
Tok..tok..tokk
Tika membuka pintu yang masih terbuka.
''Nek..Nekk..Nenek liat bunga yang Tika taruh di meja dapur ga, Nek?," Tika kebingungan.
''Tadi kamu taruhnya di dekat bawang-bawang sama cabe, untung ga kepotong," canda nenek yang memberes-bereskan kasurnya.
''Trus disimpan dimana, Nek?" tanya Tika sekali lagi.
''Liat di atas rak piring," jawab nenek
''Hmm, Tika takut, Nek. Habis yang tadi pagi seram banget," Tika merengek sambil menggoyang-goyangkan daun pintu.
''Eh, takut kenapa kamu. Masa iya ada hantu. Kan deket juga, ambil aja gapapa. Ntar bunganya layu loh, kan tadi belum di kasi air," nenek mengelak.
Dengan pelan ia berjalan meringkuk sambil melihat dari kejauhan ruangan dapur yang agak gelap karena nenek hanya memasang lampu redup disana.
"...aku kan detektif, ga boleh takut. Aku harus tau apa yang ada di gudang itu..." Tika mencoba mensugesti dirinya, sekarang rasa takutnya mulai berkurang.
Ia meraba bagian atas rak piring dengan menjinjitkan kedua kakinya karena rak itu lebih tinggi dari dirinya. Ia merasakan sesuatu yang licin dan panjang seperti tangkai bunga dan bunganya ketemu. Ternyata bunga itu sudah mulai mekar, benih-benih berwarna putih sudah mulai beterbangan waktu itu mengambilnya.
''Aku harus segera ngasi air," gumam Tika. Ia menaruh bunganya di meja dan mencari toples kaca di dalam lemari.
Saat Tika menemukan sebuah toples kaca dan membalik ke belakang, segenggam bunga tadi berantakan dan benih-benihnya beterbangan. Ia mengikuti benih itu dan mengarah ke gudang yang tertutup rapat. Tika mengikuti diam-diam, ini waktu yang tepat untuk Tika menjalankan misinya sebagai seorang detektif.
Tapi setelah dilihat lebih teliti tak ada yang menyeret bunga yang diatas lantai itu. Seketika bulu kuduknya tegak menghujam, ia spontan berteriak.
"Ha...Haa..Hantuuuuuu,"
Kemudian diikuti suara cicitan seperti berteriak. Seketika sesuatu bercahaya menampakkan dirinya di pangkal bunga. Itu terlihat sangat kecil seukuran serangga tapi wujudnya tak sama atau bisa dibilang aneh. Ia bisa berdiri serta mempunyai cahaya yang tak tahu asalnya darimana. Tika ketakutan dan berlarian tak tentu arah.
Plakkkk!!
Ia menabrak dinding sehingga membuatnya bergetar.
"Aduhhhh....aww," rengek Tika sambil mengelus dahinya.
Tapi hal itu tak membuatnya berhenti, malahan ia semakin penasaran makhluk apa itu. Tika kembali berlari untuk mengambil bunganya yang dicuri. Tapi makhluk itu terbang menggunakan bunga dandelion yang telah mekar dan akan menjadi benih itu.
Hembusan angin membawa makhluk itu terbang menuju sela-sela vintelasi pintu masuk ke dalam gudang. Tika pun mengambil langkah yang berani dengan mendobrak pintunya. Tendangan pertama tak membuahkan hasil dan kali ini ia mencoba dengan menjadikan bahunya sebagai penolak pintu.
Satu, dua, tiga dan....
Bammmmm!!!
Pintunya terbuka, terlihat semua barang tersusun dengan rapi termasuk tumpukan buku-buku yang ada di rak dan kardus yang masih tersusun di sudut ruangan. Tapi pandangannya teralihkan pada sebuah kaca yang berderai di depan pintu masuk. Sepertinya itu adalah vas kaca. Mungkin itu yang jatuh tadi pagi sampai mengagetkannya dan berteriak hantu.
...----------------...