Swastika Naladhipa

Swastika Naladhipa
Suara apa itu?



"Tiiiin tiiin" klaskon itu pertanda mereka sudah sampai.


Nenek yang duduk di bangku teras sedang mengiris bawang mengalihkan pandangannya ke Papa Tika yang baru saja turun dari mobil. Ia langsung menghampiri anak cucunya dan menyambutnya dengan senyuman yang merekah.


"Wahh, cucu nenek datang, " Nenek menyodorkan tangannya ke arah Tika.


"Rumah Nenek jauh banget, Tika jadi ketiduran deh di jalan," seru Tika sambil bersalaman dengan Nenek.


"Mari makan dulu, Nenek udah siapin dari tadi," Nenek merangkul pundak Tika berjalan masuk ke rumah.


Sementara itu, Mama dan Papa Tika masih membereskan barang-barang yang akan dikeluarkan dari mobil. Cukup banyak barang di mobil itu, terlihat juga beberapa makanan yang di masak Mama tadi malam. Sepertinya mereka akan piknik bersama Nenek


Tak terasa semburat swasmita samar-samar merona jingga kekuningan perlahan tenggelam di sudut bumi belahan barat. Papa dan Mama Tika sepertinya berberes-beres untuk kembali pulang, karena besok sudah hari senin jadi Papanya akan kembali bekerja. Namun tidak dengan Tika yang akan menikmati liburannya seminggu penuh di sana.


Satu jam telah berlalu dari keberangkatan orang tua Tika kembali ke kota. Hawa sejuk bersemilir diantara padang rumput di belakang rumah Neneknya, tak lama terdengar sahut-sahutan suara jangkrik sang penyanyi malam meriuhkan kegelapan malam, di sambut dengan kunang-kunang bak lentera kecil terbang bertaburan diantara rerumputan yang bergoyang diterpa angin malam.


Tika termenung menopang kepala dengan kedua telapak tangannya sambil duduk di kursi melihat pemandangan malam dari jendela, sepertinya ia sangat menikmati suasana malam bersama secangkir susu hangat yang menemaninya.


"Ini liburan yang aku inginkan, " gumam Tika. Walaupun ia masih kecil tapi cara ia menghabiskan waktu dan cara bicaranya jauh lebih dewasa dari anak-anak seusianya.


Tika, tutup jendelanya. Udaranya mulai dingin, pakai baju hangatmu," sahut Nenek dari dapur menyiapkan makan malam.


"Eh, iya Nek, "


Sekarang semua makanan sudah tertata rapi di di meja makan, Tika dan Nenek pun sudah berada disana. Pasti sebentar lagi Tika akan bertanya.


"Kalau ngga ada Tika, Nenek biasanya sama siapa di rumah, Nek," kan, Tika pasti bertanya.


"Kadang Nenek sendiri aja, kadang Pamanmu pulang sebentar, Pamanmu kan kerja jadi jarang pulang juga," jawab Nenek sambil menyendokkan nasi ke piring Tika.


"Ngapain Nenek takut, kan Nenek udah biasa sendiri," Nenek tertawa kecil menjawabnya.


Tika terlihat sangat lahap menyantap masakan Nenek bahkan ia juga minta tambah lagi. Sepertinya saat kembalinya ke kota ia akan gemuk, haha.


Beberapa saat berlalu, kini sudah pukul 10. Suara jangkrik semakin keras berpacu dengan suara cacing. Benar kata Nenek, hawanya semakin dingin bahkan sekarang Tika sudah terbungkus selimut hangat di tambah sweaternya masih saja dingin, mungkin karena rumah Nenek di dekat padang rumput dan juga persawahan.


Mungkin karena hari ini adalah hari pertama Tika berlibur dan baru pertama tidur di rumah Neneknya, matanya susah untuk terlelap walapun ia sudah berusaha memejamkan mata bahkan ia sampai-sampai menghitung domba menirukan dongeng-dongeng yang pernah ia baca.


Sudah pukul 12 tapi ia masih belum bisa terlelap, udara semakin dingin dan susana semakin hening. Tika mencoba mengintip Nenek, ternyata Nenek sudah tertidur pulas berselimut tebal. Apalagi yang harus di lakukannya, kalau di kota ia masih bisa menonton tapi disini bahkan tidak ada televisi.


"Buhhhh" suara itu terdengar jelas dari arah belakang tepatnya arah ke kamar mandi. Jantung Tika seketika berdegup kencang, mata yang semula sayu kini melotot karena kaget. Ditambah lagi kamarnya yang jarakya cukup dengan dengan kamar mandi membuat seluruh badannya merinding.


Tanpa pikir panjang jurus seribu langkah ia keluarkan menuju ke kamar Nenek. Dengan nafas yang masih tersengal Tika mencoba menggoyangkan bahu Neneknya.


"Nek, Nek, Neneek,"


"Hmm, " Nenek masih belum membuka matanya.


"Itu.. Itu, Nek. Ada suara, " Tika masih mencoba menggoyangkan bahu Neneknya.


"Suara apa?," perlahan Nenek membuka matanya.


"Itu, Nek.. Ada suara jatuh dari belakang, keras banget, " Tika terlihat pucat.


"Palingan itu cuma tikus. Yaudah, sini Tika tidur sama Nenek aja, " jawab Nenek menggeser badannya memberi tempat untuk Tika.


...----------------...