
Sambil melangkah masuk ke dalam hutan bersama kailash, Tika menoleh ke kanan kiri hutan. Suasananya cukup gelap namun diterangi jamur-jamur besar yang tumbuh di tepian, tingginya hampir sama dengan Tika. Dan diramaikan kembali oleh ubur-ubur terbang yang kali ini terbang berkoloni yang membuatnya sangat terpukau dari sebelumnya.
''Hei, kau membawaku kemana Kailash? Apakah masih jauh?" Tika masih terpukau menoleh ke kanan kiri.
"Tunggu sebentar lagi, kita akan melewati beberapa rute lagi," sambil terus bergegas berjalan ke depan.
"Oh iya, soal yang tadi. Kenapa kamu bisa datang ke tempatku? Bagaimana caramu datang?" tanya Tika penasaran
"Jika aku ceritakan sekarang, ceritanya bisa panjang," Jawab Kailash
"Biar ku perjelas saja kali ini. Aku tak sengaja terlempar ke duniamu dan tak sadarkan diri. Aku tak tahu apa yang terjadi sehingga tiba di duniamu. Untung saja aku belajar beberapa pelajaran sihir dan membawa debu biru yang amat langka ini, sehingga aku bisa berteleportasi kembali ke sini. Namun kali ini aku tak sengaja membawamu," jelas Kailash.
"Dan satu lagi yang aku tahu, aku berada di duniamu sekitar beberapa hari dalam keadaan sembunyi-sembunyi. Karena yang aku tahu, menurut buku sejarah abadi negeriku duniamu sangat-sangat bahaya. Hanya orang-orang yang beruntung bisa kembali lagi," sambungnya.
"Sepertinya di sini ada kejadian besar ya?" Tika penasaran
"Iya. Nanti setelah sampai di tempat yang aku maksud kamu akan tahu apa yang terjadi. Dan kamu akan mendengarnya langsung dari ahlinya," sahutnya dengan tegas.
Setelah melewati beberapa jamur bersinar itu, mereka menjumpai sebuah sungai yang di aliri air terjun yang cukup lebar dan menjadi tembok pembatas hutan ini. Serta di pagari oleh sekeliling tebing tak berujung.
"Apakah ini tujuan kita," Tika menunjuk air terjun itu.
''Tidak. Ini adalah sebuah gerbang," Kailash mondar-mandir seperti mencari sesuatu.
"Tapi dimana pintunya?"
Setelah mondar-mandir mencari sesuatu, akhirnya ia menemukan sebuah tanaman lumut berwarna ungu dan menjumputnya dengan tangan mungilnya itu.
"Hai ikan para dewa-dewi hutan nan agung, mohon berikan kami sebuah jalan menuju petunjuk yang kami cari, orang yang bijaksana dan berilmu tinggi," Kailash melafalkan sebuah kalimat yang terdengar seperti sebuah mantra.
Sejenak lumut itu berkedip-kedip dan berubah menjadi sebuah bola sebesar kelereng. Kemudian bola itu pecah lagi dan menjadi beberapa butiran-butiran halus beterbangan, lalu kembali lagi ke tangan Kailash.
''Untung saja aku mengingatnya," -Kailash
"Mengingat apa? Dan apa fungsi butiran itu?" -Tika
''Maksudku untung saja aku mengingat mantra menuju gerbang itu," -Kailash
Butiran tadi dilemparkannya ke air terjun yang sedang mengalir deras itu. Tiba-tiba secercah cahaya keemasan muncul di tengah arus air dan sepasang ikan bertubuh kecil dan berwarna emas berekor panjang mendongkakkan kepalanya. Sisik- sisik mereka juga luar biasa bersinarnya hingga membuat mata Tika dan Kailash perih karena silaunya.
Kemudian sepasang ikan itu berenang berputar di arus air yang deras itu hingga membuat sebuah lubang, atau bisa disebut sebuah gerbang yang lama-kelamaan semakin membesar hingga mereka muat masuk ke dalamnya.
"Ayo masuk,'' Kailash menarik tangan Tika.
Tika hanya tercengang dan masih tak percaya pada yang dilakukan Kailash barusan. Baru saja ia di tempat ini, sudah banyak keanehan yang disaksikannya, atau Kailash menyebutnya keajaiban.
...----------------...