
"Mr. Herman!"
Kamila terbelalak kaget saat ayah mertuanya itu tiba-tiba jatuh dari kursi roda dan berbatuk-batuk kesakitan, saat Herman berteriak menyalahkannya tidak lama kemudian para pengawal Mallor segera membawa Herman dan membawa mertuanya Kamila itu untuk beristirahat ke kamar.
Di tempat tidur Herman masih terlihat sangat kesakitan dan dia berulang-ulang kali menyalahkan Kamila. "Semua ini kesalahan kamu saya menjadi kesakitan begini?! Apa kamu menaruh sesuatu yang membahayakan di minuman saya agar saya cepat-cepat meningal dunia dan kamu bisa menguasai kekayaan keluarga Mallor?!"
Kamila yang tidak tahu apa-apa yang di tuduh seperti itu, jelas dia sangat ketakutan kalau ada apa-apa sama mertuanya itu, tapi jelas suwer dia tidak memasukkan hal aneh-aneh ke dalam minumannya Herman!
Di tuduh seperti ini Kamila mencoba untuk membela diri. "Jangan menuduh sembarangan orang, jika tidak ada bukti."
Herman, "...."
Dia baru tahu jika Kamila suka sekali untuk ngeles, karena umur gadis itu masih delapan belas tahun Herman mengira Kamila hanyalah menantu yang mudah di gertak, tapi sebenarnya mulut Kamila seperti belut yang sukanya ngeles dan licin sampai dia di buat kewalahan.
Herman mengendus sedikit. "Sudahlah kamu pergi! Tapi saya akan adukan niat busukmu pada anak saya agar kamu cepat-cepat di pecat sebagai istri, lihat saja hari ketika kamu di tendang dari rumah ini pasti akan tiba!"
Karena Herman uring-uringan sendiri kabar tentang kondisinya yang drop itu juga langsung sampai ke telinga Manuel, dan tidak lama kemudian pintu segera terbuka dan maneul datang dengan seorang dokter pribadi mereka.
"Pa." Manuel berdehem sedikit dan saat tahu bahwa Manuel segera datang karena mengkhawatirkannya, Herman merasa tersentuh karena semua anaknya jika ada kabar kondisinya yang tiba-tiba drop jarang akan ada yang datang.
Tapi kali ini sepertinya ada yang berbeda, yang dulu Manuel acuh tak acuh dengan kondisinya namun sekarang datang cepat-cepat karena khawatir, Herman kembali merasa tersentuh dengan anaknya itu.
"Kondisi kesehatan papa tiba-tiba ambruk?" Manuel bertanya sambil mengeryitkan keningnya, karena aneh saja padahal baru kemarin kesehatan Herman di periksa dan di pantau kenapa tiba-tiba kondisinya ambruk lagi.
Herman berpura-pura berbatuk-batuk sakit sambil menunjuk ke arah Kamila. "Itu istrinya Joy mencoba meracuni saya!"
Karena masih merasa canggung dengan Manuel yang sebenarnya sekarang dia seharusnya menjadi istri Manuel bukan Joy, jadi Kamila membungkam saat di tuduh lagi oleh Mertuanya itu yang seolah-olah Herman sedang mengibarkan bendera peperangan untuknya di depan Manuel.
"Tunggu.." Herman mencoba menahan dokter yang ingin memberiksa keadaannya, tapi setelah dokter itu mengecek kesehatannya dokter itu segera menggelengkan kepalanya.
"Maaf tapi tidak di temukan gejala keracunan apapun di tubuh beliau, mungkin karena kondisinya yang memburuk tiba-tiba di sebabkan karena beliau kelelahan dan terlalu banyak pikiran."
Setelah dokter pribadi itu pergi, Manuel mengeryitkan sebelah keningnya dan menatap dingin ke arah Herman sebelum dia berdesis. "Pa, jangan berkelakuan busuk."
Herman, "...."
Herman berbatuk-batuk dua kali. "Ya, ayah kira Kamila mau ngeracunin saya, ternyata ayah cuma kelelahan saja toh.."
Kamila, "...."
Kamila tertawa kering jelas dia tahu kalau Herman memang sengaja membuat masalah untuknya. Karena sudah ada Manuel yang akan mengurusi Herman, Kamila menundukkan kepalanya sedikit. "Kalau demikian dan tidak terjadi apa-apa, Kamila.. akan keluar lebih dulu."
Tentu saja karena dia bukan menantu yang di sukai atau kakak ipar yang di sukai, baik Herman ataupun Manuel mereka sama sekali mengacuhkan ucapan Kamila dan menganggap apapun yang di ucapkan oleh gadis itu hanya cicitan kecoak yang sama sekali tidak perlu di lirik.
"Aku ada perlu bicara sama kamu." Menghentikan pergelangan tangan Kamila, Manuel berkata dengan suara rendah tapi matanya yang tidak tegas seperti sebelumnya seolah-olah memohon pada Kamila. "Aku ingin bertanya sekali, apa kamu tidak sudi menjawabnya sekalipun?"
Karena di tatap seperti itu, Kamila sempat tertegun sejenak.
Karena tidak ingin merasa canggung terus-terusan dengan orang yang sudah menjadi adik iparnya itu, Kamila mengangguk sedikit sebagai tanggapan. "Kamila coba akan dengarkan."
Manuel tidak perlu waktu untuk bertanya. "Kenapa kamu tiba-tiba nikah sama Joy, kenapa menikah dengan aku kamu memilih kabur saat itu?"
Kamila berkata jujurnya. "Karena selisih umur kita terlalu jauh dan Kamila saat itu masih memiliki pacar, juga karena Kamila baru berusia delapan belas tahun depan umur segitu Kamila merasa belum siap dalam hubungan pernikahan.. jadi Kamila kabur dan tidak ingin menikah dengan siapapun."
Manuel mengeryitkan keningnya tidak percaya. "Terus kenapa kamu mengubah prinsipmu itu dan memilih untuk menikah dengan Joy, tidak mungkin kan kalian berdua tiba-tiba nikah tanpa alasan?"
Kamila terdiam sejenak dan setelah beberapa saat dia akhirnya bergumam. "Joy.. pernah menyelamatkan Kamila."
Dengan jawaban seperti itu, Manuel terbuat sangat terbungkam dan dia tanpa sadar melepaskan tangan Kamila tanpa di suruh.
Karena Joy, tidak biasanya orang itu ingin mengerahkan tenaganya untuk membantu seseorang, apalagi menyelamatkan Kamila tanpa alasan jelas yang sama sekali kebribadian seperti itu bukan yang di kenal oleh Manuel, karena menurut sepengetahuannuaya Joy hanyalah orang yang busuk dan sosok yang 'jauh dari kata baik hati'.
Dengan keterkejutan seperti itu, Manuel masih tidak lupa untuk bertanya lagi. "Lalu kenapa kamu gak nerima pernikahan dari ku yang jelas-jelas lamaran ku lebih dulu dari Joy?"
Kamila ingin sekali menjawab seperti ini. "Karena perbedaan umur kamu dan Kamila yang jauh membuat Kamila di sangka simpanan duda kaya!"
Seolah-olah tahu apa yang ada di dalam isi kepala Kamila, Manuel tiba-tiba tertawa mengejek. "Perbedaan umur kau dengan Joy malahan jauh lebih besar, apa kau idiot tidak tahu hal yang lebih jelas seperti itu?"
Kamila menggelengkan kepalanya tegas. "Manuel apa menurutmu melamar Kamila dan mengancam membocorkan aib ibu Kamila adalah hal yang tepat untuk mu, dan apa menurutmu dengan cara mengancam maka perempuan manapun bisa bertekuk lutut di bawah sepatumu?"
"Manuel, kenyataan kamu mengira Kamila adalah perempuan yang lemah, yang menye-menye dan yang cenggeng adalah salah! Dan daripada menikah dengan mu, lebih baik Kamila ada di bawah gengaman tangan Joy."
Begitu nama Joy di sebut, tidak ada angin dan tidak ada hujan, Joy entah sejak kapan berdiri sambil mengawasi mereka berdua dengan alis yang di angkat ke atas.
Karena siang hari dan selesai dari jam kerja, kerah baju Joy sedikit acak-acakan dan dasi yang sudah tidak lagi rapi. Dan lengannya yang di ringkas secara sembarangan memperlihatkan otot-ototnya yang kuat dan terlatih.
Melihat Manuel yang berbicara dengan Kamila, Joy langsung berkata dingin. "Manuel, apa seperti itu sopan santun mu ke orang yang sudah menjadi kakak ipar mu sendiri?"
Joy terkekeh mengejek. "Sampah, kau sudah kalah di garis finis jadi berhentilah merayu istri ku lagi."
Dia juga mengeryitkan ujung alisnya. "Atau kalau kau sekali lagi berani berbuat lancang ke Kamila, aku gak akan segan-segan memberi mu bogem mentah dan pertanyaan yang seharusnya gak kau tanyakan, akan membuat mulut mu sendiri robek."
"Kita lihat nanti, apa kau masih berani?"