Sweet Wedding

Sweet Wedding
Bukan calon istri orang lain, ingat itu



"Pa, dia Kamila dan kami berdua sudah nikah siri." Joy berbicara sangat tenang, bahkan mimik wajahnya terlihat setenang danau yang ada di Solo. Meskipun ucapan Joy sedikit datar tanpa komplikasi apapun namun bagi Herman kabar Joy yang sudah menikah siri seperti petir di siang bolong.


"Apa yang barusan kamu bilang.." Herman sangat tidak bisa percaya dengan anak laki-lakinya itu, dia hampir ternganga tidak percaya dan rahangnya hampir terbanting ke tanah karena sangking terkejutnya.


Saat dua tahun lagi Joy akan kepalan empat, Herman pernah beberapa kali mendesak anaknya itu untuk segera menikah dan agar Joy berhenti menjalin hubungan yang tidak serius dengan perempuan manapun.


Meskipun dia sangat menginginkan Joy untuk bisa menikah, dia tidak bisa menerima jika menantunya itu berasal dari kelas bawahan, saat ini bisa di lihat dari cara berpakaian Kamila saja sudah bisa di tebak jika Kamila adalah seekor udik.


Memikirkan juga anak terakhirnya Manuel yang juga akan menikahi perempuan miskin, Herman langsung ingin memijat jidatnya yang tiba-tiba berdenyut.


Karena sudah tua, Herman tidak begitu jelas mendengar nama menantunya itu, jadi dia bertanya lagi.


"Tunggu dulu.. siapa namanya dia tadi?"


"Kamila." Joy langsung menjawabnya. "Nama lengkapnya, Kamila Yasmin."


Herman terdiam selama beberapa saat, karena sepertinya dia pernah mendengar nama itu beberapa hari yang lalu.. seperti.. persis dengan nama calon istrinya Manuel.


Dia masih kondusif dan bertanya. "Berapa usianya.. kenapa namanya pernah aku dengar sebelumnya."


"Delapan belas tahun." Wajah Joy tetap setenang danau di Solo tanpa perubahan ekspreksi sedikitpun.


Dia juga melanjutkan berkata pada ayahnya itu. "Papa memang pernah denger namanya, karena Kamila dulu perempuan yang ingin di nikahi sama Manuel."


Herman terdiam sangat lama sebelum dia terkejut seperti baru saja dia tersambar petir.


Dia sangat marah dan karena sangking marahnya tiba-tiba nafas Herman sedikit sesak dan berat, seperti nafas orang yang asma atau seperti nafas orang yang pernyakit jantungnya sedang kumat.


Nafas Herman naik turun dan terpengkal-pengkal sebelum dia benar-benar jatuh pingsan.


"Pengawal!" Joy segera berteriak pada orang-orangnya yang kemudian para pengawal itu segera membawa Herman yang sudah tidak sadarkan diri. "Panggilkan dokter untuk memeriksa keadaannya juga."


Dengan suruhan Joy, pengawal itu langsung patuh membawa Herman dan memanggilkan dokter pribadi keluarga mereka.


Kamila yang menyaksikan Herman tiba-tiba pingsan, dia merasa sangat panik, Kamila meremas tangan Joy yang tangannya sendiri sedikit gemetaran karena takut. "Joy.. ayahmu tidak memiliki riwayat penyakit jantung kan.."


Merasakan tangan mengigil dan gemetar di telapak tangannya, otomatis Joy mengencangkan gengaman di tangan Kamila.


Joy berbisik pelan. "Sssttt jangan takut bokap cuma pingsan karena terkejut, Kamila kamu jangan khawatir, dia tidak akan mati."


Mendengar kata kematian Kamila yang awalnya hanya khawatir, sekarang menjadi sangat takut betulan.


Kamila masih sangat ketakutan karena saat Herman pingsan seperti orang yang memiliki riwayat pernyakit jantung akut, dia sangat takut jika terjadi sesuatu dengan mertuanya itu jadi tanpa sadar dia memeluk Joy yang ada di sampingnya.


Tangannya melingkari pinggang Joy dan kedua tangan Kamila itu secara refleks mencengkram jas yang ada di pundak Joy dengan sangat kuat, seolah rasa takutnya bisa hilang dengan bersandar pada lelaki tinggi itu.


"Joy, Kamila tetep saja khawatir.. Kamila takut, bagaimana kalau terjadi sesuatu sama ayahmu?"


Mendapatkan pelukan yang tanpa aba-aba, Joy seketika di buat membeku.


Dia pernah di peluk oleh seorang perempuan ribuan kali dengan perempuan yang berbeda-beda, tapi perasaan saat Kamila memeluknya agak berbeda dengan perasaan ketika Zea yang memeluknya.


Pelukan Kamila hanyalah pelukan yang polos, tanpa nafsu, tanpa hasrat dan tanpa keagresifan sangat berbeda saat Joy di peluk oleh berbagai macam perempuan sebelumnya.


Pelukan yang polos seperti seorang anak kecil, perasaan itu sedikit menggelitik di ujung jantung Joy dan tanpa sadar dia mengelus bagian belakang kepala Kamila untuk menguburnya ke dalam pelukannya sendiri saat dia juga mengencangkan tangannya membalas pelukan gadis itu.


Kamila yang baru saja tersadar memeluk kuat pinggang pria itu dia segera mencabut tangannya cepat-cepat.


Dia segera mengambil jarak selangkah dari Joy.


Joy Mallory tidak menggubrisnya sama sekali tapi dia langsung berbalik pergi. "Aku cek dulu keadaan bokap."


Secara tidak terduga Manuel keluar dan dia berdiri di tangga lantai dua, tatapannya berkelabat ke arah mereka.. terutama ke arah Kamila.


Joy yang menyadarinya tiba-tiba tersenyum karena sekarang waktunya yang pas untuk memamerkan kemesraannya dengan Kamila terutama di depan Manuel, adiknya itu.


"Kenapa kamu masih diam tidak bergerak?" Joy mengengam lagi tangan Kamila dengan sangat perhatian.


Dia berkata sekali lagi. "Ayo kita sama-sama lihat keadaan mertua mu, karena kamu sekarang sudah menjadi istri sah aku."


Joy juga tidak lupa menekankan ucapannya saat melirik wajah Manuel dia sekali lagi berkata dengan suara dingin, yang tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu rendah. "Bukan calon istri orang lain, ingat itu."


Sekilas sosok Mauel yang berdiri di antara tangga itu mengalami kelumpuhan wajah, entah itu sedih atau marah tapi Manuel Mallory masih menatap Kamila lekat-lekat.


Namun yang sangat jelas di kepalan tangannya mencengkram sangat kuat. Dia hanya beberapa hari hampir menikah dengan Kamila, dan sebelumnya Kamila adalah calon istrinya.


Tapi setelah perempuan itu kabur, Manuel menemukan Kamila Yasmin tiba-tiba datang ke rumahnya sendiri.. sebatas sebagai kakak ipar.


Dia merasa sangat marah bahwa barang yang sudah menjadi miliknya seakan di rebut oleh Joy.


Saat Manuel melihat ke arah wajah Joy, dia akan melayangkan tatapan sinis. Namun saat matanya berubah haluan ke Kamila, tatapannya tiba-tiba berubah sehangat musim semi.


Manuel bergumam sangat pelan. "Kamila Yasmin.."


Kamila tidak tahu harus menjawabnya bagaimana tapi dia hanya bisa bersembunyi ke belakang punggung Joy.


"Dia istri ku sekarag, jaga bagaimana kau memanggilnya." Joy seolah tersenyum kemenangan sekaligus senyuman penuh prestasi dan penghargaan bagi dirinya sendiri.


"Istri?" Manuel mengeryitkan sebelah alisnya. "Kau sedang membuat lelucon ya, sama calon istri adik mu sendiri?"


Manuel turun dengan perlahan dari tangga dan berhenti tepat di depan mereka berdua. "Kamila, katakan yang sebenarnya."


Kamila sangat takut dengan perseteruan dua bersaudara di depannya, dia hanya berani menganggukkan kepalanya.


Saat melihat reaksi Kamila, Manuel tidak tahan untuk tertawa.


Dia berkata mencibir. "Kamila ternyata kau sama busuknya dengan perempuan yang lain. Kau kabur karena tidak mau nikah dengan akj karena lebih tertarik sama Joy yang mempunyai segalanya sekaligus orang yang memiliki kedudukan tinggi di perusahaan besar?"


"Kau mau nikah sama Joy karena sebatas harta saja kan?"


"Ck, perempuan matre!"


Bukan gadis itu yang menjawabnya melainkan Joy yang menjawabnya dengan suara tenang dan acuh tak acuh. "Terserah istri ku sedikit matre, toh uang yang ku miliki juga gak akan bisa habis."


Kamila tidak sependapat dengan perkataan Joy yang di samakan dengan perempuan haus harta dan kekayaan, dia menarik sedikit tangan Joy dan memanggil namanya pelan.


"Joy.."


Kamila berbisik pelan yang hanya bisa di dengar oleh mereka berdua saja. "Apanya yang Kamila matre? Kamila cuma buat dua telur gulung, beli telur di pasar juga tidak akan lebih dari sepuluh ribu, Kamila masih sanggup ganti rugi jika pengeluaran yang kau keluarkan kurang ikhlas."


Joy, "...."


Joy mencoba menenangkan semua alisnya yang ingin terangkat dan mengeryit ke arah perempuan tidak peka itu.


"Sssttt, diam."