Sweet Wedding

Sweet Wedding
Hati Joy sudah sangat hitam sampai-sampai tidak bisa di tolong lagi



Ketika Joy bertanya dingin ke arahnya dan mencibirnya karena kalah mendapatkan Kamila di garis finis, Manuel tersenyum kecil juga seolah-olah bukan senyuman. "Lebih baik kalian segera bercerai."


Joy mengangguk. "Tentu, jika aku sudah bosen dengan Kamila kau bisa pungut."


Menuel yang mendengar hinaan Joy seolah dia pemulung barang bekas, dia tanpa sadar mengepalkan semua jari-jari tangannya dan kepalan tangannya sangat ketat. Dia pasti bisa merebut Kamila dari genggaman tangan Joy, dan lihat saja nanti saat Kamila akan menjadi miliknya, seperti ketika dia merebut Zea dari Joy maka saat itu akan segera tiba.


Karena Manuel sudah pergi, Kamila berniat untuk kembali ke kamarnya sendiri tapi Joy yang berdiri seperti patung yang kokoh di belakangnya segera bertanya dengan judes. "Ke arah mana kau mau pergi."


Kamila mendesah nafas dan dia menjawab dengan malas. "Pergi ke kamar lah."


Joy berdehem sedikit sebagai tanggapan sebelum dia memberikan perintah dengan suara dingin. "Masuk ke kamar ku dan tidur di sana."


Kamila masih setengah termangu tapi Joy segera mendesaknya lagi. "Cepat masuk."


Tapi sebelum Kamila bisa bertanya apa-apa lebih jauh, Joy lebih dulu menarik pergelangan tangannya, tentu saja tenaga yang dia gunakan lebih kencang dari tarikan Manuel tadi sampai membuat Kamila mengeryitkan keningnya kesakitan.


Saat mereka berdua sudah masuk, dengan suara yang keras pintu kamar Joy segera terbanting tertutup oleh pria dominasi itu dan Joy segera mendorong punggung Kamila sampai membentur batas pintu.


Dia bergumam tipis. "Untuk selanjutnya ketika ada Manuel di dalam rumah ini, kau harus tidur dengan ku."


Karena desakan untuk tidur sekamar dengan pria itu, tentu saja Kamila merasa sangat tidak sudi, lagian mereka juga nikah pura-pura kenapa dia harus mematuhi peraturan Joy untuk tidur satu ruangan dengannya?


"Tidak mau."


Joy, "...."


Joy menarik dagu Kamila sampai kedua pandangan mata mereka bertemu dan seolah-olah tindakan Joy untuk menjalin pikiran satu sama lainnya, seakan mata Joy berusaha untuk menggali lebih dalam ke dalam diri Kamila setiap jengkalnya.


Dan saat itu, dia bertanya dengan serius. "Katakan pada ku, apa kau benar-benar menganggap pernikahan kita palsu?"


Melihat diamnya Kamila, Joy tanpa sadar menarik sudut bibirnya ke atas sebelum dia terkekeh geli. "Meski aku memang terpaksa nikahi mu karena desakan warga kompleks waktu itu, kita nikah secara agama, ada saksi, dan ada aku dan kamu. Dan apanya yang salah jika ku meminta hak sebagai seorang suami malam ini?"


Kamila seolah-olah tersambar petir di siang bolong, mendengar hak melakukan 'itu' dari mulut Joy, dia langsung tergagap.


"J-Joy kamu gak sungguh-sungguh kan, meminta hak 'itu' pada Kamila?"


Tapi sebelum perempuan itu bisa bertanya lebih jauh, Joy dengan malas melepaskan tangannya dari dagu Kamila. "Apa kau sinting ngira aku akan nyentuh mu yang masih di bawah umur?"


Joy berbalik ke arah lemari untuk ganti pakaian yang bersih karena jas dan kemeja kerjanya sudah sangat dekil. "Meskipun aku bejat dan kotor sekalipun, aku gak akan bernafsu melihat kau yang di bawah umur. Jadi jangan berfikir bagian bawah ku bisa berdiri hanya karena dada kau yang masih setipis kertas."


Ketika Joy mengambil handuk untuk mandi, dia berbicara pada Kamila lagi dan nada bicaranya masih sedingin biasanya. "Jangan berfikir yang percuma, aku gak akan menyentuh mu sedikitpun karena melihat wajah mu, gak bisa membuat aku bernafsu."


"Intinya, tubuhmu sama sekali gak bisa bikin aku tertarik sedikitpun."


Melihat Joy pergi ke kamar mandi setelah mengambil handuk, Kamila membeku dengan wajah bodoh, dia masih berdiri di tempatnya dan tidak bergerak sedikitpun dan seinci pun.


Sangat bagus jika Joy berjanji untuk tidak menyentuhnya, jadi Kamila bisa merasa tenang untuk malam ini. Tapi untuk malam selanjutnya saat berpikir Joy adalah tipe orang yang akan menindih perempuan manapun seperti Zea.. maka dia harus menjaga jarak ribuan mil dari Joy.


"Kenapa kau masih belum tidur?" Sambil mengeringkan rambut dan wajahnya yang basah, Joy mengeryitkan keningnya dalam-dalam melihat Kamila yang masih ada di situ. "Kenapa kau diam melamun, apa kau kesetanan?"


"Tidur!" Karena Kamila tidak menjawabnya sedikitpun tanpa sadar Joy membentak keras.


Kamila terkejut dan Joy sedikit merendahkan suaranya. "Mau aku perlakuan kasar atau lembut malam ini?"


"Joy ji-jika kamu memperlakukan Kamila dengan kasar, maka Kamila akan keluar dari rumah ini dan pindah ke apartemen!" Kamila berkata tergagap saat dia mengancam Joy, dia bahkan sampai mundur selangkah ke belakang karena keberaniannya untuk membantah Joy meluap hari ini.


Mendengar ancaman Kamila, Joy seolah-olah tersenyum sangat takut. "Baik, aku akan memperlakukan mu dengan lembut."


Kamila hanya menunduk. "Jadi.. Joy, kamu yang tidur di sofa malam ini dan Kamila di kasur."


Joy, "...."


"Aku gak akan sudi memakan mu, mau gak mau kita tidur sekasur."


"Tapi.." Kamila mencoba menawar sekali lagi.


Joy yang melihat istrinya itu yang banyak tuntutan, dia langsung berteriak kesal. "Gak ada tapi-tapian, kalau aku bilang tidur sekasur ya cepat tidur!"


Karena peraturannya Kamila tidak bisa membantah apapun perkataan Joy, jadi Kamila hanya bisa mengangguk dengan sangat patuh. Dan karena baru pertamakalinya dia memasuki Kamar Joy, Kamila berjalan dengan tergagap dan dia melihat sekeliling ruangan itu yang sepenuhnya berwarna hitam dan terlihat gelap, baik itu lemari, kasur ataupun dinding semuanya barang-barang Joy mayoritas berwarna hitam.


Saat melihat warna hitam itu Kamila berpikir jika hati dan jantung Joy juga sepertinya sangat gelap pekat seolah pria maskulin itu adalah sosok alpha yang kotor dan hina, orang yang eksotis yang tidak peduli dengan hati nurani selain pergumulan yang bergairah.


Orang yang suka terjebak pada nafsu perempuan manapun dan mungkin hati Joy sudah sangat hitam sampai-sampai tidak bisa di tolong lagi dan di sucikan lagi.


Tapi Kamila adalah orang yang masih sangat polos jadi dia tidak bisa memperhatikan seberapa kotor Joy sebenarnya yang pastinya bukan seorang perjaka.


"Kenapa kau melamun lagi?" Joy tidak tahan untuk mengejek dan bertanya. "Apa tidur mu mengerikan, mendengkur, ileran dan mengompol. Jadi kau malu merasa malu begitu?"


Kamila cepat-cepat menggelengkan kepalanya dan dia kemudian berjalan dengan meraba-raba ke arah tempat tidur, karena ruangan Joy sangat gelap tanpa sengaja kakinya membentur di salah satu ujung meja dan hampir membuatnya jatuh ke depan. Tapi sebelum dia jatuh, Joy sudah lebih dulu menarik tangannya dan memegang pinggangnya untuk dia tarik ke dalam pelukannya.


Di peluk dengan tiba-tiba seperti ini, jantung dan aliran darah Kamila langsung terpompa keras dan dia berusaha melepaskan pinggangnya yang sebenarnya memiliki ukuran sangat pas jika ada di dalam pelukan Joy.


Mencoba membebaskan diri dari lingkaran lengan Joy yang kokoh dan juga di pastikan kuat, Kamila langsung berteriak. "Lepas!"


"Joy kamu janji gak akan sentuh-sentuh Kamila! Tapi apa ini, kamu coba-coba ambil kesempatan ya?!"


Joy juga tidak ragu untuk melepaskan tangannya dari pinggang Kamila, dan saat dia melepaskannya Kamila langsung tersungkur ke depan dan Joy langsung mengangakat tangannya ke atas. "Apa kau sinting?"


"Ck, kurang waras."


"Aku pegang kau agar gak jatuh, tapi jika tidak sudi ku sentuh. Jatuh aja sekalian, beres."


"...." Kamila langsung mengusap lututnya yang sakit.