
Cahaya arunika menyeruak dibalik segarnya dedaunan pagi, perlahan menuju vintelasi kamar dan mencoba menyusup melalui netra Tika yang masih terpejam. Tika langsung mengerutkan keningnya pertanda ia terbangunkan oleh cahaya itu.
"Astagaa, aku terlambat. Jam berapa sekarang?," Tika langsung terduduk mengibaskan selimutnya, kedua matanya melotot sambil melihat jam beker.
"Fiuuhh, masih jam setengah tujuh. Kirain udah jam delapan tadi," Tika masih bergumam sendiri. Ia kembali mengusap kedua matanya.
Sejak libur sekolah, ia selalu bangun kesiangan dan terkadang tidur lebih lambat dari biasanya, seperti itulah liburan Tika kalau tidak di rumah neneknya.
Tika bergegas keluar dari kamar dan mengecek apakah Mamanya sudah bangun apa belum. Saat membuka pintu, ia melihat Papa yang sudah duduk di sofa ruang tamu menyeruput secangkir teh sambil menonton berita di televisi. Terlihat Papa nya sudah siap untuk berangkat ke rumah Nenek.
"Eh, anak papa udah bangun. Jadi pergi ga ke rumah Nenek?," Papa menyapa Tika yang masih berdiri di depan pintu kamar.
"Hehe, jadi dong, Pa. Papa pulang telat lagi, ya?," Tika menghampiri Papanya.
"Iyaa, nak. Mama juga udah siap-siap tuh, tinggal nunggu tika aja," Papa mengusap kepala Tika.
"Okee Papaa," Tika bergegas menuju kamar mandi.
Cengkrama pagi dengan Papanya membuka aktivitas Tika di hari ini. Ia memang selalu diperlakukan manja oleh kedua orang tuanya. Mungkin karena ia anak perempuan dan anak satu satunya. Tapi Tika orangmya tidak manja hanya saja orang tuanya selalu menganggap Tika masih kecil padahal sekarang ia sudah berusia 10 tahun.
Berselang sekian menit Tika terlihat duduk di depan kaca sedang menyisir rambut, aroma sampo tercium pekat saat ia mengibaskan rambut. Sepertinya Tika sedang bersemangat sekali hari ini sampai-sampai bernyanyi-nyanyi sendiri.
"Tika, yuk berangkat, " suara Mama Tika memanggil dari ruang tamu.
"Iya, Ma. Ambil tas dulu, " sahut Tika sambil bergegas meraih tas biru yang berada di atas ranjangnya.
Deru mesin mobil di garasi mulai menyala, Papa Tika sepertinya telah siap berangkat tapi masih menunggu Mama dan Tika yang masih memasukkan barang-barang ke dalam mobil.
"Udah, Pa," ujar Mama sambil menutup pintu mobil.
"Ga ada yang ketinggalan, kan?," tanya Papa untuk meyakinkan sekali lagi.
"Brummmm... " mobil yang dikendarai Papa Tika melaju di jalan raya.
Perjalanan ke rumah nenek cukup jauh, jika dihitung mungkin akan memakan waktu 4 jam perjalanan dari kota kediaman Tika. Cuaca hari ini sepertinya juga sangat mendukung. Tak satu pun segores awan terlihat, biru langit tampak mulus di pandang mata.
Tika sempat tertidur beberapa kali di mobil karena perjalanan yang cukup lama. Sampailah di suatu jalan bebatuan yang cukup sempit, di kanan kirinya penuh terbentang sawah menguning bagai hamparan permadani yang tak terhitung luasnya.
Tika terbangun karena gocangan bebatuan itu. Ia langsung menoleh ke jendela mobil karena mengira sudah sampai.
"Wah, kok kerbau nya ada di sawah, Pa? Kok dibiarin aja sama petaninya, Pa?," suara Tika kembali menghirukkan suasana yang semula hening.
"Itu namanya lagi membajak sawah, makanya pakai kerbau," jawab Papa Tika sembari menyetir mobil dengan cukup pelan.
"Bukannya kalau lagi bajak sawah pakai traktor ya, Pa? Lagian kalau kayak gitu kan jadi lama, " gadis satu ini kembali dihantui rasa penasaran dan keingintahuannya itu kadang membuat Mama dan Papanya terhibur.
"Kalau dulu orang pakai kerbau, tapi sekarang zaman semakin maju jadi diciptakanlah traktor, biar cepat juga kerjanya, " Papa menundukkan kepalanya melihat Tika dari spion di depan.
"Oo gituu ya, Pa, " sambung Tika kembali melihat ke arah petani yang membajak sawahnya itu.
"Iya cerewet, " Papa tersenyum lirih sambil meledek Tika. Mama pun ikut tertawa kecil mendengar ledekan Papanya.
"Hihihi, " Tika tersenyum lebar.
Karpet kuning yang luas itu kini perlahan mulai ditinggalkannya. Terlihat dari jauh sebuah rumah dengan gaya arsitektur bangunan tahun 80-an berwarna putih. Di depannya terdapat pekarangan yang di penuhi bunga dandelion dan dihiasi rerumputan bak permadani hijau yang membentang.
Mobil itu berhenti tepat di gerbang yang dipenuhi bunga rambat yang menjalar hingga ke pagar. Kesan indah bagai taman bunga benar-benar di dapatkan oleh rumah itu. Wajar saja, karena Nenek memang hobi bertanam bunga apalagi sejak tidak di bolehkan bekerja lagi oleh Papanya Tika, Nenek tambah rajin mengurusi bunga-bunga itu.
...----------------...