
''Di sini terlalu gelap untuk dilihat. Bagaimana cara kita bisa melihatnya, Kailash?'' Tika memandang sekelilingnya yang penuh kabut.
''Semakin kita ke sini kabutnya juga semakin tebal,'' sambung Tika.
''Tunggu sebentar, kita butuh penerangan,'' Kailash meraba isi kantong yang berada di pinggangnya. Ia mengeluarkan sebuah jamur yang cukup besar. Jamur itu hampir sebesar lengan Tika.
''Sebuah jamur? Ayolah jangan bercanda,'' Tika terdengar serius.
''Lihat saja. Aku belum selesai,'' Kailash membela dirinya.
Kailash menekan cukup lama bagian atas jamur itu, tepatnya di bagian tudungnya. Cahaya kekuningan samar-samar mulai bersinar. Kali ini ia membawa jamur itu lebih dari satu dan memberikannya kepada Tika.
''Ini... ini pasti dari hutan jamur bercahaya itu kan?'' cela Tika.
''Iya, tentu saja. Ketika aku melihatnya, aku langsung memetiknya karena aku yakin ini pasti akan berguna saat diperjalanan. Dan ternyata benar,'' jawab Kailash.
''Kepintaranmu memang tidak perlu diragukan lagi, Kailash. Kamu memang pintar,'' puji Tika.
''Tidak kok, he..he'' Kailash tersipu malu.
''Kenapa aku tidak tahu saat kamu mengambilnya? Padahal aku berada dibelakangmu,'' tanya Tika.
''Disaat dirimu sedang tertegun karena koloni ubur-ubur beterbangan yang lewat, untung saja tidak aku tinggal,'' ucap Kailash.
''Ambillah ini, kita akan sangat memerlukannya,'' Kailash memberikan jamur yang sama pada Tika.
''Hmm..baik,'' Tika meraih jamur dari tangan Kailash.
''Syukur saja kita ada jamur ini, bisa jadi kita akan tersesat di tengah danau berkabut ini,'' sambungnya.
''Wah iya..'' seru Tika.
Duarrrrrr!!!!...
Petir menggelegar memperlihatkan dirinya di balik kabut dan kilat pun datang bersamaan membuat suasana gelap menjadi terang dalam beberapa detik saja. Hal itu berlangsung selama beberapa kali.
Danau yang semula tenang tiba-tiba menggoyangkan perahu kecil yang mereka tumpangi. Riak air kini mulai tinggi karena hembusan angin yang juga cukup kuat. Mereka terombang-ambing di tengah danau.
''Mamaaaa!!...,"
Seketika Tika membelalakkan kedua matanya dan menutup telinga . Ia kaget setengah mati dan hampir saja jatuh ke dalam danau. Untung saja Kailash bergegas meraih tangannya.
''Tenanglah, sekarang berpegangan yang kuat pada perahu ini, jangan sampai terjatuh,'' Kailash menggenggam tangan Tika begitu erat.
''Aku sudah curiga dari awal karena semuanya begitu tenang dan tidak terlihat tanda-tanda kehidupan di danau ini,'' Kailash menutupi wajahnya dengan tangan kirinya.
Gerimis mulai tebal seperti paku yang berjatuhan dan membuat jamur yang menerangi mereka kini telah redup. Kini suasana begitu mencekam. Petir yang menyambar, kabut tebal, riak danau yang begitu tinggi dan gelap gulita. Entah apa yang harus mereka lakukan dengan sedikit persediaan yang mereka bawa.
''Kita harus bagaimana sekarang? Aku takut,'' teriak Tika.
''Tenanglah dulu, kita hampir sampai ke pulau. Yang penting berpegangan kuat sekarang. Tidak ada yang bisa kita lakukan, tapi jangan menyerah,'' ucap Kailash.
Tika berusaha tenang dan memperkuat pegangan. Rasanya ia ingin berteriak dan menangis saat ini. Entah menyesal entah kesal yang ia rasakan sekarang. Dalam hatinya yang penting ia ingin kembali ke rumah neneknya.
Dalam berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan diri, sebuah pusaran air muncul di hadapan mereka. Semakin lama pusaran itu membesar dan mulai menelan apapun yang masuk ke dalamnya.
...----------------...