Swastika Naladhipa

Swastika Naladhipa
Menggembala



"Mbee...mbee...mbeee," seekor anak domba mengembik sambil melompat kesana kemari mencari induknya yang menanti setumpuk jerami dari nenek.


Suaranya begitu nyaring ditambah lonceng yang menggelinting di leher domba itu. Suara yang begitu berisik kali ini memaksa Tika kembali bangun untuk yang ketiga kalinya hari ini. Kantong matanya mulai kehitaman dan sembab. Dengan raut wajah kesal ia menatap keluaran jendela memandang beberapa ekor domba sedang mengantri menunggu makanan.


"Ahh!! kapan aku bisa tidur dengan tenang!!," Tika kehabisan kesabarannya, kali ini dia sangat kesal sampai-sampai melempar guling disebelahnya.


Sudah pukul sembilan, waktu yang sudah tak mungkin lagi bagi Tika untuk kembali tidur lagi. Embun yang begitu tebal membuat Tika berfikir untuk mencuci muka saja karena sangat dingin.


"Yah, udah habis ya..." nenek menggerutu sendirian tapi suaranya cukup nyaring didengar Tika.


"Ada apa, Nek? kok Nenek keliatan gelisah git?," celetuk Tika yang mengelap wajah basahnya dengan handuk kecil.


"Ini nih, Tika. Jerami buat makan domba udah habis, paman juga belum pulang buat nyarinya. Gimana domba-domba mau makan. Mungkin terpaksa buat mengembala hari ini," balas nenek.


"Emang kenapa kalo ngembala, Nek?" sambung Tika.


"Ya gapapa juga, tapi Nenek ga bisa ngembala domba yang banyak kaya gini, ntar kalo ada yang lepas Nenek juga ga kuat buat ngejarnya," jawab nenek.


"Biar Tika aja yang ngejar kalo nanti ada yang lari. Tika bantu Nenek," Tika sangat bersemangat.


"Kalo mau mau, yukk bantu Nenek buat buka pintu kandang. Nenek mau ambil baju hangat dulu," nenek berjalan menuju kamar. Sementara itu Tika langsung bergegas ke kandang.


Setelah semua domba terkumpul dan nenek pun udah siap, perlahan nenek menggiring para domba berjalan kearah dataran bergundukan seperti bukit kecil yang diselimuti rerumputan hijau bercahaya terkena pantulan mentari pagi yang begitu pekat.


Seperti dunia dongeng, Tika terpana melihat sekelilingnya. Hamparan padang rumput membentang yang masih ditutupi embun dan dihiasi tumpukan-tumpukan bunga seperti taman yang terbentuk secara alami, ditambah lagi tepian jalan setapak yang ia lalui dihiasi bebatuan berlumut, seolah-olah ia berada didalam imajinasinya.


Hal itu seketika terbantahkan ketika suasana sekitarnya sedikit sepi, tidak ada domba yang mengembik ataupun gemerincing suara lonceng dari beberapa ekor anak domba. Seketika dia menyadari kalau nenek sudah berada jauh didepannya.


"Neneeek...tunggu...." Tika mengejar ketertinggalannya.


''Tunggu Tika..." nafasnya sedikit tak beraturan.


''Tadi Nenek panggil kamu diam aja,'' sambung nenek sambil terus memainkan tongkat agar tak satupun domba keluar dari rombongan.


''Kok Tika ga denger ya, Nek?"


''Makanya kalo jalan tu jangan bengong, tuh suara Nenek ga kedengeran sama kamu kan," nenek tersenyum lirih.


''Pemandangannya bagus banget loh, Nek. Tika terkagum-kagum liatnya sampe ketinggalan tadi, hehehe," sambung Tika sembari menggaruk-garuk kepalanya pertanda dia malu.


"...masih lama ya, Nek?..." sambung Tika lagi.


''Engga kok, tuh udah sampai," nenek menunjuk sebuah pohon bercabang banyak yang daunnya sangat rindang


Tika kembali tecengang melihat pemandangan nan begitu indah di desa ini, tak heran jika papa Tika sering pulang ke kampung bukan hanya untuk menengok nenek saja tapi ia rindu kampuang halamannya yang indah ini.


''Desa ini benar-benar indah," decak kagum Tika tergambar dari matanya yang berbinar-binar sambil berkata-kata sendi


...----------------...