Sweet Wedding

Sweet Wedding
Joy apa kau berubah haluan menjadi pedofil?



"Jika bukan adik mu siapa dia Joy..?" Zea sedikit meremas ujung kotak bekal yang dia bawa dengan ujung-ujung jarinya, apa mungkin beberapa hari yang lalu ketika Joy mengatakan sekarang sudah menikah..


Apa gadis di depannya adalah istrinya Joy yang sekarang?


Tapi ketika Zea melihat umur Kamila dan wajah gadis itu yang sama sekali tidak bisa memenuhi nafsu Joy, rasanya sangat tidak mungkin jika pria tiran seperti Joy akan mengambil perempuan kampungan yang jauh di bawah standarnya sebagai seorang istri.


Zea tertawa sangat tidak masuk akal. "Joy apa kau berubah haluan menjadi pedofil?"


Kamila yang tidak terima segera berteriak. "Kamila adik sepupunya!"


"Otak kau konslet ya? Kamila kau itu..." Begitu Joy membuka mulutnya, Kamila langsung membekap mulutnya serapat mungkin.


Kamila berjinjit dan matanya melotot ke arah mata Joy sampai membuat pandangan keduanya bertemu, sedangkan telapak tangannya yang panas menyentuh bibir Joy yang terasa sangat dingin di antara tangannya, karena perbedaan suhu yang kontras itu membuat keduanya tertegun selama beberapa detik.


Kamila adalah orang yang lebih dulu menarik tangannya dari bibir yang bak es batu itu. "Jadi.. maunya makan siang gak?"


Joy mendesis. "Kau mau melihat aku mati kelaparan?"


Zea yang sedang memegang bekal kotak makan siang Joy dia segera memberikannya tanpa di suruh. "Joy aku ingin kita membicarakan hubungan kita lagi.."


Joy berdehem singkat. "Aku mau habisin makan siang dulu. Setelah itu baru aku bisa denger apa yang mau kau omongin."


Zea mengangguk dan mengikuti keduanya masuk ke ruangan meskipun kehadirannya di sana seperti buntut, dia tidak peduli asalkan dia hari ini bisa balikan lagi dengan Joy!


Dia bahkan secara khusus berdandan full make up agar bisa kembali memikat pria itu lagi dan kembali menjeratnya, jika Zea kali ini bisa mendapatkannya lagi, dia tidak akan melepaskan Joy lagi.


"Dia mantan ku." Saat Kamila sedang sibuk menata bekal makan siang di atas meja, Joy tiba-tiba membuka suaranya.


Kamila mengusap sendok menggunakan tissue yang sudah di sediakan kantor perusahaan, dia mengambil satu tissue di atas meja dan mengelapnya sampai bersih.


Dia berkata pada Joy. "Ya, jadi?"


Kamila sekarang masih mempertahankan hubungan dengan Elang yang tidak ada hubungannya dengan Joy, jadi siapapun mantan Joy dan jika pria itu mau menjalin hubungan dengan siapapun.. maka tidak ada hubungannya dengan Kamila sedikitpun.


Memang mereka berdua terikat tali pernikahan, namun siapa orang yang paling spesial di kehidupan mereka masing-masing tidak akan pernah menjadi satu sama lain.


Karena pernikahan mereka tidak tertulis di selembar kertas, dunia keduanya juga tidak akan saling bertemu dan perasaan keduanya tidak akan pernah berujung.


Tidak akan pernah berujung dalam pernikahan yang sebenarnya!


Melihat respons Kamila yang acuh tak acuh pada hubungannya dengan Zea, kabut kedinginan yang melayang di antara mata Joy semakin membeku. Meskipun dia tidak menyukai Kamila yang notabene hanya memiliki dada yang tidak akan bisa memuaskan nafsunya dan birahinya, tapi begitu melihat gadis itu acuh tak acuh pada hubungannya dengan perempuan lain membuat dia sedikit kesal juga.


"Nasi goreng lagi?" Joy tidak tahan menggerutu karena makan siang yang di bawa Kamila adalah sisa sarapan mereka tadi pagi.


Melihat Joy yang terbiasa tirani seolah tidak tersentuh, tapi sekarang terlihat seperti seorang anak kecil mengerutu membuat Kamila tidak tahan untuk tertawa. "Jadinya kamu mau makan atau tidak, kalau tidak ya kebetulan Kamila mau pulang saja nih."


Karena sudah lapar, Joy mau tidak mau mengangguk.


"Dasar bawel." Kamila bergumam tipis saat dia meletakkan sendok yang sudah dia lap sampai bersih di sebelah kotak nasi goreng.


Zea yang seakan di lupakan kehadirannya oleh dua nyawa itu berinisiatif membuka suaranya. "Joy, aku yang suapin ya.. sama seperti waktu kita masih pacaran aku kan yang biasanya akan suapin kamu."


Joy mengangguk. "Ya, aku setuju."


Zea langung berdiri dan pindah tempat duduk di samping Joy. Sebelum Zea mengambil sendoknya Joy, dia sudah berkata lebih dulu. "Karena kau dulu yang pesen makanan lewat delever gojek, kau yang suapin. Tapi karena hari ini nasgornya di buat Kamila, jadi Kamila yang suapin."


Kamila membelalakkan matanya. "Joy, kamu kesambet setan ya? Bahkan jika kamu bayar satu juta persuap, Kamila gak akan sudi!"


"Jadi begini kelakuan mu.." Joy menarik ujung alisnya. "Kamila kau kan ist..


Astaga.. mulut pria tirani ini sebenarnya sangat ember!


Kamila tidak mau sampai ada orang lain lagi yang tahu sebenarnya dia adalah istri mudanya orang yang sudah sangat berumur dan sebenarnya Joy lebih pantas menjadi pamannya!


Jika kenyataan dia istrinya Joy sampai bocor keluar, dia akan sangat malu, apalagi sampai Elang tahu maka saat itu dunianya akan perlahan-lahan runtuh.


Joy cukup puas dengan kepanikan Kamila dan dia mengeryitkan ujung alisnya ke atas. "Suapin yang bergedel kentangnya juga dong."


Karena ada Zea di sana, Kamila mau tidak mau menyuapi Joy sampai perut pria itu kenyang dengan nasgornya, untuknya dia juga sempat beli bergedel kentang tadi bisa buat lauk.


Waktu Joy sudah menghabiskan makanannya, Zea langsung buru-buru menuangkan minuman. "Joy, kamu kan sudah selesai makan. Ayo kita bicara.."


Joy mengangguk sedikit. "Ya, kau langsung ngomong aja."


Zea melirik Kamila sedikit sebelum dia kembali menatap wajah tampan Joy dan dia tersenyum. "Aku maunya kita ngomong berdua saja, hanya empat mata, kamu dan aku."


Joy bertanya. "Bukankah di ruangan ini hanya dua orang?"


"Lalu adik sepupu mu?"


Joy menjawabnya singkat. "Dia bukan orang."


"Lalu apa dong Kamila kalau bukan orang?" Karena Kamila di bawa-bawa, dia juga bertanya pada pria itu dengan sangat penasaran.


Jangan bilang dia di anggap Joy bukan sebagai orang, melainkan istrinya?


"Mahkluk halus.." Joy berdesis mengejek.


"Joy.." Zea kembali berbicara, dia meletakkan tangannya di atas punggung tangan Joy dan mengengam tangan pria maskulin itu. "Joy aku masih mencintaimu, kita balikan lagi ya seperti dulu ya kumohon."


Iyuuuuuuuh, Kamila membuang mukanya dari tangan-tangan yang saling menempel itu. Meskipun dia tidak memiliki perasaan apapun pada Joy, melihat pasangan, bukan, mantan pasangan yang mengumbar kemesraan tepat di bawah hidung dan wajahnya..


Dia ingin sekali berkoar dan mengobrak-abrik pegangan tangan Zea di tangan suaminya yang merusak pemandangan!


Kamila mengucek matanya serasa iritasi. "Duh mata Kamila kemasukan debu nih, jadi perih begini. Kamila pergi dulu ya ke apotik buat beli insto mata.."


Dia juga langsung berdiri mengambil kotak bekal kosong dan tasnya, waktu dia belum beranjak dari kursinya, tatapan mata Joy melayang ke arahnya dengan sangat dingin.


"Siapa yang ngijinin kau pergi?"


Kamila mengeryitkan keningnya. "Joy kamu bisa melihat Kamila?"


Joy terdiam sejenak. "Why?"


Kamila tidak tahan untuk mendesah nafas panjang dan menggelengkan kepalanya. "Kan kamu bilang kalau Kamila makhluk halus, jadi Kamila tidak perlu minta injin ke siapa-siapa saat mau pergi ke manapun dan kapanpun."


Mendengar celotehan Kamila, tentu saja seorang Joy Mallory tidak akan bisa mentelolir saat istrinya membangkang.


"Kemanapun ku pergi.. kau harus minta persetujuan dari ku dulu." Joy menyimpitkan matanya. "Itu aturan baru dan wajib kau patuhi."


Kamila melirik Zea yang ingin berbicara sesuatu yang sangat penting pada Joy, jika Kamila menjadi obat nyamuk di antara mereka, dia akan merasa sangat tidak nyaman.


"Tapi Joy.."


Melihat wajah penuh penderitaan Kamila, Joy tersenyum sangat puas.


"Duduk, tidak ada tapi-tapian."