Swastika Naladhipa

Swastika Naladhipa
Nayaka Dananyaksa



Semakin lama bayangan itu semakin dekat. Bahkan derap langkahnya semakin nyaring menghampiri mereka. Tika kali ini tak hanya menggigil karena dingin, melainkan karena takut.


''Tika, berlindunglah di belakangku,'' jaga Kailash dan mengeluarkan pisau belati miliknya.


Srekk...srekkk..srekkk, derap langkah itu semakin dekat.


''Lihatlah ada dua makhluk, seorang dwraft dan seorang anak manusia? Kenapa kalian disini? Di sini sangat dingin...," suara seorang pria.


Pantas saja derap langkah itu sangat nyaring, ternyata seorang pria berbadan kuda yang menghampiri mereka. Badannya kekar dengan empat kaki kuda yang gagah dilengkapi pelindung kaki di setiap persendiannya. Dilengkapi lagi dengan pedang ia sandang di bahunya. Badannya yang begitu kekar membuat hawa dingin ini tak mampu menembus pori-porinya.


"Astaga, anda hampir mengagetkan kami, Tuan," Kailash bernafas lega dan menyimpan kembali pisaunya.


Ia langsung memanggil pria itu dengan sebutan ''Tuan'' karena terdapat sebuah ukiran ber-aksara di pedang itu. Namun aksara apakah itu belum diketahuinya. Yang pasti pria ini bukanlah orang sembarangan. Karena pedang itu biasanya adalah peninggalan dari para dewa.


''Makhluk apa itu?'' Tika ketakutan dan menutup matanya.


''Kalian tak perlu takut. Aku adalah penjaga perbatasan hutan berkabut ini. Jika dilihat, kalian sepertinya bukan orang jahat dan kalian bukan ras orang di negeri ini maupun negeri dekat sini juga," jelas pria itu.


''Dia siapa, Kailash?'' Tika melihat Kailash namun melirik pria berbadan setengah kuda itu.


''Perkenalkan namaku Nayaka Dananyaksa, Penjaga negeri Apaka. Panggil saja aku Nayaka," hormatnya dengan memegang dadanya.


''Salam.. Namaku Kailash dan gadis kecil ini bernama Tika," -Kailash.


''Kalau begitu kalian naik saja dulu. Nanti kita lanjutkan bicaranya di perjalanan saja,'' turun dan mempersilahkan Kailash dan Tika naik ke punggungnya.


Mereka berdua naik ke punggung Nayaka, pria setengah kuda itu. Tika sangat kaget karena dia belum terbiasa dengan penduduk di dunia ini. Baru kali ini dia melihat seekor kuda secara dekat, namun kali ini dia adalah setengah manusia. Tika hanya terdiam selama beberapa saat.


''Kalian sudah siap? Berpegangan yang erat..," ucap Nayaka.


Srekkk...srekk..srekkk...


Derap langkah kuda berlari menyatu dengan suara becek lumut yang lembab saat terpijak. Mereka menyusuri semak demi semak menjalar dan menerobos gerimis.


''Dalam beberapa menit, kalian akan sampai di tempat berpenduduk. Jadi, berpeganganlah. Cuaca di sini memang tak akan pernah terik dan hangat,'' Nayaka terus berlari menelusuri jalan.


''Terima kasih sebelumnya telah memberikan kami tumpangannya, Tuan," -Kailash.


''Ini adalah tugasku. Kalian dari mana? Kenapa bisa sampai di tempat ini?," Nayaka penasaran.


''Kami datang dari hutan jamur setelah kami meminta petunjuk kepada ikan legenda milik dewa-dewi hutan yang ada di air terjun di ujung hutan jamur, Tuan" jawab Kailash.


''Apakah kalian bercanda? Hanya sedikit orang yang bisa membuka gerbang ikan legenda itu karena tidak tau cara memanggilnya. Dan kau seorang dwraft bisa membukanya? Itu mustahil," Nayaka menolak pernyataan Kailash.


''Kami tidak berbohong, Tuan. Aku bisa membukanya karena aku pernah datang ke negeri ini sebelumnya. Namun, itu sudah lama sekali. Dan aku bisa membuka gerbang itu karena aku pernah belajar selama beberapa tahun dengan ahli sihir hebat yang bernama Tuan Apsara Amartya'' ucap Kailash.


...----------------...