Sweet Wedding

Sweet Wedding
Kamila adalah miliknya



Karena peraturannya menyatakan semua ucapan Joy hukumnya mutlak, Kamila mau tidak mau kembali lagi duduk ke kursinya.


Saat Kamila duduk teleponnya tiba-tiba berbunyi, dia ingin mengangkatnya, karena di depannya ada Zea dan Joy, jadi Kamila melirik pria itu lebih dulu.


Joy bertanya. "Siapa yang menelfon?"


"Elang.." Kamila menjawabnya dengan suara rendah seolah-olah dia takut, jika dia mendapatkan telepon dari pacarnya, Joy akan marah.


Joy membuang mukanya acuh tak acuh ke arah Zea. "Angkat aja dan lospeaker, aku juga pengen denger dia mau ngomongin apa."


Zea tidak setuju. "Joy, kamu lupa.. aku kan mau bicara sama kamu."


"Nanti, aku mau dengerin dulu telepon dari Kamila." Joy mengangguk singkat.


Kamila hanya bisa nganut apa perintah Joy, dia kemudian mengangkat telepon dari Elang dan melospeaker nya. Saat dia mengangkatnya, suara Elang segera bergema. "Kamila."


"Iya." Kamila berdehem sedikit sebagai tanggapan.


"Maaf untuk waktu itu aku ninggalin kamu di kafe. Waktu kamu kabur dari rumah aku gak tahu lagi harus bantuin kamu bagaimana, aku juga sempet kepikiran buat kamu tinggal sementara di rumahku. Tapi apa kata orang tuaku berpikiran yang enggak-enggak waktu lihat aku bawa pulang cewek ke rumah.."


"Kamila, untuk waktu itu aku gak bisa bantuin kamu.. maafkan aku." Kata Elang di sebrang telepon, suaranya juga terdengar lemah dan samar, suara yang terdengar sangat menyesal yang sukses membuat hati Kamila yang sempat mengeras beberapa saat lalu kini kembali luluh dan mencair.


Kamila mengangguk. "Kamila tahu kok, Elang.. yang waktu itu jangan di pikirin lagi dan apapun itu Kamila gak akan pernah bisa marah buat Elang, jadi jangan mencoba untuk meminta maaf lagi."


Joy yang diam-diam mengamati pembicaraan Kamila dan sang pacar, dia juga menarik satu sudut bibirnya dan terkekeh dingin. Saat Kamila yang melihat ekspreksi sangar di wajah Joy, dia segera membuang matanya ke tempat lain.


"Sekarang kamu di mana? Apa kamu nginep di rumah temen cewek mu? Jangan menginap di sembarang orang, aku khawatir."


Kamila kembali melirik sejenak wajah Joy. "Kamila nginep di temen Kamila yang kaya kok, Kamila baik-baik saja, Elang gak perlu khawatir keadaan Kamila di sini."


Saat memastikan keadaan Kamila baik-baik saja, Elang terdengar lebih lega. Sebelum dia mengakhiri teleponnya, dia berkata pada Kamila dengan sangat perhatian. "Aku mencintaimu.."


Kamila tersenyum dan menjawabnya. "Kamila juga mencintai mu."


Sekilas sosok Joy kembali terlihat dalam kelumpuhan wajah, alisnya yang tegas tertarik ke atas dan bibirnya terlihat ingin mencibir dan menghina, sikap dingin yang terekspos sangat jelas itu sempat membuat Kamila merasa tidak nyaman.


"Kau punya pacar yang sangat menguntungkan ya, sangat beruntung kau memiliki pacar yang kayak benalu." Joy berkata mengejek, menurut penjelasan Elang di telepon. Pacar perhatian Kamila itu ninggalin Kamila di kafe sewaktu gadis itu terlunta-lunta sendirian di jalanan buat nyari tempat tinggal, jadi sewaktu Kamila berjalan sendirian di tengah malam, Kamila di gangguin oleh sekawanan pemabuk.


Andaikan dia tidak sedang kebetulan lewat di jalan itu, Joy tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi pada Kamila jika dia tidak menolongnya.


Mungkin saja keperawanan Kamila akan rusak saat malam itu jika dia tidak kebetulan menolongnya, hanya memikirkan kesucian gadis itu akan di kotori orang lain.. guratan-guratan kemarahan di wajah Joy tiba-tiba mulai menonjol di keningnya.


Dia sempat merasakan pelukan Kamila yang polos tanpa nafsu, jika pelukan polos seperti itu rusak.. Joy Mallory tidak akan bisa memaafkan siapapun yang berani bermacam-macam dengan Kamila.


Kamila adalah miliknya.


Siapapun yang berani menyentuh miliknya, Joy Mallory tidak akan melepaskan siapapun itu bahkan dia akan mengejar dan membuat perhitungan yang menyakitkan bahkan jika dia harus ke ujung dunia sekalipun.


"Joy kamu jangan bicara begitu.. menurut ku pacar adik sepupu mu itu sangat perhatian kok." Zea tiba-tiba membuka suaranya dan mengutarakan pendapatnya.


Joy menarik sebelah alisnya. "Perhatian? Dari sebelah mana menurut kau, pacarnya dia perhatian?"


"Joy, dia mengutarakan cintanya terang-terangan dan mengkhawatirkan keadaan adik sepupu mu. Waktu kita pacaran dulu, Joy kamu dulu jarang mengutarakan cintamu padaku. Jadi alasan itu yang membuat ku ragu.. apakah kau mencintaiku apa tidak..jadi aku.."


Joy berkata tajam. "Jadi itu alasan kau selingkuh sama Manuel di belakang ku?"


Kamila yang mendengarnya tidak tahan untuk terkejut, jadi Joy dan Manuel, kakak beradik itu saling memperebutkan satu perempuan yang sama?


OMG, ini konspirasi yang baru saja di dengar oleh Kamila!


Kamila memandang Zea dari atas ke bawah, dari ujung rambut sampai ke ujung jari kaki perempuan itu. Setelah mengamati dengan sangat jelas penampilan Zea, perempuan itu sangat seksi, dan cantik, tapi yang paling mencengangkan adalah bagian dada Zea, jika di bandingkan dadanya yang masih usia delapan belas tahun.. jelas milik Kamila masih setipis papan triplek.


Zea yang seolah-olah di pukul perkataan sinis Joy dan dia segera membela diri. "Joy, bukan itu maksudku. Maafkan aku.."


Joy berdehem sedikit sebagai tanggapan, dia memang hampir tidak pernah membuka mulutnya untuk mengatakan dia mencintai Zea, karena bagiannya yang paling menarik perhatian dan matanya bukan perasaannya untuk seseorang melainkan bentuk proposal tubuh Zea yang kebetulan sesuai tipe ideal dan seleranya.


Dan sederhananya dia menggunakan Zea, mempacari Zea, semuanya cuman untuk eksperimen kepuasan nafsunya.


Dia memang tidak pernah benar-benar menyukai Zea selain dia hanya menggunakan perempuan itu sebagai pemuas hasratnya, jadi ketika Zea berselingkuh dengan Manuel, dia sama sekali tidak membutuhkan dan tidak peduli perminta maafan dari Zea ataupun rasa bersalah perempuan itu karena menyelingkuhinya.


Karena menurut Joy, jenis perempuan murahan seperti itu. Yang akan rela dan tanpa pikir dua kali membuka kakinya untuk seorang pria manapun, perempuan yang kotor, dia tidak akan pernah berpikir menjadikan jenis perempuan seperti itu untuk menjadi istrinya. Karena seorang istri adalah orang yang akan menemani dia di usia tua sampai menutup mata, jadi dia harus menilai semua perempuan dan memilahnya dengan sangat matang.


Jadi karena Zea tidak akan menjadi kandidat pendamping hidupnya, ketika dia bersenang-senang dengan perempuan seperti itu dan saling bergulat dan bergumul di atas ranjang.. Joy selalu menggunakan pengaman saat melakukannya, karena bagaimanapun kualitas benihnya seorang Joy Mallory, dia juga tidak akan sudi menanamkannya ke dalam perut seorang p*lacur.


Zea yang tidak menyadari batasan dan penilaian Joy padanya, jadi dia masih berusaha untuk merayu pria yang memiliki jabatan tertinggi di perusahaan besar Mallor itu.


Zea mengangkat tangannya dan meletakkannya lembut di atas tangan Joy dan dia mengusap punggung tangan pria itu dengan sangat perhatian seolah-olah arus listrik dia salurkan dari jari-jari tangan yang saling menempel.


Dia mencondongkan tubuhnya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Joy sebelum di detik berikutnya Zea menempelkan bibirnya ke atas bibir Joy yang dingin.


Seperti yang Joy katakan sebelumnya bahwa Kamila adalah makhluk halus.. keberatan gadis belasan tahun itu, di ruangan itu seolah tidak kasat mata oleh keduanya.


Di depan Kamila, Joy segera mendorong bagian belakang kepala Zea sampai membuat ciuman keduanya semakin keras.