
Memang benar pengaruh Joy sangat besar dan dia nyaris tidak boleh ada yang menyinggungnya sedikitpun.
Untuk seorang putra tertua di keluarga Mallor, serta pengaruhnya sendiri sebagai penerus perusahaan Mallory, maka dia menjadi orang pertama sebagai yang paling konglomerat di Indonesia dan pengaruhnya sampai ke beberapa negara di Asia itu sendiri.
Dan setelah mereka masuk ke hotel itu untuk menghadiri pesta Monica, begitu Joy melangkahkan kakinya ke dalam maka selusin orang segera mengerumuninya, baik orang penting dengan jabatan tinggi juga langsung ada di sekitarnya.
Melihatnya Kamila sedikit merasa terkejut. Karena di manapun Joy akan muncul, maka tempat itu akan menjadi area pusat perhatian.
Seperti sekarang, duduk agak jauh dari Joy mata Kamila menyapu ke tempat yang paling menakjubkan dan paling eye-catching yang jelas Joy Mallory akan ada di tengah-tengah kerumunan itu dengan pesona Crazy Rich yang mendominasi.
Sebelumnya Kamila tidak ingin dekat-dekat dengan Joy terutama di acara internasional seperti ini karena dia tidak ingin menjadi primadona yang menonjol, alias gadis kampungan yang menonjol.
Jadi Kamila memilih tempat duduk sendiri yang agak jauh dengan mereka.
Kursi di sebelah Kamila tertarik ke belakang dan seseorang tiba-tiba berbicara kepadanya setelah memperhatikan penampilan Kamila dari atas ke bawah di mana gadis itu mengenakan pakaian polos yang tidak akan mencuri perhatian, tapi menurut orang itu Kamila adalah orang yang paling mencuri perhatian di pesta itu.
"Permisi nona, aku melihat mu datang ke sini bersama Direktur Joy, apa hubungan kalian berdua?" Orang itu menyapa dan bertanya terlebih dahulu sebelum memperkenalkan dirinya pada Kamila dengan sopan santun.
"Perkenalkan namaku Rio, seorang reporter."
Kamila mengangguk dan tersenyum sedikit, dia melirik ke arah Joy di sebrang sana sebelum dia menjabat tangan Rio yang di ulurkan padanya. "Kamila Yasmin, adik sepupu Joy Mallory.."
Mengetahui Rio seorang reporter yang bisa masuk ke acara besar seperti ini dengan mudahnya, pasti jabatan Rio bukan sebagai seorang reporter kelas teri. Apalagi jika Kamila salah berbicara yang secara tidak sengaja merusak reputasi Joy, lebih baik Kamila memendam kenyataan dia sebenarnya adalah istrinya atau masalah yang tidak perlu akan merembet kemana-mana ke redaktur dan ke produser berita, juga bisa ke para wartawan dan jurnalis.
"Anda adik sepupu di keluarga Mallor? Kenapa berita tidak pernah meliputnya sedikitpun sebelumnya?" Rio segera bertanya dan mengeryitkan satu alisnya ke atas, menurut dia mencari berbagai informasi mengenai seluk-beluk perusahaan yang mendominasi di semua bidang itu, Rio tidak pernah mendengar nama Kamila Yasmin juga bagian dari keluarga Mallor sedikitpun.
Sebelum Rio menabraknya dengan rentetan pertanyaan, lebih baik Kamila segera berdiri dan mengangkat pantatnya keluar daripada dia bisa-bisa salah ngomong dan kelepasan berbicara dengan yang tidak seharusnya dia katakan, tapi ya, sebenarnya dia tidak memiliki rahasia apapun juga jika ada semacam reporter yang akan menanyainya, dia tidak bisa keblabasan apapun.
Kamila berpindah ke tempat duduk lain dan dia mengambil sepotong roti yang berwarna zamrud.
Rio juga mengambil makanan yang sama dan dia kemudian duduk tidak jauh dari Kamila, dia berbatuk sedikit. "Sebenarnya, jika tidak merasa keberatan apa aku boleh meminta nomor WA mu?"
Kamila, "...."
Pertama kalinya melihat Kamila yang jauh dari kerumunan sosialita, Rio merasa tidak bisa untuk tidak tertarik pada gadis itu.
Biasanya perempuan-perempuan yang berkumpul di acara seperti ini rata-rata mereka akan bergunjing sambil tertawa keras, juga beberapa pria akan berbicara ke arah yang cabul dan di kelilingi perempuan muda dari keluarga kaya mana yang memiliki aset dada paling besar, keluarga ternama mana yang lebih konglomerat, dan orang mana yang masing-masing ingin mereka kencani.
Dan bagi Rio, perempuan pertama yang menarik perhatiannya dan orang pertama yang ingin dia kencani sekarang adalah Kamila Yasmin yang menjadi sepupu atau keluarga jauh dari marga Mallor.
"Tidak, aku tidak punya hape."
Di sisi lain Rio tertawa sedikit. "Aku tahu kita baru kenal tadi, tapi tidak ada salahnya untuk mencoba lebih dekat satu sama lain. Dan jika kamu belum menikah, aku memiliki pekerjaan yang bisa untuk menafkahi mu secara lahir maupun batin."
Kamila hanya mendongakkan kepalanya sejenak dan dia melihat penampilan muda Rio.
Jika dia tidak mengenal Joy lebih dulu, pasti Kamila akan lebih memilih Rio yang seorang reporter yang berpenghasilan besar yang tidak perlu di pertanyakan lagi, juga.. wajah yang tampan dan yang terpenting umur yang masih muda.
"Nafkah batin itu lebih sulit daripada nafkah lahir. Seberapa konglomerat kamu, bukan menjadi jaminan bisa mencukupi nafkah batin Kamila."
Meskipun sudah menikah dengan Joy lebih dari beberapa waktu, Kamila belum bisa merasakan ketulusan Joy dalam setiap perkataannya yang arrogant, dan karena masing-masing dari mereka saling tidak mencintai, maka tidak ada kewajiban untuk memberi satu sama lain nafkah lahiriyah dan batiniah.
Menghindari Rio dan tidak ingin membuat kesalahpahaman pada Joy, Kamila segera ke balkon dan meninggalkan Rio yang mengajaknya kenalan.
Kamila diam-diam memandang ke langit, menatap ke arah sinar bulan. Namun secara tiba-tiba dan entah bagaimana Joy ada di belakang Kamila juga dalam sekejap mata kedua tangan gadis itu di tekan lembut di pinggiran pagar sampai menjebak pihak lain di antara kedua lengannya.
Kamila merasakan aroma parfum bunga kamelia yang dia sukai tiba-tiba menguar dari sekelilingnya juga sejenis aroma yang akrab, suasana yang akrab dan juga sikap pihak lain yang sangat akrab.
"Kenapa memilih ke balkon?"
Kamila terdiam sejenak dan dia tidak menanggapi pertanyaan Joy, dia menghela nafasnya dan tanpa sadar menyandarkan punggungnya ke belakang sampai punggungnya sendiri menyandar ke dada bidang yang sepertinya lebih kokoh dan lebih lebar, juga Kamila bisa merasakan pundak lain yang terasa lebih tegas.
"Joy." Kamila mencoba memanggil namanya dan dia terpaku selama beberapa saat merasakan kehangatan melewati tubuhnya dan punggungnya melalui jarak pakaian mereka, yang terasa sangat menenangkan dan dia bisa merasa aman, seolah ketenangan tiba-tiba melanda Kamila.
Mendapatkan pelukan dari belakang saat dia menikmati sinar bulan yang memabukkan di balkon, rasanya Kamila tidak sedih lagi jika menyadari kenyataan Elang sang pacarnya telah menduakan nya dengan Linda.
Karena sepertinya Kamila bisa menemukan laki-laki lain yang lebih baik, contohnya seperti Rio yang baru saja melamarnya di pertemuan pertama.
Kamila tersenyum kecil. "Apa ini rasanya nafkah batiniah yang pertama kali Kamila terima?"
Joy Mallory diam dan dia tanpa merespon sedikitpun.
Dan setelah beberapa saat, Joy akhirnya bertanya. "Apa aku kurang perhatian sebelum-sebelumnya?"
Kamila hanya tersenyum sedikit dan dia menggelengkan kepalanya dengan lembut. Karena acara itu sudah larut malam, udara dingin di sekeliling mereka membuat Kamila mengantuk.
Tapi Joy diam-diam mengerti dan dia mulai mengamati wajah gadis itu.
Keduanya tidak lagi berbicara hanya Kamila masih menyaksikan cahaya bulan yang terasa memabukkan di matanya, dan di sisi lain Joy terus memperhatikan wajah pihak lain di setiap jengkalnya.
"Ayo pulang."