Sweet Wedding

Sweet Wedding
Tapi kau memang kurus seperti kayu



Sesuai permintaan Joy, Kamila bangun pagi-pagi sekali sebelum dia memulai membuatkan sarapan untuk satu rumah keluarga Mallor. Dan tentu saja dia tidak membuat bergedel kentang seperti perintah Joy tadi.


Di sisi lain Herman mengeryitkan keningnya saat dia melihat Kamila yang lagi-lagi menyiapkan sarapan untuk mereka, bukan hanya itu yang membuatnya marah sampai ke ubun-ubun tapi kenapa tiba-tiba Joy melarang semua pelayan untuk memasak kecuali istrinya itu?


Herman berbatuk sekali. "Masakan mu tidak enak, kenapa kau tidak tahu malunya membuat sarapan lagi?"


Kamila mencoba untuk tetap tersenyum saat dia menata seporsi nasi di piring Herman. "Kamila bukan tidak tahu malu, Mr Herman tapi ini permintaan Joy. Jika kamu tidak suka makanannya, kamu boleh tidak ikut sarapan."


"Uhuk!" Herman berbatuk-batuk sakit. "Kau ingin membiarkan ayah mertua mu ini mati kelaparan?!"


Dan saat orang tua itu mengatakannya, dia hampir menjungkirbalikkan meja di depannya.


Herman menderu dengan dingin dan dia membenturkan meja dengan telapak tangannya, dia terlihat sangat marah besar sampai membuat Kamila terlonjak karena sangking terkejutnya.


Dan ketika Joy baru turun dan dia melihat ayahnya memarahi Kamila, Joy mengulurkan tangannya dan dia merangkul pinggang gadis itu saat dia dengan sengaja melihat Herman dan Manuel yang ada di sana. "Pa, bagaimanapun suka atau tidak Kamila sudah menjadi istri ku terlepas dari kau akan mengakuinya atau tidak. Tapi bisakah suatu hari Papa mencoba untuk menerimanya?"


Di sebrang lain melihat kedekatan Joy dan Kamila, Manuel samar-samar mengepalkan tangannya di ujung sendok makan.


"Tidak akan pernah bisa!" Herman langsung mengeluarkan pendapatnya.


"Joy gadis itu terlalu muda untuk kamu, tidak berpendidikan tinggi dan hanya lulusan sekolah menengah atas, juga bapaknya siapa tidak di ketahui dengan jelas! Papa memang mengharapkan mu untuk segera menikah, tapi bukan berarti kamu bisa menikahi perempuan sembarangan!"


Dengan marah Herman berbalik dan pergi dan dia bahkan mendorong beberapa pelayan yang mencoba membantunya dengan kursi rodanya dan bisa di bayangkan betapa marahnya dia pada Joy sekarag.


Karena kepergian Herman, sekarag meninggalkan Joy dan Kamila di ruangan itu maka menyisakan tiga orang.


Mengacuhkan Manuel di sana, Joy menarik kursi di sebelahnya untuk membiarkan Kamila duduk.


Pada saat itu, Manuel berdiri dan pergi.


Joy menepuk pundak Kamila dengan lembut, meskipun pernikahan yang tidak terduga terjadi pada mereka dan keputusan Joy membawa Kamila ke istana Mallor pasti membuat gadis itu masih asing di keluarga ini jadi wajar saja jika Kamila masih kesulitan untuk menyesuaikan diri dengan ayah mertuanya itu, apalagi dengan Manuel yang sempat melibatkan Kamila dan hampir menikahi gadis itu sebelumnya, pasti dari Herman ataupun Manuel tidak akan bisa mencoba menerima Kamila dari segi apapun.


Jadi jika bukan Joy yang akan membela Kamila di rumah ini, lalu siapa lagi?


Joy mencoba tersenyum, dan saat dia mengingat postur pinggang Kamila yang lebih kurus dari apa yang dia bayangkan, dia mengambil beberapa ikan cumi kemudian menaruhnya di atas piring Kamila. "Makan."


Kamila mencoba berbicara. "Joy, ini kesalahan Kamila karena membuat ayahmu marah. Aku akan bekerja keras untuk menyesuaikan diri di rumah ini terutama dua tahun ke depan dan Kamila tidak akan membuat masalah untuk mu juga.. aku tidak akan mempersulit mu."


Joy berdehem sedikit sebagai tanggapan dan dia menambahkan ikan cumi di piring Kamila lagi. "Aku bilang makan, jangan bicara hal yang gak berguna."


Sebelum Kamila membuka mulutnya untuk berbicara lebih jauh, Joy sudah lebih dulu membekap mulut itu dengan sesendok ikan cumi dan Kamila harus terpaksa memakannya dengan patuh.


"Apakah enak?"


Karena semua sarapan dia yang memasaknya, tentu saja Kamila mengangguk. "Semua masakan Kamila memang enak."


"Bagus." Joy tersenyum puas. "Lalu makan lagi."


Joy kembali mengambil makanan yang lainnya dan begitu dia tanpa sengaja melihat Kamila, cahaya pagi menerpa sebagian wajah itu membuat pemandangan yang sangat lembut dan hangat. Karena gadis itu tidak mengenakan pakaian berkerah tinggi, cerug leher Kamila terlihat sangat jelas sampai memamerkan kulit adilnya seperti salju, berkilau seperti kristal, dan terlihat sangat indah.


Namun bukan jenis keindahan itu yang membuat perhatian Joy teralihkan, melainkan beberapa tulang leher Kamila terlihat sangat jelas sedikit menonjol di antara leher itu menandakan seberapa kurus Kamila dan dalam pandangan mata Joy, gadis itu seakan-akan anak yang kekurangan gizi.


Joy mengeryitkan sebelah matanya. "Di pagi hari dan malam hari kau harus minum susu setiap hari, jaga kesehatan dan jangan terlalu kurus."


Kamila, "...."


Sayang sekali jika ada pria seperti itu, harus Joy yang selalu dalam wajah tanpa eskpreksi.


Dan ngomong-ngomong, tentu saja hati Kamila masih ada untuk Elang. Begitu Kamila bisa cerai dari Joy dalam waktu dua tahun ini, maka pacarnya Kamila yang bernama Elang itu akan menikahinya.


Itulah janji Elang, dan kesekian kalinya Kamila akan percaya.


Kamila terdiam sejenak, sebenarnya seseorang yang menyuruhnya untuk makan banyak dan memperingatkan padanya kalau dia kurus mengapa bukan Elang?


Takut Kamila akan marah Joy berkedip sedikit. "Aku tidak bermaksud menghina, tapi kau memang kurus seperti kayu."


"...."


"Mudah patah dan ringkih, itu sebabnya aku takut.."


Kamila segera meliriknya cepat. "Takut apa Joy?"


"Lupakan." Joy menggelengkan kepalanya.


Selesai acara sarapan Joy segera berlalu untuk pergi ke perusahaan dan sosoknya segera menghilang. Seperti tidak ada angin tidak ada hujan, dua hari ke depan adalah acara ulang tahun teman baiknya, jadi dia segera menelfon Elang.


"Elang, besok Kamila mau pergi ke tempat Linda.."


Sebelum dia menyelesaikan ucapannya, Elang di sebrang telepon segera bertanya. "Kenapa harus pergi ke rumah Linda?"


"Dia ulang tahun, Kamila teman baiknya, jadi harus datang."


"Tidak perlu datang." Elang segera menengahi. "Yang.. jangan datang, jika mau memberikan hadiah bisa titip padaku nanti aku yang akan berikan ke Linda. Ucapan mu terdengar lemas, kau.. istirahat saja di rumah itu membuat ku khawatir."


Kamila memang merasa kurang enak badan akhir-akhir ini dan kepalanya juga terasa sangat nyut-nyutan, dia mengangguk sedikit. "Baik jika begitu katakan pada Linda Kamila tidak bisa datang, nanti hadiahnya aku titipkan ke kamu."


"Oke, istrirahatlah sampai sembuh."


Mendengarnya, Kamila merasa sangat terharu dan dia tersenyum karena Elang masih memperdulikannya dan mengkhawatirkan kesehatannya. "Elang kau baik.."


"Jaga kesehatan."


"Baik."


Selesai menutup teleponnya Kamila kemudian mencari-cari obat sakit kepala dan segera meminumnya. Dan setelah dia meminum obat dia berencana untuk pergi memilih hadiah apa yang perlu dia berikan pada Linda.


"Nyonya anda tidak boleh pergi tanpa seizin tuan Joy, kemana anda ingin pergi?" Dua pengawal berjas hitam itu menghentikan langkahnya.


Pengawal itu masih melanjutkan berbicara, dan posturnya tegap juga tegas. "Jika pergi ke luar untuk urusan penting, kami harus mengawal nyonya ke manapun atas perintah dari tuan Joy langsung."


Kamila, "...."


Memikirkan jika kemana-mana akan ada orang yang selalu mengikutinya seperti cebret yang menempel di belakangnya, tiba-tiba seluruh gusi dan gigi Kamila ingin berdenyut.


Kamila hanya bisa mendesah nafas karena apa harus serumit ini menjadi istri siri Joy Mallory yang sampai membuatnya tidak bisa pergi bebas ke manapun?