangkan.


            “Nak, apa kau tahu jika ibumu ini sedang bahagia? Kau harus tahu nak, ibu sangat menyayangimu.” ucapku seperti wanita bodoh di depan cermin. Setelah itu aku segera membasuh wajahku dan menyekanya dengan handuk kecil yang selalu berada di sana. Junhyu... tentu saja pria itu yang menyiapkannya. Ia tidak pernah melewatkannya


sedikitpun. Dan kuharap selamanya ia akan seperti itu. Tapi tunggu... aku tidak tahu kemana ia akan membawaku pergi hari ini. Ck, apa yang harus kugunakan untuk pergi bersamanya? Aku membuka lebar-lebar pintu lemariku, menelusuri satu persatu isinya, dan kembali dilanda kebingungan karena aku tidak menemukan satupun pakaian yang menarik minatku. Justru aku lebih berhasrat untuk menggunakan celana jeans dan crop shirt yang sudah lama tidak kugunakan. Padahal dulu mereka selalu menjadi favoritku dan juga kedua temanku. Huh... tidak, jangan sekarang. Jangan mengeluarkan air mata di hari yang begitu cerah dan indah ini. Aku harus bahagia. Aku harus bersenang-senang bersama Junhyu dan membuat sebanyak-banyaknya kenangan indah bersamanya.


            “Anna, kau sudah siap?”


            “Tunggu sebentar, sepuluh menit lagi.” balasku pada Junhyu yang sepertinya sedang menunggu dengan tidak sabar di depan pintu. Pilihan bajuku kemudian jatuh pada terusan panjang berbahan kaos dengan model sederhana, namun kurasa ini akan cocok juga jika digunakan untuk pergi jalan-jalan keluar rumah. Aku akan


memadukan pakaian ini dengan slipper shoes hitam untuk mempermanis penampilanku hari ini. Oya, dan sebuah topi baret hitam berbahan beludru akan tampak manis jika dipadukan dengan pakianku. Ini sangat sempurna, dan aku siap untuk pergi kemanapun bersama Junhyu.


-00-


            “Jadi kemana kita akan pergi?”


            Ini sudah lebih dari sepuluh kali aku bertanya pada Junhyu hingga pria itu mungkin merasa bosan atau apa, aku tidak peduli! Sejak tadi ia sudah membawaku berputar-putar kesana kemari tanpa tujuan yang jelas hingga membuatku merasa was-was. Tapi sebenarnya kekhawatiranku itu sungguh konyol. Ia tidak harus menunggu selama itu hanya untuk mencelakaiku, jika ia mau, ia bisa saja membubuhkan racun disetiap susu ibu hamil yang ia siapkan untukku atau disetiap menu sarapanku yang selalu tergletak begitu saja tanpa pengawasan yang ketat.


            “Kemana kita akan pergi?” tanyaku sekali lagi. Aku janji itu adalah pertanyaanku yang terakhir, selanjutnya aku tidak akan bertanya lagi dan membiarkan Junhyu membawaku pergi entah kemana.


            “Studio foto.”


            “Untuk apa?”


            “Mengambil gambar.”


            “Foto maternity. Teman-teman wanitaku di kelas banyak yang membicarakan tentang hal itu, dan kupikir itu akan bagus jika kau melakukannya juga. Suatu saat nanti kau pasti akan merindukan saat-saat mengandung Leo.”


            “Leo? Jadi nama itu telah resmi?”


            “Sudah.”


            Jadi apakah ini yang dimaksud dengan kejutan? Sebuah foto maternity dan nama panggilan resmi untuk anak kami? Ya Tuhan, ini sedikit menggelikan, tapi aku menyukainya. Junhyu benar-benar memperlakukanku dengan manis, bahkan untuk sebuah hal kecil yang tidak pernah kupikirkan sebelumnya. Kira-kira konsep seperti apa yang akan kugunakan untuk foto maternity? Kurasa Junhyu telah memiliki rencananya sendiri dibalik wajah datarnya yang menyimpan banyak kejutan itu.


            “Hey cupu, kenapa kau begitu manis hari ini?”


            Tentu saja aku tidak serius saat mengatakannya, hanya sedikit merindukan saat-saat ketika berada di Kirin dengan Junhyu yang selalu menjadi objek pembullyan.


            “Aku merasa sangat bersalah padamu, semalam aku terus memikirkannya, beban mental yang kau rasakan selama ini. Maafkan aku.”


            “Lupakan, itu bukan masalah besar. Lagipula aku telah belajar banyak hal sejak mengandung, seharusnya sikap orang-orang yang memusuhiku itu bukan lagi menjadi masalah, hanya terkadang aku sedikit terbawa suasana. Kau tahu, mood wanita hamil sungguh sangat mengerikan. Terkadang di satu waktu aku seperti tidak mengenali diriku sendiri karena gangguan mood ini, jadi jangan terlalu dipikirkan jika aku tiba-tiba berubah aneh.”


            Kulihat Junhyu terkekeh geli dengan ucapanku. Sebelah tangannya kemudian terjulur untuk mengacak rambutku yang tidak tertutupi topi. Sial! seharusnya aku tidak melepaskan topi ini untuk menghindari kejahilan Junhyu.


            “Aku senang dengan perubahan sikapmu akhir-akhir ini, kuharap kau bisa terus tersenyum seperti ini di depanku, setiap hari.” tambahnya lembut. Jantungku! Aku merasa jantungku sedang berdetak ribut karena Junhyu. Setiap gerak geriknya, sikapnya, senyumnya, dan apapun yang berkaitan dengannya, selalu membuat jantungku berdetak berkali-kali lipat lebih brutal dari biasanya. Sekarang aku seperti tidak peduli lagi dengan Lee Junhyu dulu dan sekarang. Terlepas dari ternyata ia adalah seorang pria dewasa dengan harta berlimpah atau apapun itu, aku tidak peduli lagi. Ini adalah perasaanku, dan aku mencintainya.


-00-


            “Ini indah...”


            Aku tak henti-hentinya berdecak kagum pada beberapa gambar yang berhasil diabadikan oleh sang fotografer dengan sempurna. Di foto-foto itu aku terlihat seperti seorang ratu dengan gaun putih bersih dan juga mahkota yang terbuat dari bunga-bunga. Bahkan saat melihat gambar-gambar itu aku hampir merasa tidak percaya jika itu adalah aku.


            “Kau suka?”


            “Hmm.. hasilnya luar biasa. Bisakah aku melakukan pengambilan gambar satu kali lagi?”


            “Tentu saja, kau beoleh melakukan sebanyak yang kau mau.”


            “Tapi aku membutuhkanmu di sini.”


            Aku menarik tangan Junhyu agar berdiri tepat di depanku, lalu membuat salah satu tangannya berada di atas perut buncitku. Ia kemudian tersenyum geli saat mengetahui maksud tersembunyi dari menariknya bergabung. Ia tahu jika aku ingin dirinya memiliki sebuah foto denganku. Ini akan menjadi foto pertama dengannya yang diambil tanpa paksaan, tanpa senyuman palsu, atau tanpa sandiwara apapun.


            “Terimakasih untuk semuanya.”


            “Itu sudah menjadi tanggungjawabku.” jawabnya lembut. Kedua mata kami saling beratapan dengan kilat-kilat cahaya putih kamera yang mulai menghujani kami. Aku tersihir dengan mata sendunya, dan aku bersyukur karena telah menjadi miliknya. Mata sendu dibalik kacamata tebal itu selamanya akan menjadi sihir


dan juga candu untukku. Bila tak melihat sebentar saja mata sendu itu, aku akan merasa hidupku kosong, seperti ada lubang besar yang menganga di hatiku. Dan anehnya itu selalu terjadi setiap Junhyu mulai sibuk meninggalkanku untuk melakukan perjalanan bisnis atau menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya hingga larut malam di perpustakaan kampus.


            “Junhyu...”


            “Ya?”


            Kurasa aku memang sudah gila. Tubuhku tiba-tiba bergerak maju, dan bibir kami kini telah bertautan satu sama lain dengan tangan kananku yang mengalung di lehernya, lalu tanganku yang lain berada di atas telapak tangan Junhyu yang sejak tadi berada di permukaan perutku.


            “Aku mencintaimu.” bisikku sangat pelan ditengah-tengah ciuman kami. Sedikit tidak yakin bahwa ia akan mendengar kata-kata pernyataan cinta dariku, tapi ternyata ia mendengarnya. Ia membalas ciumanku, lalu kami saling mencium dengan lensa kamera yang terus membidik kami dari berbagai sudut. Kuharap Junhyu dapat


membalas perasaanku dan tak menghindarinya lagi seperti biasanya. Aku hidup untuk dicintai, bukan dikasihani. Jadi jika Junhyu memberiku cinta, maka aku akan bertahan di sisinya. Namun bila tidak, aku akan pergi dari hidupnya untuk mendapatkan kehidupanku kembali.