
Kamila yang seolah-olah menjadi saksi bisu ketika dua insan itu berciuman di depan matanya, di bawah hidungnya dengan cara tidak tahu malunya, saat melihat bibir perempuan lain menempel di bibir suaminya sendiri, saat melihatnya Kamila benar-benar ingin sekali mutah berdarah-darah.
Tapi sebagai saksi bisu, dia hanya duduk dan tidak berani komplain apapun dengan apa yang di lakukan mereka di depan matanya. Karena toh dia juga masih sangat mencintai Elang, jadi apapun yang di lakukan Joy entah itu berciuman dengan siapapun dan kapanpun bukan permasalahan untuknya.
Tapi ya tetep sakit juga saat melihat mantan pasangan itu, masih saling mengumbar keromantisan mereka tepat di bawah hidungnya sekarang.
Kamila sebenarnya ingin berbatuk kering, karena tenggorokannya sangat kering dia mengambil minuman yang satu-satunya ada di meja depannya, bekas air di gelas itu rasanya sedikit nasgor.. tapi dia tidak peduli jadi Kamila menandaskan minuman itu sampai habis.
Di sisi lain dari pandangan Joy, meskipun sekarang bibirnya di cium oleh bibir Zea yang pernah menjadi objek kecanduannya, tapi perhatian Joy sekarang tidak sepenuhnya ada di ciuman mereka.
Meski juga dia mendorong bagian belakang kepala Zea agar terlihat seolah-olah mereka berciuman dengan keras tapi Joy hanya sebatas menempelkan bibirnya ke bibir Zea saja. Dan jika di bandingkan dengan hasrat ingin memakan bibir tebal Zea yang dulu, Joy sekarang pasti akan memakannya habis-habisan, menggerakkan lidahnya dan menggebor pertahanan mulut Zea sampai-sampai keduanya akan kehabisan pasokan oksigen karena terlalu lama bergulat dalam ciuman panas.
Dia dulu pasti akan membalasnya dengan sangat bernafsu.
Melepaskan kekangannya menjadi binatang liar yang penuh hasrat, merobek pakaian Zea dan memakan perempuan itu utuh-utuh..
Namun begitu matanya melihat Kamila ada di sana, ciuman yang biasanya dia lakukan dengan sangat panas itu hanya berhenti di bibir yang saling menempel.
Joy bahkan tidak menggertakkan seujung mulutnya untuk ciuman Zea, sampai Zea, perempuan itu mengeryitkan keningnya dan berkata pelan. "Joy.."
Zea sangat bingung karena tidak biasanya Joy bersikap seperti ini, Joy dulu sangat aktif terhadap apapun sentuhan keduanya dan katika Zea merayunya, Joy Mallory akan menjadi seorang alpa eksotis yang akan menindas batas pertahanan perempuan manapun.
Tapi dia sekarang seperti melihat Joy berhenti dari hasratnya dan membatasi nafsunya hanya karena seorang.. adik sepupu?
Zea akhirnya tidak tahan untuk melirik Kamila yang duduk di sebrang mereka, sejak kapan Joy menjadi manusia yang akan membatasi dirinya hanya karena di lihat orang lain?
Apa karena Kamila sedikit tidak biasa, atau gadis itu sedikit spesial bagi Joy.
"Joy apa alasanmu menolakku hanya karena adik sepupu mu itu?"
Joy berfokus pada kata 'hanya' dari mulut Zea, dia menarik sedikit alisnya ke atas. "Hanya menurut mu?"
"Kamila itu.." Joy yang sendiri tidak tahu harus meneruskan ucapannya bagaimana, hanya mengantung ucapannya.
Setelah beberapa saat, dia menjawab yakin. "Kamila itu berbeda dari orang lain."
Zea yang mendengarnya langsung mengigit bibirnya bawahnya sendiri dengan keras. "Berbeda apanya, apa yang membedakan adik sepupu mu itu dengan orang lain?"
Joy melihat ke arah Kamila yang sepertinya gadis itu tidak mendengarkan ucapan mereka jika melihat dari jauh telinga Kamila tersumpal oleh handset.
Joy biasanya akan mengumbar kemesraannya hanya untuk penonton yang ada di atas umur dua puluh tahun, karena Kamila masih berusia delapan belas tahun yang notabene menurutnya masih belum dewasa, jadi Joy mau tidak mau mencoba mengekang kembali kekangannya yang seperti binatang buas.
Dan sebenarnya setelah menikah dengan Kamila karena kesalahpahaman emak dan warga kompleks, semenjak Joy sudah menikah, Joy menjadi sedikit sekali berkontak fisik dengan perempuan manapun.
"Semuanya." Joy berkata sangat rendah dan pelan, suara yang ada di jarak satu langkah seperti jarak tempat duduk Kamila mungkin tidak akan bisa mendengarnya.
"Semuanya, tingkah lakunya yang masih polos itu aku tidak ingin mengotorinya dengan perilaku bejat ku."
Dan Joy tidak ingin menjadi bintang kelaparan untuk menekan perempuan di bawahnya, terutama saat di depan Kamila.
Joy mengakui sendiri kenyataan dia bejat, sesat dan tidak bisa di perbaiki kemurniannya. Tapi sekotor apapun yang dia lakukan, meskipun kemurniannya sendiri sudah rusak oleh perempuan tak terhitung jumlahnya.. Joy Mallory berusaha untuk tidak merusak kemurnian Kamila.
Zea tertawa sedikit bahkan terlihat menertawai pria maskulin itu yang merenggut keperawanannya, berkali-kali. Jika di bandingkan dengan Kamila yang seperti cebret ayam yang baru keluar dari terlur dan tidak tahu seberapa liarnya gulatan di atas ranjang yang pernah dia lakukan, tentu saja dia dan Kamila berbeda dari segi 'semuanya.'
Kamila yang menangkap sekalias Zea keluar dengan marah, dia langsung mencabut handset dari telinganya. Handset yang sekaligus menjadi penghambat ucapan serius Joy yang tadi, tidak bisa di dengar Kamila sama sekali.
Karena tidak ada seorangpun pria yang akan serius menjaga kemurnian seorang perempuan, untuk orang sebejat Joy tentu saja ucapan seperti itu adalah petir di siang bolong dan akan sangat mustahil.
"Kau mau budeg dengan cara dengerin musik kenceng-kenceng?" Joy mendesis dan mencibir karena di jarak tempat duduk mereka, Joy bahkan sampai bisa denger musik yang di putar Kamila yaitu musik Iwan Fals yang berjudul kau mawar hitam.
Joy tidak tahan untuk bertanya. "Jadi maksud kau, aku seperti mawar hitam begitu?"
Kamila tersenyum. "Bukanlah, Joy kamu itu seperti kejoranya lesti."
Joy menarik sebelah kanan alisnya. "Why?"
"Terang, dan tidak ingin Kamila capai."
Kamila berkata pada pria tinggi itu dan matanya tidak berkedip dengan ekspereksi wajah penuh kesungguhan yang luar biasa saat dia berbicara. "Tapi yang Kamila butuhin itu seperti Elang, yang sayapnya dan ketajamannya bisa menjaga Kamila."
Joy yang selalu mendengar nama pacarnya Kamila itu di bawa-bawa tidak tahan untuk meluruskan. "Mengaja atau meninggalkan kamu dan mencampakkan mj sendiri saat sedang di butuhin?"
"Joy, jangan mencoba menjelek-jelekkan Elang ya." Kamila seolah tidak terima jika tabiat pacarnya terekspos besar-besaran di wajah Joy.
"Tapi bener juga sih, menurut Kamila.. kalau di pikir-pikir Elang itu sebenarnya.."
"Baik dan baik pakai banget."
Joy, "....."
"Baik? Apanya yang dia baik?"
Sambil memikirkan Elang, Kamila menjelaskannya sambil tersenyum. "Bentuk kebaikan Elang itu datangnya langsung ke hati Kamila, bukan dari mata. Kebaikan yang di perlihatkan dari mata mudah di jelasin, mudah di gambarkan. Tapi kalau kebaikan yang datangnya dari hati, hanya bisa di rasakan dan sulit untuk di jelaskan."
Joy tiba-tiba terkekeh pelan. "Ya jadi kebaikan pacar mu itu sama sekali tidak ada, selain ampas tahu yang ada di ujung tempe.. di goreng juga hilang."
Kamila, "...."
Tunggu dulu, sejak kapan Joy Mallory.. manusia yang dingin dan tiran itu bisa bercanda?
Biasanya Joy akan berkata singkat dan acuh tak acuh, apa karena... cemburu sama Elang?
Arkhhhh tidak mungkin!
"Joy, kamu tidak sedang cemburu kan?"
Joy menunjuk dirinya sendiri, lebih tepatnya ke wajahnya dan berkata dingin. "Impossible."
"Yang ada kau yang cemburuan, kau gak kuat lihat aku ciuman sama perempuan lain."
Melihat kepolosan Kamila dan merasakan pelukannya yang canggung sebelumnya dari gadis itu, pasti Kamila tidak pernah berciuman dengan siapapun sebelumnya.
Saat memikirkannya Joy tiba-tiba tersenyum sarkasme seolah-olah jenis senyuman yang seperti itu, adalah magnet yang membuat mata siapapun yang melihatnya tidak tahan untuk berdecak karena mempesona.
Joy tiba-tiba bertanya. "Mau mencoba berciuman rasanya bagaimana?"