Sweet Wedding

Sweet Wedding
Aku sebenarnya sudah nikah



Tepat seperti yang di katakan Joy sebelumnya, dia hanya butuh waktu sekitar lima belas menit untuk sampai di restoran tempatnya membuat janji dengan Zea.


Segera saat dia membuka pintu kaca restoran dia bisa melihat sosok perempuan yang ramping sudah menunggunya di sana dan entah di sengaja atau tidak, perempuan itu mengenakan gaun yang paling di sukai Joy saat mereka masih berpacaran dulu.


Gaun merah, tidak terlalu terang dan juga tidak terlalu gelap, tanpa lengan seakan memamerkan lengan proporsional Zea yang kencang dan putih, dan tanpa kerah seolah langsung memanjakan mata Joy saat melihat celah di antara dada Zea juga ada kalung emas pemberiannya yang ada berlian merah yang juga cocok untuk di kombinasikan dengan gaun itu.


Ketika Zea berbalik dia langsung menangkap postur tubuh tinggi Joy jadi dia segera menyambar lelaki itu dan langsung memeluknya, sekaligus cara memeluk yang sudah menjadi hubungan kontak fisik di antara keduanya.


"Joy, ada hal penting yang ingin aku bicarakan sama kamu." Zea masih memegang erat lengan kiri Joy dan mereka berjalan bersama menuju kursi, sebelum pria itu duduk, Zea sudah melepaskan tangannya dari lengan lelaki itu dengan sangat enggan.


Zea terlihat seperti sudah melupakan apa yang membuat dia sangat penasaran mengapa Joy Mallory yang terbiasa datang tepat waktu saat dia memanggilnya, tiba-tiba ada urusan penting yang membuat pria maskulin itu bisa datang terlambat.


Joy masih menanggapinya seperti biasa. "Kau mau bicara apa?"


Zea tiba-tiba terlihat sangat malu dan untuk sekejap ada warna blush on di pipinya. "Joy, apa kamu masih.. menyukai, tidak, apa kamu masih mencintai ku?"


Joy diam sejenak, tidak menganggukkan kepalanya atau menggelengkan kepalanya tapi malahan dia bertanya balik. "Apa kau masih menyukai Manuel?"


"Joy, aku sama Manuel.." Zea menundukkan kepalanya. "Aku sama Manuel sudah putus Joy."


Joy Mallory hanya mengangkat sedikit sudut bibirnya ke atas, dia sedikit ingin mengumpat.


Zea, kau seperti rubah yang licik. Setelah putus dengan Manuel lo mau ngajak balikan lagi sama Joy? Lebih baik lo tidur dulu deh, karena Joy mau berpacaran lagi sama lo itu.. terjadi..


Hanya dalam mimpimu!


"Lalu?"


"Terus?" Joy bertanya dengan suara dingin.


Zea terperanjat terkejut, dia lalu berinisiatif buru-buru mengambil tangan Joy yang di letakkan di atas meja sebelum dia berbicara dengan suara sedih.


"Joy, aku sebenarnya masih memikirkan mu, mencintaimu.. aku tahu berselingkuh dengan Manuel itu salah, aku tahu. Joy, untuk sekali ini saja maafkan aku.."


Mungkin karena air mata yang menetes ke pipi Zea, alis Joy yang terbiasa tegas perlahan sedikit luluh. "Jadi, kamu maunya bagaimana?"


Zea tidak berniat menyeka air matanya tapi dia langsung menjawab. "Beri aku kesempatan lagi, kita kembali lagi berpacaran seperti dulu Joy.."


Joy berdehem sedikit sebagai tanggapan.


"Mungkin kalau kau mau jawab jujur, aku akan pertimbanganin lagi." Joy berkata setelah jeda selama beberapa detik.


"Pertama, kenapa kamu bisa putus sama Manuel?"


Saat mendengarnya air mata Zea kembali mengalir lebih deras. "Dia minta putus sama aku, karena.. Manuel bilang dia akan menikah."


"Kapan itu terjadi?"


"Sudah seminggu kami putus."


Meskipun di luar ekspereksi wajah Joy terlihat sangat tenang, sebenarnya dia lagi berpikiran tentang adiknya itu. Manuel sudah sangat susah payah merebut Zea dari tangannya, seolah hanya dengan melihat Joy menderita Manuel akan senang. Tapi dia tidak berpikir jika adiknya itu sewaktu mengumumkan pernikahannya dengan Kamila pada ayah mereka, Herman dan pada saat makan malam tiga hari lalu..


Sebenarnya Manuel sudah putus dengan Zea, malahan tujuh hari yang lalu.


Dia tidak tahu apa yang di lihat Manuel dari Kamila yang membuatnya bisa memutuskan Zea, jika di pikirkan lebih baik.. Kamila Yasmin, gadis itu..


Masih sangat dan masih terlalu kurang jika di bandingkan dengan Zea.


Tapi yang paling terpenting untuk pria berumur matang sepertinya, ukuran dada Kamila juga tidak akan cukup jika di genggaman tangan Joy yang besar.


Dalam hal fisik, sebenarnya Zea masih banyak mencuri perhatian di mata Joy, tentu saja ukuran dada bekas pacarnya itu sangat tidak main-main.


"Jadi kau di putusin Manuel karena dia mau nikah sama cewek lain?" Sebelum Joy berkata dingin pada perempuan itu.


"Dan kamu balik lagi ke aku.. hanya minta balikan?"


Zea masih bersikukuh menundukkan kepalanya dan dia terlihat sangat menyesal. "Joy.. beri aku kesempatan."


Joy acuh tak acuh menjawab yang sebenarnya. "Gak bisa, aku sebenarnya sudah nikah."


Seperti di sambar petir di siang bolong, Zea langung mengangakat kepalanya dan melihat ekspreksi wajah Joy yang sepertinya tidak sedang main-main. "Joy kamu bohong kan kenapa kamu menjawabnya seperti alasan Manuel yang mau nikah. Joy, kalian berdua sebenarnya sedang bercandain aku saja kan?"


"Terserah kau mau percaya atau tidak." Joy tidak mau repot-repot dengan Zea akan mempercayainya atau tidak, tapi dengan adanya Kamila dia ingin ngebuat Manuel rasain bagaimana rasanya perempuan yang miliki oleh Manuel Mallory di rebut olehnya.


Entah itu alasan Manuel tiba-tiba mau nikah sama Kamila karena Manuel sebenarnya menyukai gadis itu atau tidak, tapi dia sebagai Joy Mallory..


Dia akan membalas dendam berkali kali lipat meskipun Manuel adiknya sendiri.


Joy akan membalaskan dendamnya pada Manuel, pertama-tama di mulai dari menggunakan Kamila.


Hanya memikirkannya saja, tiba-tiba Joy tersenyum puas. "Sudah dulu aku mau balik."


Zea secara refleks karena tidak ingin membiarkan Joy pergi begitu saja, dia langsung mengengam tangan Joy dan berusaha untuk menghentikan pria itu.


"Joy, jadi kita kembali lagi pacaran.."


"Tidak." Joy meliriknya sejenak, sebelum melepaskan tangan Zea di lengan jasnya.


"Beri aku kesempatan.." Zea mencoba memohon lagi.


"Jadilah p*lacur yang penurut dan tetap di batasan mu, dengan begitu aku akan pertimbanganin kamu lagi." Joy tersenyum sarkas dan berbicara dengan dingin sebelum dia pergi dari perempuan yang pernah dia cintai itu.


Zea melepaskan tangannya kecewa, sejak dia menjalin hubungan diam-diam sama Manuel sikap Joy padanya berubah seratus delapan puluh derajat, dan kali ini bahkan lebih dingin dari sebelumnya.


Seolah wajah Joy, dan semua sikap Joy yang pernah sangat hangat padanya tiba-tiba berubah seperti balok es yang membeku.


Zea tidak ingin melepaskan Joy lagi, jadi dia segera berlari menyusul laki-laki tinggi itu dan langsung memberikan pelukannya dari belakang.


Zea masih bergumam. "Joy.."


"Maafkan aku, beri aku kesempatan lagi aku ingin hubungan kita kembali seperti dulu."


Dia masih memeluknya sangat kencang bahkan punggung gagah Joy sangat terasa di wajahnya Zea, tepatnya di sebelahnya pipi kirinya. "Joy, jawab yang sebenarnya kamu masih mencintai ku atau tidak.."


Karena dia tertahan dari belakang, otomatis Joy memilih untuk berhenti. Dia tidak berbalik untuk membalas pelukan Zea dan dia hanya diam dan tidak bergerak sedikitpun.


Jika di tanya apa dia masih menyukai Zea.. menilai dari tubuh Zea yang ideal adalah bentuk karakteristik tipe ideal Joy, sekaligus perempuan itu sebagai seseorang yang bertubuh seksi.


Sebenarnya dia, Joy Mallory masih menginginkan bekas pacarnya itu..


Zea.