Sweet Wedding

Sweet Wedding
Tidak akan mungkin



Joy yang melihat Kamila dari tadi senyam-senyum sendiri seolah-olah di timpa uang segepok segera mengeryitkan keningnya dan bertanya. "Kenapa kau kelihatan lebih bahagia dari kemarin?"


Kamila masih senyam-senyum sendiri sambil menata nasi goreng di piring Joy, dia masih tersenyum cengengesan dan tidak menjawab bahkan saat dia menyiapkan sarapan untuk pria yang sudah menjadi suaminya.


Saat dia sudah mengambil nasi goreng buatannya sendiri yang seporsi secukupnya, dia mengambil garpu dan menyerahkannya pada Joy.


Seorang Kamila Yasmin, daripada menjawab dia lebih suka balik bertanya. "Mau tahu kenapa Kamila tiba-tiba bahagia?"


"Biasa saja." Joy menjawab acuh tak acuh dan dia menerima nasi gorengnya sambil memakannya.


Semenjak Joy merampas telur gulung Kamila waktu mereka masih di apartemen, pria itu sekarang membuat peraturan baru. Yaitu setiap pagi, Kamila harus menyiapkan sarapan dan semua keperluan yang di butuhkannya.


Melihat Joy sepertinya tidak tertarik dengan kabar membahagiakan yang di mimpi-mimpikan di seumur hidup Kamila, atau melihat Joy yang hanya mengubrisnya biasa saja, Kamila memajukan bibirnya manyun dan dia menata nasi ke piringnya sendiri.


"Joy, bagaimana keadaan ayahmu kemarin?"


Joy meliriknya sekilas. "Ya, bagus. Tapi jangan beri dia makanan yang buruk buat orang yang darah tinggi."


"Ayahmu darah tinggi?" Kamila segera mendesah maklum karena tekanan darah tinggi dan rendah masih tergolong umum untuk orang tua, dia juga mendesah lega tahu bahwa Herman kesehatannya tidak seburuk yang dia bayangkan seperti punya penyakit jantung atau asma.


Joy mengangguk. "Ya, kadang-kadang."


Begitu Joy menghabiskan nasi gorengnya, Kamila buru-buru menuangkan air minum. "Joy, Kamila mau bicara sesuatu yang sangat penting nih.."


"Apa?"


Kamila berkata hati-hati. "Kita pasti cerai kan, dalam dua tahun?"


Joy mengangguk. "Bukankah memang perjanjiannya begitu?"


"Ya... Kamila kan, cuma mau memastikan."


Joy seolah kehilangan topik penting, tapi dia segera menyadari ada sesuatu yang tidak beres. Dia mengeryitkan keningnya saat bertanya curiga pada Kamila. "Emang kenapa kau tiba-tiba bahas topik ini?"


Kamila memainkan garpunya. "Itu.."


Setelah jeda sedetik, dia berkata yang sebenarnya jika Haesti sudah menyetujuinya dengan Elang. "Mama Kamila sudah setuju kalau Kamila boleh nikah sama orang yang Kamila suka, dan akhirnya.. hari katika Kamila nikah sama Elang akan menjadi kenyataan dalam dua tahun lagi, menikah dengannya serasa tinggal selangkah yang bukan seperti mimpi yang tidak bisa di gapai lagi."


Kamila tersenyum senang. "Tidak sabar rasanya memberitahu kabar sebagus ini sama Elang.."


Dia melirik Joy yang tetap diam saja yang tidak merespons kebahagiaannya sedikitpun, seolah pria maskulin itu tidak tersentuh dengan jenis apapun percintaan sejoli mereka.


Seolah-olah Joy pihak yang tidak tersentuh dan juga pihak yang tidak peduli bahkan jika istrinya itu yang baru saja dia nikahi tidak lebih selama seminggu sudah buru-buru minta cerai untuk bisa nikah sama pria lainnya.


Joy buru-buru menandaskan minumannya sampai habis setelah itu dia merapikan jasnya yang sedikit kusut di bagian lengan.


Dia tersenyum tapi simpul di bibirnya sedikit ada kabut yang dingin. "Apapun yang ingin kau mau, siapa yang kau cintai dan siapa pria yang pingin kau terima benihnya sekalipun, semua itu tidak ada hubungannya denganku sama sekali."


"Tapi ingat jika bokap tahu kamu pacaran sama orang lain.."


Dia berkata mengancam. "Siap-siap saja kalau sampai itu terjadi, aku akan mencambuk arwah dan roh milikmu itu dari kuburan, aku juga akan mecambuk semuanya sampai ke tulang-tulangnya sekalian, meleburnya dan aku minum."


Kamila yang melihat nada mengancam Joy dengan senyuman di wajahnya yang tampan itu, tiba-tiba dia merasa sangat serat, dia segera meminum seteguk air.


"Joy, kamu ngaco.."


Setelah dia berbicara pada Kamila, pria itu pergi dengan wajahnya yang tetap berekspresi sama, wajah yang sedikit dingin tanpa perubahan apapun yang tidak bisa di baca eskpreksi apa yang ada di wajah Joy sekarang. Tapi jika Kamila bisa menyadarinya, sebenarnya di ujung alis Joy yang sedikit menekuk dan mengkerut adalah bukti kemarahannya sekarang pada Kamila.


Meskipun kemarahan itu bisa di lihat Kamila sekalipun, Joy juga tidak tahu apa yang membuat dia marah sampai seperti ini dan Joy sendiri menyembunyikan rasa ketidaksukaannya saat Kamila terang-terangan ingin menikahi pria lain.. di depan wajahnya.


Menyaksikan punggung Joy yang langsung berkelabat, karena Kamila masih dalam suasana hati yang senang, dia sendiri langsung menghabiskan semua sarapan nasi gorengnya.


Saat sudah tidak ada yang bisa di lakukannya lagi karena Joy sudah berangkat ke perusahaan Mallor, Kamila berinisiatif mengurus taman yang tidak sengaja dia lihat kemarin yang agak kurang terawat dan terurus dengan baik.


Dia juga menata kembali semua bunga yang berantakan, memangkas daunnya yang sudah layu kemudian Kamila menyiraminya. Dia ingat waktu valentine day beberapa bulan yang lalu Kamila menerima sebuket bunga mawar segar dari Elang dan tepat di hari itu juga Elang mengikrarkan cinta untuk menembaknya, setelah beberapa bulan Kamila menaruh bunga itu di dalam pot dan menyiraminya setiap hari, bunga itu ujung-ujungnya akan layu. Meskipun bunga itu layu, tapi Kamila percaya jika hubungan rasa saling menyukainya dengan Elang tidak akan layu seperti bunga mawar yang dia terima.


Kamila cukup percaya diri dengan rasa cintanya untuk Elang dan dia percaya dengan sepenuh hati ketulusan Elang untuknya.


Masih sibuk menyirami semua bunga sambil memikirkan pacarnya, Kamila tidak sengaja melihat Herman yang kebetulan lewat menggunakan kursi roda.


"Mr. Herman.."


Kamila tidak tahu harus memanggil ayahnya Joy itu dengan sebutan apa. Ayah? Dia juga bukan menantu permanen keluarga Mallor jadi dia harus menjaga perbatasan dan kesopanan. Tuan? Dia bukan seonggok pelayan yang di giring Joy untuk masuk ke keluarga Mallor.


Jadi lebih baik memanggilnya Mister.


Herman yang duduk di kursi roda karena masih lemah untuk berjalan kaki itu mengeryitkan ujung alisnya merasa janggal dan seolah-olah pingin ngamuk melihat menantu mudanya itu.


"Kenapa kamu repot-repot merawat taman itu?"


Kamila sedikit terkejut karena Herman sepertinya tidak akan memarahinya. "Sepertinya tidak di urus dengan baik jadi Kamila.. sementara waktu Kamila tinggal di sini, apakah Kamila boleh menyirami semua bunganya?"


Herman mengendus sambil mendorong kursi rodanya sendiri. "Apa kamu pelayan? Keluargamu miskin kan? Jangan lakukan itu toh kamu tidak akan saya bayar sepeserpun!"


Kamila mengangguk. "Baik."


Dia melihat jam di pergelangan tangannya yang hampir setengah sembilan, karena Kamila ingat janjinya pada Joy untuk menjaga kesehatan ayahnya itu, jadi segera setelah dia menyirami semua tanaman dia segera kembali ke dalam dan mengambil obat yang di berikan dokter pribadi keluarga Mallor saat mengecek kesehatan Herman kemarin.


Jadi Kamila mencari-cari mertuanya itu di sepanjang rumah bak bangunan mansion megah yang luasnya bisa buat Kamila tersesat karena capek.


"Sampai kapanpun saya tidak akan pernah menerimamu sebagai menantu, sebaiknya camkan itu baik-baik!" Herman yang lagi-lagi melihat wajah menantunya sampai membuatnya eneg langsung membentak dengan dingin, gen dinginnya itu juga sepertinya di turunkan ke Manuel dan Joy.


Kamila sudah terbiasa menghadapi orang-orang Mallor seperti kabut kedinginan itu.


Joy Mallory tidak menyukai seorang Kamila Yasmin karena pernikahan mereka hanya terikat karena perjanjian.


Cerai dalam dua tahun, di awali menikah juga karena terdesak kesalahpahaman warga kompleks.


Kamila tersenyum ramah. "Obat.. anda harus meminumnya sehari tiga kali."


Dia merasa tidak akan di terima sebagai menantu sangat tidak apa-apa karena baginya, pernikahan mereka sendiri.. juga bukan apa-apa.


Di lihat seberapa luar biasanya selisih umur keduanya, dia seorang Kamila Yasmin tidak akan bisa menyukai Joy Mallory sampai kapanpun.


Sampai dunia retak, mengalami keretakan langit sekalipun, baginya.. hanya tiga kata.


Tidak akan mungkin.