Sweet Wedding

Sweet Wedding
Kalau begitu biarkan mereka melihat



Sederhananya pertanyaan Joy padanya adalah seperti ini, kena pukulan satu saja pasti akan tumbang, bagian mana bagusnya Elang untuk di sukai?


Dan Joy sekali lagi mendesis mengejek. "Ck gebleg bukan main kau, Kamila."


Kamila langsung melihat ke atas sampai pandangan mereka bertemu, jika dia mendapatkan pertanyaan yang menjelek-jelekkan Elang sebelumnya dan sebelum dia tahu Elang selingkuh dengan Linda. Kamila pasti akan dengan percaya diri mengatakan bahwa Elang adalah pria yang sempurna dari segi semuanya.


Tentu saja kembali lagi ke umur Elang yang masih muda, tidak tua seperti Joy Mallory dari segi umur Elang sudah cukup untuk dia sukai.


Tapi karena Elang menyelingkuhinya, Kamila hanya bisa membungkam mulutnya sendiri dan dia diam dalam seribu bahasa dan dia tiba-tiba mematung dan tidak bisa berkata apapun.


Seperti kata Joy, bagian mana pacarnya yang bagusnya di sukai Kamila sepertinya sudah tidak ada karena Elang sudah meremukkan jantung dan paru-parunya sebagai letak kepercayaannya sampai ringsek berkeping-keping.


Meskipun tidak berdarah tapi Kamila merasakan kesakitan yang luar biasa begitu tahu dia telah di campakkan.


"Sudahlah, Joy.. semua pria di dunia ini sama saja dan semuanya br*ngsek!"


Joy, "...."


Joy hanya bisa mengulurkan tangannya untuk membantu menghapus air mata yang ada di pipi Kamila. "Sstt, jagan sedih lagi."


Kamila mengangguk sedikit dan dia kembali mendongakkan kepalanya. Dia melihat ke wajah Joy dan semua fitur yang ada di wajahnya, dia menemukan jika penampilan Joy jauh lebih tampan daripada Manuel, sempurna dan kokoh seperti pohon giok dan bahkan pria itu lebih halus secara alami pada Kamila meskipun alisnya terangkat dengan tegas.


*


Sehari sebelumnya adalah pemberitahuan untuk datang ke acara yang penting, Joy mengenakan setelan jas hitam yang pas dan dia terlihat tampak sangat tampan.


Diam di depan kamar Kamila sejenak, Joy butuh beberapa tarikan nafas sebelum dia membukakan pintu.


Kamila juga berdandan dan penampilannya jauh terlihat anggun meskipun dress yang dia kenakan agak biasa jauh dari kesan kasual dan polos, namun melihat Kamila tatapan mata Joy agak sedikit berubah menggelap.


"Sudah selesai? Ayo pergi ke acara Monica."


Kamila berdehem sedikit dan dia mengangguk.


Sebelumnya Joy mengatakan jika Monica adalah sekertarisnya di kantor dan perempuan itu mengundang Joy untuk datang ke acara penting di rumahnya, mengingat bahwa Kamila baru saja melihat penyelingkukan pacarnya dan mood perempuan itu memburuk, maka Joy tidak ada salahnya mendatangi acara Monica yang sebenarnya tidak sudi dia datangi hanya untuk memberikan udara segar pada Kamila dengan kesedihannya.


"Jangan cemberut, nanti di acara Monica akan ada selusin laki-laki yang lebih baik dan sejuta yang lebih ber*ngsek, ikut aku ke sana dan pilih saja salah satu dari mereka." Joy hanya bisa berdesis singkat ke arah Kamila.


Kamila sebenarnya tidak mau ikut, dan setelah dia merasa patah hati di campakkan elang, Kamila lebih tidak mau dekat dengan laki-laki siapapun dalam waktu dekat ini yang bisa membuat tendonnya atau ginjalnya bisa-bisa bocor karena terlalu kecewa di campakkan lagi dan lagi.


Padahal dia belum di colek sama elang, belum di colek sedikit, dan Kamila masih murni tetapi mengigil ujung-ujungnya, tetap bikin sakit hati.


Tapi bukan Kamila Yasmin jika dia tinggal saja dan tidak membalas perlakuan Elang, meskipun rasanya sakit dan jantungnya nyut-nyutan tapi Kamila perlu menggunakan pengaruh Joy untuk memberikan perhitungan pada Elang dan Linda.


"Ayo pergi?"


"Ayo pergi." Joy mengangguk sedikit sebagai tanggapan.


Joy berlajan dan memimpin di depannya, sedangkan Kamila di belakangnya. Herman tidak akan ikut dengan acara yang seperti itu sedangkan Manuel sibuk dengan pesta koktail dengan teman-temannya, maka mereka pergi berdua saja dengan Joy dan Kamila.


Dan dengan pengawalan yang mendampingi mereka, tentu saja Joy dan Kamila sampai ke tempat tujuan tanpa kecelakaan dan lecet sedikitpun.


Saat mobil Lincoln Limousine yang di tumpangi Kamila itu berhenti di depan hotel mewah, Kamila hampir menyesali keputusannya untuk ikut dengan Joy. Dia segera berbalik dan menatap tajam namun pihak lain hanya sedikit tersenyum sedangkan ekspreksi dalam kelumpuhan wajah.


"Joy, kamu tidak bilang kalau pesta sekertaris kamu akan mewah seperti ini yang cuma di hadiri orang-orang penting!"


Postur Joy terlihat tenang dan bahkan terkesan acuh tak acuh. "Ini tidak mewah."


"Dan di bandingkan dengan Mallor, keluarga lain cuma kecapung yang tidak penting sama sekali."


Kamila berbatuk dan dia hampir lupa siapa itu Joy. Bukan, melainkan perusahaan Mallor adalah perusahaan terbesar yang langsung mendominasi di setiap cabangnya sekaligus. Jika Joy yang berstatus tinggi seperti itu di undang oleh Monica, maka minimal acara itu akan sangat mewah dan sangat berkelas yang akan memamerkan status siapapun dengan sumber keuangan yang tidak tertandingi.


Di dalam mobil, Kamila mengintip sedikit dan melihat karakter yang seperti reporter dan sejenisnya ada di pintu sampai membuat jalan buntu, sedangkan untuk orang-orang yang ingin menghindari perhatian yang tidak perlu mereka akan memarkirkan mobil di tempat parkiran bawah tanah.


Sedangkan Joy, sengaja atau tidak dia memarkirkan mobilnya di depan hotel persis!


"Aku tidak jadi ikut."


Joy mengangakat sedikit alisnya dan dia berbalik ke samping. "Alasannya?"


Kamila tertawa kecil. "Joy, semua yang ikut berkelas sosialita. Sedangkan aku, aku.. Kamila kampungan!"


Joy sama sekali tidak ada respons apapun, dia hanya melihat ke arah Kamila sebelum pria berpengaruh besar itu berkata dengan suara dingin. "Kamu takut mereka melihat mu?"


"Kalau begitu biarkan mereka melihat." Joy berkata secara pelan dan dia melihat ke arah Kamila sambil tersenyum. "Dan kita lihat, orang tanpa otak mana yang berani untuk menghina ke arahmu?"


Joy kemudian berkata ringan. "Apapun yang akan mereka katakan nanti, kamu tidak perlu merasa tersinggung. Tapi jika kata-kata mereka menyakiti mu, memandang mu dari atas ke bawah untuk di bandingkan, maka aku akan menggali bola mata mereka dan memotong lidah mereka."


Kamila memandang ke arah Joy dan dia kehabisan akal untuk berkata-kata.


"Joy, apa yang kamu katakan serius?"


"Apa seorang Joy Mallory pernah mengatakan omong kosong?" Joy tertawa terbahak-bahak, dan setelah tawanya cukup mereda, dia kemudian membuka pintu.


"Turun, kita segera masuk ke hotel."


Melihat Joy yang sudah turun dari mobil, Kamila tetap tidak bergerak sedikitpun sampai tangan pihak lain terulur ke arahnya.


Tangan itu besar dan kuat, dan telapak tangan itu lebih lebar dari ukuran telapak tangan Kamila. Namun Kamila tetap tidak berniat menyambut tangan pihak lain.


"Joy, apa ancaman mu tadi serius?"


Joy Mallory, mengeryitkan keningnya sedikit dan dia memandang ke arah Kamila Yasmin. "Apa ancaman ku terlalu kejam jika ada orang yang mulut busuknya akan menghina istriku sendiri?"


Memang benar Joy bisa melakukannya karena dia memiliki kemampuan dan pengaruh untuk melakukannya. Bagaimanapun, dia adalah penerus sebuah perusahaan terbesar yang tidak bisa di singgung.


"Aku akan mencongkel mata siapapun yang berani memandang mu rendah, memotong mulutnya yang busuk, dan aku bisa melakukannya sekarang juga."