
Saat Kamila memberanikan diri untuk memberikan obat pada ayah mertuanya itu, Herman sama sekali tidak menggubrisnya. Cara ayah mertuanya yang acuh tak acuh seolah menganggap Kamila hanya segelindinggian debu seperti tidak melihatnya sedikitpun.
Jadi Kamila berdiri tepat di depan kursi roda ayah mertuanya yang sedingin balok es seakanĀ tidak ada bedanya sedikitpun dengan eskpreksi wajah Joy.
"Karena Joy sibuk di perusahaan selama satu minggu, jadi Joy nyuruh Kamila untuk jagain kesehatan anda. Setidaknya untuk satu minggu.. biarkan Kamila jaga Mr. Herman sebagai menantu yang berbakti."
Herman menaikkan alisnya. "Bagaimana saya bisa minum obat dari orang lain yang asal usulnya tidak jelas?! Kamu menikahi anak saya karena ingin harta keluarga Mallor kan? Kamu juga pasti diam-diam naruh racun di dalam obat agar mengikis kesehatan saya sedikit demi sedikit!"
Kamila ingin sekali langsung nyebut sebanyak seribu kali. Dia tarik lagi jika mertuanya itu sangat mirip dengan judesnya Joy, tapi Herman lebih suka berburuk sangka tanpa barang bukti apapun yang jelas!
Astaghfirullah, lagian kenapa Kamila ingin racunin mertuanya itu? Toh jadi menantu permanen juga dia sangat ogah!
"Kamila bersumpah, jika Kamila nyampurin racun ke dalam obatnya. Kamila akan di sambar seribu petir jika Kamila berbohong!"
"Apa kamu menganggap saya itu anak kecil?" Herman mengendus dan pergi.
"Mr. Herman!" Kamila mencoba manggilnya.
"Kamila bisa berjanji, Kamila akan hengkang dari rumah ini dalam dua tahun. Jadi, anda tidak perlu mencurigai saya ingin merampok properti Mallor.. karena dalam dua tahun, Kamila dan Joy akan bercerai."
Entah Herman akan merestuinya dengan Joy apa tidak, bagi Kamila, tidak ada bedanya.
"Bercerai?" Herman menghentikan kursi rodanya dan berteriak di depan wajahnya. "Cerai dengan anakku di detik ini!"
Kamila, "...."
Plis, itu juga sebenarnya harapan Kamila sekarang. Pengen cepet-cepet cerai dari Joy, terus nikah sama Elang!
Dia ingin sekali berteriak di depan wajah mertuanya itu, tapi seorang Kamila Yasmin yang dari orok di didik Haesti bagaimana sopan santun terutama pada yang lebih tua.
Maka dia hanya bisa menerima nasib dan tersenyum ramah.
"Kamila dan Joy, kami punya alasannya sendiri.."
Memperhatikan punggung ayah mertuanya mendorong kursi roda dan pergi, Kamila merasa semakin capek.
"Mister.. kami tidak bisa cerai di detik ini, nanti siapa yang siapin Joy sarapan?"
"Pembantu." Anehnya mertuanya itu kali ini menggubrisnya.
Kamila benar-benar hampir mengerutu tapi tiba-tiba teleponnya berdering.
Dia mengangkatnya. "Hallo?"
"Kenapa kau belum datang?" Suara dingin Joy terdengar mengeluh di sebrang sana sebelum dia akhirnya tidak tahan untuk segera membentak. "Kan aku sudah bilang kamu harus siapin makan siang jam dua belas, sekarang hampir jam setengah dua belas kau kesini sekarang!"
"Baik.." Kamila menjawab pasrah saat panggilannya di matikan secara sepihak oleh Joy.
Karena yang sarapan tadi pagi hanya mereka berdua, tentu saja nasi goreng yang dia buat masih banyak tersisa. Jadi dengan gampangnya Kamila pindahin sisa sarapan tadi ke kotak bekal terus berangkat ke perusahaan Mallor untuk memberi makan siang ke suami tuanya yang berusia tiga puluh delapan tahun sedangkan si mertuanya, berumur kepalan enam.
Mungkin saja jika dia menolak perintah Joy, sebagai gadis yang baru lulusan sekolah menengah atas.. tentu saja dia akan di gilas sampai gepeng dan hancur berkeping-keping.
Tanpa perlu mengulur waktu lama karena Kamila di antar oleh pengawal khusus Joy, jadi dia tidak di hadang saat masuk ke perusahaan terbesar se-Indonesia itu meskipun model pakaiannya masih terlihat agak kampungan dan tidak cocok masuk ke tempat megah seperti itu.
Kamila bertanya pada pengawal berjas hitam yang berdiri di belakangnya. "Ngomong-ngomong Kamila tidak tahu ruangan Joy yang mana. Kamu jangan berjalan di belakang Kamila, berjalan di depan dan Kamila yang ngikutin."
Pengawal itu juga menjelaskan pada Kamila. "Di lantai paling atas hanya ada satu ruangan, sekaligus juga ruangan pribadi milik tuan. Karena orang sembarangan tidak di ijinkan masuk ke sana, jadi saya hanya bisa mengantarkan nyonya sampai di depan pintu lift ini saja, maafkan saya."
Kamila menggelengkan kepalanya tidak apa-apa. Saat pintu lift terbuka dan mengirimkan Kamila ke lantai teratas, Kamila bisa melihat seorang perempuan juga ada di ruangan itu.
Dia berbatin dengan dirinya sendiri karena ruangan teratas adalah ruangan khusus pribadinya Joy, jadi tidak ada orang sembarangan yang di ijinkan masuk selain orang tertentu yang di kenal baik oleh Joy sendiri.
Kamila melihat perempuan itu sejenak, karena dia sendiri tidak tahu silsilah keluarga Mallor.. mungkin saja perempuan itu kerabat jauhnya Joy.
Saat melihat Kamila perempuan itu sangat terkejut. "Bagaimana orang sebrangan seperti mu bisa masuk ke lantai teratas? Apa kamu tidak tahu aturan di perusahaan ini?"
"Ini ruangan VIP sang CEO, siapapun tidak bisa masuk sembarangan ke sini!"
Sebelum perempuan itu semakin berteriak-teriak sampai membuat tekanan darahnya tinggi, Kamila mengangguk. "Kamila juga datang ke sini karena terpaksa di suruh buat nganterin makan siang, sebenarnya sih, Kamila ogah dan males banget."
Saat Kamila mengatakannya, dia juga diam-diam melihat body yang aduhai bak gitar sepanyol. Mengenakan pakaian yang seksi, tapi yang paling jelas.. perempuan itu juga sangat cantik.
"Kamu nganterin makan siang untuk Joy?" Perempuan itu tiba-tiba bertanya dan melembutkan suaranya. "Kamu adik sepupunya Joy ya? Karena selain Manuel, dia gak punya adik kandung lagi."
Kamila hampir saja menggelengkan kepalanya, tapi dia buru-buru menganggukkan kepalanya. Karena daripada tersebar kenyataan ke seantero jagat dia istri mudanya Joy, mending-mending ada rumor mendadak dia adiknya pria itu.
"Ya, Kamila adik sepupunya. Ngomong-ngomong mas Joy ada di dalam? Kamila cuma mau nganterin makan ini saja dan lagi buru-buru juga.. bisa gak ya Kamila minta tolong sama kamu buat nganterin makanan ini ke dalam?"
Perempuan itu langsung mengambil alih kotak bekal yang di bawa Kamila dengan antusias. "Ya, aku akan pastiin makanannya akan di habiskan sama Joy dan tidak tersisa satu suap pun!"
Kamila tersenyum, dia langsung berbalik dan buru-buru pergi. Tapi ketika kakinya melangkah sekali, tangannya sudah lebih dulu di cekal oleh tangan pihak lain yang lebih kuat.
Kekuatan yang sama, sama-sama mendominasi yang pernah di rasakan Kamila sebelumnya.
"Kau mau lepas tanggung jawab?" Suara itu bertanya dingin di belakang telinga Kamila.
Di hadapan seekor binatang buas seperti Joy, tenaga Kamila seperti kecapung yang mendarat di atas kubangan air yang hanya bisa menyerah.
Dia langsung tersenyum kompromi. "Hehehe.. kan Kamila bawain makan siangnya.."
"Ya, tapi kenapa kotak makan siang ku, dengan idiot nya kau kasih ke orang lain?" Joy menyimpitkan matanya sangat dingin.
"Bagaimana jika orang itu naruh narkoba ke makanannya? Kamila, kelakuan mu itu terlalu ceroboh buat keselamatan siapapun."
Karena terlalu fokus untuk menghentikan Kamila dan mencekal pergelangan tangan itu cepat-cepat, Joy baru sadar sebenarnya ada perempuan lain yang berdiri di sana, yang sebenarnya juga adalah Zea.
Melihat tingkah keduanya, Zea buru-buru menengahi. "Joy jangan terlalu kasar sama adik sepupu mu sendiri, kasihan dia. Juga adik sepupu mu itu nitipin bekal makanan siang ini ke aku buat di kasih ke kamu."
"Aku juga tidak berani nyampurin makanannya dengan narkoba atau yang aneh-aneh, Joy.. aku kan bukan orang lain."
Joy terlihat terkejut dengan kedatangan Zea yang tanpa dia duga, namun keterkejutannya masih sejalan dengan akalnya.
Dia menyimpitkan matanya sangat tajam, sebelum dia bertanya dingin yang mengintograsi mereka berdua.
"Siapa yang adiknya siapa?"
Joy menunjuk Kamila. "Yang kau maksud dia cuma sekedar sepupu? Zea, mata mu buta ya.."