Sweet Wedding

Sweet Wedding
Hitam yang menandakan seberapa busuk hati dan nafsunya



Karena dia di biarkan jatuh secara sengaja oleh Joy, Kamila merasakan lututnya benar-benar sakit, dia tidak berpura-pura jika kakinya yang membentur ubin kerasa sangat nyut-nyutan.


Kamila meringis kesakitan dan saat dia mencoba untuk berdiri, pergelangan kakinya juga sepertinya terkilir. "Aw.. Joy, Kamila gak bisa berdiri, kaki Kamila terkilir akibat kamu yang sengaja jatuhin Kamila!"


Dia berusaha berdiri tapi kakinya yang terkilir terlihat membengkak dan Kamila jatuh beberapa kali, melihat kesakitan Kamila Joy merasa tidak tega jadi dia segera membopong Kamila sepanjang jalan menuju ke sisi tempat tidur.


"Kaki mu terkilir." Entah kenapa kali ini nada bicara Joy agak melembut dan dia tidak dingin seperti yang biasanya.


Saat Kamila duduk Joy kemudian menekuk lututnya di depan Kamila, mengambil kaki gadis itu dengan perlahan sebelum Joy berinisiatif memijat kaki Kamila dengan hati-hati, dan pijatan yang di lakukannya sangat lembut dan juga penuh perhatian. "Apa masih sakit?"


Awalnya kakinya memang sangat sakit, tapi setelah mendapatkan pijatan dari Joy rasa nyeri di kakinya sekarang sudah berkurang sedikit.


Kamila menggelengkan kepalanya. "Sudah tidak lagi."


Joy mengangguk mengerti sebagai tanggapan, dia kemudian mengambil satu bantal untuk menyangga kepala Kamila lalu menarik selimut dengan lembut saat Joy mengelus kepala Kamila. "Hati-hati jangan jatuh lagi."


Kamila hanya bisa tercengang melihat sikap Joy yang berubah seratus delapan puluh derajat dari yang dingin dan acuh tak acuh, sekarang menjadi perhatian setelah Manuel datang.


Melihat Joy yang berbaring di sisi tempat tidur lain, Kamila menarik nafas panjang dan dia hampir lupa untuk berkedip. Jika dia mendapatkan perlakuan lembut seperti ini terus-menerus, mungkin saja Kamila tidak akan membenci Joy Mallory yang umurnya sudah kelewatan tua!


Tapi Joy yang ada di sebelahnya langsung membuyarkan pujian Kamila sampai rengsek berkeping-keping karena Joy mendengus nafas dan segera berkata dengan suara dingin. "Cepat tidur karena ku gak tahan memperlakukan mu dengan lembut yang berbeda dari kebiasaan ku sekarag!"


Kamila terdiam sejenak. "Joy, kamu hanya akting memijat kaki Kamila yang terkilir tadi?"


"Ya." Bahkan Joy tidak memerlukan waktu lama untuk menjawabnya. "Kau cepat tidur atau perlakuan lembut ku gak akan berlaku selamanya."


Kamila, "...."


Meski warna yang di sukai Joy mayoritas hitam yang menandakan seberapa busuk hati dan nafsunya, tapi dia sepertinya memang tidak tertarik dengan Kamila sama sekali dan Joy adalah pria yang sangat mementingkan kebersihan jadi selimut yang di pakai Kamila memiliki aroma memikat dan minyak rambut yang di pakai Joy segera tercium di pernafasan Kamila.


Dalam bayangan malam di bawah cahaya lampu yang setengah padam Kamila memperhatikan pernafasan Joy yang sudah teratur dan sosoknya yang sudah tidur terlihat sangat menawan seolah Joy bukan lagi seperti patung yang dingin yang suka dalam kelumpuhan wajah seperti biasanya dan meskipun alis Joy terlihat tegas, terlihat kuat sekalipun, jika pria itu tidur seperti sekarang maka seolah-olah kelembutan dan kehangatan yang hanya bisa di lihat Kamila sekarang, memang hanya bisa di dapatkan oleh Kamila.


Kamila diam berpikir, orang sekeren Joy seperti ini bagaimana mungkin triliunan perempuan tidak akan ngiler melihatnya? Jika di hitung dengan uang dan perusahaan Mallor saja sudah menjadi pesona yang di mana orang manapun ketika melihat Joy akan berdecak kagum dan iri, tapi jika perempuan yang melihat Joy.. pasti pria tampan tanpa kecacatan di depan Kamila akan menjadi gula yang di kerumuni semut sampai-sampai Kamila tidak akan kebagian.


Tapi Kamila adalah satu-satunya perempuan yang berani menjalin pernikahan kontrak dengan pria dominasi itu dan seberapapun tampan wajah Joy.. jika di bandingkan dengan jarak umur keduanya Kamila pasti membenci Joy karena takut di kira simpanan duda tua dan saat dia di hadapi oleh pria itu, Kamila hanya seperti lalat yang mudah di gepengkan jika dia tidak patuh.


Memikirkan pernikahan kontraknya dengan Joy dia kemudian tidak tahan untuk menguap beberapa kali dsn tanpa sadar Kamila sudah tertidur terlelap.


Dia membuka matanya dan pandangan matanya terkunci tepat di wajah Kamila. Joy mengamati gadis berusia delapan belas tahun itu, dia mengamati setiap lekuk di kulit wajah Kamila yang putih, di mulai dari alisnya yang lemah, matanya yang terpejam dan terlihat bulu mata yang lentik, hidung yang mancung dan yang terakhir dia melihat bibir Kamila yang terlihat sangat menggairahkan jika dia mendekatkan sedikit saja wajahnya, maka Joy bisa menikmati bibir itu.


Dan ketika Joy nyaris tidak tahu malunya hampir mendekatkan bibir keduanya, dia tiba-tiba diam seperti kayu karena dengan b*ngsadnya arena bawah di pahanya dengan sangat lancangnya bisa mengeras!


Joy mengetatkan giginya gerahamnya dan mengepalkan tangannya kemudian mundur ke belakang untuk menjauhi Kamila, saat dia hampir saja kehilangan kekangannya dan nyaris khilaf.. dia melihat wajah Kamila yang tertidur teratur seolah-olah adalah kepolosan yang tidak bisa tergapai.


Kepolosan yang tidak bisa dia sentuh dan juga salah satu jenis kepolosan yang tidak boleh dia rusak dengan darah b*ngsadnya yang kotor.


"Sial." Joy berdecak dingin dan dia terpaksa bangkit dari tempat tidur karena sepertinya malam ini, dia perlu mandi lagi untuk mendinginkan kepalanya agar bisa menenangkan bagian bawahnya sendiri.


"Aku gak bisa seperti ini pada cewek yang lebih muda, hanya melihatnya tidur.. apa otakku sudah sinting?"


Setengah jam kemudian setelah Joy mengurus keperluannya yang 'itu' secara single hanya dengan tangannya untuk meredakan ketegangannya sendiri, dia kembali tidur di sebelah Kamila tapi kali ini Joy membelakangi wajah gadis itu dan menarik selimut sampai menutupi kepalanya.


Waktu dia ingin tidur dia ingat saat Joy menangkap Kamila dan melingkari pinggang dengan tangannya, dia bisa merasakan bahwa Kamila sangat kurus dan berbeda seperti ketika dia menyentuh Zea yang montok, dan saat memegang pinggang Kamila, Joy terkejut jika istrinya itu lebih kurus dari perkiraannya.


Keesokan paginya setelah Kamila bangun dia gelagapan seperti orang yang baru saja di sambar petir di siang bolong!


Saat Kamila membuka matanya dia sadar jika tangan kirinya merangkul Joy seperti merangkul bantal guling, jadi dia buru-buru menarik tangannya dari dada bidang Joy. Tapi sebelum dia bisa menyingkirkan tangannya dari pria itu, Joy terlihat hampir membuka matanya jadi Kamila menutup matanya lagi untuk terus pura-pura tidur.


"Kamila." Joy berkata dengan suara yang rendah takut menganggu tidur Kamila yang sepertinya sangat nyenyak sambil dia menyingkirkan tangan Kamila yang melingkarinya seperti bantal guling dengan hati-hati.


Joy masih mencoba membangunkan Kamila beberapa kali. "Kamila bangun, buat sarapan."


Kamila yang di goyang-goyangkan pundaknya pura-pura baru bangun tidur dan perempuan itu melihat ke arah Joy sambil menggosok matanya. "Joy.."


Baru bangun pagi Joy terlihat sangat kelelahan karena di bawah kelopak matanya ada kantong mata yang terlihat hitam dan wajah Joy terlihat masih ngantuk padahal baru bangun tidur jadi Kamila bertanya. "Joy kantong matamu terlihat parah, apa kau semalaman gak bisa tidur?"


"Ya, banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan hari ini, jadi aku belum tidur sama sekali." Joy mengangguk sedikit sebagai tanggapan, dia tidak bisa bilang karena sebenarnya permasalahan tidurnya adalah bagian yang 'itu'.


Joy juga menarik bantal dan selimut untuk kembali berbaring. "Buat sarapan, setelah jadi bangunin lima menit lagi."


"Tapi jangan buat bergedel kentang, rasanya tidak enak."