Sweeter Than Coffee

Sweeter Than Coffee
Episode 8



Aku langsung berpura-pura tidak melihatnya setelah selesai dengan acara memasakku bersama ibu. Sepertinya ia


mencium aroma masakan kami yang menggiurkan, sehingga ia langsung berjalan turun untuk segera melahap masakan kesukaannya. Entahlah, aku merasa mual lagi setelah acara memasak dengan ibu. Mungkin aku sebaiknya beristirahat dan tidak memperparah kondisiku dengan melihatnya. Aku tidak sedang dalam mood untuk bertengkar atau berdebat dengannya. Apalagi saat ini ibu sedang bersama kami, aku semakin tidak bisa berlama-lama bersamanya sambil menahan seluruh emosiku yang meledak-ledak setiap kali melihat wajahnya yang sok polos itu.


            “Ayo makan.”


            “Aku pusing, sebaiknya aku istirahat saja.”


            Kulihat ia hendak mengatakan sesuatu, mungkin untuk memaksaku agar aku bertahan di meja makan bersamanya. Tapi pada akhirnya ia tidak mengatakan apapun dan membiarkanku menjauh untuk beristirahat di kamar. Lagipula ini lebih baik daripada aku menunjukan sikap asliku di depan ibunya. Sejauh ini aku masih dianggap sebagai menantu yang baik dan penurut di depan ibunya. Padahal aku yang selama ini ikut menyiksa si cupu itu di sekolah. Aku yang melaporkan si cupu itu pada Jihoo oppa agar ia diberi pelajaran karena telah menebarkan teror mengerikan untukku. Huft, hari ini aku sepertinya sudah terlalu banyak menghela napas. Di bulan ke tiga ini aku merasa moodku sering berubah-ubah membingungkan. Terkadang aku merasa ingin marah, menangis, bahkan aku juga merasa lelah tanpa sebab. Aku seperti tidak mengenali diriku sendiri.


            “Kau tidak makan, tapi kau harus meminum susumu.”


            Aku terlonjak bangun dari ranjangnya... yeahh, ini adalah kamarnya, bukan kamaku, jadi ranjang ini bukan milikku. Tapi ia baru saja mengejutkanku dengan kemunculannya. Sungguh, kenapa ia harus kembali lagi ke sini ketika aku sedang tidak ingin melihat wajahnya.


            “Aku masih kenyang.”


            Ia tetap berjalan mendekat kearahku tanpa mempedulikan jawaban sakarstikku. Lee Junhyu yang menikah denganku memang sangat berbeda dengan Lee Junhyu yang kukenal di sekolah. Ia tidak lagi terlihat lemah seperti biasanya, justru sekarang ia terlihat lebih berkuasa dan menyebalkan.


            “Ini bukan untukmu, tapi untuk anakku, jadi jangan menyiksa anakku hanya karena keegoisanmu.”


            “Jika ini anakmu, kenapa harus aku yang membawanya kemana-mana, kenapa bukan kau! Dengar pria aneh, sebenarnya aku sangat ingin memindahkan janin ini ke tubuhmu. Jika aku bisa aku ingin melepaskannya dari perutku lalu membuangnya entah kemana. Tapi aku tidak bisa! Aku tidak pernah bisa membencinya sebesar apapun aku mencobanya. Ia selalu membuatku merasa bersalah dan merasa menjadi wanita paling buruk yang pernah ada di muka bumi ini. Aku... aku....” sekarang aku merasa persediaan oksigen di paru-paruku hampir habis karena perasaan sesak yang tiba-tiba mendesakku. Lalu air mata sialan ini tiba-tiba meluncur begitu


saja dari mataku, dan membuat keadaanku semakin terlihat menyedihkan di hadapan si cupu itu. Pada akhirnya aku tidak bisa menyelesaikan kalimatku untuknya, dan aku justru menangis dengan napas pendek-pendek yang terlihat seperti pengidap asma. Junhyu kemudian berjalan mendekat kearahku dan memelukku erat sambil


mengusap punggungku perlahan. Selain itu ia juga mengecup puncak kepalaku berkali-kali dengan sentuhan selembut kapas yang berhasil membuatku perlahan-lahan mulai tenang. Sial! sihir apa yang telah dilakukan pria ini padaku, mengapa tubuhku tiba-tiba menjadi seperti berkhianat pada diriku sendiri?


            “Ssshh... tenanglah, semuanya akan baik-baik saja. Aku di sini akan menjagamu dan anak kita.”


Bughh


            Aku mendorong bahunya keras dan membuatnya sedikit terhuyung dengan tatapan datar yang menyiratkan kekesalan. Ini racun, aku tidak bisa membiarkannya bersikap seperti itu di hadapanku karena perlahan-lahan ia bisa saja menjeratku kedalam pusaran kehidupannya yang aneh itu.


            “Tinggalkan aku sendiri.”


            “Aku tidak ingin menjadi jahat untukmu Anna. Cukup sekali aku berbuat jahat dengan merusak masa depanmu, jadi berikan aku kesempatan untuk menebus semuanya.”


Prankk


            “Aaarghhh.... aku membencimu Junhyu! Aku benci dengan kehidupan sialan ini!”


            Aku tak kuasa menahan seluruh emosi dan kesedihan yang menumpuk menjadi satu di hatiku. Pria itu benar-benar telah memperparah semuanya. Kehidupan ini terasa sangat sulit untuk kulalui, bahkan kujalani. Saat ini aku masih berusaha untuk menerima semua ini, menerima posisiku untuk menjadi seorang ibu di usia yang masih sangat muda. Tapi pria itu selalu saja membuat luka di hatiku kian menganga dan melebar. Kejadian malam itu tak pernah sedikitpun hilang dari kepalaku. Aku tidak bisa berhenti menyalahkan kebodohanku sendiri dan kepicikan Junhyu yang ternyata melakukan semua itu dalam keadaan sadar.


            “Tolong tinggalkan aku sendiri, pergilah ke bawah bersama ibumu.” mohonku dengan suara lirih. Aku seperti kehilangan seluruh tenagaku setelah membanting gelas berisi susu ibu hamil yang diberikan Junhyu. Ya Tuhan, tolong bantu aku untuk mengendalikan diri. Di satu sisi aku tidak ingin mengecewakan ibu Junhyu, tapi aku juga tidak bisa mengabaikan rasa perih di hatiku setiap kali mengingat fakta menyedihkan ini. Andai aku bisa memutar waktu, aku ingin sekali memperbaiki semua kesalahanku di masa lalu. Aku ingin menjadi Anna yang lebih baik, yang tidak bersikap begitu jahat pada pria cupu bernama Lee Junhyu agar semua petaka ini tidak terjadi.


            “Aku tidak bisa meninggalkanmu sendiri di sini. Maaf, meskipun aku tahu itu tidak


akan mengubah apapun. Namun aku menjanjikan sebuah kebahagiaan di masa depan, tolong beri aku kesempatan untuk membuktikannya.”


            Lagi, aku seperti terhipnotis kedalam kata-katanya. Dan setelah itu aku hanya pasrah ketika ia membawaku kedalam pelukannya. Tubuhku seperti luruh begitu saja di dalam dekapan tubuhnya yang hangat, lalu perlahan-lahan aku memejamkan mataku dengan damai sambil membayangkan hal-hal indah yang bisa kulakukan di masa depan. Kumohon, aku ingin tetap seperti ini. Aku ingin terus merasakan kedamaian ini sampai kapanpun.


-00-


            Sekolah ini benar-benar indah. Meskipun aku hanya bertahan di sini selama satu tahun, tapi aku memiliki banyak kenangan yang menyenangkan di sini. Termasuk menjadi ratu promnight bersama Jihoo oppa yang tak akan pernah kulupakan. Belaian lembut angin yang begitu tenang ini benar-benar memanjakanku hingga aku tak ingin berpindah seinci pun dari sini. Setelah apa yang terjadi padaku hingga detik ini, aku akhir-akhir ini lebih banyak menyendiri di sini, di lapangan basket yang sepi di jam-jam pulang sekolah para siswa. Sebenarnya lapangan ini sering digunakan untuk berlatih basket, namun karena ini sudah mendekati akhir masa pembelajaran, banyak siswa yang lebih memilih untuk meliburkan diri dari rutinitas latihan yang mungkin membosankan.


            “Akhir-akhir ini aku sering melihatmu melamun di sini, apa kau sedang memiliki masalah?”


            “Oh, hai..”


            Aku menyapa Jihoo oppa tanpa minat yang saat ini sedang berjalan kearahku. Ternyata ia masih cukup memperhatikanku setelah hubungan kami telah berakhir. Tiga hari yang lalu aku memberi ketegasan padanya jika aku tidak bisa menjadi kekasihnya lagi. Namun aku memberinya kesempatan untuk menjadi temanku. Jadi mulai sekarang kami adalah teman, dan untungnya ia tidak keberatan dengan itu.


            “Apa rencanamu setelah lulus dari Kirin?”


            “Aku akan melanjutkan studiku ke Amerika, ayahku ingin aku melanjutkan perusahaannya, jadi aku harus mulai mempersiapkannya sejak saat ini. Aku akan segera meninggalkan kehidupan nakalku untuk melangkah ke kehidupan yang lebih serius.” ucapnya dengan tatapan menerawang. Akhir-akhir ini kulihat Jihoo oppa sedikit berubah. Ia menjadi seorang pria yang lebih tenang, tidak lagi menindas orang lain seperti dulu, dan ia juga terlihat lebih serius. Mungkin sekarang ia sudah mulai bersikap dewasa untuk kebaikan masa depannya.


            “Itu bagus, setiap orang memang harus berubah menjadi lebih baik. Ada apa dengan wajahmu?” tunjukku pada wajahnya yang penuh dengan lebam keunguan di beberapa sisi.


            “Kau pasti tidak percaya....” sambil terkekeh getir, Jihoo oppa memainkan jari-jarinya yang terjalin membentuk sebuah kepalan tangan. Lalu ia menatap kearahku sambil terkekeh lagi dengan kekehan aneh, antara kesal dan juga malu. “Si cupu itu membalas pukulanku saat aku memukulinya beberapa hari yang lalu.”


            Sudah kuduga jika saat itu Junhyu memang baru saja dipukuli oleh Jihoo oppa. Namun yang mengejutkanku, aku tidak menyangka jika ia ternyata memiliki cukup keberanian untuk melawan Jihoo oppa. Padahal selama ini pria cupu itu hanya diam setiap kali Jihoo oppa dan teman-temannya memukulinya, lalu ia hanya merintih kesakitan sambil terbatuk-batuk beberapa kali karena merasakan sesak di dadanya akibat pukulan di perut yang ia terima bertubi-tubi.


            “Aku tidak percaya, tapi sekarang aku percaya karena lebam-lebam yang ditinggalkan pria aneh itu masih berada di wajahmu. Bagaimana bisa si cupu itu memiliki keberanian untuk melawanmu oppa?”


            “Aku juga tidak tahu, tapi ia menjadi semakin sombong setelah ia menggemparkan seisi sekolah dengan kebenaran yang selama ini selalu ia sembunyikan.”


            “Tentang status sosialnya yang sebenarnya?” tebakku tepat sasaran. Akhir-akhir ini seisi sekolah menjadi lebih sering membicarakannya yang ternyata bukan dari keluarga miskin seperti perkiraan mereka sebelumnya. Apalagi Lee Junhyu tidak datang ke sekolah hanya dengan mobil abu-abu gelap yang saat itu ia naiki bersamaku, tapi ternyata ia masih memiliki beberapa koleksi mobil lain, yang harganya tak kalah fantastis dengan mobil abu-abu gelapnya yang dulu ia gunakan. Pantas saja seisi sekolah sekarang menjadi segan padanya. Mereka tidak pernah lagi mengolok-olok Lee Junhyu dengan sebutan pria cupu atau pria aneh, mereka justru lebih sering berjalan tergesa-gesa setiap kali berpapasan dengan Junhyu karena pria itu juga sering menunjukan tatapan mengintimidasinya yang mengerikan. Ck, Lee Junhyu memang sangat misterius. Bahkan aku sendiri terkadang menjadi sulit untuk menebak jalan pikirannya. Disaat aku muak padanya dan merasa sangat marah padanya, Junhyu mampu meredam emosiku dengan sikapnya yang selembut kapas. Namun ia juga dapat berubah menjadi lebih berbahaya jika ia mulai mengeluarkan sisi gelapnya yang dingin, yang terasa begitu mencekikku setiap kali kami berhadapan satu sama lain.


            “Kukira ia dulu hanya seorang kutu buku yang angkuh dan menyebalkan. Ia tidak mau membagikan kepintarannya di kelas, itulah alasannya mengapa ia lebih sering mendapatkan perlakuan kasar dari teman-temanku. Dan sekarang sikapnya menjadi lebih sombong karena ia berhasil membuat seluruh sekolah terpukau dengan kekayaannya. Sialan! ia sengaja menggunakan cara picik seperti itu untuk menjatuhkan orang lain.”


            “Kau benar, Lee Junhyu memang sangat picik. Fisiknya yang tampak lemah membuat banyak orang mudah tertipu dengan penampakannya. Jika dipikir-pikir, mungkin ia lebih berbahaya darimu dan teman-temanmu oppa. Terkadang aku merasa takut dengan tatapan matanya yang mengintimidasi itu.” ucapku lirih sambil menatap keluar pagar lapangan basket yang sepi. Di ujung sana, tepatnya di samping pilar penyangga lapangan basket, aku melihat pria cupu itu sedang berdiri di sana, menatapku dengan tatapan mengintimidasinya sambil memasukan kedua tangannya kedalam saku celana. Tapi aku memilih untuk mengabaikannya dan mengalihkan tatapan mataku kearah Jihoo oppa. Biarkan saja ia lelah menungguku di sana karena aku sedang tidak ingin pulang bersamanya. Aku ingin menikmati waktuku sendiri di sini, bersama masa laluku yang sekarang telah menjelma menjadi sahabatku. Dan syukurlah, saat aku kembali mengalihkan tatapan mataku keluar pagar lapangan basket, pria itu sudah tidak ada lagi di sana. Sosoknya telah menghilang layaknya hantu, namun entah kenapa aku masih saja merasakan aura mencekam yang ia tinggalkan di ujung sana untuk menjatuhkan mentalku.


-00-


            Gerimis... dan aku refleks memeluk perutku sendiri, seakan-akan aku takut gerimis itu akan menyakitinya. Yah... sedikit memalukan untuk kuakui, tapi sekarang aku mulai terbiasa dengan kehadirannya di perutku. Sekarang aku merasa jika ia adalah bagian dari diriku juga, sehingga aku tidak boleh menyakitinya dan harus terus


melindunginya, apapun yang terjadi. Meskipun aku sangat membenci ayahnya hingga ingin melenyapkannya dari kehidupanku, tapi aku tidak boleh ikut membencinya juga.


Tiin tiin


            Aku mengerutkan keningku dalam, namun sedetik kemudian aku merubah ekspresi wajahku menjadi datar saat aku tahu jika pria itu yang baru saja membunyikan klakson di sebelahku adalah Junhyu. Pria cupu itu lagi... kupikir ia sudah pulang dan akan meninggalkanku sendiri untuk pulang menggunakan kendaraan umum. Tak masalah sebenarnya aku pulang menggunakan bus, aku bukan wanita yang seekslusif itu, setidaknya itu diriku yang dulu. Sekarang aku mulai merubah cara pandangku tentang dunia yang kejam ini. Perlahan-lahan aku mulai mengibarkan bendera kekalahan untuk ketidakberdayaannku melawan takdir yang telah digariskan Tuhan untukku.


            “Masuklah, diluar sangat dingin Anna...”


            Aku menghembuskan napasku pelan, lalu mulai berjalan memutar untuk bergabung bersama Junhyu di dalam mobil yang hangat. Kuakui, hawa di luar memang sangat dingin. Apalagi dengan baju seragamku yang sudah sedikit basah ini. Kurasa sebentar lagi aku akan menggigil kedinginan dengan bibir membiru dan gigi yang bergemeletuk.


            “Aku mencarimu di sekolah, tapi kau tidak ada. Kupikir Jihoo telah mengantarmu pulang.”


            Ia berucap dengan nada datar sambil menyalakan pemanas mobil untuk menghangatkan tubuhku yang mulai menggigil kedinginan akibat suhu di luar yang memang sangat dingin. Rasanya sangat melegakan ketika udara hangat yang lembut itu mulai menormalkan suhu tubuhku yang sebelumnya terasa sangat dingin seperti bongkahan es.


            “Tadinya ia memang ingin mengantarku pulang, tapi aku menolaknya.”


            Setelah itu ia hanya diam dan lebih memilih fokus pada jalanan yang cukup lenggang di depannya. Karena di luar sana sedang hujan, tidak banyak yang berlalu lalang di jalanan yang kami lewati. Hanya mobil-mobil dan beberapa kendaraan umum yang ikut meramaikan jalan bersama suara berisik hujan yang terdengar begitu membosankan. Aku kemudian memberanikan diri untuk memutar musik klasik dari dvd player yang tersedia di dalam mobil Junhyu. Kuakui, selera musik pria itu sangat berkelas. Bahkan aku tak menyangka jika Junhyu memiliki koleksi musik-musik klasik yang begitu lengkap di dalam mobilnya.


            “Kita ke rumah sakit dulu untuk mengecek keadaannya.”


            “Akhir-akhir ini ia menjadi lebih merepotkan, morning sickness-ku sangat parah sejak tiga hari ini.” ucapku mencoba berkompromi dengan keadaan. Aku tidak mungkin terus berdebat dengannya, membencinya, dan menyalahkannya sepanjang waktu. Toh kehidupanku tidak akan pernah berubah. Aku akan tetap terjebak di dalam pernikahan ini dan menjadi wanitanya. Ya, aku akan terus menjadi milik Lee Junhyu sampai kapanpun.


            “Nanti kita akan mengatakannya pada dokter supaya kau mendapatkan obat anti mual. Apa kau ingin makan sesuatu?” tanyanya penuh perhatian. Tapi satu-satunya hal yang sangat kuinginkan saat ini hanyalah menjauh darinya, pulang ke rumahku, lalu bersikap seolah-olah aku tidak pernah menikah dengannya. Dengan permintaannku yang seperti itu, apakah ia mampu mewujudkannya? Kurasa jawabannya adalah tidak.


            “Aku tidak ingin apapun saat ini. Oh, Jihoo oppa beberapa saat yang lalu mengatakan padaku jika kau membalasnya saat ia memukulimu seperti biasa.”


            “Kupikir sudah saatnya aku menunjukan diriku yang sebenarnya padanya. Jika aku mau, aku bisa saja mematahkan tulang-tulangnya.”


            Aku langsung menoleh cepat kearahnya untuk memastikan jika pendengaranku tidak salah. Jadi seperti inilah penampakan asli dari si cupu Lee Junhyu? Ia ternyata memiliki sisi lain yang begitu mengerikan, yang berhasil membuatku bergidik ngeri hanya dengan melihat ekspresi wajahnya yang sangat pias, namun penuh akan teror mengerikan.


            “Aku benar-benar tidak mengerti denganmu, apa sebenarnya tujuanmu melakukan ini? Apa kau hanya berpura-pura terlihat cupu demi memperdaya orang lain, lalu kau akan muncul sebagai pribadi yang berbeda setelah kau berhasil menjebak seseorang yang tak berdaya sepertiku? Rasanya aku ingin berteriak setiap kali mengingat keadaanku yang telah jatuh terlalu jauh kedalam permainanmu. Apa kau sengaja melakukan ini untuk menyakitiku?”


            Lagi-lagi aku tidak bisa membendung lelehan air mata yang mulai meluncur satu persatu dari sudut mataku. Aku lemah, dan aku tolol karena selama ini mencoba bermain-main dengan seorang Lee Junhyu yang nyatanya menyembunyikan sesuatu yang sangat mengerikan dibalik wajah sok lemahnya yang memuakan itu.


            “Bukan, aku tidak pernah bermaksud seperti itu Anna.” ia menghentikan kalimatnya sejenak dan terlihat bingung dengan kata-katanya karena ia hanya diam selama beberapa menit setelah ia berhasil memarkirkan mobilnya dengan mulus di jajaran mobil-mobil yang juga terparkir rapi di halaman rumah sakit, namun aku tahu jika ia masih memiliki beberapa kalimat lagi untuk disampaikan. “Suatu saat pasti kau akan mengerti mengapa aku melakukan hal ini.”


            Aku mengernyitkan dahiku tak terima saat ia hanya mengakhiri kata-katanya dengan sebuah kalimat yang berhasil membuatku semakin tidak mengerti dengan dirinya. Lee Junhyu justru menambah daftar pertanyaann di hatiku mengenai siapakah dirinya yang sebenarnya? Mengapa ia begitu penuh dengan misteri dan teka-teki yang sangat sulit dicari jawaban kebenarannya?


            “Aku tidak akan mengerti jika kau tidak menjelaskannya padaku.” kejarku dengan mimik wajah marah. Namun ia hanya diam sambil terus berjalan menuju lobi rumah sakit. Sepertinya aku memang harus mengakhiri konfrontasi sore menjelang malam ini, dan menyimpannya untuk dilanjutkan di lain waktu. Oh, aku nyaris lupa untuk mendeskripsikan bagaimana penampilan Lee Junhyu saat ini. Ia... sedikit berbeda sebenarnya. Saat aku memasuki mobilnya beberapa saat yang lalu, sebenarnya aku cukup terkejut dengan penampilan barunya yang cukup mengagumkan. Junhyu sekarang tidak lagi memiliki rambut panjang yang nyaris menutupi seluruh matanya, namun Junhyu telah memotong rambutnya menjadi lebih pendek dan rapi, sehingga ia semakin terlihat menarik untuk dilihat. Maksudku ia sudah tidak lagi membosankan seperti dulu. Tapi tetap sjaa, itu belum bisa mengurangi kebencianku padanya karena seluruh perbuatan tercelanya hingga detik ini.


“Nyonya Im Anna!”


            Aku tersentak kaget saat seorang perawat memanggilku dari balik meja pendaftaran. Aku yang sejak tadi terus memikirkan si aneh Junhyu dan segala teka-tekinya menjadi tidak fokus dengan apa yang terjadi di sekitarku. Hasilnya, sekarang aku justru berdiri dengan wajah linglung diantara para wanita yang sama-sama sedang menunggu giliran untuk diperiksa oleh dokter Kim Seohyun.


            “Ayo Anna, namamu sudah dipanggil.”


            Entah bagaimana, Lee Junhyu tiba-tiba telah menggenggam tanganku, lalu ia menarikku perlahan-lahan menuju ruang pemeriksaan yang pintunya telah dibuka lebar-lebar oleh sang perawat. Sejenak aku hanya tertegun sambil memandangi jalinan jari-jari milik Junhyu yang sedang melingkupi tangan kananku dengan erat. Ini gila, sangat gila!


            “Selamat malam, silahkan duduk.”


            Dokter Seo menyapaku dengan ramah sambil memperhatikan kemesraan yang ditunjukan Junhyu di hadapannya. Andai aku sedang dalam keadaan normal, mungkin aku akan langsung


mendorong tubuh pria ini keras untuk menjauhkannya dari tubuhku. Tapi saat ini aku tidak dalam kapasitas untuk itu. Tubuhku baru saja kehujanan, aku kedinginan, aku merasa lemas karena hormon kehamilan sialan ini, lalu aku baru saja mendapatkan teka-teki yang membingungkan dari Lee Junhyu. Dengan keadaanku yang seperti itu, bagaimana mungkin aku dapat mengumpatinya seperti dulu?


            “Bagaimana keadaan anda di trimester pertama ini nyonya?”


            “Aku mengalami morning sickness yang mengerikan.” dan aku juga mengalami tekanan batin yang sangat menyiksa. Sayangnya aku tidak bisa mengatakan hal itu di hadapan dokter Seo karena ia adalah dokter kandungan, bukan seorang psikolog yang bertugas untuk menenangkan kebimbangan hatiku.


            “Baiklah, silahkan anda berbaring di ranjang pemeriksaan untuk melakukan USG.”


            Dengan sedikit malas-malasan, aku berjalan lurus kearah ranjang pemeriksaan yang jaraknya tak begitu jauh dari kursi tempatku duduk. Di belakangku, aku merasa kedua mata sendu Junhyu sedang menatapku sungguh-sungguh untuk memastikan jika aku dapat berjalan dengan benar hingga mencapai ranjang berukuran single itu. Dan saat dokter mulai menaikan baju seragam sekolahku untuk mengoleskan gel di permukaan perutku, aku tiba-tiba merasa malu dan ingin menutupinya. Tatapan mata Junhyu yang intens membuatku sangat gugup, ia seperti sedang menelanjangiku dengan gelagatnya yang tampak pias, namun kedua matanya tak pernah sedikitpun lepas dari perutku yang sudah tampak membuncit.


            “Lihatlah, janin anda sudah mulai berkembang nyonya. Ini adalah kepalanya, lalu ini adalah


tangan dan kakinya yang masih belum terlalu sempurna, namun ia akan segera terbentuk dengan baik seiring dengan bertambahnya usia kandungan anda.”


            Aku mengamati ekspresi wajah Junhyu yang tampak sangat serius dengan layar monitor yang menampilkan gambar anaknya. Yah.. bukankah pria itu yang mengklaim jika anak itu adalah anaknya, jadi aku dengan senang hati juga akan mengatakan jika itu adalah anaknya karena semua ini terjadi karena kepicikan pikiran jahatnya.


            “Dia sangat kecil dan rapuh.” gumam Junhyu takjub. Entah karena apa, ia tiba-tiba


berdiri lalu berjalan mendekat ke sisi kanan ranjang pemeriksaan yang kosong. Melihatnya berdiri di sana, aku sudah memasang mimik wajah was-was kearahnya karena takut ia akan melakukann sesuatu yang membuat aku syok atau apa. Tapi ternyata ia hanya berdiri di sana, lalu sebelah tangannya terangkat untuk mengelus puncak kepalaku dengan lembut.


            “Aku akan selalu melindungi kalian berdua dan menjadi ayah yang baik untuknya.” bisiknya lembut di telingaku hingga sekarang aku merasa rambut-rambut halus di seluruh tubuhku mulai bergidik merinding. Sial! apa yang sebenarnya direncanakan Junhyu untuk memporak-porandakan hidupku? Apa yang sebenarnya pria itu inginkan dari drama kehidupanku yang rumit ini?


-00-


            Aku merindukan teman-temanku, aku merindukan Jessica dan Tiffany. Ini sudah satu bulan berlalu sejak aku meninggalkan Kirin. Kehidupanku selama ini tidak memiliki banyak perubahan selain masalah kehamilanku yang mulai membuatku belajar untuk menjadi wanita yang lebih sabar. Seperti pagi ini, morning sickness-ku belum sepenuhnya hilang, padahal usia kehamilanku sudah memasuki bulan ke empat. Menurut dokter morning sickness ini bisa hilang kapan saja, tergantung hormon atau mood bayi yang sedang tumbuh di rahimku. Tapi sepertinya ia masih ingin melihat ibunya tersiksa. Obat penghilang rasa mual yang diberikan oleh dokter Seo seperti tidak berefek apa-apa untukku yang setiap pagi harus merasakan mual-mual hebat hingga muntah dan berakhir tak berdaya di bawah westafel. Namun entah itu bagus atau tidak, Lee Junhyu selalu dengan sabar merawatku saat morning sickness menyebalkan itu datang. Ia akann memijat tengkukku dengan lembut, menungguku hingga semua isi perutku habis terkuras, mengelap bibiku dengan handuk bersih dari lemari, lalu menuntunku perlahan-lahan untuk kembali berbaring di atas ranjang. Hampir setiap hari ia melakukan itu ketika morning sickness-ku datang, kecuali saat ia harus pergi pagi-pagi sekali untuk mengikuti ujian masuk universitas yang dilaksanakan selama beberapa hari ini. Tapi kuyakin ia akan diterima dengan mudah. Bahkan tanpa melakukan ujianpun ia pasti akan langsung diterima di universitas paling bagus di kota ini. Tapi sekali lagi, pria sombong itu memilih jalur yang biasa-biasa saja untuk masuk ke universitas yang menjadi incarannya. Dan jika ia sedang sibuk seperti ini, maka tugas-tugasnya akan dilimpahkan pada bibi Jung karena ibu mertuaku sedang dalam perjalanan bakti sosial di luar kota.


            “Nona, sarapan anda sudah siap.”


            “Oh, terimakasih bibi, aku akan turun sebentar lagi.”


            Bibi Jung selalu mengingatkanku pada mendiang nenekku yang telah tiada. Dulu nenek juga sering membuatkanku sarapan dan mengasuhku saat ibu dan ayah selalu sibuk dengan urusan mereka di luar negeri. Bisa dikatakan jika nenek adalah sosok yang paling dekat denganku dan yang paling mengerti dengan kehidupanku. Sayangnya kebersamaan kami tidak berlangsung lama, hanya lima tahun aku hidup bersama nenekku, setelah itu aku mulai menjalani hari-hariku yang membosankan sendiri dengan seluruh harta yang ditinggalkan oleh orangtuaku untuk dihambur-hamburkan.


Drrt drrt


            Tiba-tiba aku melihat ponselku bergetar-getar di atas nakas sambil berkedip-kedip heboh. Seseorang pasti sedang merindukanku di seberang sana hingga ia memutuskan untuk menelponku di pagi hari yang membosankan ini.


            “Halo Tiffany! Bagaimana kabarmu? aku sangat merindukanmu!” teriakku heboh sambil memukul-mukul bantal merah mudaku yang saat ini tergletak dengan mengenaskan di atas lantai karena aku baru saja melemparnya dengan gemas.


            “Aku baik Anna, bagaimana denganmu? Aku sangat sangat merindukanmu, ayo kita keluar, pergi ke klub seperti dulu.”


            Aku sedikit mempertimbangkan ajakan Fanny dengan dahi berkerut. Sepertinya itu menyenangkan. Aku memang membutuhkan sedikit udara segar untuk megurai masalah-masalah yang sedang menghimpitku akhir-akhir ini.


            “Kapan kita akan pergi?”


            “Malam ini?”


            “Baiklah, aku ikut. Sudah lama aku tidak bersenang-senang dengan kalian.”


            “Tapi Anna, kau belum menceritakan masalahmu yang sebenarnya pada kami.”


            “Maaf, aku belum bisa mengatakannya sekarang. Aku belum siap.” Tambahku sedih. Entah sampai kapan aku akan menyembunyikan semua ini pada Tiffany. Mereka pasti akan sangat syok jika mengetahui kabar pernikahanku dengan Junhyu. Sudahlah, aku tidak mau membahasnya lagi. Masalah itu hanya akan membuatku semakin pusing dan mual.


            “Tidak apa-apa Anna jika kau belum siap, sampai jumpa nanti malam.”


            Syukurlah Tiffany cukup memahami posisiku. Terkadang aku merasa jika orang-orang terlalu cepat memberikan penilaian pada kami. Mereka pikir kami jahat, kami angkuh, dan sulit untuk didekati, padahal menurutku kami tidak seperti itu. Kami hanya memiliki standar yang cukup tinggi untuk menentukan teman, dan kami lebih paham bagaimana caranya bersenang-senang dibandingkan siswa-siswa yang lain di luar sana, sehingga cara bersenang-senang kami mungkin dianggap terlalu berlebihan dan lebih banyak menghambur-hamburkan uang milik orangtua kami.


            “Nona, tuan Junhyu baru saja meminta saya untuk menyuruh anda makan.”


            “Apa Junhyu baru saja menelpon?”


            “Tuan Junhyu mengatakan jika ponsel nona sedang sibuk, sehingga ia mengubungi telepon rumah untuk mengecek keadaan nona. Tuan Junhyu juga berpesan jika hari ini ia akan pergi ke Jepang selama dua hari.”


            “Jepang?” tanyaku dengan dahi berkerut. Untuk apa pria cupu itu pergi ke sana, apa ia berubah pikiran dan akan melanjutkan studinya ke luar negeri?


            “Tuan Junhyu memiliki perusahaan yang harus dipimpin, itu adalah peninggalan dari mendiang kakeknya.”


            Jadi... Lee Junhyu yang cupu itu adalah pria yang hebat? Oh Tuhan, tolong bangunkan aku sekarang juga jika ini mimpi? Aku tidak tahu lagi bagaimana caranya bernapas atau bersuara setelah bibi Jung membeberkan fakta-fakta jika Lee Junhyu adalah pria mapan yang bersembunyi dibalik wajah cupunya yang menggelikan.