
Dersik angin berdengung bersamaan dengan gemerisik dedaunan menyapa sore hari ini. Anginnya cukup kencang dan hawanya pun cukup dingin, jika terus berada di luar ruangan pasti akan terkena flu. Sepertinya pertanda akan turun hujan seperti biasa di bulan desember ini.
Namun tidak dengan seorang gadis belia ini, ia terlihat sangat kegirangan bermain bersama kincir angin mungil yang ia pegang. Rambut pirangnya juga mengalun mengikuti semilir angin sambil melompat-lompat kegirangan.
Berselang beberapa waktu bumantara tiba-tiba ditutupi sang mega yang merona kehitaman diiringi suara guntur yang bergema di belahan langit utara. "Duaaarrr," Seketika gadis itu berlari ke dalam rumah sambil berteriak ketakutan mendengar gelegar petir itu. Genangan air yang semula tenang kini keruh dan becek karena ia lari ke dalam tanpa melihat apa yang diinjaknya. Dengan nafas yang masih belum terkendali dia langsung lari menuju kamar dan melompat ke ranjang sambil menarik selimut hangat yang membungkus semua badannya itu.
"Tika, cuci kakinya dulu, nak. Habis tu baru makan," sahut Mama Tika yang sedang menyiapkan makanan di dapur.
Tika pura-pura tidak mendengar suara Mamanya karena godaan kenyaman dari selimut hangat itu membungkusnya sangat erat, malahan membuatnya semakin nyaman ketika ia menutup kepalanya dengan bantal. Karena Tika belum juga keluar dari kamarnya, perlahan terdengar derap langkah kaki yang semakin lama semakin jelas terdengar. "ckckck" suara gagang pintu seketika menyegarkan matanya karena mama pasti akan mendekatinya.
"Cuci kakimu dulu, sayang. Itu makanan udah Mama siapkan di meja ntar keburu dingin jadi ga enak nanti," Tegur Mamanya.
"Tapi bu, dingin...," Tika mengelak sambil tersenyum kepada Mamanya.
"Eh, eh, gaada tapi-tapi. Yuk makan bareng Mama," Mama Tika langsung menarik tangan Tika agar segera meninggalkan selimut hangat itu untuk sementara waktu.
"Emang Papa ga pulang ya, Ma?," Tika berjalan mengikuti Mamanya ke arah meja makan sambil mengusap-usap kedua bahunya karena dingin.
"Kayaknya Papa bakal telat pulangnya, nak. Soalnya hari ini papa lembur," Jawab ibu sembari berjalan dari dapur membawa sup kentang yang masih panas dan menaruhnya di meja makan. Aroma sup itu menyeruak keseluruh ruangan.
"Gitu ya, Ma. Moga aja Papa cepat pulangnya. Kasihan Papa udah beberapa hari pulangnya telat terus, pasti capek," gumam Tika.
Mama Tika mendengar gumaman itu hanya bisa tersenyum memandangi Tika yang lahap memakan nasi bersama sup kentang itu. Sejak kecil Mama Tika selalu melatih anaknya untuk merasa empati terhadap orang-orang di sekitarnya.
Suara deru hujan kali ini ikut menemani Tika dan Mamanya di meja makan. Sup kentang memang sangat cocok di santap dikondisi seperti ini, Tika terlihat sangat lahap memakannya. Tiba-tiba terbesit suatu pertanyaan di benak Tika yang membuat ia penasaran sampai sekarang.
"Mama, nama-nama orang itu pasti ada artinya kan, Ma?," tanya Tika sangat penasaran dan raut wajahnya sangat terlihat meyakinkan.
"Huuh," jawab Mama Tika saat mengunyah makanannya dan menganggukkan kepalanya.
"Emang yang ngasih nama Tika itu siapa, Ma? Arti nama Tika apa, Ma?," memang gadis satu ini orangnya sangat penuh rasa penasaran terkadang ada-ada saja pertanyaan random keluar dari benaknya itu. Tak salah Mama memberi Tika julukan Tika si cerewet
"Ya, Tika penasaran, Ma. Soalnya nama Tika beda sama teman-teman, kaya aneh sendiri gitu," Tika melanjutkan makannya.
Mendengar alasan Tika, Mama langsung tertawa sambil mengejeknya.
"Aneh kenapa? Perasaan Mama ngasi kamu nama yang bagus banget," terlihat Mama masih tertawa.
"Ih Mama. Kok ketawa si," Tika menunjukan wajah yang semakin keheranan.
"Habisnya kamu nanya itu sih, jadi ketawa kan, Mama. Nama kamu itu di kasih sama Nenek, coba aja tanya ke Nenekmu langsung," Jawab Mama sambil meraih teko dan menuangkannya ke gelas.
"Oh iya, Ma. Besok kita jadi ke rumah nenek kan, Ma?," Tika langsung mengalihkan pembicaraannya.
"Jadi kok, tapi tunggu Papa pulang dulu. Kalau Papa ngga pulang kita ke rumah Nenek minggu depan aja," ujar Mama sambil membereskan piring-piring makan dan membawanya ke dapur.
"Kalau minggu depan waktu libur sekolah Tika kan habis, Ma. Tika rencana mau nginap di rumah Nenek sampai waktu liburan Tika habis, Ma," ucapnya. Ia juga membantu Mama membereskan meja makan.
"Yakin anak Mama yang cengeng ini mau tinggal sama Nenek, ntar tengah malam nangis minta dianterin pulang," Mama kembali meledek Tika.
"Engga dong, lagian Tika juga pengen ngerasain udara segar di rumah Nenek, lebih tenang juga kalau liburan disana," Tika meyakinkan Mamanya.
"Kalau gitu siapin dulu baju yang mau kamu bawa besok, ntar kalo Papa pulang besoknya kita tinggal berangkat aja lagi," sahut Mama Tika sambil mencuci piring kotor tadi.
"Okee Mama," suara Tika terdengar sangat bersemangat.
Tika langsung berlari ke kamar dan mengobrak-obrik lemari pakaiannya. Ya wajar saja karena anak-anak belum bisa mengambil pakaian dengan hati-hati dan rapi, pasti sebentar lagi Mama bakal berceloteh lagi kepada Tika.
Satu per satu pakaian masuk ke dalam tas biru yang sudah disiapkan Tika dari kemarin. Ia membawa cukup banyak baju dan celana karena ia akan berlibur lebih kurang satu minggu disana. Tak lupa sikat gigi dan odol juga ikut menyelip di sela-sela pakaian di dalam tas itu.
...----------------....