
Dengan hati-hati Tika mendekat ke pecahan itu dan mengambil serpihan yang paling besar dan menelitinya.
"Kenapa kaca ini sampai pecah? Misalkan vas ini sebelumnya ada di atas lemari sana pasti ga akan jatuh, diliat-liat permukaannya datar dan ga ada kemiringan pun. Dan misalkan vas ini ditaruh di bawah dan jatuh, itu akan bikin vas ini berguling dan ga akan pecah kaya gini. Kalau berada diatas lemari pasti ada yang mendorongnya dan kalau berada dilantai pasti ada yang menendangnya dengan cukup keras," ucapnya dalam hati.
Waw. Tika memberikan alibi yang tak seharusnya dilontarkan oleh anak seusianya itu. Ia sangat cermat dan teliti, ditambah pemikirannya itu.
Ekspresinya sangat mendukung apalagi waktu dia kembali mengelus dagu dengan kedua jarinya dan menganggukan kepalanya. Kali ini Tika benar-benar seperti detektif yang di film-film.
Saat terus berfikir, ia dialihkan pada cahaya redup berkedip dan terbang menuju ke atas lemari yang dibiaskan oleh kaca yang ia pandangi. Cahaya itu terbang diatas kepalanya.
Sontak ia mendongkakkan kepalanya menoleh ke atas. Makhluk itu kali ini mulai terlihat terlihat jelas karena tersorot oleh cahaya purnama yang bersinar dari vintelasi jendela. Besarnya seukuran serangga, karena ukurannya itulah mungkin ia dapat bergantung erat pada pangkal benih dandelion. Ia terlihat seperti manusia hanya saja ukurannya sangat kecil.
"Heiii...mau kemana kau?!,'' teriak Tika.
Ia terus menggapainya tapi makhluk itu terus saja terbang tinggi bergantung mengikuti arah angin menuju ke atas lemari. Tika tak tinggal diam dan mengejarnya. Ia berusaha memanjat lemari dan menjadikan setiap laci sebagai tumpuan berpijaknya.
"Mau kemana kau? Jelaskan siapa dirimu!" Tika begitu penasaran sekarang.
Tiba-tiba secercah cahaya masuk begitu cepat menembus jendela dan melewati Tika. Cahaya itu mengarah ke kaca yang pecah disekitaran pintu masuk tadi. Serpihan-serpihan tadi juga ikut bercahaya dan bersinar
Cring...cring...cring...
Serpihan tadi meledak dan berubah menjadi abu mungkin bisa disebut sebuah debu kaca. Tika yang melihat kejadian tadi hanya tertegun dibuatnya dan memaaang ekspresi tercengang-cengang. Ia terus memperhatikannnya dengan posisi yang masih bergelantungan di lemari. Takutnya nanti jika masoh ada serpihan yang akan meledak lagi.
Ternyata makhluk tadi bersembunyi di balik cermin diatas lemari. Makhluk itu buru-buru melariakn diri dengan terbang bergantungan dengan dandelion. Ia terbang merendah menuju debu kaca dan ia terlihat mengeluarkan sesuatu seperti debu juga yang kemudian ditaburinya ke permukaan debu kaca.
Perlahan hawa berubah menjadi dingin. Udara di dalam ruangan juga mulai berhembus kencang. Semakin lama udaranya berputar semakin cepat. Buku-buku yang semula tersusun rapi kini terbang berserakan kesana kemari, begitu juga dengan semua surta-surat, koran dan kardus. Tika merasa keadaan mulai tidak aman dan turun, ia berpelukan erat pada sebuah tonggak.
Debu kaca itu juga ikut beterbangan, namun ia membuat pusarannya sendiri. Pusaran vertikalnya semakin lama mulai membuat sebuah portal dan perlahan membesar dan terus membesar, kalau dihitung diameternya setinggi satu meter.
Semua yang berada di dekat portal mulai terhisap termasuk makhluk kecil itu. Tika merasa tubuhnya mulai tertarik dan mempererat pelukannya pada tonggak. Karena tarikannya juga semakin kuat, ia juga ikut tertarik dalam portal itu.
...----------------...