Swastika Naladhipa

Swastika Naladhipa
Kailash Tibra



''Hmm iyaa. Aku keluar lewat portal itu," jawabnya sambil menganggukkan kepala.


''Berarti yang digudang itu....,"


''Iyaa, itu aku. Pasti kau penasaran bukan, Tika?" Kailash melempar pertanyaan yang sama pada Tika.


''Bagaimana bisa? Diduniaku kau sangat kecil dan sekarang kau hampir sama besarnya denganku. Dan kenapa kau bisa berada disana? Dan apa yang terjadi denganmu sehingga bisa masuk ke gudang itu?" Tika melontarkan pertanyaan yang sangat banyak sekali hingga terengah-engah.


"Hei..hei..ayolah. Tenang...tenang dulu," ucap Kailash kepada Tika dengan menolak kedua tangannya meminta Tika agar tenang.


"Baiklah, aku...."


Tiba-tiba pulau menggatung itu bergetar dan berangsur-angsur turun. Semua tumbuhan yang ada pun tiba-tiba layu, gugur dan gersang.


''Kenapa ini?" Tika kaget.


''Seperti yang kukatakan tadi, pulau gantung ini telah kehabisan orde gantungnya," jawab Kailash


''Tapi kenapa?'' tanya Tika sekali lagi.


''Nanti saja kujelaskan, sekarang kita harus menyelamatkan diri dari tempat ini," tegas Kailash.


Kailash menarik tangan Tika begitu erat dan melompat. Ia mengeluarkan debu biru yang sama seperti digudang tadi dan menaburinya keseluruh tubuhnya termasuk Tika. Ia merasa tubuhnya begitu ringan sekarang.


Kailash mengambil ancang-ancang untuk melompat. Satu, dua dan lompat. Ia melompat dari satu pulau ke pulau lain yang jaraknya sekitar belasan meter sambil memegang erat tangan Tika. Tika menoleh ke belakang dan menyaksikan beberapa dari belasan pulau yang menggantung berjatuhan ke jurang tak berujung.


''Tika, kali ini pererat lagi tanganmu karena kita akan sampai diujung yang jaraknya cukup jauh," teriak Kailash


''Ba..baik,"


Kailash bertumpu dengan menekukkan kedua lututnya begitu rendah dan bertolak. Tolakannya begitu kuat sehingga Tika ikut terseret sangat cepat. Jeritan Tika dan teriakan Kailash menyatu bersamaan.


"Hwaaaaa," mereka terpental ke sebuah tebing.


''Kau baik-baik sajakah Tika," Kailash kembali mengulurkan tangan.


"Iya, tak apa kok," Tika berdiri dibangunkan Kailash.


"...oo iya, kenapa pulau-pulau itu bisa jatuh dan darimana kau mengetahuinya?"


''Apakah kau melihat buah pohon yang bercahaya itu? jika buahnya sudah bercahaya berarti energi yang ada didalam tanah yang ada di pulau itu diserap oleh pohonnya, lalu diikuti oleh tumbuhan yang ikut tandus dan akhirnya pulau itu jatuh. Begitulah siklusnya setahuku," jelas Kailash.


''Begitu ya. Syukur saja kita bisa selamat. Dan jika aku boleh tahu, debu apa tadi? apakah sama seperti yang kamu taburi diatas pecahan kaca itu?"


''Debu itu namanya debu biru, debu ini berasal dari batu amreta yang dihaluskan bersama permata lainnya lalu dibacakan sebuah mantra ajaib," jawab Kailash.


"Wawww, pantas saja tubuhku begitu ringan saat mengenainya," mata Tika berbinar-binar memandang kantong berisi debu biru yang terikat di pinggang Kailash.


"Tentu saja," Kailash terdengar sangat yakin


"Dan sekarang kita harus apa dan kemana?" Tika kebingungan.


''Oo iya, kita harus pergi ke seseorang untuk bertanya apa saja yang terjadi selama aku meninggalkan negeri ini,"


''Memang dimana tempatnya?,"


"Ikuti saja aku,"


Kailash melangkah menuju hutan dan meninggalkan tepian jurang bersama Tika yang masih bingung apa selanjutnya yang akan dilakukan seorang dwarf bernama Kailash Tibra.


...----------------...


FYI


Batu amreta merupakan sebuah batu yang menjadi sumber kekuatan utama debu biru. Amreta sendiri memiliki arti air kehidupan.