
Mendengar bercandaan Joy yang keterlaluan, Kamila cepat-cepat membuang wajahnya dan dia cepat-cepat berkata pada pria itu. "Itu sangat impossible!"
Joy seolah-olah tidak terkejut dengan reaksi Kamila. "Kenapa apa kau sendiri takut?"
"...." Kamila diam tidak menjawabnya, dia dan Elang bahkan tidak pernah berciuman meskipun mereka pacaran dan saling menyukai, dan kenapa dia harus mencoba ciuman pertamanya dengan Joy?
Memikirkannya saja, Kamila lebih tertarik dia di cium oleh aspal tanah.
Joy sangat tahu jika Kamila belum pernah berciuman dengan siapapun jadi dia secara alami semakin tersenyum sarkas karena Kamila seperti permen lollipop yang belum terbuka dan masih tersegel utuh bungkusannya.
Dan yang paling penting, Kamila belum di sentuh oleh orang lain sebelumnya menjadikan gadis itu masih murni dan belum tercemar oleh tangan b*ngsad manapun.
Joy tiba-tiba berkata. "Kau sebenarnya pernah ciuman?"
"Belum dan tidak pernah." Kamila berkata yang sejujurnya.
Joy menarik sebelah kanan alisnya. "Kau tadi ciuman tidak langsung sama ku, apa kau gak inget gelas yang kau minum tadi masih terasa bekas bibir ku kan?"
Kamila tersedak.
Memang benar karena tenggorokannya terlalu kering dia minum dari gelas yang rasanya sedikit nasgor. Jadi minum dari gelas yang sama tergolong ciuman tidak langsung?
Dia berbatuk dua kali. "Kamila juga pernah minum es dari bekas sedotan yang di pakai Elang, jika kamu mengategorikan itu sebagai ciuman tidak langsung.. berati Kamila dan Elang ciuman secara tidak langsung berkali-kali banyaknya."
"Cukup." Saat mendengarkan pembicaraan Kamila yang berujung pada sang pacar, Joy merasa sangat tidak terima.
Wajahnya juga terlihat semakin dingin dan kabut yang gelap ada di bawah kelopak mata Joy sampai membuat pria itu semakin mendominasi terutama di wajahnya yang berubah sangat kelam.
Joy sendiri tidak tahu kenapa dia merasa sangat tidak suka ketika Kamila membahas pria lain di depan matanya, tapi yang jelas perasaannya tiba-tiba memanas sampai membuat darah di tubuhnya bisa mendidih dan menguap karena api kemarahan.
Tapi api kemarahan itu melayang sekilas di mata Joy sebelum akhirnya menguap tidak tersisa ketika Kamila melihat ke arahnya.
"Itu bukan ciuman." Joy berkata tegas.
Dia tidak percaya bahwa perasaan yang tidak mengenakkan itu adalah rasa cemburu karena Joy hanya tidak suka jika miliknya, sedang memikirkan pria lain.
"Kau sama pacar kau itu bukan ciuman secara tidak langsung." Joy berinisiatif menjelaskan sendiri meskipun Kamila tidak memintanya.
"Ciuman yang sebenarnya ketika bibir saling menempel dan lidah saling menjalin, bertukar air liur sampai..
Sebelum Joy bisa menyelesaikan ucapannya, Kamila langsung menghentikannya sambil menutupi kedua telinganya sendiri. "Cukup, Joy jangan buat Kamila sesat."
"Joy kamu sesat.."
Joy mengangguk puas dan setuju. "Selain aku berpikiran liar dan sesat, tubuh ku juga eksotis."
Kamila masih menutupi kedua telinganya menggunakan kedua tangannya sendiri. "Hentikan pembahasan yang beginian, Kamila belum cukup umur."
"Ya, kau masih bayi." Joy berkata tajam dan mendesis. "Jadi jangan pernah berbuat yang macem-macem sama pacar kau itu."
Tidak di bilangin begitu juga Kamila tahu, batasan antara laki-laki dan perempuan yang belum menikah dan dia juga tidak pernah sekalipun terjerumus ke pergaulan liar mengingat nasibnya sendiri yang notabene hasil dari hubungan gelap dari ibunya Haesti dan entah ayahnya siapa, jadi Kamila tidak akan pernah melakukan hal-hal yang seperti itu.
"Btw Joy, bisa gak kita pindah ke apartemen?"
"...." Joy kembali melihat Kamila. "Gak."
"Emang kenapa di rumah? Kau gak betah?"
Kamila mengangguk. "Mr. Herman, ayahmu itu gak mau minum obat yang di berikan oleh Kamila, jadi untuk janji yang waktu itu soal Kamila gaja kesehatan beliau.."
Dia ingin berhenti.
Tapi begitu melihat wajah Joy yang berubah sangar, Kamila mau tidak mau merubah apa yang ingin dia katakan. "Kamila akan mencoba menjaga kesehatan beliau dengan yang terbaik dan tidak mudah menyerah meski ayahmu itu suka marah-marah gak jelas sama Kamila."
Mendengar kegigihan Kamila, Joy tersenyum puas.
Keesokan paginya seperti kemarin setelah menyiapkan sarapan untuk Joy, Kamila masih kembali ke taman yang kemarin belum sempat dia urus dengan baik. Dia memindahkan bunga-bunga yang tidak tertata rapi, memotong daun yang sudah kering dan bunga yang sudah layu, seperti sebelumnya Kamila juga menyirami semua tanaman yang ada di sana.
Saat dia menyirami tanaman anggrek suara samar dari kursi roda berhenti di belakangnya, jadi Kamila berbalik untuk menemukan perawatan ayah Joy duduk di sana sambil memasang wajah yang ngeri.
Kamila mencoba untuk tetap bisa tersenyum sopan santun dan menerapkan tiga s, yaitu salam senyum sapa.
"Mr. Herman?" Kamila menyapanya sambil tersenyum sopan, ketika dia ingin menyalami tangan Herman yang notabene sekarang sebagai ayah mertuanya, ayahnya Joy itu segera menepis tangannya.
"Bukankah saya sudah bilang kemarin jangan obrak abrik tanaman di taman saya?!" Herman dengan marah langsung memaki Kamila.
Kamila yang sudah tahu tempramen ayah Joy itu sangat, sangat tidak terkejut.. dia mendesah nafas maklum dan berkata sangat ramah. "Baik, Kamila akan berhenti datang ke taman ini jika anda meminum obatnya."
Herman yang mendengar Kamila tidak akan lagi mengobrak-abrik taman miliknya segera berkata. "Mana obatnya?"
Kamila masih belum kembali ke akal sehatnya sebelum dia berlari ke dalam rumah untuk mengambil obatnya, dia datang sambil membawa obat dari dokter pribadi keluarga Mallor dan segelas air putih, dia lalu memberikannya ke ayah Joy.
Bagi ayah Joy yang menerima obat penyakitnya dari Kamila, dia sebenarnya sangat mencurigai menantu miskinnya itu yang tiba-tiba tanpa angin tanpa hujan, tanpa kabar pernikahan apapun sebelumnya Joy membawa seorang istri ke keluarga Mallor.
Bukan hanya itu saja yang menjadi objek kemarahan Herman, kenapa perempuan yang di umumkan oleh Manuel sebagai calon istri, kenapa tiba-tiba menjadi istrinya Joy?
Dan kenapa kedua anaknya itu harus selalu tertarik pada wanita yang sama, sama-sama berpacaran dengan Zea dan sama-sama menginginkan Kamila sebagai istri?
Saat memikirkan sebarapa mudanya umur Kamila Yasmin yang baru selesai lulus sekolah, Herman tidak tahan untuk tersenyum pahit.
Apa kedua anaknya lebih condong ke seorang pedofil? Hanya memikirkan tingkah melenceng Joy dan Manuel yang sesat membuat keseluruhan jidat Herman semakin puyeng saja.
Karena sakit kepalanya yang nyut-nyutan itu Herman segera meminum obat yang di kasih oleh Kamila dalam sekali teguk, jika dia menjadi lebih sakit setelah meminum obat dari Kamila maka Herman punya alasan untuk mendepak menantu kere yang tidak di untung ini sambil berteriak pada Joy menantunya itu mencampurkan racun tikus di dalamnya.
Kemudian Herman akan membuka kedok sebenarnya dari Kamila, jika Kamila menikahi anaknya itu yang bernama lengkap Joy Mallory hanya karena uang.
Kamila mau menikah dengan Joy hanya karena kekayaan dan properti perusahaan Mallor yang tidak bisa di singgung sembarangan orang karena menjadi salah satu perusahaan terbesar di Indonesia.
Dan siapa di dunia ini maka tidak ada seorang perempuan yang tidak akan tertarik dengan seorang Joy Mallory jika di nilai dari seberapa tebal kantong dan dompetnya.
Setelah meminumnya meskipun obatnya aman dan tidak ada masalah serta air mineralnya biasa-biasa saja rasanya, Herman berpura-pura berbatuk menyedihkan di depan Kamila.
Dan dia sangat marah. "Kau ingin membuat saya cepat meninggal? Apa kamu mencampurkan sesuatu ke minuman yang kamu kasih?!"