Sweet Wedding

Sweet Wedding
Ada aku yang akan belain kamu



Dan begitulah Joy meninggalkan Zea di restoran yang di jamin mahal itu tanpa berniat untuk balikan lagi. Tapi dia sebagai seorang pria dewasa jika terus menerus di rayu Zea sampai keluar dari batas pertahanannya sendiri, akan ada waktunya dia akan lepas kendali juga.


Karena dia cukup di usia menikah untuk melakukan hubungan biologis, lepas kendali akan menjadi hal yang wajar.


Meskipun demikian Joy mempunyai naluri seperti seekor hewan, tapi dia tidak akan menaruh benihnya ke sembarangan orang dan sembarangan perempuan seperti Zea.


Setelah menemui Zea tadi, Joy kemudian melakukan pekerjaannya seperti biasanya di perusahaan Mallor tanpa terasa hari dia kembali ke apartemen hanya berlangsung sekejap mata.


Saat dia memasuki apartemen miliknya ada yang berbeda dari yang biasa, yang dulu ruangan itu sangat pengap dan sunyi sekarang sudah ada sedikit tanda-tanda kehidupan orang lain yang secara tidak terduga tiba-tiba terlibat dengannya.


Joy melihat ke meja yang sudah ada satu porsi telur gulung, karena dia seharian ini sangat sibuk Joy tidak ingat jika dia belum memakan apapun, jadi dia segera menghabiskan makanannya yang sepertinya di siapkan Kamila untuk menunggu kepulangannya.


Dia mengambil satu dan saat menghabiskannya, Kamila berdiri di depannya sambil membawa secangkir minuman.


"Itu kan.. telur gulung yang Kamila buat, kenapa kamu yang baru datang tiba-tiba memakannya?"


"Joy, kenapa ngehabisin makanan Kamila? Kalau lapar buat sendiri lah.." Kamila juga langsung menyambar piring yang masih tersisa telur gulung.


Joy ingin sekali tersedak dan dia berbatuk-batuk tiga kali. "Kau.. buat ini bukan untuk ku?"


Kamila malah bertanya balik. "Kenapa juga Kamila harus buat makanan untuk kamu?"


"Kamu kan orang kaya, jadi beli saja makanan di luar.. Joy, suruh aja pengawal mu buat pesan makanan nanti juga bisa di anterin lewat gojek."


Joy, "...."


Susah ya bicara sama perempuan yang sangat tidak peka, suaminya baru pulang bukan di tawarin makan atau di buatin kopi, malah di nyiyirin.


Inilah sebabnya dia tidak suka sama orang yang di bawah umur, selain asetnya masih kecil sikapnya juga akan kekanak-kanakan.


Joy ingin sekali berdesis. "Kau kan istri ku jadi harus buatin makanan waktu aku pulang."


Kamila segera memutuskan ucapannya. "Pernikahan pura-pura dan terpaksa karena keadaan, jadi Kamila tidak mempunyai kewajiban untuk memuaskan suami palsu!"


Mereka juga bukan nikah resmi, selain mereka berdua dan warga yang menggiring mereka, tidak ada orang lain yang tahu jika keduanya sebenarnya sudah menikah.


"Oh, jadi kamu mainnya beginian..?"


"Kalau begitu jangan salahkan aku beritahu pacar mu kalau kita sebenarnya sudah menikah, tinggal tunggu aja waktu kau di putusin."


Joy mengeryitkan keningnya. "Apa kau akan membangkang lagi?"


Kamila menggelengkan kepalanya, jika Joy bermulut ember memberitahukan pada Elang, pasti Elang akan meminta putus darinya karena pacarnya tidak ingin menjadi penganggu rumah tangga Kamila.


Joy tersenyum puas. "Bagus, kalau begitu kemarikan telur gulungnya karena aku masih belum kenyang."


Kamila hanya bisa pasrah memberikan telur gulungnya padahal dia sudah membuatnya susah payah, jika tahu Joy yang akan memakannya Kamila pasti sudah menaruh racun di sana tanpa berpikir dua kali.


Dia sangat benci karena umur suaminya sudah sangat tua dari umurnya, Kamila lebih baik jadi janda saja deh..


Memikirkan umur Joy membuat Kamila mendesah nafas capek.


"Kita tidak akan lagi tinggal di apartemen." Joy tiba-tiba membuka suaranya.


Kamila mendongakkan kepalanya. "Kenapa, keluarga Mallor sudah jatuh miskin?"


Joy tidak menanggapinya malahan dia masih melanjutkan ucapannya. "Kita akan pindah ke rumah utama, di sana ada bokap sama adik ku juga. Jadi aku harus ngenalin menantu dan ipar ke mereka."


"Kamila bukan menantu yang sebenarnya, dan lagi adikmu Manuel.. Kamila gak yakin harus bagaimana waktu ketemu dia, pasti rasanya canggung banget."


"Mungkin Kamila gak akan di terima secara baik oleh mereka.."


Joy hanya berdehem tidak peduli. "Kau pura-pura aja jadi istri yang mencintai suaminya di depan mereka berdua, dan waktu di sana jangan coba-coba melirik Manuel sekalipun, cukup perhatian kau fokus ke aku saja."


"Tapi kalau kau gak mau kerjasama dengan baik, segera hengkang dari sini dan kembali ke rumah orang tua mu untuk nikah sungguhan sama Manuel."


"Buat pilihan, karena keputusan ada di tangan mu sendiri."


Jika ujung-ujungnya kembali ke rumah Haesti untuk menjadi barang suap ke Manuel dan terikat pernikahan sungguhan dengan orang sama sekali tidak Kamila cintai..


Lebih baik, tetap pura-pura nikah sama Joy.


"Baik, Kamila mengerti."


Mata Kamila masih melihat Joy dan mengamati betapa sukanya laki-laki itu dengan telur gulungnya, Kamila melihatnya sejenak setelah beberapa saat kemudian dia bertanya. "Kapan kita pindahan?"


"Sekarang." Kata Joy.


Sebagai seseorang yang tidak bisa membangkang, tentu saja Kamila hanya bisa mengangguk patuh saat para pengawal Joy masuk ke apartemen dan mulai mengemasi barang-barang mereka.


Hanya butuh waktu singkat semua barang Kamila sudah di kemas ke dalam koper dan sudah di masukkan ke mobil. Waktu di dalam mobil Kamila tetap memilih diam karena sebenarnya tidak setuju dengan keputusan Joy yang menyuruh mereka untuk pindah ke rumah utama Mallor.


Joy juga tidak mau repot-repot menghibur gadis itu dan hanya fokus ke hal lain yang sepertinya tidak ada hubungannya dengan Kamila, jadi keduanya hanya duduk di kursi bagian tengah dan suasana mereka sangat hening.


Saat pengawal Joy sekaligus menjadi sopir berhenti di halaman rumah megah, Kamila membuka mulutnya pertama kali pada Joy.


"Joy, Kamila sepertinya gak layak buat masuk ke rumah mewah keluarga Mallor.. apa boleh Kamila tinggal aja di apartemen?"


Joy kali ini turun lebih dulu dan dengan sengaja dia membukakan pintu mobil buat Kamila, dan tangannya terulur. "Jika ada pelayan yang bicarain yang jelek di belakangmu, aku pecat mereka."


Kamila masih terdiam. "Tapi kalau ayah mu dan Manuel yang tidak suka dengan Kamila.. Joy?"


Joy tersenyum lembut, berbicara tidak terlalu rendah ataupun tinggi. "Ada aku yang akan belain kamu."


Kamila sama sekali tidak menganggapnya serius, sampai Joy menarik sebelah kanan ujung alisnya. "Jadi kapan kau jabat tangan ku sekarag, udah pegel nih."


Kamila dengan enggan meletakkan tangannya di uluran tangan Joy, jika di pikir lebih jauh ini adalah pertama kalinya mereka bersentuhan tangan.


Sambil berjalan di rumah keluarga Mallor, Joy masih mengandeng tangan Kamila yang memiliki ukuran lebih kecil yang juga sekaligus cukup di bungkus di telapak tangannya.


Para pekerja kebun dan pelayan yang kebetulan bekerja di halaman begitu melihat Joy, mereka akan membungkuk setengah badan dan menyapanya dengan hormat.


Joy bertanya dengan salah satunya. "Apa bokap sama Manuel ada di rumah?"


Pelayan keluarga Mallor itu segera menjawab. "Tuan besar ada di rumah, tapi untuk tuan muda kedua Manuel.. beliau tidak ada di kediaman selama beberapa hari."


Joy berdehem mengerti dan melanjutkan untuk memasuki rumah masih dengan mengandeng tangan Kamila. Saat dia sampai di ruangan yang biasanya digunakan oleh Herman, kebetulan ayahnya itu sedang ada di sana.


Herman mengeryitkan keningnya dan alisnya secara bersamaan saat melihat penampilan Kamila dari atas ke bawah, eskpreksi yang pasti wajahnya tidak menunjukkan sikap ramah sama sekali untuk perempuan miskin itu.


Ayahnya itu bertanya pada Joy. "Siapa perempuan yang kamu bawa pulang ke rumah?"