
Tepat sudah jam 3, mentari memancarkan sinar begitu terik. Rerumputan yang semula segar bercahaya kini mulai layu dan mengalun mengikuti arah angin yang menerpa serta tak segores pun awan di langit. Tika yang asyik bermain kejar-kejaran dengan anak domba pun mulai lelah. Padang rumput yang semula dijalari embun sudah hilang dan para induk domba mulai merebahkan badannya dibawah matahari langsung.
"Haaah huuh haah," Tika mendesah kehausan berjalan menuju ke arah nenek yang dipayungi pohon rindang sambil merajut.
"Panas banget ya, Nek. Perasaan tadi ga sepanas ini, mana Tika lagi asyik juga main sama anak dombanya," seru Tika.
''Jangan lari-lari kata Nenek tadi, tapi Tika gamau denger. Jadi haus kan,'' sambung nenek sambil terus merajut syal.
''Tapi seru kok, Nek. hehehe,'' canda Tika.
Ia terlihat begitu sibuk mencari sesuatu berjalan kesana kemari kemudian menyibak-nyibak segulung tikar kecil yang terbentang.
''Nenek liat botol minum Tika ga?,'' wajah bingung terpampang jelas di wajahnya.
''Coba cari di tas nenek. Kan Tika yang masukin tadi," nenek tetap melanjutkan rajutannya.
Tika menggasak isi seluruh tas dan benar saja, menemukan botol minum berwarna pink yang dihiasi gambar-gambar tokoh kartun favoritnya. Tapi sayang airnya sudah tak segar seperti tadi pagi namun terasa sedikit hangat saat sampai di tenggorokannya.Saat minum ia terfokuskan kepada sejumput bunga dandelion yang hampir mekar. Belum selesai meneguk, Tika bergegas mengejar bunga yang meliuk-liuk oleh angin itu.
''Wahh, bentar lagi mekar. Bawa pulang ahh," ucap Tika sambil mematahkan beberapa tangkai dandelion dan mengikatmya dengan karet yang diambil dari kantong celananya.
''...jadi besok aku bisa liat gimana mekarnya..." sambungnya.
Kalau dipikir-pikir di rumah nenek juga ada, apa mungkin karena ukuran bunganya yang lebih besar membuat Tika membawanya pulang dan mungkin karena yang dirumah nenek baru berbunga.
''Tikaaa, bantu Nenek ngumpulin domba ya, kita beres-beres pulang," sahut nenek.
Sesaat sampainya di rumah Tika bergegas masuk dan berlarian ke dapur mencari wadah untuk mengikat bunga yang dibawanya pulang itu. Namun tiba-tiba nenek memanggilnya.
''Tika, bisa bantu Nenek?" arah suaranya datang dari luar.
"Iyaa, bentar, Nek," Tika menaruh bunganya di meja dapur begitu saja.
"Bantu apa,Nek?" tanya Tika mendekati nenek.
''Tolong bantu Nenek ambilin jagung buat makan ayam dibelakang rumah, ambil karung yang isinya hampir habis ya," kata nenek sambil memasukkan anak-anak ayam ke dalam kandang.
...----------------...
Malam pun datang dengan kesunyiannya. Tepat pukul sembilan Tika sudah berada di kamarnya setelah selesai makan malam dua jam yang lalu bersama neneknya. Kali ini ia memberanikan diri untuk tidur dikamarnya sendirian karena keingintahuannya itu.
''Hmm tunggulah, detektif Tika akan beraksi," ia tersenyum sinis sambil duduk melamunkan seolah-olah menjadi detektif terkenal.
''...eh bunga tadi mana?...," tika menoleh ke arah jendela yang sudah tertutup rapat.
Mungkin karena nenek memanggilnya tadi ia jadi lupa merapikan bunga yang ia bawa. Seingatnya tadi bunganya sudah berada di dalam kamar ini. Apa mungkin cuma bayangannya saja.
Tanpa pikir panjang, ia melupakan imajinasi detektifnya itu dan bergegas menuju kamar nenek. Seingatnya tadi nenek masak buat makan malam jadi mungkin nenek yang menaruhnya. Tika masih belum berani buat kebelakang langsung, jadi ia tanya nenek dulu.
...----------------...