
Alasan dia bersikap baik dan perhatian pada Kamila terutama di depan Manuel hanya karena Joy ingin memastikan, apakah adiknya itu memiliki perasaan pada gadis itu apa tidak, apa Manuel ingin menikahi Kamila karena menyukainya atau tidak.
Karena Manuel Mallory orang yang suka sekali berganti-ganti pacar dan berganti perempuan seperti dia berganti ampas pakaian bekas.
Manuel adalah jenis orang yang tidak pernah secara gamblang dan dia tidak pernah cukup terang-terangan ingin menikahi perempuan manapun dan siapapun, tapi pernah mengikrarkan ingin menikahi Kamila?
Joy masih melihat wajah adiknya itu.
Meskipun sikap keduanya sangat mirip, namun Joy, tidak pernah sekalipun berfikir ingin menikahi Kamila.
Bagi Joy, tubuh Kamila sangat jauh dari minat dan hasratnya. Meskipun dia binatang buas sekalipun yang penuh nafsu, tapi Joy tidak menyukai perempuan yang berada di bawah umur.
Seperti Kamila Yasmin yang baru berusia delapan belas tahun..
"Kamila, Joy tidak akan pernah menyukai kamu dengan tulus dan ada saatnya kamu akan menyesal lebih memilih Joy daripada aku." Manuel mengeryitkan keningnya saat melihat pasangan yang berbeda umur seperti langit dan bumi itu saling berbisik tepat di depan wajahnya.
Manuel masih melemparkan pertanyaan untuk gadis itu. "Katakan, kenapa kau mau menikah dengan Joy dan kenapa tidak dengan aku saja?"
Kamila tidak tahu harus menjawab bagaimana.
Jelas Kamila tidak ingin menikah dengan Manuel juga tidak ingin menikah dengan Joy jika di lihat dari umur dua lelaki itu yang kepalan tiga.
Jika Manuel tidak mengancamnya dengan membocorkan dia anak hasil hubungan gelap dari Haesti dan membuatnya terpaksa harus menerima pinangan Manuel sebagai barang suap..
Dia tidak akan pernah kabur dari rumah dan Kamila tidak akan pernah secara sengaja menikah dengan Joy Mallory!
Kamila butuh waktu buat menjawab pertanyaan Manuel itu. "Karena Joy.. pernah nyelametin kesucian Kamila."
Bola mata Manuel sedikit menyusut karena terkejut saat dia mendengarnya, dia terdiam selama beberapa saat.
Manuel bertanya dengan nada sinis. "Jadi itu alasan kamu menerimanya dan karena aku yang lebih dulu b*ngsad karena mengancam keluarga mu kan?"
Kamila mengangguk sejujurnya dan Manuel pergi begitu saja seolah tadi dia tidak pernah berbicara dengan mereka berdua.
Saat Manuel sudah pergi, Joy bertanya pada Kamila. "Apa cara Manuel ngancam keluarga mu, kenapa tidak bilang sebelumnya?"
Jika di tanyai begitu tentu saja Kamila menceritakan keb*ngsatan Manuel yang menilainya sebatas barang suap atau aib Haesti dan dia akan di gunjing oleh para mulut tetangga.
Kamila menggelengkan kepalanya samar dan dia menghembuskan nafasnya. "Joy, kamu juga tahu sendiri orang-orang paling julid yang namanya sama anak haram."
Kamila berbicara pada lelaki itu. "Kamila dan mama memang orang miskin, tapi kalau di gunjingan para tetangga Kamila anak dari luar nikah.. Kamila gak akan kuat sampai kapanpun."
Apalagi gosip ibu-ibu arisan di sekitaran kompleks, gosip yang sangat pedas dan sangat menyelekit itu.. Kamila gak akan kuat mendengarnya setiap hari.
"Aku tahu." Joy mengangguk mengerti. "Jika ada yang bicara buruk tentang mu, aku akan robek mulut mereka. Kalau ada yang nyakitin mu, aku akan patahin tulang mereka."
Joy menarik sudut alisnya dan dia berkata dengan tegas. "Pegang ucapan ku, Joy Mallory tidak pernah mengatakan omong kosong."
Kamila tidak yakin dan tidak percaya, karena menurutnya semua lelaki sama di matanya. Seperti janji sang pacar yang akan menemaninya dalam setiap keadaan dan kesusahan, buktinya hanya omong kosong yang keluar dari mulut Elang di awal-awalnya doang.
Kamila sudah hafal dengan semua lelaki, baik itu yang jelek atau yang tampan, si kaya dengan si miskin, pasti hanya mengumbar janji manis seperti capres di pemilu yang janjiin ini itu..
Tapi ujung-ujungnya, kebohongan juga.
Capek karena mengharapkan sesuatu setinggi langit jika ujungnya di kecewain.
"Beliau baik-baik saja hanya karena terkejut berlebihan tekanan darah pak Herman sedikit naik." Kata dokter pribadi keluarga Mallor yang baru saja selesai mengecek keadaan Herman saat ini.
Dokter pribadi itu juga memberi saran pada mereka. "Untuk kedepannya beliau harus istirahat satu minggu penuh, tidak boleh berpikiran berlebih dan beliau saat ini tidak boleh mendengar kabar yang membuatnya mudah terguncang yang bisa menyebabkan penyakit stroke."
Dokter itu juga tidak lupa memberi obat yang harus di minum rutin tiga kali sehari. Saat dokter pribadi itu sudah pergi, Joy berkata pada Kamila yang ada di sebelahnya.
"Karena bokap sedang tidak baik keadaannya jadi aku akan sibuk seminggu kedepannya mengurus perusahaan Mallor, dan karena Manuel tidak pernah berbakti, aku titip bokap sama kamu.."
Joy berkata pada Kamila. "Aku titip bokap, jagain kesehatan dia."
Melihat wajah pucat mertuanya itu, dan eskpreksi Herman yang kurang suka padanya, Kamila tidak tahu cara berinteraksi pada Herman apalagi jagain kesehatan mertuanya selama beberapa hari ke depan.
Kamila sedikit ragu sebelum dia menganggukkan kepalanya. "Akan Kamila coba.."
"Thanks ya." Joy tersenyum kecil, dia mengangkat kepalanya dan mengelus ujung kepala Kamila.
Tanpa terasa keesokan harinya sudah berlalu, karena Manuel memilih pergi dari rumah selama beberapa hari jadi Joy dan Kamila membuat keputusan untuk tidur di kamar berbeda.
Kamar yang di tempati oleh Kamila sekarang sangat luas dan hampir setengah luas dari rumahnya dulu yang kamarnya saat ini lengkap dengan kamar mandi yang berfasilitas utama.
Setelah selesai mandi Kamila mencoba untuk menghubungi ibunya Haesti karena sudah beberapa hari dia tidak pulang ke rumah dan acara kaburnya juga belum pamitan.
Kamila mengambil ponsel kemudian menekan nomor telepon ibunya. Selama beberapa saat panggilannya hanya berdering, Kamila mencoba meneleponnya sekali lagi.
Saat panggilannya terhubung Kamila mencoba berbicara. "Ma, ini Kamila."
Suara Haesti terdengar sangat khawatir di sebrang sana. "Nak kenapa memutuskan untuk kabur? Pulang sekarang ke rumah.. mama khawatir sama kamu."
Kamila merasa dia belum bisa pulang jika keputusan Haesti masih bersikukuh untuk memberikannya sebagai barang suap ke Manuel. "Ma, Kamila gak mau nikah sama Manuel Mallory, Kamila masih mencintai Elang.. jika Kamila nikah, Kamila maunya nikah sama Elang."
"Ma, pernikahan tidak bisa di paksakan karena seumur hidup harus menua dan tinggal di rumah yang sama sampai mati, jika awal pernikahan saja tidak ada perasaan menghormati dari Manuel, setelah dua tahun.. atau lima tahun rumah tangga yang di dasari seperti itu akan mudah retak!"
Kamila berbicara pada Haesti di sebrang telepon itu seolah dia belum menikah dengan Joy sama sekali. Kamila tidak ingin bercerita saat dia kabur, saat itu juga dia sedang menikah dengan Joy Mallory.
Statusnya yang sekarang sudah menjadi istri orang, Kamila berusaha menyembunyikannya serapat mungkin dari Haesti.
Terutama juga dari sang pacarnya, Elang.
Haesti masih membujuk Kamila untuk pulang dan suaranya terdengar sangat sedih. "Kamu sekarang tinggal di mana mama khawatir kamu sudah makan atau belum sekarang, dan bilang sama mama kalau butuh uang mama akan kirim.."
Mendengar suara sedih dari ibunya sendiri, Kamila sedikit melunak. "Kamila tinggal di rumah temen, mama gak usah khawatir dan jangan kirim uang, temen yang Kamila tumpangin rumahnya dia kaya, jadi Kamila tidak kekurangan apapun."
Suara Haesti terdengar sangat menyesal. "Kamila kalau perasaan mu sudah membaik segera pulang ke rumah, mama janji gak akan paksa Kamila menikah dengan siapapun. Dan untuk pacarmu Elang, jika dia baik untuk kamu, mama sekarang restuin kalian berdua tapi.. cepet pulang ke rumah mama takut terjadi sesuatu padamu yang tidak-tidak.."
Kamila sangat terkejut dengan ibunya yang sudah memberikan lampu hijau untuk pacarnya, hanya dengan mendengarnya saja Kamila sudah sangat dan sangat senang, tapi memikirkan dia sedang menikah dengan Joy dia kembali merasa sedih lagi..
Tapi dia bisa menunggu sampai mereka bercerai dua tahun lagi baru Kamila akan menceritakan kabar baik ini pada satu-satu orang yang sekarang Kamila masih cintai, yaitu sang pacar.
Tentu saja, Elang.